
Sebetulnya baju hamil juga belum terlalu dibutuhkan, sebab usia kandungannya saja masih terlalu kecil. Tetapi, melihat Gita yang begitu senang mendengar kabar kehamilan menantunya, itu membuat hati Rizky semakin bahagia.
Pria tampan itu sampai rela menghabiskan waktu dua jam demi membeli satu lusin dress untuk Nella dibeberapa toko yang dia kunjungi.
"Menurutmu, dress yang Mama beli bagus-bagus nggak, sih? Mama takut Nella nggak mau pakai, Riz."
Padahal saat memilih dress, Gita sudah meminta pendapat pada Rizky dan menurut sang anak itu semua bagus.
Tetapi Gita masih saja ragu, lantaran pakaian yang sempat dia beli ketika Rizky dan Nella menikah, hanya satu dress yang dipakai dari lima dress yang dia belikan. Rasanya sedih, jika pakaian yang dibeli dengan penuh cinta, tapi tidak dipakai.
"Bagus kok, nanti Nella akan tambah lucu saat memakai dress itu" jawab Rizky
"Kok lucu." Gita seketika merenggut, merasa tersinggung dengan ucapan anaknya. "Jadi jelek dressnya?"
Rizky menggeleng cepat. "Bagus, sangat bagus. Aku bilang lucu karena perut Nella nanti tambah besar, jadi terlihat lucu," terang Rizky.
"Oh, iya ... itu benar." Gita terkekeh dan membayangkan Nella berperut buncit tengah berjalan.
"Tapi, Ma ... aku masih boleh bercinta sama Nella, kan?"
"Ya bolehlah, Riz. Memang siapa yang melarang?"
Mereka kini telah keluar dari gedung mall, lalu berjalan menuju parkiran mobil dan masuk ke dalam mobil.
Rizky menyalakan mesin mobil Guntur dan mengemudi dengan kecepatan sedang. "Oh, jadi meskipun wanita sedang hamil ... aku masih boleh menyentuhnya? Aku kira nggak boleh, Ma."
"Setahu Mama sih boleh. Mama saat hamil kamu dan adik-adikmu ... masih bisa bercinta sampai mau melahirkan. Tapi lebih baik konsultasi juga ke Dokter, kehamilan orang 'kan beda-beda," terang Gita.
Rizky mengangguk paham.
***
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Lantas, keduanya turun dari mobil.
"Mama ... Mama nggak usah ikut masuk, pulang saja," cegah Rizky seraya memegang tangan Gita hingga membuat langkah kakinya terhenti.
"Kamu ngusir?" tanya Gita setengah sewot.
"Bukan ngusir, tapi aku ingin menghabiskan waktu bersama Nella. Aku rindu padanya." Rizky menunduk dengan wajah yang merona.
Gita langsung menepuk keras lengan Rizky, dia sudah menebak jika otak mesum sang anak sedang bekerja. "Dih, ini rumah sakit! Nella juga sedang sakit! Jangan menyentuhnya dulu! Dasar mesum kamu!"
__ADS_1
Rizky mengangkat kepalanya lalu menggeleng. "Nggak kok, aku nggak menyentuhnya. Aku juga mengerti dia sedang sakit. Memangnya ... menghabiskan waktu bersama harus menyudutkan ke arah situ? Mama ini negatif terus pikirannya." Rizky mengerucutkan bibirnya, merasa kesal habis mendapatkan fitnah.
"Kirain. Otakmu 'kan kalau sama Nella nggak jauh-jauh kearah situ. Jadi kamu hanya ingin menemaninya?"
Rizky mengangguk semangat. "Iya."
"Ya sudah ... bilang sama Papamu, Mama tunggu di mobil. Oya ... pakaian Nella bagaimana?"
"Pakaian untuk Nella simpan saja dulu, Ma. Nanti dikasihnya pas Nella keluar dari rumah sakit. Nggak dipakai sekarang-sekarang ini, kan?"
"Iya, sih. Ya sudah sana pergi. Beritahu Papamu." Gita mengibaskan tangannya ke arah Rizky seraya membuka pintu mobil dan masuk.
***
"Lho, Papa mau ke mana?" tanya Rizky saat sampai di depan kamar inap Nella dan melihat Guntur baru saja keluar dari pintu.
"Kebetulan kamu sudah datang, Papa harus pergi ke kantor."
"Opa, Oma dan Papa Sofyan ke mana?" Rizky melihat ke arah pintu kaca, di dalam kamar itu tidak ada siapa-siapa. Hanya ada Nella tengah bermain ponsel.
"Papa nggak tahu, tapi tadi Nella habis menerima telepon dari Pak Angga. Kamu tanya saja padanya."
"Oh ya sudah, Papa hati-hati di jalan."
"Boleh, Pa." Setelah mengatakan hal itu, Rizky pun menurunkan handle pintu dan masuk ke dalam.
Melihat Rizky berjalan menghampirinya, Nella segera menaruh ponsel yang sejak tadi dalam genggamannya di atas nakas. Setelah diperhatikan—ternyata ponsel itu adalah ponselnya Rizky yang sempat ketinggalan.
"Lho, ternyata ponsel gue ketinggalan ... pantes nggak ada di kantong," ujar Rizky seraya menarik kursi kecil lalu duduk di dekat ranjang istrinya.
"Ah, iya. Tadi Papa menelepon di ponselnya Mas Rizky ... jadi aku mengangkatnya," jawabnya sambil tersenyum canggung.
Aslinya itu tidaklah benar, Nella baru saja hendak mengecek ponsel Rizky untuk mencari nomor Mitha saat Guntur keluar dari kamarnya. Namun sayangnya, ponsel Rizky terkunci dengan sidik jari dan sang pemiliknya keburu datang.
"Oh ... apa kata Papa? Apa ada yang penting?" Rizky mengulurkan tangannya untuk meraih ponselnya, namun lengannya segera dipegang oleh Nella. Wanita itu tengah mencegah Rizky untuk memeriksa ponselnya sendiri sebab kalau dicek—dia akan ketahuan kalau berbohong.
"Mas ... aku ingin makan buah," ucapnya untuk mengalihkan pikiran Rizky.
"Oh, gue 'kan beli buah tadi pagi." Tangan yang menyentuh ponsel kini beralih mengambil parsel buah, lalu membuka plastiknya. "Lu mau buah apa?"
Nella menoleh dan memperhatikan isi di dalam parsel. Ada buah anggur, pir, apel merah, pisang dan jeruk.
__ADS_1
"Aku mau jeruk, apa itu manis?"
"Nanti gue buka dulu dan cicipi, ya?"
Nella mengangguk semangat dan tersenyum manis, lalu menarik kembali tangannya dari lengan Rizky.
Setelah selesai mengupas buah jeruk, Rizky langsung mencoba satu biji buah itu dan mengunyahnya. Terasa manis dalam mulutnya. Kemudian, Rizky menyodorkan pada bibir istrinya.
"Ini, manis kok."
Nella membuka mulutnya, lalu mengunyahnya pelan-pelan. "Oya, Mas. Tadi bukannya Mas Rizky sama Mama katanya beli perlengkapan bayi? Dan Mama kok nggak ke sini?"
"Beli perlengkapan bayinya nggak jadi, tadi kita hanya beli dress ibu hamil buat lu," jawab Rizky seraya tersenyum. Hatinya terasa hangat melihat wajah Nella sudah tak lagi cemberut seperti tadi pagi, malah sekarang wajah itu terlihat tambah manis sebab Nella masih tersenyum padanya.
'Gue nggak mau senyuman itu pudar, gue mau lu terus tersenyum saat melihat gue, Nell,' batin Rizky.
"Terus mana?" tanya Nella.
"Ada sama Mama. Nanti kalau lu sudah keluar dari rumah sakit, baru diberikan. Mungkin bisa dipakainya nanti kalau perut lu udah agak buncit." Rizky menyuapi satu biji jeruk lagi ke dalam mulut istrinya. "Oya ... Papa, Oma dan Opa mana?" Rizky mengedarkan pandangannya pada sekeliling kamar itu.
"Papa ke kantor, paling ke sini pas pulang kerja. Kalau Opa ... dia bilang sakit pinggang. Mungkin Oma yang datang bersama Papa nanti, Mas," terang Nella.
Rizky menggembung senyum, dia merasa bahagia sebab hanya ada dia dan Nella berdua di dalam sana. Bukankah itu adalah kesempatan emas untuk mengajaknya bermesraan? Tentu saja.
Ibu jari Rizky perlahan menyentuh bibir Nella yang tengah bergerak-gerak sebab masih mengunyah, bibir itu juga terlihat basah dan begitu menggoda.
Pria tampan itu menatap intens wajah cantik itu saat tatapan mereka bertemu. Perlahan dia membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Nella. Nella yang melihatnya tentu mengerti apa yang akan Rizky lakukan saat ini. Dia pun segera memejamkan mata, seolah menyambut suaminya yang hendak menciumnya.
Namun sayang sekali, bibir yang hampir satu inci lagi tertempel tidak jadi. Itu disebabkan oleh ponsel Rizky yang berdering begitu nyaring menghiasi kamar itu.
'Ck! Siapa yang telepon? Menganggu orang yang mau enak saja!' gerutu Rizky dalam hati.
Rizky membenarkan lagi posisi duduknya sambil berdecal kesal. Kemudian meraih ponselnya dan menatap layar. Tidak ada nama yang tertera, akan tetapi Rizky segera mengangkatnya lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga kanan.
"Halo."
Mata Nella yang sejak tadi terpejam seketika terbuka lebar saat mendengar Rizky tengah mengangkat telepon. Wajahnya langsung berubah menjadi cemberut lantaran Rizky tidak jadi meneruskan aksinya, padahal dirinya sempat menunggu.
'Siapa yang telepon? Jangan bilang Mitha,' batin Nella.
...Jangan lupa like dan komentar...
__ADS_1
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya....
...1205...