
Suara bariton yang berasal dari mulut Dosen berkacamata seketika membuat kedua orang itu terkejut. Ihsan segera mengakhiri tertawa jahatnya dan begitu pula dengan Risma, dia dengan cepat melepaskan lengan Ihsan dan membenarkan lagi posisi duduknya.
"Dia duluan, Pak!" seru mereka berdua dengan kompak saling menyalahkan satu sama lain.
"Kalian berdua keluar dari kelas Bapak!" perintah Dosen itu dengan tegas seraya menodongkan jari telunjuknya ke arah pintu.
"Tapi Risma duluan, Pak. Saya dari tadi diam saja." Ihsan membela diri.
"Kak Ihsan bohong, dia tadi menghina saya, Pak. Masa saya dibilang jelek. Kan saya cantik," balas Risma sembari menangkup kedua pipinya lalu menoleh sebentar pada Ihsan Dengan tatapan sengit.
"Dih, siapa yang menghinamu? Aku nggak—"
"Diam!" bentak Dosen itu sambil melotot hingga mereka berdua terperanjat. "Kalian tidak dengar kalau Bapak suruh keluar?!"
Ihsan dan Risma menatap takut wajah Dosen yang sudah begitu sangar, nampaknya dia benar-benar marah dengan kelakuan dua orang itu.
Pada akhirnya, dengan berat hati—mereka pun keluar dari kelas sembari membawa tasnya masing-masing.
"Ini semua gara-gara kamu, Ris! Harusnya aku tadi belajar!" gerutu Ihsan kesal seraya berjalan lebih dulu menuju kantin.
Risma yang merasa tak terima ikut membuntutinya dari belakang. "Enak saja, ini semua juga gara-gara Kakak tahu! Coba Kakak nggak menghinaku tadi."
Ihsan menghentikan langkahnya lalu berbalik badan, ditatapnya gadis itu dengan tajam. "Memangnya ada aku menghinamu? Kapan? Justru kamu yang menghina namaku, bilang kalau itu nggak keren!" tegasnya kesal.
"Memang nama Kakak nggak keren! Aku bicara apa adanya dan bukan sebuah hinaan. Tapi Kakak sendiri bilang wajahku nggak pantas dengan nama Risma yang bagus. Apa itu bukan sebuah penghinaan namanya?" gerutu Risma.
Ihsan mengangkat kedua tangan, lalu meremmas telapak tangannya sendiri dengan gemas. Baru pertama kali dia melewatkan materi hanya gara-gara masalah yang menurutnya tidak penting. Padahal, semua waktunya begitu berharga.
Malas meladeni, lebih baik Ihsan berlalu pergi ke kantin. Mungkin dengan membeli minuman dingin bisa meredakan amarahnya.
"Jangan duduk di sini, Ris." Ihsan menatap tak suka pada Risma saat gadis itu duduk di depannya. Padahal niatnya ingin menghindar, tetapi dia malah terus mengikutinya.
"Ini 'kan bangku milik kampus, bukan milik Kakak. Terserah aku dong duduk di mana," balas Risma tak mau kalah, lantas dia pun memesan jus pada pelayan kantin.
Ihsan menghela nafasnya dengan berat, lebih baik dia diam saja daripada terus berbicara nanti yang ada semakin panjang. Lantas dia pun membuka penutup kaleng kemudian menenggak minuman bersoda itu sampai habis.
Risma tersenyum sambil menatap Ihsan yang berwajah gusar, tetapi entah mengapa dia malah tambah penasaran dengan pria di depannya.
__ADS_1
'Semoga aku bisa berteman dekat dengan Kak Ihsan.' Risma membatin.
***
Setelah menemui dosen, Guntur dan Nella pergi menaiki mobil.
"Kamu mau Papa antar ke mana, Nell?" tanya Guntur tanpa menoleh, dia tengah mengemudi.
"Ke kantor Mas Rizky saja, Pa."
"Oke."
Baru seperempat perjalanan, tetapi mendadak Nella meminta Guntur untuk memberhentikan mobilnya.
"Berhenti dulu, Pa!" titah Nella cepat.
"Ada apa, sih?" tanya Guntur seraya memberhentikan mobilnya. Lantas menoleh pada Nella yang sibuk menatap ke arah luar kaca mobil sebelah kiri.
"Papa mundur sedikit, tadi kelewat."
"Oke sip, Pa." Nella memamerkan salah satu jempolnya ke arah Guntur.
Setelah mobil itu berhenti, wanita cantik itu bergegas membuka sabuk pengaman lalu turun dari mobil Guntur begitu saja.
"Ini anak mau apa sih sebenarnya?" Merasa penasaran, Guntur pun ikut turun lalu menghampiri Nella yang tengah berdiri disisi jalan raya. "Kamu sedang apa sih, Nella? Papa mau meeting nih."
"Aku mau naik itu, Pa."
Nella menunjuk sebuah bianglala besar di depan lapangan yang cukup luas itu. Saat diperhatikan sebentar—ternyata di depan mereka ada sebuah pasar tetapi biasa disebut sebagai pasar malam.
Bukan hanya bianglala saja, tetapi ada komidi putar, kora-kora dan trampoline matras yang berisi bola-bola kecil. Juga beberapa pedagang, entah itu makanan, minum bahkan pakaian dan sepatu serta tas juga ada.
Bicara tentang pasar malam, harusnya pasar itu buka pada malam hari atau paling tidak sore. Tetapi entah mengapa di jam siang seperti ini malah sudah buka? Aneh sekali.
Tempat itu juga cukup ramai, ada beberapa orang yang berdatangan tetapi sebagain besar mereka membawa anak kecil yang berusia rata-rata 8 tahun.
"Pa, ayok." Nella tiba-tiba saja menarik lengan Guntur sampai berjalan mendekati tempat itu. Namun dengan segera, Guntur menahan kakinya.
__ADS_1
"Nella, Papa ada meeting. Katanya kamu juga mau ke kantor Rizky. Kita langsung pergi saja." Sekarang giliran Guntur yang mencoba menarik lengan menantunya, tetapi Nella melakukan hal yang sama seperti Guntur tadi. Yakni menahan kakinya.
"Aku mau naik bianglala dulu, Pa." Nella kembali menunjuk bianglala yang tengah berputar-putar di atas sana, dan itu sangat mengerikan dalam penglihatan Guntur. Selain takut nonton film horor, dia juga takut pada ketinggian.
"Wanita hamil nggak boleh naik bianglala, Nell. Pamali," ucap Guntur asal.
"Memang iya, ya? Aku telepon Mama Gita dulu deh." Nella tak percaya, sebelum bertanya pada pakarnya. Lantas dia pun mengambil ponselnya di dalam saku dress. Setelah berhasil diambil, Guntur malah merebutnya begitu saja.
"Mau apa telepon Mama? Kita langsung pergi saja ayok. Papa ditungguin di kantornya Rizky ini!" geramnya.
Guntur merasa gemas sekali pada Nella. Sedari tadi dia berusaha menarik lengannya, tetapi lagi-lagi susah. Masa iya digendong?
"Meeting Papa ditunda saja dulu. Aku mau naik bianglala dulu sama Papa," rengek Nella dengan tangan yang lagi-lagi menunjuk keinginannya.
Guntur membuang nafasnya dengan gusar, lalu dia pun mengambil ponselnya di dalam saku jas untuk menghubungi Rizky. Mungkin Rizky adalah satu-satunya orang yang akan membantunya kali ini.
"Halo, Riz," ucap Guntur saat anaknya baru saja mengangkat telepon darinya.
"Papa ada di mana? Kok lama sekali? Aku tunggu di ruang rapat bersama Reymond dan Pak Mawan."
Guntur ada meeting bersama mereka bertiga, tetapi sekarang dia sendirian merasa kesulitan.
"Dih, Papa kok malah telepon Mas Rizky, kan aku mau mengajak Papa naik bianglala," rengek Nella kesal.
"Itu seperti suara Nella, ada apa, Pa? Nella kenapa?" Suara Nella terdengar agak samar sampai ke telinga Rizky, tetapi justru itu membuatnya khawatir.
"Istrimu mau mengajak Papa naik bianglala, Papa nggak mau tapi dia merengek terus. Bagaimana ini, Riz?" gerutu Guntur frustasi. Lengannya kini dikempit pada ketiak menantunya. Nella masih menengadah ke atas, tepat di mana bianglala itu masih berputar-putar.
'Sepertinya seru, aku sama Papa Guntur harus mencobanya,' batin Nella.
*
*
Hari ini up sekaligus 3, jangan lupa like dan komentarnya, ya!!
__ADS_1