Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
296. Mau intip sedikit


__ADS_3

"Sudah, sih. Ngapain kalian jadi berantem? Aneh." Gita melerai perdebatan di antara suami istri itu. Keduanya saling melipat bibirnya masing-masing. "Sekarang kalian ke kamar, kamu nanti tolong pijitin kakinya Nella. Tuh lihat ..." Gita menunjuk kaki menantunya hingga pandangan mata Rizky tertuju ke sana. "Kakinya bengkak, nanti olesi minyak angin."


"Aku mana bisa pijit, Ma? Kan aku bukan tukang urut."


"Kan ada video di internet, cari dan pelajarilah. Kamu ini enaknya doang tinggal bikin anak. Giliran ngurusin ibu hamil nggak mau, kamu sayang nggak sih sama Nella?" Gita mendengus kesal.


"Ya sayanglah, Ma. Masa iya aku nggak sayang." Rizky berdiri, kemudian menarik lengan Nella hingga membuat tubuhnya berdiri. "Ayok ke kamar, aku akan berikan pijat plus-plus sama kamu, Nell," ujar Rizky sembari terkekeh dan mengusap dagu Nella.


"Jangan macam-macam, Rizky!" pekik Gita sambil menoloti anaknya yang kini berjalan menaiki anak tangga.


*


Keduanya masuk ke dalam kamar, lalu Rizky mengunci pintu.


"Jihan ke mana, Mas?" tanya Nella seraya duduk selonjoran di atas kasur.


"Sama Papa kayaknya." Rizky membuka laci kemudian mengambil minyak angin, setelah itu dia naik ke atas kasur. Duduk di samping Nella.


"Tadi Jihan nangis dan minta nyusu, nggak?"


"Minta nyusu mah nggak, tapi dia nangis gara-gara berak."


"Mas cebokin?"


"Nggak, Papa yang cebokin."


"Dih, kok bukan Mas? Kan Mas Daddynya."


"Itu Papa yang mau kok. Sudah ayok lepas bajumu." Rizky sudah menyentuh ujung dress yang Nella kenakan.


"Ngapain buka baju, kan yang dipijit kaki?"


"Susahlah kalau nggak dibuka."


"Susah apanya?" Nella menarik ke atas rok dressnya sampai paha. "Nih, udah, Mas."


"Tetap saja susah. Sudah sih dibuka saja. Nurut kenapa, sih?" Rizky sudah hampir menarik dress itu, tetapi tertahan lantaran ketindihan bokong.

__ADS_1


"Tapi Mas jangan macam-macam, ya?" Nella menatap curiga Rizky. "Cukup dipijit saja. Nggak lebih dari itu."


"Memang kenapa, sih? Kan kamu istriku, Nell. Mau aku apain juga terserah aku."


"Semalam 'kan sudah, Mas. Jangan rutinlah, aku capek."


"Iya, nggak kok."


Nella akhirnya menurut, dan kini dia sudah melepaskan dress hingga meninggalkan pakaian dalam saja.


Setelah itu Nella berbaring senyaman mungkin, lalu Rizky mengambil ponselnya di dalam kantong celana, lalu mencari video lewat internet untuk melihat tutorial cara memijat untuk pemula.


Perlahan pria tampan itu mengolesi seluruh kaki istrinya, dari paha hingga mata kaki. Kemudian pelan-pelan dia pun meremmas betis.


"Kalau sakit bilang ya, Nell."


"Iya, Mas." Nella mengangguk dan tersenyum menikmati sentuhan tangan suaminya.


***


"Apa? Yang benar saja!" Sofyan mendengus kesal saat mendengar apa yang Rizky sampaikan lewat sambungan telepon itu, lantas dirinya memijat dahi. "Kamu ini bagaimana sih, Riz. Kok bisa Nella hamil lagi? Kata Papa juga dikb."


"Itu juga dikb, aku pakai kond*m tapi bocor, Pa."


Sofyan menghela napasnya gusar. "Ya sudah deh. Yang penting Nella dan calon anakmu baik-baik saja, ya?"


"Iya, Pa. Amin."


Setelah memutuskan sambungan telepon, Sofyan berjalan keluar dari kamar, mencari-cari keberadaan istrinya. Malam ini dia dan Maya menginap di rumah Darus setelah mengantar Yuni. Sebenarnya sih Sofyan malas, tetapi tak enak jika menolak.


Senyum dibibir Sofyan terukir dengan jelas saat melihat istrinya berada di dapur, dia tengah mencuci piring pada wastafel.


Cepat-cepat Sofyan turun dari anak tangga, lalu merengkuh pinggang Maya hingga membuat wanita itu terperanjat.


"Ih, Ayank! Jangan ngagetin begitu! Nanti kalau aku jantungan bagaimana?" celoteh Maya sambil menoleh pada Sofyan yang kini menaruh dagunya pada bahu kiri.


"Lagian kamu malem-malem malah cuci piring, katanya pas di jalan kamu kepengen, May." Sofyan mengalihkan rambut Maya ke samping, lalu perlahan dia pun menjilati tengkuknya.

__ADS_1


Tubuh Maya seketika merinding, dia langsung menggerakkan tubuhnya sebab aktivitas menyucinya tak akan kelar kalau begini. "Ayank diem dulu, sebentar lagi ini selesai."


Maya mencuci piring dan gelas sisa makan malam mereka bersama, dan sekarang hanya tinggal membilasnya pakai air bersih.


"Pembantunya kemana sih, emang? Nanti tangan kamu malah kasar lho kalau nyuci terus." Sofyan menarik kedua tangan Maya, lalu membalik tubuhnya hingga berhadapan. Kembali dia merangkul pinggang wanita itu dan sedikit menekannya supaya lebih dekat.


"Nggak ada pembantu di sini, Ayank."


"Masa? Kemana emang orangnya? Pulang kampung?"


"Bukan, tapi memang sejak dulu nggak sewa pembantu. Om nggak ada uang."


"Oh begitu, ya sudah gampang besok saja. Ayok kita tempur lagi, aku kuat sampai 10 ronde."


"Iya, sebentar dulu. Ini tinggal bilas doang pakai air." Maya melepaskan tangan Sofyan yang sejak tadi merangkul pinggangnya, lantas dia berbalik dan membilas piring-piring yang masih banyak busa sabun.


Namun, tiba-tiba saja rok dress yang dia kenakan itu Sofyan singkap sedikit, lalu cellana dalamnya diselipkan pada sisi selangk*ngan, dan tak lama sesuatu benda yang panjang nan besar itu menusuknya dari belakang hingga membuat Maya terbelalak.


"Ayank ... Aaahh!" desah itu langsung meluncur saat bokongnya terguncang oleh ulah suaminya. Sofyan terlihat tak sabar menunggu Maya dan pada akhirnya melakukan itu semua di sana. "Ayank ... ini dapur, nanti kalau ada yang lihat bagaimana? Malu."


"Siapa yang melihat? Semua orang di sini tidur, May." Sofyan makin cepat menekan miliknya masuk ke dalam sana, lalu kedua tangannya perlahan meremmas dada Maya.


Suara erengan kenikmatan itu langsung lolos di bibir keduanya. Maya baru pertama kali merasakan sensasi bercinta di dapur dan rasanya tetap sama, yaitu enak.


Sekarang Sofyan memindahkan Maya di atas meja dapur, dia juga melepaskan cd berwarna merah terang itu lalu menaruhnya ke dalam kantong celana panjangnya. Kembali Sofyan melakukan aksinya, dia melebarkan kedua paha wanita itu dan segera dia tanamkan miliknya yang super jumbo.


"Aahhh ... Ayank."


"Enak, May?" tanya Sofyan lalu meraup kasar bibir Maya. Dengan masih melaju dengan penuh kecepatan.


Perlahan tangan Sofyan sudah mendarat pada kancing depan pada dada dress Maya, tetapi segera ditahan wanita itu ketika mulai membukanya.


"Ayank, pindah ke kamar saja, yuk. Biar enak buka-bukaannya." Meskipun memang terasa nikmat, tetapi Maya masih ingat di mana dia sekarang. Bagaimana nanti jika salah satu keluarga ada yang melihat? Pastinya dia sangat malu.


"Jangan dibuka semua. Aku mau intip sedikit saja, Sayang ...." Baru saja Sofyan hendak melepaskan satu kancing itu, tetapi secara tiba-tiba ada seseorang datang menghampiri mereka.


"Sedang apa kalian?" tanya orang tersebut dan sontak membuat keduanya terkejut.

__ADS_1


__ADS_2