Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
234. Barang bagus


__ADS_3

Mata Maya seketika melotot saat tegukan air itu membasahi tenggorakannya. Tiga tegukan itu berhasil masuk tetapi yang keempat kalinya tidak. Tenggorokannya sudah cukup panas dan dia pun langsung memuntahkannya.


"Br*ngsek, kau!"


Plak!


Pria itu menampar pipi Maya hingga kening gadis itu terbentur kaca mobil. Dan tak lama di pun jatuh pingsan.


"Bajuku basah! Dasar gadis gila!" geramnya emosi. Dia menyentuh kaos hitamnya yang terasa dingin akibat minuman yang Maya tumpahkan ke arah dadanya.


***


"Kenapa dengannya? Kenapa dia bisa pingsan?" tanya seorang pria yang terlihat begitu khawatir saat pria berbadan kekar itu membawa Maya masuk ke dalam kamar hotel. Lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Dia hanya ketiduran saat dalam perjalanan, nanti juga dia bangun, Bos," jawab pria itu berbohong dan mampu ditangkap basah oleh pria yang dipanggil bos itu.


"Tapi kau nggak apa-apaan dia, kan? May ... maksudku Melisa." Pria itu langsung meralat ucapannya.


Pria itu menggeleng cepat. "Nggak Bos, masa saya apa-apakan dia. Dia 'kan hanya untuk Bos yang sudah membelinya. Ya sudah ... kalau begitu saya permisi." Pria itu membungkuk sopan lalu keluar dari kamar hotel.


Tak berselang lama kepergiannya, ada seorang pria yang masuk ke dalam kamar itu, tubuhnya juga sama kekarnya.


"Sekarang bagaimana, Pak?" tanyanya.


"Kamu balik lagi ke sana dan ambil identitas Maya. Kalau sudah ketemu sekalian pesankan tiket pesawat untuk besok aku dan dia pulang," titah pria yang dipanggil bapak itu. Dia adalah Sofyan.


Ya, dia Sofyan. Dia lah orangnya yang berhasil membeli Maya. Tentunya dengan bantuan Aldi juga, sebab tadi para penjaga itu terlihat tak mengizinkan dan Sofyan sendiri bukan salah satu dari peserta di bar itu.


Namun, Aldi sendiri menyarankan untuk bertanya langsung pada Mami dan memberikan penawaran. Dan akhirnya wanita yang haus akan uang itu langsung tergiur dengan nominal besar yang Sofyan berikan. Dia langsung setuju dengan catatan uang itu dikirim langsung ke dalam rekeningnya.

__ADS_1


"Baik, Pak." Aldi mengangguk sopan, lalu pergi dari kamar hotel itu.


Setelah mengunci pintu, Sofyan melepaskan jasnya lalu melemparkan benda itu ke arah sofa. Perlahan kakinya melangkah menghampiri Maya yang masih memejamkan mata. Dia hanya ingin memastikan jika gadis itu tak sadarkan diri karena memang tidur atau malah pingsan.


Sofyan membulatkan matanya saat salah fokus, salah fokusnya karena bukannya melihat wajah, dia justru melihat belahan dada yang begitu menantang dan seolah menguji imannya yang dangkal.


"Ditarik sedikit bisa langsung kelihatan," gumamnya sambil menelan saliva dengan kelat.


Tangannya perlahan terulur menuju belahan dua benda kenyal itu, sedikit lagi dia hampir menurunkan gaun itu sebab penasaran ingin melihat puncak dada. Tetapi dia justru cepat-cepat menarik selimut untuk menyelimuti seluruh tubuh Maya sampai leher.


"Ingat Sofyan! Ini nggak boleh!" Sofyan menepuk bolak-balik kedua pipinya dengan kasar. Menyadarkan isi otak yang sejatinya mesum dan pria yang haus akan belaian.


Sofyan ingat, jika dia sudah pernah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan bercinta lagi hanya setelah menikah dengan istrinya. Tetapi sepertinya momen ini sungguh tak bisa semudah itu untuk bisa dia lewati.


Pandangan mata Sofyan kini beralih pada wajah cantik Maya. Wajah gadis itu terlihat sangat merah, apa lagi pipi kirinya yang sedikit lecet itu. Perlahan lengan Sofyan terulur, lalu mendarat pada pipi mulus Maya seraya merabanya.


Seketika, sentuhan lembut yang Sofyan lakukan itu membuat gadis itu mengerjapkan matanya, sebab dia dapat merasakannya.


Maya mengerutkan keningnya sembari menyipitkan matanya menatap Sofyan. "Kamu siapa? Kok wajahmu mirip Pak Sofyan?" tanya Maya seraya cegukan. Aroma alkohol itu pun langsung terguar dari mulutnya hingga tercium ke hidung Sofyan.


"Aku memang Sofyan. Tapi mulutmu kenapa bau alkohol, May? Kamu minum? Apa mungkin dipaksa minum? Dan ada apa dengan pipimu?"


Sofyan mencecar beberapa pertanyaan namun sayangnya semuanya itu terdengar samar-samar di telinga Maya. Gadis itu juga sepertinya hilang setengah dari kesadarannya.


"Apa yang kamu katakan? Kenapa kepalaku ... aaww!" Maya memekik seraya menarik tubuhnya untuk duduk.


Perlahan tangannya menyentuh kepala. Kepalanya itu langsung berdenyut hebat dan kini semua yang dilihatnya seakan berputar, begitu pun dengan tubuh Sofyan yang masih berdiri kokoh di depannya.


"Kamu kenapa, May? Apa kepalamu sakit?" Sofyan berjalan mendekati gadis itu.

__ADS_1


Namun Maya justru berlari dengan sempoyongan masuk ke kamar mandi untuk memuntahkan isi di dalam perutnya, di dalam wastafel. Dia merasakan gejolak di perut dan mual sekali. Bisa dibilang ini adalah pengalaman pertamanya minum alkohol.


"Uueek ... Uueek."


Mendengar suara Maya yang tengah muntah-muntah, Sofyan langsung menghampirinya.


Namun, seketika langkahnya terhenti dengan kedua mata yang terbelalak lantaran melihat Maya tengah melepaskan seluruh pakaiannya hingga bugil. Lalu dia masuk ke dalam bathtub yang terisi penuh.


"Astaghfirullah!" Sofyan langsung menutup mata, kemudian berlari cepat keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat. Deru napasnya terdengar tersengal-sengal, dia berulang kali mengusap wajahnya dengan kasar. "Ah, brengs*k! Ini namanya dilihat dosa, nggak dilihat barang bagus."


Apa yang dilihatnya barusan langsung terlintas dalam otaknya yang kotor. Meski hanya sekilas, tetapi tubuh gadis itu sangat menggoda. Apa lagi buah dada yang terlihat bergelayut manja di tubuhnya. Kenyal, menantang dan begitu kokoh.


Ingin rasanya Sofyan menyesapnya, menikmati sentuhan kulit kenyal itu. Sudah lama sekali, begitu lama hingga membuatnya kali ini tak tahan. Sofyan tak kuat, benar-benar tidak kuat menahan hawa nafsu yang membara saat ini juga.


Sofyan langsung mengusap air liurnya yang baru saja menetes, lalu mengacak rambutnya frustasi. Miliknya di dalam celana sudah mengeras dan berkedut-kedut. Kasihan sekali dia, sudah beberapa bulan hanya bertemu sabun mandi. Tak bertemu lawan yang sebanding.


"Aku bisa gila lama-lama di sini. Apa kutinggalkan Maya saja? Tapi dia sangat mabuk, kalau sampai jatuh atau kenapa-kenapa bagaimana?" Monolog Sofyan gundah. Dia merasa sangat dilema. Antara menyelamatkan imamnya atau menunggu Maya selesai dari kamar mandi.


Hampir satu jam dia berdiri di depan pintu itu, berulang kali dia memekik nama Maya tetapi seseorang yang berada di dalam sana tak menyahuti sama sekali.


"May! Kamu sudah selesai belum?!" pekiknya.


Sofyan pun akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam kamar mandi untuk mengecek keadaan Maya. Tak bagus rasanya jika lama-lama berendam. Dia bisa-bisa masuk angin.


"Aku sering melihat wanita bugil, bahkan yang menari bugil di depanku juga sudah. Tapi kenapa aku begitu berlebihan sekali sekarang?" Sofyan benar-benar sangat gugup, bahkan langkah kakinya begitu bergetar. "Kenapa kamu sangat menggodaku, May? Dan kenapa kamu kinyis-kinyis?"


Sofyan sedang menggendong Maya pada kedua lengannya, langkah kakinya membawanya Maya menuju tempat tidur lalu. Tetapi Sofyan masih sambil terus memandangi tubuh mulus Maya, meski kini sudah berbalur handuk di atas dada.


"Panas! Kenapa panas sekali," gumam Maya sambil mengertakkan giginya. "Aku ingin mandi lagi."

__ADS_1


Pelan-pelan Sofyan membaringkan tubuh gadis itu ke atas kasur, tetapi dilihat kini tubuh Maya sudah melikuk-likuk tak jelas. Dan secara tiba-tiba lengan Sofyan ditarik kasar olehnya hingga tubuh kekarnya jatuh di atasnya. Bibir keduanya itu tak sengaja saling membentur.


Cup~


__ADS_2