
"Mas ... kok jadi marahin Bibi," ucap Nella lemah.
"Sumpah, Pak. Bibi mengantarkannya, hanya saja saat Bibi mau mengetuk pintu ... Bibi mendengar Pak Rizky dan Nona Nella mendessah, jadi Bibi nggak enak dan takut menganggu," terang Bi Yeyen apa adanya.
"Alasan saja Bibi ini! Kan bisa mengantarkannya lagi, dan jangan cuma sekali! Aku bercinta dengan Nella nggak bakal sampai pagi kok!" gerutu Rizky kesal, lantas dia pun berdiri dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Bi Yeyen segera mengambil handuk di atas dahi Nella, lalu mencelupkannya kembali ke dalam baskom. Setelah diperas, kembali dia menempelkan pada dahi wanita cantik itu.
"Bibi jangan sedih, aku minta maaf," ucap Nella sambil tersenyum.
Dia merasa tak tega melihat wajah Bi Yeyen yang sendu saat dimarahi Rizky. Jujur saja, ini bisa dibilang kali pertamanya sang bos memarahinya sampai melotot. Bisanya Rizky tak pernah marah-marah dan memang pekerjaannya di rumah itu hampir tak ada yang salah.
Namun, Bi Yeyen dapat memaklumi sikap Rizky padanya dan menganggap memang itu adalah alasannya yang kurang memperhatikan Nella. Mungkin Rizky disini mau—jika bukan dirinya seorang yang peduli pada Nella, tetapi Bi Yeyen juga.
"Bibi nggak sedih, Nona." Bi Yeyen menggeleng sambil tersenyum tipis. "Apa Nona Nella mau makan buah? Nanti Bibi bawakan sekalian membuat susu ibu hamil."
"Mau." Nella mengangguk samar. "Pisang saja dua, Bi."
"Ya sudah ... tunggu sebentar." Bi Yeyen berjalan keluar dari kamar itu lalu menutup pintu.
Hanya selang beberapa detik saja, Rizky keluar dari kamar mandi dengan memakai lilitan handuk di atas pinggang. Tangannya menjinjing wig sebab kepala botaknya juga perlu diberi sentuhan shampoo.
"Jangan lupa pakai serum, Mas. Biar cepat tumbuh rambut," ucap Nella pelan saat melihat Rizky tengah mengambil pakaian di dalam lemari lalu memakainya.
"Iya, Sayang."
Terlihat Rizky begitu tampan memakai setelan jas berwarna biru nevy. Ternyata benar kata Nella—dia tampan dan tambah keren meskipun tanpa rambut.
"Coba lu pasangkan wig ini. Kok gue yang pasang seperti mau jatuh, ya?" Rizky memberikan rambut palsunya ke tangan Nella.
"Sudah di kasih serum belum kepala botaknya?"
"Sudah."
__ADS_1
"Sini aku cium dulu, biar wignya nggak jatuh saat dipakai nanti."
"Memangnya pengaruh, ya?" Rizky mengerutkan keningnya, lalu membungkuk dan mendekatkan kepala botaknya hingga Nella bisa menciumnya.
"Ngaruh, Mas. Bibirku 'kan ada lemnya." Nella terkekeh lalu mengecupi kepala botak itu tiga kali.
Cup! Cup! Cup!
Serum itu tercium sangat wangi pada kulit kepala Rizky, dan itu juga membuat Nella makin menyukai kepala botaknya.
"Aku suka Mas Rizky botak, ini sangat keren dan membuat Mas Rizky tambah tampan," puji Nella, kemudian dia memakaikan wig itu pada kepala suaminya.
"Terima kasih atas pujiannya, Sayang." Rizky yang sudah merona lantas mendekat lalu mengecup singkat bibir Nella.
Nella tersenyum malu-malu. "Sama-sama. Tapi ngomong-ngomong ... Mas mau pergi ke mana? Kok rapih banget?"
"Ke kantorlah, ke mana lagi memangnya?" Rizky terkekeh.
"Gue pengennya juga begitu, Nell. Tapi bukannya kemarin lu juga tahu ... kalau gue nggak ikut meeting dan hari ini sudah membuat janji bertemu dengan rekan bisnis gue. Jadi kalau ditunda lagi ... gue rasa itu nggak sopan, gue juga nggak mau membuat salah satu rekan gue kecewa. Semenjak menikah, gue sering menunda pekerjaan gue. Dan itu membuatnya makin menumpuk nggak kelar-kelar," terang Rizky. Jujur dia juga tak tega meninggalkan Nella yang sedang sakit di rumah, tetapi kewajibannya yang menjadi CEO tentu tak bisa dilepas begitu saja.
"Jadi secara nggak langsung ... Mas merasa terbebani saat status Mas Rizky sudah menikah denganku?" Mata Nella mulai berair, dan tak lama mengalir pada sudut matanya.
Sedih, ya itu benar. Entah mengapa Nella semakin sensitif dan seakan takut kehilangan cinta serta kasih sayang suaminya.
Waktu dan kebersamaan, itu yang saat ini dia inginkan. Jika bisa membayar—mungkin Nella akan membayar seluruh waktu Rizky supaya bisa terus bersamanya.
"Bukan, bukan seperti itu." Rizky menggeleng cepat lalu segera menyeka air mata pada wajah cantik istrinya.
Rizky mengerti posisi dan hati Nella saat ini, tetapi sekali lagi dia hanya butuh pengertian. Dan sebisa mungkin dia juga akan membagi waktu untuk pekerjaan dan rumah tangganya.
"Terus apa? Tadi Mas bilang begitu kok," bantah Nella yang kembali menangis.
__ADS_1
"Gue juga mau terus bersama lu. Tapi gue juga 'kan perlu kerja. Kalau nggak kerja ... lu dan gue makan apa coba?" Rizky mencoba untuk menenangkan hati Nella yang bersedih, kembali dia mengecup singkat bibirnya.
"Kata Papa ... Mas Rizky 'kan kaya dan punya dua perusahaan. Memang sekarang Mas bangkrut? Dan tabungannya habis? Aku juga punya tabungan kok ... nanti kita pakai tabunganku saja."
Rizky geleng-geleng kepala. Meskipun kesal lantaran Nella tak kunjung mengerti, tetapi dia masih bisa menyempatkan untuk tersenyum.
"Gue nggak bangkrut, gue juga masih punya banyak tabungan di bank. Tapi masa gue nggak kerja? Nanti lama-lama habis juga dong."
"Kan aku sudah bilang, kalau habis pakai tabunganku, Mas. Tabunganku juga nggak kalah banyak kok, Mas mau lihat?" Nella mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya, lalu menunjukkan total nominal uang yang sudah milyaran hasil kerja kerasnya sendiri pada Rizky. Upayanya untuk merayu, supaya suaminya tak berangkat ke kantor. "Isi saldoku asli dari kerjaku, Mas."
"Masa, tapi ada uang Papa Sofyan juga, kan?" tebak Rizky sembari menatap layar ponsel istrinya.
Nella menggeleng cepat. "Enak saja, ini murni uangku. Uang dari Papa ada di rekening yang satunya," jelas Nella.
"Tapi gue nggak mau makan uang lu, Nell. Haram juga makan duit istri." Rizky menggeleng lalu menaruh kembali ponsel Nella ke atas nakas. "Yang ada gue maunya memberi elu, membahagiakan elu."
"Tapi aku bahagia jika Mas Rizky bersamaku."
Awalnya kesal, namun lama kelamaan ucapan Nella menjadi sangat lucu. Tentu Rizky merasa itu sebuah rayuan.
"Lu kok jadi lebay begini kenapa, sih? Perasaan kemarin-kemarin nggak." Rizky terkekeh.
"Enak saja, masa aku dibilang lebay." Nella merengut sembari memutar bola matanya dengan malas. "Ya sudah deh, sana pergi ke kantor! Tapi aku nggak mau bercinta lagi dengan Mas Rizky!" ungkapnya dengan nada penekanan.
"Dih, kok begitu? Lu mengancam?"
"Terserah mau dibilang mengancam atau nggak. Memangnya hanya Mas Rizky yang bisa mengancam, aku nggak?" ketusnya.
"Eh, tapi kata Dokter ... kita bercintanya dua hari sekali, Nell. Nggak boleh setiap hari."
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
__ADS_1
...1046...