
Mendengar apa yang dikatakan Rizky, membuat Sofyan memutar otaknya. Ia lantas mengajak Rizky bersama-sama pergi untuk menemui Ihsan dengan memakai mobilnya masing-masing.
Saat sudah sampai di bengkel, keduanya turun dan menyapu pandangannya mencari keberadaan Ihsan.
"Yang mana yang namanya Ihsan, Pah?" tanya Rizky ikut mengedarkan pandangan. Ia sendiri tak tau wajah Ihsan.
"Coba kita tanya." Sofyan tak berhasil menemukannya, lantas ia pun menghampiri seorang pria yang tengah duduk dengan memakai seragam biru nevy, seragam bengkel. "Di mana Ihsan? Aku ingin bertemu dengannya."
Pria itu menoleh. Baru saja mulutnya menganga hendak memberikan jawaban, tiba-tiba dua orang berbadan kekar datang menghampiri dan salah satu dari mereka berucap, "Bapak ada perlu apa cari Ihsan?"
Rizky dan Sofyan menoleh, menatap kedua pria bertampang seram dengan tato di lehernya.
"Kalian siapa?" Sofyan berbalik tanya, wajahnya terlihat tak menyukai kedua pria itu.
"Saya bodyguardnya Ihsan, Bapak ini yang bernama Sofyan dan Rizky, kan?" Pria itu menatap Sofyan dan Rizky bergantian.
"Bodyguard?" Rizky mengerutkan kening. "Memang si Ihsan itu sudah jadi bos sekarang?"
"Saya diperintahkan oleh Pak Angga untuk menjaga Ihsan. Pak Rizky dan Pak Sofyan silahkan pergi dari sini." Pria yang satunya menimpali Rizky. Ucapan pria kekar tersebut membuat Sofyan dan Rizky melayangkan pandangan dengan mata membulat.
"Keterlaluan sekali, Papah!" umpat Sofyan dengan emosi. Ternyata, tanpa sepengetahuannya, langkah Angga untuk memisahkan Nella dan Rizky benar-benar sudah tersusun rapih.
"Bagaimana ini, Pah? Aku nggak mau pisah sama Nella, aku juga mau tidur dengannya malam ini."
"Papah juga binggung, Riz. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Sofyan menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal, rencana untuk memberi Ihsan pelajaran sepertinya gagal. Ia tak mungkin bisa melawan kedua pria kekar itu hanya bersama Rizky. Badan mereka dua kali lipat darinya dan tentunya Sofyan tak bisa berkelahi.
Rizky mendekatkan bibirnya pada telinga Sofyan, seraya berbisik, "Kita masuk ke mobil dulu, Pah. Kita susun rencana supaya bisa membawa Nella dari rumah Opa."
Sofyan mengangguki ucapan Rizky, pria itu mengikuti menantunya untuk masuk ke mobilnya sendiri.
"Papah besok akan suruh orang untuk menculik Nella, nanti kau dan Nella bisa pergi dari Jakarta dan tinggal berdua tanpa campur tangan Opa." Setelah beberapa menit, akhirnya Sofyan memberikan usulan untuk Rizky.
"Pekerjaanku bagaimana? Aku nggak mungkin meninggalkannya begitu saja, apalagi aku memegang dua perusahaan. Dan kalau aku menculik Nella, itu akan membuat Nella makin membenciku, Pah." Usulan dari Sofyan sepertinya tak disetujui oleh Rizky. Jelas, apa yang dikatakan Rizky ada benarnya. Dan kemungkinan Nella bisa kabur darinya.
"Lalu bagaimana? Hanya itu jalannya, Papah tau bagaimana Opanya Nella. Dia sama kerasnya seperti Papah, Riz. Lebih baik kau bawa Nella pergi saja dari sini, supaya dia melupakan Ihsan dan kau bisa buat Nella hamil."
__ADS_1
Deg!
Rizky terbelalak, ia baru ingat jika belum memberitahu Sofyan tentang hal itu.
"Nella nggak akan hamil, Pah. Dia di KB."
Sofyan membulatkan netranya. "KB? Sejak kapan?"
"Sejak dia datang bulan. Setelah kita melakukan malam pertama ... besoknya Nella datang bulan, dan sebelum datang bulannya selesai ... Nella sudah meminum pil KB. Aku tau saat melihat obat itu di dalam tasnya."
"Kenapa kau nggak bilang dari dulu? Kenapa baru ngomong sekarang?" Sofyan yang merasa kesal langsung mencecar pertanyaan. Bisa-bisanya Rizky merahasiakan hal ini darinya.
"Itu karena kita sudah melakukan janji, Pah."
"Janji apa?"
"Janji jika Nella harus bercinta denganku setiap hari, baru aku tutup mulut untuk nggak beritahu Papah dan orang tuaku."
"Bodoh sekali, kau!" Sofyan menabok kasar lengan Rizky, merasa jengkel dengan menantunya itu. "Benar kata Nella kalau kau pria mesum, otakmu hanya isinya bercinta saja!" Jari telunjuknya menunjuk-nunjuk wajah tampan Rizky.
"Maaf, Pah. Tapi aku melakukan hal itu supaya Nella mau aku sentuh. Dia begitu susah jika diajak bercinta, harus dengan memaksanya."
"Tapi semuanya sudah terlanjur, Pah. Aku juga menyesal," keluh Rizky murung.
"Ya sudah, lebih baik kau turuti omongan Papah saja seperti tadi. Masalah perusahaanmu, biar nanti Papah bicarakan dengan Papahmu, Riz."
Rizky menggeleng cepat, ia memang tak menyetujui usulan dari Sofyan sampai sekarang. "Aku nggak mau, Pah. Yang aku inginkan Nella menjadi suka padaku dan melupakan Ihsan. Aku nggak mau membuat Nella makin membenciku."
Sofyan mengangguk-angguk, tapi setelah ditelaah ucapan Rizky memang ada benarnya, pernikahannya saja atas dasar paksaan dan sampai detik itupun, Nella belum bisa membuka hatinya untuk Rizky sebab masih ada Ihsan di dalamnya.
Beberapa menit mereka terdiam, sampai akhirnya Rizky mendapatkan ide brilian muncul pada otaknya.
"Aku mau ke rumah Reymond dulu ya, Pah," ucapnya seraya membuka pintu mobil.
"Ke rumah Reymond? Mau apa?"
__ADS_1
"Aku ingin meminta bantuan padanya."
"Bantuan apa? Kasih tau Papah dulu." Lengan Rizky langsung dipegang oleh Sofyan, menghentikan pria itu turun dari mobil.
"Lebih baik Papah ikut denganku, aku akan beritahu di sana."
Sofyan mengangguk, dan kini mereka berdua pergi menuju rumah Reymond dengan menaiki mobilnya masing-masing.
***
Keesokan paginya.
Tok... Tok... Tok.
Angga mengetuk pintu kamar Nella, ia sudah rapih dengan setelan jas berwarna abu tua. Hari ini ia akan mengantar cucu kesayangannya datang ke kantor pengadilan.
Ceklek~
Nella membuka pintu. Wanita cantik itu sudah memakai celana jeans panjang berwarna hitam dan kemeja pendek dengan motif polkadot pink, putih. Rambutnya ia kuncir kuda dan bahunya menyangga tali tas selempang miliknya. Dan tentunya, wajah Nella sudah diberi polesan make up sederhana namun terlihat begitu sempurna.
"Kami cantik sekali." Angga tersenyum dan mengelus pelan puncak rambut Nella. "Sudah siap? Ayok berangkat."
"Ayok!" Nella dengan penuh kebahagiaan mengandeng tangan sang kakek. Mereka menuruni anak tangga.
"Pagi Opa, Nella," ucap seorang wanita cantik yang baru saja datang menghampiri mereka bersama Bibi pembantu. Ia adalah Indah, teman Nella.
"Lho, kamu kok tumben ke sini? Dan tau dari mana rumah Opa?" tanya Nella dengan kening yang berkerut.
Indah mencium punggung tangan Angga. "Aku tau dari Papahmu, tadi aku datang ke rumahmu Nell." Setelah mencium punggung tangan Angga, lantas Indah memeluk tubuh Nella sebentar.
"Oh, terus ada apa?" tanya Nella.
"Aku ingin mengajakmu pergi ke Mall, kita jalan-jalan berdua. Sudah lama 'kan, Nell?"
Nella makin heran, kedatangan Indah saja seperti aneh. Apalagi sekarang ingin mengajaknya pergi. Dan ini untuk pertama kalinya Indah mengajaknya pergi, biasanya hanya Nella yang mengajaknya pergi lebih dulu.
__ADS_1
...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...
...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...