Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
283. Pengen seblak


__ADS_3

"Si Nella kenapa tuh? Kok lari begitu saja?" tanya Sindi.


"Mungkin mau kencing kali, Ma." Angga menyahut.


"Masa kencing sambil nutupin mulut?" Sindi berdiri, dia hendak menyusul cucunya tapi lengannya dicekal oleh Angga.


"Biarkan saja, kan ada Rizky."


*


*


Ceklek~


Pintu toilet itu dibuka oleh Nella, Rizky yang sejak tadi berdiri menunggu diluar lantas merangkul bahunya.


"Lu kenapa? Apa ada yang sakit?" Rizky mengusap keringat pada dahi istrinya, lalu mengecup pipi.


"Aku mual, Mas. Perutku sakit." Nella meringis sambil menyentuh perutnya sendiri. Makanan dan minuman yang barusan dia makan sudah hilang semua, perutnya terasa kosong.


"Mau periksa ke dokter? Ayok gua antar."


Nella menggeleng. "Nggak, aku mau pulang saja. Aku mau tiduran, perutku nggak enak."


"Ya sudah, ayok!"


Rizky mengajak Nella berjalan menuju meja untuk menghampiri keluarganya. Langkah wanita itu terlihat pelan dan begitu lemah.


"Kamu kenapa, Nell?" Semua orang bertanya dengan kalimat yang sama. Mengelilingi Nella dan menyentuh lengan wanita itu.


"Nggak apa-apa." Nella menggeleng. "Aku lupa minum obat magh tadi, dan maghku sepertinya kambuh."


"Tante punya obat magh, Nell. Apa kamu mau?" Nissa membuka tasnya, dia sudah mengambil lalu memberikan sebotol obat magh. Tetapi Nella menolaknya dengan gelengan kepala.


"Nggak perlu, Tan. Terima kasih. Aku ada obat di rumah." Lantas dia pun menatap Sofyan dan Maya. "Papa ... Mama, apa aku, Mas Rizky dan Jihan boleh pulang duluan? Aku ingin istirahat."


Sofyan mendekati Nella, kemudian mengusap rambutnya. "Boleh, sepertinya kamu juga kurang sehat. Jaga kesehatan, ya? Kapan-kapan sering ajakkin Jihan main ke rumah Papa."


"Iya, Pa." Nella mengangguk sambil tersenyum.


***

__ADS_1


Malam hari, Maya yang tengah tertidur lantas mengerjapkan matanya. Dia merasakan perutnya lapar dan tak lama suara cacingnya berbunyi.


Krukuk-krukuk.


Perlahan Maya meraba perutnya, lalu menoleh pada Sofyan. Suaminya itu tidur begitu lelap sekali tanpa memakai baju, suara dengkuran halusnya sampai terdengar di telinga.


'Laper banget.' Mendadak Maya menelan ludah, lalu memikirkan sebuah makanan yang tiba-tiba saja terlintas di otaknya. 'Kok tiba-tiba aku kepengen seblak, ya? Apa disekitar sini ada yang jual?'


Maya bangun seraya duduk, lantas mengulurkan tangannya ke arah nakas untuk mengambil ponsel, kemudian mencari-cari penjual seblak yang masih buka lewat go*gle. Sebab sekarang sudah jam setengah dua belas malam.


"Kok nggak ada yang buka? Duh, padahal aku pengen. Apalagi ada cekernya." Maya mengusap perutnya lagi sambil menelan ludah memandangi gambar seblak di layar ponselnya.


Dia pun lantas turun dari kasur, kemudian membuka lemari untuk mengambil jaket. Setelah dipakai kakinya berjalan keluar kamar. Dia melangkah hingga keluar dari rumah sampai menghampiri seorang satpam yang tengah duduk sambil ngopi pos depan. Pria berseragam itu segera berdiri saat melihat kedatangan Maya.


"Malam Nona, ada apa?"


"Malam, Pak. Apa Bapak tahu disekitar sini ada yang jualan seblak?" tanya Maya.


Satpam itu menggeleng. "Nggak tahu, saya belum pernah beli soalnya."


"Ya sudah, tolong bukain gerbangnya, Pak."


"Aku mau beli seblak, aku mau cari disekitar sini yang jualan."


"Minta dibelikan saja sama Pak Sofyan, Nona. Lagian ini juga sudah malam," saran satpam itu.


"Ayank Sofyan sedang tidur, Pak."


"Bangunkan saja, Nona."


Maya menggeleng. "Aku nggak berani membangunkannya."


"Kenapa nggak berani? Kan Pak Sofyan suami, Nona."


"Iya, tapi—"


"Maya! Sedang apa kamu di sana?!" Terdengar suara bariton yang begitu familiar di telinganya, lantas Maya menoleh dan ternyata dia adalah Sofyan. Pria itu berjalan menghampirinya dengan rahang yang mengeras, matanya terlihat merah. "Ngapain kamu berdua-duaan dengan satpam? Jangan bilang kamu selingkuh?" tuduhnya sambil menuding satpam rumahnya dengan tatapan tajam.


Maya menggeleng cepat. "Nggak Ayank, masa aku selingkuh. Aku hanya bertanya masalah seblak." Dengan takut-takut Maya menyentuh tangan Sofyan yang sudah mengepal. Dada bidang pria itu terlihat berkeringat, dia tak memakai baju.


"Kamu bohong, ya? Dan apa itu seblak?" Sofyan menatap curiga sekaligus tak percaya pada istrinya.

__ADS_1


"Sumpah, ngapain aku bohong. Lagian nggak ada bukti aku selingkuh."


"Benar, Pak. Nona Maya hanya bertanya masalah seblak sama saya, kalau nggak percaya Bapak boleh periksa CCTV."


Sofyan yang trauma akan perselingkuhan menjadi parno, dia takut dan merasa sangat tak suka jika melihat istrinya bersama pria selain dirinya.


Demi menghilangkan rasa penasaran dan kecurigaannya, pria itu pun akhirnya melihat tayangan video pada CCTV. Dan memang tak ada yang mencurigakan pada layar laptop itu, Maya memang hanya mengobrol dengan satpam.


"Bener 'kan aku nggak bohong," ujar Maya sambil merengut, dia menyentuh perutnya yang tiba-tiba saja berbunyi.


"Iya deh, maaf. Aku hanya takut dan trauma. Kamu mau apa tadi? Salak?"


"Seblak, Ayank. Berhubung Ayank sudah bangun ... apa Ayank bisa mengantar aku mencari penjual seblak?"


"Bisa, tapi seperti apa dulu seblak itu? Itu makanan, kan?"


"Makanan lah, Ayank."


Maya menyalakan ponsel yang sejak tadi berada digenggaman. Lantas menunjukkan sebuah foto yang dia maksud.


Sofyan terlihat mengerutkan keningnya, lalu meringis geli memerhatikan foto itu. "Makanan apaan itu, May? Kok seperti muntahan kucing? Geli banget."


Sepertinya Sofyan pertama kali melihat makanan itu, dan tampak jijik. Padahal bagi kaum hawa—makanan itu adalah makanan terenak se-Indonesia.


"Masa muntahan kucing, sih? Ini seblak namanya. Lagian memang Ayank tahu muntahan kucing? Kan di sini nggak ada kucing."


"Aku pernah melihatnya dulu, tapi memang seperti itu bentukannya."


"Nggak ah, muntahan kucing mah buat aku enek. Kalau ini enak. Sudah ayok antar aku. Tapi Ayank pakai baju dulu, nanti masuk angin."


"Tapi itu makanan higienis nggak? Bahannya apa? Kamu 'kan lagi hamil. Nggak boleh sembarang kalau makan. Apa lagi merah-merah begitu bentukannya." Sofyan menunjuk layar ponsel Maya.


"Nanti pas beli Ayank bisa lihat sendiri. Tapi sebelum itu kita pergi sekarang. Ini sudah malam, nanti penjualnya keburu tutup. Aku pengen banget." Maya kembali mengusap perutnya, dia benar-benar lapar dan ngiler sekali dengan makanan itu.


"Ya sudah, sebentar ... aku ambil kunci mobil dan pakai baju dulu, ya? Kamu jangan dekat-dekat dengan satpam, awas!" ancam Sofyan sambil menunjuk. Dia pun lantas berlari masuk, dan berselang beberapa menit akhirnya kembali dengan memakai hoodie. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil.


*


*


"Di restoran mana ada seblak?" tanya Sofyan sambil mengemudi, dia menoleh pada istrinya yang duduk di sampingnya. Sejak tadi wanita itu senyum-senyum sendiri. Entah mengapa Maya terlihat begitu senang saat ini, wajahnya begitu ceria dan fresh. Tak tampak seperti bangun tidur. "Kamu kenapa senyum-senyum? Jangan bilang itu karena seneng habis ngobrol dengan satpam tadi?" tuduh Sofyan sambil cemberut.

__ADS_1


__ADS_2