Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
221. Yang warna kuning dan bau pesing


__ADS_3

Dari bawah kolong ranjang, Rizky melihat kaki seseorang melangkah. Dia memakai sepatu hitam dan celana panjang berwarna biru. Juga dengan ember putih yang diletakkan di dekat ranjang.


Sepertinya, orang yang masuk itu adalah seorang laki-laki yang berprofesi sebagai cleaning servise. Tetapi demi memastikan itu semua, Rizky harus bertanya terlebih dahulu.


"Hei, bro! Apa lu cowok?" tanya Rizky.


Degh!


Pria yang kini tengah melipat selimut itu lantas menghentikan aktivitasnya. Mendadak dia merasakan hawa panas dan bulu kuduknya seketika berdiri.


"Kok aku seperti dengar suara pria, ya? Apa hanya perasaanku saja?" Monolognya sambil menoleh ke kanan dan kiri, entah mengapa mendadak dia jadi takut. Padahal saat ini adalah siang bolong.


"Emang ada, gue dikolong," ujar Rizky seraya mengenggam kaki kiri pria itu dari kolong ranjang.


Degh!


Pria itu tersentak kaget dengan kedua mata yang membulat sempurna, refleks dia pun menghentakkan kakinya dan gegas berlari sambil berteriak.


"Setan!"


Brak!


Pintu itu dibanting begitu saja, pria itu sudah lari keluar. Rizky pun segera menggelindingkan tubuhnya dan berdiri seraya menutup miliknya dengan salah satu tangan.


"Cih! B*ngke banget itu orang. Padahal gue 'kan mau pinjam celana." Rizky mendengus kesal, lalu dia pun memperhatikan sekeliling. Mungkin ada benda yang bisa dia pakai untuk bisa keluar tanpa harga dirinya terinjak-injak.


Benda itu ada, sayangnya itu adalah speri putih yang masih membungkus kasur. Tidak ada cara lain, terpaksa Rizky melucuti benda itu lalu melilitkan pada pinggangnya seperti ala-ala sarung.


Setelah itu, dia membuka pintu dan menyembulkan kepalanya. Sungguh rasanya dia malu untuk keluar, tetapi terlihat suasana begitu sepi. Tidak ada yang mampu dimintai tolong apalagi meminjamnya celana.


"Semoga aja nggak ada yang memperhatikan gue lari nanti. Gue bener-bener kayak orang gila." Rizky membuka pintu dengan lebar, lalu berancang-ancang dan langsung berlari dengan kencang. Tak lupa dia juga memegang erat seprei itu di bawah perut, takut jika terlepas.


Atasnya memakai setelan jas rapih, bawahnya memakai seprei putih dan sepatu kerja. Rambutnya yang panjang dan berantakan itu tergerai tak beraturan seiring kakinya berlari. Benar-benar seperti orang gila.


Langkah Rizky berhenti diparkiran, lantas dia pun mencari keberadaan mobil Guntur di sekitar. Kalau mereka menunggu di mobil Rizky, rasanya tak mungkin.


"Dih, kemana mereka? Gue ditinggal beneran ceritanya, nih? Kejam banget." Rizky mengerucutkan bibirnya saat tahu mobil Guntur tak ada, bahkan parkiran itu juga sangat sepi. Lantas dia pun kembali ke mobilnya sambil merogoh saku jas.


"B*ngke! b*ngke! Kunci gue nggak ada lagi." Rizky benar-benar sangat kesal. Kunci mobilnya itu tak ada di saku jas, bahkan dompetnya sekali pun. Sepertinya semuanya itu ada di dalam kantong celana.

__ADS_1


Terpaksa Rizky meninggalkan mobilnya begitu saja, lalu menyetop taksi di pinggir jalan dan masuk ke dalam.


Padahal niatnya ingin memakai celana dulu, di mobil ada. Tetapi pada akhirnya dia memakai seprei itu sampai pulang. Semoga saja pihak rumah sakit tidak menganggap Rizky mencuri.


***


Satpam rumah Rizky langsung membuka gerbang saat melihat bosnya itu turun dari mobil taksi, tetapi dia malah tertawa melihat penampilan bosnya.


"Setelan model baru nih, Pak. Keren banget," ujarnya sambil terkekeh.


"Model baru, model baru. Sana bayarin ongkos taksi. Gue nggak bawa dompet." Rizky memutar bola matanya dengan malas, langsung saja dia masuk ke dalam rumahnya setelah melihat dua mobil terparkir dengan rapih di halaman rumahnya.


"Mama! Kok Mama ninggalin aku, sih?" Rizky langsung marah-marah saat masuk ke dalam kamarnya. Kebetulan pintu itu terbuka dengan lebar.


Di sana ada Gita, Nella, dan Sindi. Mereka tengah duduk di atas kasur, sedangkan Jihan tertidur pulas. Dan saat mendengar daddynya itu marah-marah, Nella segera mengusap dadanya sebab tadi bayi cantik itu sempat kaget.


Tadinya mereka ingin memarahi Rizky, tetapi entah mengapa ketiga wanita itu justru tertawa melihat penampilan pria itu.


"Apa yang kamu pakai itu, Riz?" tanya Gita yang masih tertawa. "Lucu sekali."


"Aku pakai seprei rumah sakit, ini semua gara-gara Mama yang membawa koperku dan meninggalkanku." Rizky mengerucutkan bibirnya.


Nella langsung membulat matanya, dia baru ingat jika celana yang dipungut Gita adalah celana yang dipakai Rizky.


"Nggak tahu, hilang. Aku mencarinya nggak ketemu."


"Kok bisa hilang?" Gita mengerutkan keningnya. "Memangnya kamu melepaskan celanamu atau bagaimana?"


"Iya, aku melepaskannya saat mau ke kamar mandi. Terus hilang, ada dompet dan hpku juga."


Gita terdiam sejenak, dia langsung ingat tentang celana yang dia temukan. "Celana dallammu yang warna kuning dan bau pesing itu bukan? Kalau iya, mungkin ada di koper." Gita menunjuk koper yang berada di pojok ruangan.


"Enak aja bau pesing, Mama kira aku kencing di celana?" Rizky mendengus kesal, dia langsung berjalan menghampiri koper. Dia membukanya dan mengambil apa yang dicarinya sejak tadi. Kemudian setelah itu membawanya dan masuk kamar mandi.


"Mama nggak paham deh sama sikap Rizky sekarang, Nell. Kok dia kayak ada gila-gilanya, ya?" Gita tertawa sambil geleng-geleng kepala. "Masa ke kamar mandi lepas celananya diluar? Mau menggodamu atau bagaimana?"


Nella menggeleng cepat seraya tersenyum. "Aku juga nggak ngerti, Ma. Tapi biarkan saja deh. Yang penting Mas Rizky senang."


***

__ADS_1


Malam hari, Rizky yang baru saja hendak masuk ke dalam kamarnya lantas dihalangi oleh Gita yang berdiri di ambang pintu.


"Mau ke mana? Kalau mau tidur ... di kamar tamu sama Papa."


"Lho, kok sama Papa lagi? Bukannya saat di rumah sakit sudah, ya?"


Gita dan Guntur juga Risma, memutuskan untuk tinggal sementara waktu di rumah Rizky. Mereka tentu ingin dekat juga dengan Jihan.


"Sampai Nella selesai nifas. Baru kamu boleh tidur sekamar dengannya."


"Nifas itu apa?" Alis mata Rizky bertaut.


"Darah orang habis melahirkan. Milik Nella 'kan masih luka itu."


"Oh seperti datang bulan? Tapi 'kan aku nggak ajak dia bercinta, Ma. Hanya tidur bersama doang."


Gita menggeleng cepat. "Nggak, Mama nggak percaya sama kamu, Riz."


"Tapi aku nggak mau tidur dengan Papa. Papa ngorok tidurnya, Ma," keluh Rizky.


"Tidur di kamar sebelahnya 'kan ada. Rumahmu banyak kamar ... ngapain pusing?" Gita melipat kedua lengannya dia atas perut.


"Tapi, Ma. Aku—“


"Rizky sudahlah, Mama ngantuk," sela Gita cepat. Lantas dengan segera dia pun masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu. Malas meladeni anaknya.


Rizky mendengus kesal, dengan langkah berat terpaksa dia masuk ke dalam kamar sebelah. Tepat di mana Guntur berada.


'Nunggu sebulan setengah rasanya lama banget, gue pengen tidur sama Nella. Sama Jihan juga. Mama sekarang overprotektif banget sama gue ... padahal lumayan 'kan tidur bareng Nella, gue bisa cium-cium dia sambil minta dibelai,' keluh Rizky.


***


Keesokan harinya di kantor Rizky. Tepat jam makan siang seseorang mengetuk pintu ruangannya. Ini adalah hari pertama dia masuk ke kantor lagi setelah hampir sebulan lebih ambil cuti.


"Masuk!" pekik Rizky.


Seorang pria yang ternyata Hersa membuka pintu, lalu berjalan masuk sambil membawa kotak berukuran sedang dan kantong merah.


"Selamat siang, Pak. Ini ada kirimin makan siang dari Nona Nella dan paket untuk Bapak." Hersa menaruh apa yang di bawanya ke atas meja.

__ADS_1


Rizky pun segera bangkit dari kursi putarnya lalu beralih duduk di sofa yang berada di dekat meja.


"Paket apa? Gue nggak pesan paket." Rizky mengambil kotak hitam itu, lalu memperhatikannya. Di sana hanya tertera nama Rizky Gumelang dan alamat kantornya.


__ADS_2