
"Pak Hersa, Pak Rizky, Nona Mitha. Kalian baru mau makan siang, ya?" tanyanya basa-basi.
"Maya, mana makanan yang istri gue kirimkan?" Rizky langsung menodong wanita itu dengan pertanyaan, telinganya masih menempel ponsel dan diseberang sana Nella tengah menunggu komentar dari Rizky.
"Makanan? Makanan apa, Pak?" tanya Maya dengan kening berkerut. "Kapan istri Bapak kirim makanan?"
"Lu nggak usah bercanda, kata istri gue ... dia kirim makan siang lewat kurir dan lu yang menerimanya," ucap Rizky dengan nada penekanan.
Maya menggeleng cepat. "Saya nggak bercanda, Pak. Saya nggak tahu apa-apa."
"Mas ... aku ingin bicara dengan sekretaris Mas Rizky," ucap Nella pada sambungan telepon itu, dia mulai jengah dengan jawaban yang tak memuaskan dari mulut Maya.
Rizky memberikan ponselnya pada wanita yang masih berdiri itu. "Nih! Lu ngomong sendiri. Jangan bohong lu, ya! Kalau nggak gue pecat!" seru Rizky sambil melotot.
Maya segera mengambil ponsel itu dan menempelkannya pada telinga kanannya. "Halo, Nona."
"Mbak, cepat berikan makanan yang aku kirim sama Mas Rizky," titah Nella dengan suara ketus.
"Saya nggak tahu, Nona. Sumpah ... saya nggak menerima kiriman itu."
"Mbak pasti berbohong. Please, Mbak ... jangan buat aku emosi, cepat berikan!" tekan Nella.
"Bagaimana saya memberikannya? Tapi saya sendiri memang nggak menerimanya, saya berani bersumpah ... saya ...."
Tut ... tut ... tut.
Maya belum selesai bicara, tetapi telepon itu sudah Nella matikan secara sepihak. Wanita cantik itu seperti sudah benar-benar kesal lantaran Maya tetap saja mengelak.
"Kenapa?" Rizky merebut kembali ponselnya dan kembali menelepon Nella, tapi panggilan itu tidak dijawab. Kembali dia menatap wajah Maya tetapi kali ini tatapannya begitu tajam. "Gue tanya sekali lagi, di mana makanan yang Nella kirim!" seru Rizky. Suaranya begitu tandas hingga membuat jantung Maya berdebar kencang.
"Saya bersumpah, Pak. Saya nggak tahu." Maya menggeleng dengan wajah memelas.
"Pak Rizky, sepertinya bukan Maya yang menerimanya." Hersa membuka suara, dia merasa kasihan pada Maya yang sedari tadi tersudutkan. Hersa tentu mengenal Maya. Meskipun mereka hanya sebatas teman kerja—tetapi wanita itu selalu berkata jujur. Terlebih lagi wajahnya sudah terlihat begitu pucat dan ketakutan, sebab sedari tadi Rizky tak ada henti-hentinya melototinya.
"Lu kok bela dia?" omel Rizky. "Apa lu tahu sekarang gue gimana? Nella pasti marah, Sa!" berangnya.
"Saya akan tanya satpam depan, siapa tahu dia melihat orang yang menerima makanan untuk Bapak." Hersa bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar dari cafe dan tak lama disusul oleh Maya yang pamit untuk membantunya.
Rizky menjambak rambutnya sendiri dan kembali menelepon istrinya, tetapi panggilan itu tidak dijawab meski sudah berapa kali ditelepon.
__ADS_1
'Ah, Nella pasti marah. Bagaimana ini? Padahal gue mau minta jatah nanti malam,' batin Rizky gusar.
Melihat wajah frustasi Rizky, Mitha merasa sangat bahagia. Bisa dipastikan jika wanita itu tengah tertawa di dalam hatinya.
'Semoga saja nggak ada yang melihatku tadi. Aku ikut senang jika Mas Rizky dan Mbak Nella berantem,' batin Mitha.
"Mas ... Mas Rizky mau pesan apa?" tanya Mitha seraya menyodorkan menu ke arah Rizky.
Jangankan untuk menjawab, menolehkan pun Rizky enggan. Lantas, pria tampan itu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari cafe menuju kantornya.
Tepat di depan gerbang, Hersa dan Maya sedang mengobrol dengan salah satu satpam penjaga gerbang di kantornya.
"Bagaimana?" tanya Rizky setengah membentak. Entah dia bertanya pada siapa, tetapi ketiga orang itu sama-sama terperangah dengan pertanyaannya.
"Nggak ada yang tahu, Pak. Saya sudah tanya sama satpam lain juga," jawab sang satpam.
"Apa perlu kita lihat CCTV?" saran Hersa.
"Ya sudah coba kita cek," jawab Rizky.
Setelah itu mereka bertiga berjalan masuk ke ruangan sekretaris. Maya duduk di kursi kerjanya lalu membuka laptop untuk membuka rekaman CCTV yang berada gerbang kantor Rizky.
"Kira-kira kurirnya datang pas jam berapa, Pak?" tanya Maya kepada Rizky yang tengah berdiri dengan Hersa di sampingnya.
Maya mengangguk, lalu mengikuti semua hal yang dipertahankan oleh Rizky.
Setiap kurir yang datang mereka fokus melihat siapa yang menerima, semuanya terlihat tak ada yang janggal sampai di jam 12.13 ada seorang kurir tengah duduk di jok motornya sembari menatap layar ponselnya sendiri. Terlihat dia seperti kebingungan dan tak lama seorang wanita berambut pirang menghampirinya.
Tiga orang itu langsung membulatkan matanya, mereka tentu tahu siapa itu.
"Dia Nona Mitha, Pak," ucap Maya, sembari menunjuk layar laptop saat rekaman CCTV itu memperlihatkan Mitha yang tengah merebut paksa kantong merah maroon itu lalu berjalan masuk.
"Putar rekaman CCTV pas di lobby," titah Rizky. Tiba-tiba emosinya sudah naik, rahangnya terlihat sangat mengeras. "Hersa, seret Mitha ke sini!" titahnya pada Hersa.
"Baik, Pak." Hersa mengangguk, lalu berlari keluar dari ruangan Maya.
Sedangkan Maya, dia memutar rekaman di lobby dan terlihat begitu jelas Mitha tengah duduk di kursi, lalu membuka isi dari kantong tersebut yang ternyata itu adalah rendang.
Rizky membulatkan matanya saat dengan kurang ajarnya Mitha makan rendang itu dan sisanya yang masih banyak dia buang ke tong sampah, bahkan sama kantong-kantongnya juga.
__ADS_1
"Kurang ajar sekali si Mitha! Brengs*k! Nella buat capek-capek malah dia buang!" berang Rizky dengan kedua tangan yang mengepal.
Tak lama Hersa datang lagi ke ruangan itu sambil ngos-ngosan, sebab dia bolak balik berlari. Sayangnya pria itu datang sendiri, tidak bersama Mitha.
"Di mana si Mitha?" tanya Rizky kesal.
"Dia nggak ada di cafe, Pak. Seperti sudah pulang."
"Lu nggak cari dia? Mungkin masih ada."
Hersa menggeleng cepat. "Nggak ada, saya sudah mencarinya tadi."
"Lu pergi cari Mitha sekarang! Dari mulai di rumahnya, kantor Papanya dan tempat kerjanya. Kalau sudah ketemu ... bawa dia ke rumah gue," titah Rizky yang mana dianggukan oleh Hersa. Setelah itu Rizky berjalan cepat keluar dari ruangan Maya menuju pintu lift.
"Lalu Bapak sekarang mau ke mana? Sebentar lagi ada meeting," ucap Hersa. Dia mengikuti langkah kaki Rizky dan ikut masuk ke dalam lift itu.
"Gue mau pulang, meetingnya diundur saja," jawab Rizky malas, pikirannya sudah runyam dan dia ingin cepat-cepat pulang menemui Nella, memberikan penjelasan.
"Meeting itu dari kemarin diundur, Pak. Masa diundur lagi?"
"Daripada jatah gue diundur, lebih baik meeting yang diundur," balasnya menggerutu.
"Jatah apa?" Hersa mengerutkan kening.
"Jatah bercinta, apalagi?"
"Nona Nella katanya sedang sakit, kok Bapak ajak bercinta. Tega sekali."
Rizky langsung melotot sembari menyikut kasar lengan Hersa. "Enak saja lu bilang tega, gue mau kasih dia vitamin. Kata Dokter juga boleh."
"Oh begitu ya, Pak. Oke deh, semoga sukses ya, Pak."
Kemarahannya seketika sirna lantaran mengingat istrinya.
"Amin, do'ain gue biar Nella nggak marah, ya."
"Iya, amin, Pak."
...Jangan lupa like dan komentarnya...
__ADS_1
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya....
...1073...