Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
287. Cari angin


__ADS_3

Ceklek~


Maya membuka pintu toilet umum, dia baru saja selesai membuah hajat.


"Ayank ... maafin aku, ya? Aku nggak sengaja kelepasan tadi, soalnya perutku tiba-tiba melilit mau berak." Maya menatap Sofyan yang tengah berdiri di depannya dengan wajah takut dan malu. Sesi bercinta mereka tadi berhenti lantaran suara kentut dan wanita itu malah ingin membuang hajat.


"Nggak apa-apa, tapi lain kali jangan, ya? Kalau mau kentut izin dulu."


"Iya, maaf."


Mereka kembali lagi masuk ke dalam mobil, lalu Sofyan segera mengemudikan mobilnya.


"Kelonannya udahan Ayank? Nggak mau dilanjutin?"


"Nanti malam saja deh, ya. Aku mengantuk banget mau cepat-cepat pulang terus tidur." Sofyan langsung menguap. Sejujurnya dia memang menginginkan untuk berlanjut, tetapi saat ini dia benar-benar mengantuk. Ditambah besok banyak pekerjaan yang menunggunya. "Aku juga pagi ini ada meeting."


"Tapi Ayank nggak marah, kan?"


Sofyan menggeleng. "Nggak, ngapain marah."


***


"Mana suamimu, May? Kok sejak tadi Tante nggak lihat," tanya Yuni. Di meja makan itu sejak tadi dia tak melihat sosok Sofyan, bahkan sampai sesi sarapan mereka selesai.


"Ayank Sofyan berangkat kerja, Tan. Tadi pagi-pagi banget soalnya ada meeting."


"Oh, sibuk banget suamimu, ya. Oh ya, May ... apa di kantor suamimu ada lowongan kerja?"


"Lowongan kerja buat siapa?"


"Tante."


"Lho, ngapain Tante kerja? Terus yang jagain toko siapa?"


"Kan ada Ommu. Lagian ... hanya mengandalkan toko sama sol sepatu itu nggak ada apa-apanya, May. Kan kamu juga tahu sendiri kalau hutang Ommu banyak."


"Tapi kalau di kantor ... kerja harus pakai izasah, Tan. Minimal SMA. Tante 'kan dulu cuma SD dan nggak lulus, kan?"


"Kamu menghina Tante?" Yuni sudah melolot.


"Bukan menghina, tapi memang kenyataannya."

__ADS_1


"Tapi 'kan itu perusahaan milik Sofyan sendiri, kan? Masa iya Tante nggak bisa kerja. Biasanya kalau ada orang dalam pasti bisa meskipun tanpa izasah. Apa lagi orang dalamnya bosnya sendiri."


"Tapi aku nggak yakin, Tan. Dan memang Tante mau kerja apa di kantornya Ayank? OG atau cleaning servise?"


"Tante mau jadi orang yang sering menerima telepon, yang kadang berdiri di depan dengan rambut disanggul. Terus kalau ada tamu dan orang yang datang pasti tanyanya ke dia," terang Yuni.


"Yang jaga resepsionis itu?"


"Iya."


"Mana bisa, itu kuliahan. Lagian ada batas umur, Tante nggak masuk kriteria."


"Umur Tante 'kan masih muda. Tante sama suamimu saja tuaan dia."


"Masa sih? Memang Tante berapa umurnya sekarang?"


"38, suamimu pasti 40, kan?"


"45."


"Nah, itu lebih tua malah. Bedanya saja jauh. Oh ya, May. Setelah kamu melahirkan ... apa lagi nanti kalau anakmu laki-laki, nanti minta Sofyan buatkan surat semacam untuk pembagian warisan," saran Yuni.


Yuni mengangguk. "Iya, itu benar. Nanti 'kan anak laki-laki pasti dapatnya lebih besar, May."


"Tapi 'kan Ayank Sofyan masih hidup, dan ngapain juga aku minta warisan?"


"Ya buat jaga-jaga, namanya dia 'kan sudah tua. Orang tua 'kan biasanya cepat mati, apa lagi kalau penyakitan."


Degh.


Ucapan Yuni sontak membuat Maya membelalakkan matanya, dia terkejut mendengar apa yang dikatakan Yuni dan itu membuat dadanya sesak, hingga nyeri ke ulu hati.


"Maksudnya, secara nggak langsung Tante do'ain Ayank Sofyan meninggal?" Wajah Maya berubah menjadi masam dan penuh amarah. "Kok Tante tega, sih? Aku 'kan baru menikah belum lama. Masa jadi janda? Anakku juga nanti kasihan ... masa nggak punya ayah?" Maya mengusap perutnya yang tiba-tiba saja terasa kram.


"Janda juga kaya, May. Kamu nggak akan mungkin sengsara. Lagian nih, ya ... nanti kamu juga bisa menikah lagi. Cari yang umurnya nggak terlalu tua, dan cocok sama kamu."


Maya menggeleng cepat lalu berdiri. "Nggak! Aku nggak mau! Aku mencintai Ayank Sofyan! Dia juga pria yang sangat baik. Tante nggak boleh ngomong kayak gitu, itu jahat namanya!" tegasnya sambil menatap tajam Yuni, wajah Maya tampak merah dan emosi di dadanya meluap-luap.


"Kok kamu jadi marah? Kan Tante hanya kasih saran. Ya kalau nggak mau dipakai ya sudah nggak usah." Yuni jadi ikut-ikutan kesal, dia juga terlihat tidak suka melihat tatapan Maya yang menurutnya tidak sopan. "Kamu jangan songgong begitu, May! Mentang-mentang jadi istri orang kaya, jadi berani sama Tante. Kamu kalau nggak ada Tante sama Om nggak bakal bisa hidup dan menikah dengan Sofyan!" berang Yuni emosi.


Maya langsung meraih ponselnya di atas meja, kemudian berlalu keluar dari rumah. Memang sudah sering dan sebenarnya Maya tak perlu kaget dengan apa yang dikatakan wanita itu, dia memang suka ceplas-ceplos dan asal bicara.

__ADS_1


Namun, tetap saja kadang kala hatinya terasa sakit. Terasa sedih dan ingin menangis.


"Nona mau pergi ke mana?" tanya Ali yang baru saja berlari menghampiri Maya. Wanita itu hendak membuka gerbang rumah.


Maya menoleh lalu menyeka air matanya yang baru saja lolos membasahi pipinya. "Aku mau pergi cari angin."


"Angin? Ini 'kan masih pagi, mana ada angin Nona?" Ali mencegah Maya yang hendak keluar, dia melakukan hal itu tentu atas perintah Sofyan juga. "Kalau mau pergi ayok saya antar. Mau cari anginnya di mana?" ajak Ali.


Satpam rumah Sofyan berlari menghampiri mereka berdua dan tak sengaja mendengar percakapan mereka berdua. "Di dalam pos ada kipas angin, Nona. Coba masuk saja ke dalam." Dia berpikir mungkin Maya kepanasan.


Maya menggeleng. "Aku nggak mau, aku maunya cari angin alam."


"Ya sudah, ayok saya antar. Kita cari angin alam." Ali menawarkan diri lagi.


Maya menggeleng lagi. "Nggak mau, aku nggak mau pergi dengan Bapak. Aku mau pesan ojeg online saja."


"Jangan Nona, naik motor bahaya. Nona 'kan sedang hamil. Nanti saya dimarahi Pak Sofyan."


Mendengar nama 'Sofyan' entah mengapa dia langsung memikirkan pria itu. Dan rasa sedih beserta kesalnya seakan sirna begitu saja. Maya pun segera mengetik layar ponselnya, lalu menghubungi Sofyan.


Tiga panggilan baru dijawab dari seberang sana.


"Halo, maaf baru diangkat, May. Aku baru saja selesai meeting," ujar Sofyan dengan suara berat.


"Ayank sibuk, nggak?"


"Memangnya kenapa? Ada meeting lagi, sih. Tapi paling habis makan siang."


"Aku mau minta waktunya sebentar."


"Untuk apa? Bicara saja."


"Aku mau cari angin sama Ayank."


"Cari angin?" Sofyan terdiam beberapa saat, tampaknya dia binggung dengan ucapan istrinya. "Cari angin bagaimana maksudnya? Ngapain angin dicariin? Memang dia hilang?"


"Ayank pulang dulu terus jemput aku, nanti aku beritahu."


"Kamu nggak aneh-aneh, kan?" Entah mengapa Sofyan sudah curiga duluan, mengingat akan pencariannya yang begitu melelahkan hanya lantaran seblak. "Angin nggak bisa dimakan lho, May. Nanti yang ada kamu masuk angin."


"Ayank ini aneh, memang aku nggak ada kerjaan makanin angin? Sudah cepat ke sini, aku tunggu, ya!"

__ADS_1


__ADS_2