
"Kan gue sudah bilang ... itu karena gue nggak tahu. Mama dan Papa nggak bilang apa-apa sama gue, Nell," jelas Rizky. Jujur, dia merasa tak nyaman dengan sikap jutek dari istrinya. Ada rasa takut jika Nella kembali membencinya.
"Bohong! Mas Rizky pasti berbohong!" bantah Nella.
"Nella, kamu jangan marahin Rizky begitu dong, nanti kita tanya ke mertuamu saja, kalian nggak perlu berantem." Sofyan membuka suara demi merelai perdebatan antara anak dan menantunya. Meskipun aslinya Sofyan masih kesal pada Rizky—tetapi rasa sayangnya tak perlu diragukan lagi, dia tak tega melihat pria tampan itu disalahkan sebab bukan kesalahannya. Lantas, Sofyan berbisik ke telinga Sindi. "Ma, kita keluar dulu saja, biarkan mereka bicara berdua."
Sindi mengangguki ucapan dari anaknya, lantas mereka berdua keluar dari kamar dan meninggalkan Nella dan Rizky.
Setelah melihat Sofyan dan Sindi pergi, perlahan Rizky mengusap puncak rambut istrinya yang baru saja memalingkan wajah.
"Gue benar-benar jujur sama lu. Lu harus percaya gue. Sebentar ... gue kirim pesan sama Mama, supaya dia ke sini."
Melihat Nella masih bergeming, Rizky hanya menghela nafas. Segera dia merogoh ponselnya di dalam kantong celana lalu mengirim pesan pada ibunya.
From: Mama
08.30 AM
Ma, Mama dan Papa ke Rumah Sakit Harapan, ya. Nella dibawa ke rumah sakit dan ada hal yang ingin aku bicarakan.
Setelah itu, Rizky menaruh ponselnya di atas nakas dan melirik meja troli yang berisi semangkuk bubur dan susu putih. Makanan dan minuman itu terlihat habis dimakan meskipun banyak yang tersisa.
"Lu sudah sarapan ternyata, kirain belum. Gue beli bubur dua cup untuk kita berdua." Rizky mengambil satu cup bubur dari dalam plastik putih, lalu membuka tutupnya. "Lu mau makan lagi nggak? Mau gue suapi?"
"Nggak," jawabnya singkat.
"Ya sudah ... gue makan dulu, ya? Gue belum sarapan soalnya." Rizky menyendokkan bubur itu di dalam mulutnya dan mengunyahnya.
'Makan tinggal makan, kenapa harus izin? Menyebalkan sekali,' batin Nella. Rasa kesal di dadanya masih terus terasa, dia tak bisa semudah itu melupakannya.
"Apa perut lu sakit?" tanya Rizky disesi makannya.
"Nggak."
"Mual?"
"Nggak."
__ADS_1
"Pusing atau apa gitu?"
"Nggak! Aku baik-baik saja, Mas!" sentak Nella kesal.
"Ya ampun Nell, nggak usah marah dong. Kan gue nanya baik-baik." Rizky hanya bisa geleng-geleng kepala, dia merasa binggung dengan apa yang terjadi pada istrinya. "Lu kenapa sih? Apa lu kesal sama gue karena lu hamil? Jadi lu dan gue nggak jadi bercerai? Karena itu, ya?"
"Bukannya Mas Rizky yang nggak senang, gara-gara aku hamil dan kita nggak jadi bercerai, Mas Rizky nggak bisa bersama Mitha!" tuduh Nella membalikkan ucapan Rizky.
"Mitha? Uhuk .... uhuk." Rizky yang tengah menelan bubur tiba-tiba tersendak mendengar nama itu, buru-buru dia menuangkan air pada air lalu menenggaknya.
"Lebay banget sih, Mas. Cuma nyebut namanya sampai tersendak begitu. Nggak usah gerogi kali," cibir Nella sambil merenggut.
Rizky menggeleng cepat. "Lebay? Siapa yang lebay? Gerogi juga? Maksud lu apa, sih?" Rizky mengerutkan kening, dia begitu binggung dengan apa yang Nella katakan itu, jelas sekali istrinya marah tanpa sebab.
'Pintar banget aktingnya, padahal di dalam hatinya sudah tersindir. Mas Rizky benar-benar menyebalkan!' gerutu Nella.
"Nell," panggil Rizky lagi. Wajah wanita cantik itu sudah memerah, Rizky yang melihatnya sudah paham jika dia sedang emosi. "Apa gue punya salah sama lu? Maaf, tapi jujur gue nggak ngerti."
'Salahnya karena Mas Rizky bertemu dengan Mitha, aku nggak suka,' batin Nella.
Nella membuang nafas gusar. "Papa Guntur mau menjodohkan Mas Rizky sama Mitha, apa Mas Rizky sudah tahu? Apa mungkin memang sudah tahu, tapi pura-pura nggak tahu?" hardiknya lagi.
Rizky membulatkan matanya. "Menjodohkan? Gue nggak tahu apa-apa," sahutnya sambil menggeleng cepat.
"Mas Rizky bohong!" Kembali Nella menuduh Rizky, kini wajah cemberutnya berubah menjadi sedih. Bahkan kedua matanya sudah meneteskan air mata.
"Sumpah gue nggak bohong, gue ...."
Ucapan Rizky terhenti tatkala mendengar suara pintu kamar itu terbuka. Keduanya menoleh ke arah pintu, Gita dan Guntur yang datang.
Nella gegas mengusap kedua pipinya, tak ingin memperlihatkan wajah sedihnya.
"Nella, kamu kenapa Sayang? Mama dan Papa menunggu kalian di persidangan tadi." Gita menghampiri menantunya dan mengelus pipi mulus Nella. Dia dan Guntur memang pergi lebih dulu ke persidangan sebelum Rizky bertemu dengan Sofyan.
"Aku—"
"Sebelum Mama tahu Nella kenapa, ada yang ingin aku tanyakan dulu." Perkataan Rizky berhasil menghentikan Nella yang hendak jawaban pertanyaan Gita.
__ADS_1
"Apa itu?" Dua orang itu langsung menanggapinya.
"Kata Papa Sofyan ... semalam dia menelepon Mama dan yang menjawab adalah Papa. Dia bilang Nella masuk rumah sakit, tapi kenapa Papa atau Mama nggak memberitahuku?" tanya Rizky seraya menatap Guntur dan Gita bergantian.
"Kapan Sofyan memberitahu Nella ke rumah sakit? Mama nggak tahu apa-apa, Riz," jawab Gita jujur sambil geleng-geleng kepala.
"Papa yang menjawabnya dan memang Papa sengaja nggak memberitahumu." Guntur mengakuinya.
"Kenapa Papa melakukan hal itu? Kalau Nella kenapa-kenapa aku nggak tahu bagaimana? Kok Papa tega?" Rizky segera mencecar beberapa pertanyaan pada Guntur, supaya Nella tak marah dan salah paham padanya.
"Papa minta maaf, Papa melakukan hal itu supaya kamu nggak terlalu bergantung sama Nella. Papa nggak mau dia terus membuatmu sakit hati." Guntur melirik sekilas pada Nella, lalu kembali menatap Rizky. Tergambar jelas jika pria itu seperti tak suka pada Nella. Rasa sayang Guntur sudah memudar akibat semua yang Nella perbuatan pada anaknya. Dia seperti ikut merasakan sakit hati Rizky waktu itu.
"Tapi harusnya Papa jangan melakukan hal itu. Apa Papa tahu ... Nella masuk rumah sakit karena apa?" Sebenarnya Rizky merasa kesal, tapi dia mencoba untuk melupakannya sebab sekarang adalah momen yang membahagiakan. Dia tak mau merusaknya hanya karena masalah yang sudah berlalu.
"Karena apa?" tanya Guntur.
"Nella hamil! Sebentar lagi Papa dan Mama jadi Opa dan Oma!" seru Rizky seraya berjingkrak, lalu memeluk Guntur.
Gita yang ikut mendengarnya langsung tersenyum lebar dan ikut memeluk tubuh Rizky yang berada dipelukan suaminya.
"Alhamdulilah, selamat Rizky. Anak Mama memang perkasa dan hebat! Mama bangga padamu."
"Iya dong, Ma." Rizky begitu tersanjung dengan sebuah pujian itu, hatinya begitu bahagia.
Gambaran kebahagiaan pada calon ayah itu tentu membuat Nella yang melihatnya langsung mengulas senyum. Entah mengapa hatinya terasa hangat meskipun tidak ikut dalam pelukan mereka.
'Apa Mas Rizky benar-benar bahagia?' batin Nella.
Setelah memeluk dan mencium kening Rizky, Gita beralih menghampiri Nella dan mencium pipinya, tangannya perlahan meraba perut yang masih terasa rata itu.
"Wah, apa di sini ada benih cinta kalian? Manis sekali, Mama nggak sabar untuk melihatnya," ucap Gita.
...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...
...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...
1074
__ADS_1