
Setelah Bibi pembantu pergi menuju dapur, Rizky langsung menelepon Nella.
"Halo, Nell. Lu di mana?" tanya Rizky saat sambungan itu diangkat.
"Kamu nyariin Nella?" Bukan suara Nella yang terdengar, melainkan Gita.
"Mama, kok Mama yang angkat telepon?"
"Iya, Nella sedang ke toilet. Ada apa?"
"Mama dan Nella pergi ke mana?" tanya Rizky.
"Memang kamu nggak diberitahu sama Bi Yeyen?" Gita malah berbalik tanya.
"Dia bilang Mama dan Nella pergi ke mall, tapi masa pagi-pagi sekali? Bukannya belum buka, ya?"
"Nella pagi-pagi sudah merengek ingin ke mall gara-gara Mama mengajaknya semalam. Harusnya tuh ... kamu sebagai suami memanjakannya! Bukan malah begini!" Suara Gita terdengar emosi. "Mama kecewa sama kamu, Riz! Sudah menikah, punya istri dan sekarang mau punya anak, tetapi kamu malah tidak mensyukurinya!" geram Gita.
"Tidak mensyukuri apa maksudnya? Aku 'kan hanya tanya dia ...."
Tut ... tut ... tut. Sambungan itu diputuskan oleh sepihak oleh Gita, padahal Rizky belum selesai bicara.
Rizky mendengus kesal, kemudian dia mencoba menelepon kembali tetapi justru sekarang panggilannya ditolak. "Kok dimatiin, sih?"
*
"Siapa yang menelepon, Ma?" tanya Nella yang baru saja datang menghampiri Gita di meja. Mereka berada di sebuah restoran di dekat mall, dan rencananya menunggu mall itu buka sembari sarapan di sana.
"Suamimu." Gita memberikan bendahara pipih itu pada Nella yang sejak tadi berada dalam genggamannya.
"Oh, Mas Rizky telepon mau apa? Apa mencariku dan Mama?"
"Sepertinya iya, tapi lupakan saja. Ayok pergi. Noh ... satpam mallnya sudah datang." Gita bangkit dari duduknya lalu menunjuk bangunan mall dari jendela kaca restoran.
"Ayok, Ma." Nella langsung tersenyum dan mengandeng tangan Gita, mengajaknya pergi ke sana.
***
Di rumah Angga.
Sofyan melangkahkan kakinya menuju ruang makan tepat dimana kedua orang tuanya berada. Kedatangannya di siang hari setelah dari kantor tentu mempunyai maksud dan tujuan.
"Siang, Ma ... Pa," sapanya seraya menarik kursi lalu duduk di antara mereka.
"Kamu Sofyan, kok siang-siang ke sini? Nggak ke kantor memangnya?" tanya Sindi.
"Ke kantor, tapi aku mau makan siang dengan Mama dan Papa saja."
__ADS_1
"Bagaimana kabar Nella dan kandungannya? Beberapa hari nggak lihat dia ... Papa jadi kangen. Katanya dia tinggal di rumah Rizky, betah nggak?" tanya Angga sambil mengunyah nasi dan telur balado.
"Nella dan kandungannya baik, Pa. Tapi rumah tangganya yang nggak baik," ungkap Sofyan.
Sontak Angga dan Sindi membulatkan matanya.
"Kenapa? Mereka berantem lagi? Bukannya saat di rumah sakit hubungannya makin baik?" tanya Sindi.
"Ini pasti gara-gara si Rizky, dia pasti menyebalkan dan membuat Nella kesal, kan?" tebak Angga menggerutu.
Sofyan menggeleng cepat. "Bukan itu, Pa. Ini penyebabnya adalah Ihsan."
"Ihsan? Kenapa dengannya? Dia nggak mau diputusin?" Angga lagi-lagi menebak, tapi kali ini tebakannya benar.
"Iya, dan yang lebih kurang ajarnya si Ihsan itu memfitnah Nella," jawab Sofyan dengan dada yang bergemuruh.
Sebetulnya dia bisa saja menyuruh orang untuk membawa Ihsan kehadapannya, tetapi Sofyan takut jika dia malah mengajar pria itu dan itu membuat Ihsan makin berani padanya. Dia ingin Ihsan jujur pada Rizky, supaya dia tak mengaku-ngaku sebagai ayah dari anak Nella.
"Fitnah apa?" tanya Angga dengan kening yang berkerut.
"Masa dia bilang Nella hamil anaknya," jawab Sofyan kesal.
"Nella dan Ihsan pernah berhubungan badan?" tanya Angga.
Sofyan menggeleng. "Nggaklah, Pa. Nella sudah bersumpah padaku kalau dia dan Ihsan nggak pernah melakukan hal itu."
"Dia sepertinya nggak percaya."
"Kok begitu, kenapa nggak percaya sama istri sendiri?" Angga tentunya tak terima. Dia sudah tak suka sama Rizky awalnya, ditambah dengan hal seperti ini. Pria tua itu tak mau jika Rizky mempunyai kesalahan meskipun itu hanya sedikit.
"Papa kok marahnya sama Rizky." Sofyan mengerutkan kening. "Harusnya Papa marahnya sama Ihsan. Eh jangan marahi dia, lebih baik Papa bujuk saja."
"Bujuk bagaimana?"
"Bujuk Ihsan supaya berkata jujur sama Rizky dan ikhlaskan Nella. Papa tentu mau Nella bahagia, kan?"
"Jadi intinya kamu datang ke sini mau menyuruh Papa?" Angga menatap sengit Sofyan sambil berdecak kesal.
"Iya." Sofyan nyengir kuda. "Papa tolong bantu Nella, ya. Kasihan dia kalau Rizky terus menerus nggak percaya."
"Sebenarnya Rizky juga bego disini, Sofyan. Katanya dia mencintai Nella ... tapi masa nggak percaya padanya?" Angga lagi-lagi menyalah Rizky.
"Dih, Papa. Kan Papa tahu Nella dan Ihsan masih berhubungan selama menikah dengan Rizky. Wajar kalau Rizky agak ragu," jelas Sofyan.
"Sekarang mereka masih tinggal bersama? Apa Rizky mengusir Nella karena nggak percaya sama kehamilannya?"
"Mereka masih tinggal bersama, Rizky nggak bakal mengusir Nella, dia 'kan suami yang baik." Kembali Sofyan memuji menantu semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Ya sudah ... nanti Papa ke bengkel si Ihsan. Tapi sama kamu juga, ya! Enak saja kamu nggak bantu anak sendiri," cibir Angga. Dia merasa tak ikhlas untuk membantu sedangkan anaknya tidak ikut menemani.
"Dih, kok Papa perhitungan. Aku sudah membantu Nella membujuk Rizky pulang."
"Memang ke mana si Rizky sampai nggak pulang? Oh ... pasti ke bar sama para jal*ng," tebak Angga.
"Nggak, dia nangis di rumah orang tuanya."
"Cengeng banget jadi laki-laki, masa begitu saja nangis. Papa jadi tambah nggak suka sama Rizky."
**
Setelah makan siang, Sofyan langsung mengantar Angga ke bengkelnya Ihsan. Tetapi saat mereka sampai—dia tak ikut turun dari mobil, hanya Angga saja sendiri.
Dia betul-betul merasa muak pada Ihsan, malas untuk bertemu. Tetapi dari kaca mobilnya terlihat Angga sudah menghampiri pria bule itu yang tengah duduk bersama Irwan di sofa.
"Semoga semuanya berhasil, aku nggak mau rumah tangga Nella dan Rizky berantakan," gumam Sofyan.
*
"Ah, Opa. Opa ke sini," ucap Ihsan saat terkesiap melihat kedatangan pria tua itu. Lantas dirinya mencium punggung tangannya.
"Iya, Opa ada perlu sama kamu. Apa kita bisa bicara?" tanya Angga.
"Bisa, mau di mana?"
"Disekitaran sini saja. Tapi agak sepi."
"Masuk ke ruangan aku saja bagaimana? Nanti sekalian membuatkan Opa kopi."
"Ya sudah ayok, tapi nggak usah buat kopi. Opa sudah ngopi di rumah."
Ihsan mengangguk, lantas dirinya mengajak Angga masuk ke dalam ruangannya.
"Duduk di sana, Opa." Ihsan menunjukkan sofa panjang di dekat kasur, dia berjalan menuju dapur mininya untuk mengambil segelas air putih lalu menaruhnya di atas meja, dekat Angga. "Aku ambil air minum, siapa tahu Opa haus."
"Iya, terima kasih."
"Sama-sama."
Angga mengedarkan pandangannya pada isi ruangan itu. Dia melihat banyak sekali foto-foto Ihsan bersama Nella dalam bingkai, juga ada foto Nella sendirian yang begitu besar terpampang nyata di atas tembok yang menghadap ke arahnya. Dari situ Angga sudah menyimpulkan kalau pria yang saat ini duduk dengannya begitu dalam mencintai Nella, hanya saja mereka sudah tak berjodoh. Kasihan sekali.
"Langsung saja pada intinya, ya." Angga mulai membuka suara akan maksud dan tujuannya datang. "Opa ingin kamu jujur sama Rizky, kamu nggak boleh mengaku-ngaku sebagai ayah dari anaknya Nella. Itu dosa, nggak baik," tegurnya dengan nada lembut.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
__ADS_1
...1110...