
Bugh!
Sebuah bogem mentah mendarat ke pipi kiri Reymond, terlihat wajah Guntur begitu merah dan emosi.
"Aaw!" pekik Reymond.
Sofyan terbelalak, cepat-cepat dia pun mengajak besannya untuk masuk ke dalam mobil.
"Berengs*k sekali si Reymond! Kurang ajar kalau bicara!" teriak Guntur kencang.
Tidak seperti Guntur yang terlihat emosi, Sofyan justru biasa saja. Dia mengerti jika Reymond pasti bercanda, hanya saja momennya tak tepat.
"Aku hanya bercanda, Om. Maaf, ya," pinta Reymond dengan wajah bersalah menatap Sofyan.
"Iya, nggak apa." Sofyan tersenyum kecil, lalu masuk ke dalam mobil Guntur dan duduk di sebelah pria itu. "Bapak minum dulu." Sofyan mengambil botol air minum yang masih disegel di dekat kursi kepada Guntur, terlihat Guntur tengah mengatur emosinya yang masih di dada. Setelah itu Sofyan pun mengemudi.
Guntur membuka tutup botol itu kemudian menenggak isinya sampai habis, dia memang kebetulan haus.
"Sebenarnya ... alasan Rizky pingsan itu kenapa, sih? Coba beritahu aku."
"Ceritanya panjang, Pak. Tapi sepertinya lebih bagus kalau kita temukan Rizky dulu." Sofyan menoleh sebentar pada Guntur, kemudian fokus lagi mengemudi.
*
*
Di rumah sakit.
Seorang suster tengah kebingungan sembari memegang dompet dan ponsel, sesekali dia menatap pria yang tengah berbaring di atas ranjang pasien itu. Dia tengah memejamkan matanya dengan selang infusan pada punggung tangan.
"Katanya aku suruh hubungi keluarganya, tapi hapenya saja mati."
Benda pipih yang dia pegang mati total, bahkan dicas juga tak masuk sama sekali. Perlahan dia pun membuka dompet kulit hitam yang sejak tadi dia pegang, kemudian mengambil KTPnya.
"Ada alamatnya sih, tapi masa aku pergi ke sana? Atau mengirim surat? Ah ... lebih baik aku tanya penjaga resepsionis di depan saja deh." Suster wanita itu lantas menoleh lagi ke arah pria itu sebentar, lalu dia pun keluar dari kamar inap dan menutup pintunya pelan-pelan.
Bruk!
__ADS_1
Seseorang yang entah datangnya dari mana tiba-tiba saja menabraknya, hingga semua barang yang dia pegang berjatuhan di lantai.
"Maaf, maafkan aku, Sus." Wanita itu segera membungkukan badannya untuk meraih semua barang yang jatuh, tetapi sontak matanya membulat kala melihat ktp. "Ini 'kan KTPnya Mas Rizky?"
Wanita itu ternyata Nella, dia berlari begitu saja saat sadar dari ruangan UGD. Maya dan Sindi yang sempat melihat langsung mengikutinya.
Niat hati ingin mengejar Sofyan dan melihat pria berkain putih, tetapi langkah kakinya malah menabrak Suster tak sengaja.
"Nona kenal sama pria yang diktp itu?" Suster itu menatap Nella yang tengah serius memperhatikan beberapa barang di tangannya sendiri. Namun, terlihat rona kesedihan itu tergambar jelas di wajah Nella. Dia bahkan sudah menitihkan air mata.
"Iya, dia suamiku, Sus. Barang-barang ini juga miliknya. Tapi suamiku sudah meninggal. Hik ... hik ... hik." Nella terisak seraya menatap sedih pada Suster, dan wanita di depannya itu langsung merangkul bahu Nella. Kemudian mengajaknya masuk ke dalam ruang rawat saat di mana dia keluar tadi.
"Apa dia Rizky yang Nona maksud?" Suster itu mengarahkan tangannya ke depan, dan Nella langsung ikut menyorotkan pandangannya.
Mata Nella seketika membulat sempurna kala melihat suami tercintanya tengah berbaring dia atas tempat tidur. Kedua sudut bibirnya langsung terangkat dan dia pun segera berlari menghampiri Rizky dengan penuh kebahagiaan.
"Mas Rizky, apa ini beneran kamu?" Nella menangkup kedua pipi Rizky, kulitnya terasa hangat. Nella mendekatkan wajahnya lebih dekat padanya dan dengan cepat dia pun meraup lembut bibirnya.
Suster yang melihat adegan romantis itu cepat-cepat pergi dari sana, selain tak mau menganggu, dia juga merasa iri sebab sendirinya jomblo.
Maya dan Sindi ikut masuk, tetapi mereka langsung ditarik oleh suster itu untuk keluar. Biarkan mereka berdua dulu, setidaknya Maya dan Sindi mengetahui jika keadaan Rizky baik-baik saja.
Wanita itu tersenyum saat merasakan napas suaminya, sangat jelas disini jika suaminya pasti masih hidup.
"Aku tahu Mas Rizky nggak akan meninggalkanku. Aku cinta sama Mas, Mas harus selalu bersamaku dan Jihan," ujar Nella seraya melepaskan ciumannya. Ibu jarinya menyeka saliva di bibir Rizky yang terlihat basah.
Tanpa diduga, ternyata pria itu perlahan mengerjapkan matanya, dia pun lantas mengalungkan kedua lengannya di punggung Nella seraya mengecup kening.
"Aku juga mencintaimu, Nell. Kamu juga jangan pernah tinggalin aku, ya?" pinta Rizky lirih.
"Aku nggak pernah ninggalin Mas Rizky kok. Oh ya, kenapa Mas pingsan diluar rumah Papa? Kenapa Mas nggak masuk ke dalam? Apa ada yang menjahati Mas Rizky?" Begitu banyak rentetan pertanyaan yang terlontar dari mulut Nella, wanita itu benar-benar penasaran dengan apa yang sudah dialami suaminya.
"Panjang ceritanya, Nell. Nanti aku ceritakan. Tapi sebelum itu ... di mana Jihan?" Rizky menatap sekeliling ruangan itu. Dia tahu jika sekarang ada di rumah sakit, sebab tempatnya begitu familiar. "Dan apa kamu yang membawaku ke rumah sakit?"
"Jihan sama Oma Sindi, dan yang membawa Mas ke rumah sakit adalah Papa. Bibi memberitahu kalau Mas pingsan."
"Papa Sofyan?"
__ADS_1
"Iya."
Rizky langsung mengulum senyum. Meski belum mendengar jawaban dari Sofyan untuk memaafkannya, tapi dengan mendengar jika dia yang membawa ke rumah sakit—itu sudah cukup membuatnya senang dan sedikit meluruhkan rasa bersalahnya. Setidaknya Sofyan masih peduli walau aslinya masih kesal.
"Terus sekarang Papa di mana?" tanya Rizky penasaran.
Nella menggeleng, dia pun menatap Rizky lalu mengecup bibirnya lagi. Entah mengapa Nella menjadi sangat rindu pada pria itu, padahal baru semalam tak bertemu. Apa lagi mengingat kejadian saat dirinya begitu syok ketika mendengar pria itu meninggal dunia.
"Aku nggak tahu, aku juga tadi sempat mencari Papa. Mas tahu nggak ... kalau tadi dokter bilang Mas meninggal."
Rizky membulatkan matanya dengan lebar. Wajahnya terlihat begitu terkejut. "Meninggal? Masa, sih? Kapan?"
"Tadi, tapi sepertinya salah orang. Dokter mengira Mas orang yang tertutup kain tadi."
"Kamu lihat orangnya? Siapa dia?"
Nella menggeleng. "Aku sempat ingin melihatnya, tapi nggak jadi karena aku pingsan, Mas."
"Pingsan? Kamu kenapa? Sakit?" Rizky melepaskan pelukannya, kemudian mengusap pipi kiri Nella. Dia melummat bibirnya sebentar.
"Karena kepalaku sakit banget, tubuhku juga lemes."
"Terus sekarang bagaimana? Apa masih sakit dan lemes? Apa mau vitamin?"
"Vitamin apa?"
"Ini." Tanpa basa basi Rizky langsung menyibakkan selimut. Kemudian menurunkan celana pasiennya hingga menampilkan sesuatu yang tegak berdiri itu.
Nella cepat-cepat menarik kembali celana Rizky, baru melihatnya saja sudah terasa merinding. Jujur dia juga menginginkan, tetapi suasananya terlihat tak memungkinkan.
"Mas 'kan lagi sakit, lagian ini di rumah sakit."
"Maka dari itu, kalau habis bercinta pasti sakitnya sembuh. Kan mengeluarkan keringat."
"Tapi beda lho, ini 'kan ...." Nella langsung berdiri saat merasakan perutnya yang tiba-tiba saja bergejolak dan terasa sangat mual, cepat-cepat dia pun berlari menuju kamar mandi sambil menutup bibir.
"Uueek ... uueekk."
__ADS_1
Rizky membulatkan matanya saat mendengar Nella muntah-muntah di dalam sana. Seketika dia merasa dejavu, mengingat saat di mana Nella hamil. Sebab wanita itu memang hampir tidak pernah muntah-muntah seperti itu dari sehabis melahirkan.
'Masa sih Nella ..? Ah tapi nggak mungkin, kan setiap bercinta aku keluarin diluar,' batin Rizky dengan yakin.