
"Enak saja lu kalau ngomong." Rizky mencebik bibirnya, kesal ditambah tak terima dengan ucapan Reymond. "Kalau gue nggak waras, gue udah perk*sa Nella. Tapi 'kan ini nggak."
"Iya, tapi lu masa bilang seperti itu. Lu nggak tahu sih gimana rasanya melahirkan. Sakit tahu, udah gitu taruhannya nyawa."
"Memangnya lu pernah melahirkan? Bukannya kita sama-sama punya burung?" tanya Rizky dengan kening yang berkerut.
"Iya, gue juga punya burung b*go! Tapi kita sebagai suami harus mengertilah keadaan istri. Bukannya lu sendiri yang pengen punya anak? Kok sekarang lu kelihatan nggak seneng pas Nella melahirkan?"
"Siapa yang bilang nggak seneng, sih?" Lama-lama Rizky menjadi emosi. "Gue seneng, malah banget. Tapi 'kan gue cuma minta solusi sama lu, Rey."
"Perasaan lu yang jauh berpengalaman deh. Lu 'kan dulunya Casanova, siapa sih wanita yang nggak bercinta dengan lu."
"Enak saja gue Casanova, nggaklah, Rey!" Rizky menampik, dia memang paling tidak suka disebut sebagai pria Casanova. Meskipun memang itu benar adanya. "Ah lu mah nyebelin sih, minta solusi malah ngatain gue." Rizky lantas berdiri dengan wajah cemberut, lalu memanggil pelayan wanita yang baru saja lewat. "Mbak!"
"Lu mau ke mana, Riz? Gue baru mau ngopi bareng." Reymond menarik ujung baju Rizky saat melihat temannya itu hendak melangkah sehabis membayar kopi.
"Nggak ah! Gue males sama lu! Lu jahat!" Rizky menepis lengan Reymond dengan kasar, lalu berlalu pergi.
Reymond terkekeh sambil geleng-geleng kepala melihat temannya itu marah. "Si Rizky ambekan kayak anak perawan. Padahal gue 'kan cuma bercanda."
***
Ceklek~
Rizky membuka pintu kamar inap Nella dan seketika matanya membulat dengan sempurna lantaran melihat istrinya itu tengah menyusui. Cepat-cepat dia penutup wajahnya.
"Astaghfirullah!"
Semua orang yang berada di sana langsung menoleh pada Rizky, saat mendengar pria tampan itu tengah beristighfar.
"Mas Rizky sudah selesai ngopinya?" tanya Nella.
"Iya!" Rizky cepat-cepat berlari masuk ke dalam kamar mandi, guna menahan semua godaan berat di depan matanya.
Mereka semua tampak heran dengan tingkah Rizky yang menurutnya aneh, tetapi hanya Gita saja yang mengerti.
"Si Rizky kenapa, sih? Dateng-dateng langsung masuk kamar mandi. Mana nggak nyapa dulu," ucap Santi dengan kening yang berkerut.
"Kayaknya kebelet itu, San," jawab Gita sambil terkekeh.
"Mas Rizky diare kayaknya ya, Ma? Aku melihat dia sering bolak-balik ke kamar mandi terus dari pagi."
Bukan diare, Rizky ke kamar mandi hanya untuk mengindari godaan disaat Nella tengah menyusui Jihan.
__ADS_1
"Iya kayaknya. Coba nanti kamu tanya," jawab Gita.
"Nell, aku pulang dulu kalau begitu, ya?" Indah berdiri lalu menurunkan Bayu untuk ikut berdiri.
"Bunda, Bayu macih mau main cama Dede bayi." Bayu menggeleng cepat, dia sepertinya tak mau pulang dan masih betah disana.
"Nanti saja pulangnya, malem, Ndah," pinta Nella.
"Aku mau pergi ke supermarket, Nell. Nanti kalau kemalaman ribet." Indah menurunkan pandangan ke arah Bayu seraya mengelus rambut hitam anaknya. "Nanti main lagi sama Dede bayi, Sayang. Kalau dia sudah pulang ke rumah. Sekalian ajak Dede Caca juga, ya?"
"Dede bayi ulang ke mana, Bun? Lumah Ayah?"
"Bukan, rumah Om Iky."
"Oh. Nanti kita ke lumah Om Iky?"
"Iya." Indah mengangguk.
Setelah pamit, mereka pun pulang.
***
Malam hari.
Dia pun menoleh pada Guntur yang berada di sampingnya. Pria itu sudah tidur bahkan dengkurannya terdengar begitu nyaring hingga mengganggu telinga Rizky.
"Enak banget Papa tidur, kek nggak ada beban. Nggak kaya gue." Rizky menyentuh celana kolornya yang mengembung akibat miliknya yang menegang. "Kapan lu tidur? Bangun terus dari tadi, nyiksa tahu nggak!" keluh Rizky seraya menepuk pelan miliknya.
Tak lama terdengar suara isakan tangis Jihan, cepat-cepat Rizky bangun dan berjalan menghampiri box bayi yang berada tepat di dekat tempat tidur Nella.
"Aduh, anak Mommy bangun. Sepertinya haus, ya?"
Belum sempat Rizky menggendong anaknya, tetapi bayi cantik itu sudah lebih dulu digendong istrinya.
"Eh, Mas bangun?" Nella hendak membuka kancing bajunya, tetapi terjeda lantaran baru sadar kalau ada Rizky yang tengah berdiri membeku di depannya sambil memandangi.
"Ah iya." Rizky mengangguk, dia pun menepis lamunannya lalu mengambil selimut kecil di dalam box untuk menutupi buah dada istrinya saat proses menyusui itu berlangsung. "Ditutupi kalau lagi menyusui, Nell. Disini 'kan ada Papa. Takut dia kepengen."
"Iya, Mas." Nella mengangguk lalu mendongakkan wajahnya sedikit untuk memandangi wajah Rizky. Terlihat wajah tampan itu begitu suram dan tertekan. "Mas lagi kenapa sih? Kayak banyak pikiran gitu? Ada masalah?" Nella berucap lembut sambil mengelus lengan suaminya. Tetapi perlakuannya tentu membuat Rizky makin panas dingin.
"Nggak ada masalah kok." Rizky menggeleng cepat lalu mengusap wajahnya pelan.
"Pasti bohong. Mas mau nyusu juga, ya? Kayak Jihan?" tebak Nella yang mana membuat Rizky melotot.
__ADS_1
Dia kembali menggeleng. "Nggak, kan itu ada ASI-nya. Mama juga melarangku," jawabnya dengan wajah sedih. Rizky ingat nasehat Gita, bahkan suaranya itu sampai terngiang-ngiang di telinga.
Nella mengangguk. "Iya, memang nggak boleh. Terus Mas kenapa? Coba cerita padaku."
Rizky menarik tangan Nella yang berada di lengannya menuju celana kolornya yang mengembung, lalu menempelkannya. "Ini bangun terus, Nell. Bahkan sejak pagi. Aku tersiksa. Rasanya sakit," ucapnya lirih dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Mama melarang kita juga untuk bercinta, Mas. Kan memang belum boleh sama dokter."
"Ya pakai cara lain kek." Sekarang suara Rizky terdengar manja, dia juga memalingkan wajahnya yang sudah merah merona. "Pakai mulut atau tangan gitu. Kan bisa. Dulu bukannya pernah?"
"Tapi disini ada Mama sama Papa. Memang Mas nggak malu?"
"Di kamar mandi 'kan bisa."
"Yasudah, tunggu Jihan selesai menyusu dulu." Nella mengelus dahi Jihan yang berkeringat, terlihat mata bayi cantik itu mengerjap.
Mata Rizky langsung berbinar, hatinya langsung berbunga-bunga. "Tapi lama nggak, Nell?"
"Nggak, Mas. Nanti kalau dia kenyang pasti udahan."
"Yasudah, aku tunggu di kamar mandi kalau begitu, ya?" Rizky mengecup pipi kiri Nella dengan cepat, lalu beralih ke pipi Jihan. "Kamu jangan lama-lama nyusunya, Daddy sudah nggak tahan mau berduaan dengan Mommy."
"Iya, Daddy mesum." Yang menjawab Nella dibarengi kekehan.
"Biarin ah mesum juga. Yang penting enak." Rizky langsung berlari sambil berjingkrak-jingkrak menuju kamar mandi, dia sangat senang dan begitu tak sabar ingin mendapat sentuhan oleh istrinya. 'Sabar ya, bro! Nanti lu muntah kok.' Rizky menyentuh miliknya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Tak berselang lama, Nella melihat Gita bangun kemudian cepat-cepat turun dari tempat tidur seraya berlari menuju kamar mandi. Wanita itu kebelet hendak membuang air.
Nella ingin memberitahu Gita kalau dikamar mandi itu ada Rizky, tetapi sepertinya sudah terlambat sebab mendengar Gita memekik saat pintu kamar mandi itu dibuka.
"Astaga Rizky!"
Dia melihat anaknya itu tengah berdiri tanpa celana sambil berlenggak lenggok. Seakan memamerkan senjata pamungkasnya yang menegang. Rizky melakukan hal itu karena berpikir yang masuk adalah Nella, ternyata bukan.
Sama hal seperti Gita tadi, Rizky juga memekik karena sangking terkejutnya.
"Mama!"
###
Selamat lebaran.....
Author mau mengucapkan minal aidzin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin 🙏
__ADS_1