Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
240. Mama baru


__ADS_3

"Tapi aku malu, aku nggak mau mandi bareng."


"Malunya kenapa? Bukannya kamu sudah pernah melihat tubuhku, May?" Sofyan sudah telanjang dada, kemeja dan jasnya sudah dia taruh ke dalam keranjang kosong.


"Kapan? Pas mabukkan aku nggak ingat apa-apa. Aku ...." Maya mundur beberapa langkah saat melihat Sofyan melangkah maju menghampirinya. "Aku mal .... Aakkkhhhh!"


Maya hampir terjungkal masuk ke dalam bathtub kosong akibat kakinya tersandung, tetapi dengan cepat tangannya ditarik dan kini tubuhnya sudah berada dalam dekapan Sofyan.


"Hati-hati, kamar mandinya licin, May," ujar Sofyan.


Kepala Maya yang begitu menempel pada dada bidang Sofyan sampai bisa mendengar suara detak jantung pria itu. Dan saat ini jantungnya juga ikut berdebar, tetapi itu lantaran kaget.


Cepat-cepat Maya melepaskan pelukan Sofyan lalu beringsut menjaga jarak, dia merasa sangat malu dan gugup. Sofyan juga mampu menangkap itu semua.


"Ya sudah deh, kamu mandi dulu. Aku nggak akan paksa kamu kalau memang kamu nggak mau mandi bersama." Sofyan tersenyum, bahkan pandangan mata Maya hanya menatap kakinya. "Hati-hati mandinya nanti kepeleset. Kita ketemu di meja makan, ya?"


Setelah itu Sofyan keluar dari kamar mandi, lalu menutup pintu.


'Padahal aku sudah ngayal di pesawat kalau kita akan mandi bareng. Ah, sayang sekali,' batin Sofyan.


***


Di rumah Rizky.


"Mas mau pergi ke mana malam-malam?" tanya Nella yang baru saja keluar dari pintu kamarnya, dia mendapati suaminya keluar dari kamar tamu dengan mengenakan pakaian tidur tetapi ditambah jaket.


"Aku mau ke rumah Papa, Sayang. Ayok kamu juga harus ikut. Dia baru saja pulang dan membawa Mama baru untuk kita." Wajah Rizky tampak berseri, dia berjalan menghampiri istrinya lalu mengecup pipi kirinya.


"Mama baru?" Alis mata Nella bertaut. "Bukannya kata Mas, Papa pergi ke Singapura, ya?"


Setahu Nella, Sofyan pergi hanya karena urusan pekerjaan. Hanya itu saja.


Rizky mengangguk. "Iya, tapi aku nggak tahu kalau Papa pulang langsung bawa ibu baru untukmu. Oh ya, Jihan juga harus diajak. Dia harus tahu kalau punya Oma baru." Rizky membuka pintu kamarnya, dilihat anaknya itu belum tidur dan tengah ditimang-timang oleh Gita. Segera bayi cantik itu langsung diambil alih oleh Rizky, dan memberikan pada Nella.


"Jihan mau dibawa ke mana malam-malam, Riz?" tanya Gita.

__ADS_1


"Mau ke rumah Papa Sofyan, malam ini kita bertiga mau menginap di sana, Ma." Rizky merangkul bahu Nella, lalu mengajaknya keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil.


"Mas lagi bercanda nggak, sih? Masa iya Papa pulang-pulang dari Singapura langsung menikah? Dan sama siapa?" Wajah Nella tampak binggung, berbeda dengan Rizky yang sejak tadi berbinar saat mengetahui kabar pernikahan Sofyan.


"Masa aku bercanda, ini serius, Sayang. Nanti kita tanya Papa saja kalau sudah sampai rumahnya, ya?" Rizky menyalakan mesin mobilnya, lalu mengemudi.


Nella mengambil ponselnya di dalam tas jinjing, baginya kabar seperti ini harus segera diberitahu oleh Angga dan Sindi. Dia ingin pernikahan ketiga papanya diketahui, tentunya nanti akan ikut mengintrogasi penyebab pria itu menikah lagi.


***


Di rumah Sofyan.


Setelah selesai makan malam berdua, Sofyan mengajak istri mudanya untuk masuk lagi ke dalam kamarnya. Istirahat dan tentu malam ini juga malam yang sangat dinantikannya.


"Kamu istirahat saja, takutnya capek karena seharian kita perjalanan jauh. Dan besok nggak usah kerja dulu." Sofyan menuangkan segelas air, lalu menenggaknya sampai habis. Entah mengapa dia merasakan hawa panas di dalam kamarnya. Apa lagi matanya melihat paha putih Maya yang begitu jelas karena hanya memakai kemeja putih miliknya. Gadis itu duduk di tepi kasur.


'Duh, aku kok udah nggak sabar banget gini, sih? Pengen langsung goyang dia. Tapi kayaknya takut,' batin Sofyan.


"Tapi kemarin aku sudah libur, Yank. Takutnya Pak Rizky—"


"Tapi aku nggak enak, rasanya nggak sopan."


"Nanti kalau sudah terbiasa pasti enak-enak saja kok. Eemm ... Ayok tidur, May." Sofyan menarik lembut lengan Maya, lalu mengajaknya berbaring bersama-sama dan menarik selimut untuk keduanya.


Namun, bukannya langsung memejamkan mata, Sofyan malah mendekati istrinya dan menangkup kedua pipinya. Dia menatap dalam matanya.


"Apa kita bisa melakukannya, May? Eemm ... tapi kalau kamu capek nggak apa-apa kok. Bisa nanti saja."


Sebenarnya Sofyan sudah sangat mengingatkannya sekarang juga, tetapi dia juga tak mau memaksa jika memang Maya belum siap.


"Melakukan apa, Yank?" tanya Maya polos.


Sofyan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia jadi salah tingkah sendiri. "Masa kamu nggak ngerti? Kita 'kan sudah menikah, biasanya 'kan kalau menikah suami istri itu ...."


Ucapan Sofyan menggantung kala terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Cepat-cepat pria itu beranjak dari tempat tidur lalu membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Ceklek~


"Papa! Rizky!" Sofyan membulatkan matanya, agak terkejut ketika melihat menantu dan papanya ada di depan pintu kamarnya. Berdiri bersebelahan, dan menantunya itu langsung menghamburkan pelukan.


"Aduh pengantin baru, masih sore sudah semedi di kamar. Ngapain aja, sih?" goda Rizky sambil terkekeh.


"Kamu sudah menikah, Yan? Kok nggak beritahu Papa?" Wajah Angga terlihat masam, sepertinya dia marah. Kedua kalinya dia tak diberitahu Sofyan menikah.


'Kok mereka tahu aku sudah menikah? Dari siapa? Padahal 'kan aku baru ingin memberitahunya besok,' batin Sofyan dengan kening yang berkerut.


"Pa, kok diam saja?" Rizky menepuk pundak papa mertuanya hingga membuat Sofyan terkesiap. Sejak tadi Sofyan seperti melamun. "Ayok cerita dong, kok Papa malah menikahi Maya secepat itu? Aku bahkan nggak diberitahu dulu," tanya Rizky penasaran.


"Papa akan ceritakan, ayok kita mengobrol di bawah," ajak Sofyan seraya melarangkul bahu Rizky.


"Ajak Maya juga, di ruang keluarga ada Nella, Jihan dan Oma Sindi, Pa."


"Lho, mereka juga ke sini? Ini 'kan sudah malam, Riz. Padahal Papa juga akan ke rumahmu besok."


"Iya, mereka sudah nggak sabar ingin mendengar berita baik. Cepat turun, kita tunggu di ruang keluarga." Rizky lebih dulu turun dengan Angga. Kemudian Sofyan masuk lagi ke dalam kamarnya ingin mengajak Maya untuk turun bersamanya.


*


*


*


Maya dan Sofyan berjalan menuju ruang keluarga. Maya mengenakan dress selutut berwarna merah, sedangkan Sofyan setelan kaos lengan pendek berwarna hitam.


Gadis itu terpaksa memakai dress baru yang sejak tadi diberikan oleh Sofyan tetapi tak dia pakai karena tak enak itu milik Nella. Namun sekarang dia pakai, karena tak mungkin juga Maya hanya memakai kemeja saja di depan mertuanya.


"Dia Maya, istriku, Ma ... Pa, Nella," ujar Sofyan mengenalkan Maya. Gadis itu segera menghampiri orang tua Sofyan, lalu mengecup punggung tangannya.


Nella terlihat binggung dan tak percaya, rasanya aneh saja mendengar Papanya sudah menikah lagi dan ternyata dengan sekertarisnya Rizky.


"Papa nggak salah menikah dengan Mbak Maya? Dia sekertarisnya Mas Rizky, kan?" tanya Nella.

__ADS_1


__ADS_2