
"Itu 'kan Mas Rizky."
Nella menatap sebuah foto pada layar ponsel Ihsan. Foto itu sepertinya diambil masih baru, sebab pakaian yang dipakai Rizky sama seperti tadi.
Di dalam foto itu terlihat Rizky tengah terkekeh sembari menatap Risma yang cemberut. Entah apa yang bahas, tetapi sepertinya Rizky sedang mengajak adiknya bercanda. Ada seorang pria juga di sana, berdiri tepat di samping Rizky.
Disekeliling mereka juga banyak sekali berbagai jenis merek mobil dan warna. Jelas sekali mereka ada di dealer.
Tidak ada yang salah pada foto itu, hanya saja Nella merasa heran. Mengapa Ihsan menunjukkan foto itu padanya? Dan kenapa juga memotret mereka dengan ponselnya?
"Maksudnya ini apa, Kak?" Nella manatap binggung pada Ihsan. Tetapi pria bule itu malah tersenyum miring dan geleng-geleng kepala.
"Masa kamu nggak lihat. Itu Rizky, kan? Dia pergi bersama wanita lain. Pasti wanita itu selingkuhannya." Ihsan menunjuk wajah Risma pada layar ponsel.
"Dih, Kakak ini ngaco." Nella memberikan benda pipih itu ke tangan Ihsan secara paksa.
"Ngaconya apa? Jangan bilang kamu masih tergila-gila padanya setelah melihat dia selingkuh," cibir Ihsan sambil berdecak kesal. "Rizky memang pria nggak bener. Kamu salah karena memilih dia daripada aku!"
"Tapi Mas Rizky nggak selingkuh, Kak."
"Lalu ini apa? Bukannya aku sudah memberikanmu bukti." Ihsan kembali memamerkan foto itu tepat ke wajah Nella. Terlihat kini tatapan Nella begitu sengit.
"Dia itu adiknya."
"Adik?" Alis mata Ihsan bertaut. "Sejak kapan Rizky punya adik?"
"Dia memang punya adik, Kak. Adiknya dua. Satu laki-laki dan satu perempuan."
"Tapi masa dia adiknya Rizky?" Ihsan menatap wajah Risma. Merasa tak percaya karena dia mengenalnya. Gadis itu juga selalu menganggu aktivitasnya dalam kuliah. Ihsan merasa kesal dan tak menyukainya.
"Memang dia adiknya."
"Tapi wajah mereka nggak sama lho." Ihsan masih membantah.
"Memang adik harus mirip?" Nella menatap kesal pada Ihsan. Pembahasan mengenai Risma sungguh membuatnya jengkel.
"Harusnya iya. Atau mungkin dia adik-adikkan kali, Nell."
"Adik-adikkan bagaimana?"
"Ya seperti mengaku adik, tapi dia teman ranjang. Bisa saja seperti itu, suamimu 'kan mesum."
"Enak saja! Dia adiknya Mas Rizky, adik kandung. Kakak jangan sembarang kalau bicara. Mas Rizky pria yang setia!" tukasnya tak terima.
"Tunggu dulu dong!" Ihsan lagi-lagi mencekal lengan Nella saat wanita itu hendak pergi.
__ADS_1
"Apa lagi sih, Kak!" Nella menepis kasar tangan Ihsan lalu melototinya.
"Kamu buru-buru amat, aku 'kan belum selesai bicara denganmu."
"Aku malas bicara dengan Kakak. Kakak selalu menjelekkan Mas Rizky." Nella memutar bola matanya dengan malas.
"Ah lebay kamu, Nell."
"Cepat bicara. Aku mau pulang saja dari sini!" tekan Nella kesal.
"Katanya mau bertemu Tante Nissa dulu, kok malah pulang? Hmm?" Mata Ihsan secara tiba-tiba jatuh pada perut Nella yang membuncit, dan mendadak dadanya terasa berdenyut. Terasa sakit di dalam sana.
"Oya ... kandungan kamu sudah berapa bulan? Terlihat sudah besar." Refleks tangan Ihsan menjulur ke arah sana. Hingga berhasil menyentuh perut buncit itu meski hanya sebentar lantaran ditepis oleh pemiliknya. Nella sangat berubah 180°, dia bagaikan orang asing dan seakan tak pernah menyukai hal apa pun yang dilakukan oleh Ihsan. "Pelit amat."
"Nanya-nanya, tapi nggak perlu pegang-pegang, Kak!" jawab Nella jutek. "Hanya orang-orang tertentu yang boleh mengusap anak Mas Rizky," imbuhnya sembari mengusap perut.
"Aku nggak termasuk berarti?"
"Iyalah."
"Aku 'kan Ayah tiri dia nanti Nell. Setelah kamu dan Rizky bercerai."
"Enak saja, aku dan Mas Rizky nggak akan bercerai!" tegas Nella kesal. Lalu dia pun berjalan cepat keluar dari restoran. Lebih baik pergi daripada terus meladeninya.
"Kalau Kakak terus mengejarku ... aku akan telepon Mas Rizky sekarang juga!" ancam Nella sembari menoleh padanya dengan tajam.
Mendengar kata ancaman, Ihsan segera melepaskan tangannya yang sejak tadi memegang lengan Nella. Lalu membiarkan Nella pergi dari hadapannya dan masuk ke dalam mobil taksi yang baru saja berhenti.
Ihsan berdiri mematung. Tetapi ada sebuah ide yang muncul di otaknya. 'Apa kutunggu dia sampai melahirkan saja? Ah benar juga ... itu jauh lebih bagus.' Senyum menyeringai pada wajah tampannya langsung tercetak dengan jelas. 'Oke, nanti kupikirkan rencananya dulu. Ini juga pasti seru karena Risma adalah adiknya Rizky.'
***
Nella menarik nafasnya dalam-dalam, lalu perlahan membuangnya. Dia merasa sangat lega sekali bisa pergi meninggalkan mantan kekasihnya. Lehernya tadi seperti tercekik, sesak dengan beberapa umpatan yang keluar dari mulut Ihsan untuk suaminya.
Jelas sekali dia tak terima. Baginya sekarang Rizky adalah pria yang sempurna. Dan hanya miliknya.
'Kenapa Kak Ihsan terus menjelekkan Mas Rizky, sih? Perasaan ... Mas Rizky nggak pernah tuh menjelekkan dia.'
Tak lama terdengar suara deringan ponsel panggilan masuk, asalnya dari dalam tas. Nella segera mengambilnya lalu mengangkat panggilan itu yang ternyata dari Rizky.
"Halo, Sayang ...," ucap Rizky dari seberang sana. Suaranya begitu lembut dan terdengar mesra. Seketika kedua pipi itu merah merona, meleleh dengan panggilan sayang itu.
"Iya, Mas."
"Kamu ada di mana?"
__ADS_1
"Di jalan, mau pulang."
"Minta pada Papa supaya mengantarmu ke kantorku, ya?"
"Ke kantor Mas Rizky?" Nella mengerutkan keningnya. "Memangnya mau apa?"
"Kok kamu nanyanya begitu? Bukannya kamu seneng kalau bertemu denganku, ya? Jadi sekarang nggak? Kamu marah sama aku?" Rentetan pertanyaan itu langsung Rizky lontarkan. Pertanyaan yang menurutnya aneh membuat Rizky berpikir yang tidak-tidak tentang Nella. Apalagi dia mengingat sikap istrinya tadi pagi.
"Dih, Mas. Aku seneng kok. Banget malah. Aku 'kan hanya tanya."
"Masa sih? Aku nggak percaya. Sepertinya cintamu padaku sudah memudar, ya?"
"Ih, Mas bicara apa, sih?" Nella mendengus kesal. "Aku nanya seperti itu hanya heran saja. Kok Mas tumben memintaku untuk ke kantor? Biasanya Mas 'kan nggak pernah suka tiap aku menganggu masalah pekerjaan."
"Kata siapa? Aku nggak pernah bilang seperti itu padamu. Yasudah maaf, deh. Kita bertemu di kantorku, ya? Aku mau kita makan siang bareng. Aku juga punya sesuatu untukmu."
"Sesuatu apa?"
"Rahasia."
"Pasti bercinta, kan?"
Rizky terkekeh. "Bukan, nanti aku beritahu kalau sudah sampai."
"Oh, yasudah."
Setelah mematikan sambungan teleponnya, mendadak mobil taksi yang Nella tunggangi tiba-tiba mati di tengah jalan.
"Kok berhenti, Pak?" tanya Nella heran.
"Sebentar, Nona. Saya mengecek mobilnya dulu." Sopir itu membuka sabuk pengaman lalu turun dari mobil.
Nella memperhatikan dari dalam mobil saat sopir berbaju telor asin itu tengah membuka bagasi depan mobilnya. Lumayan lama dan dia memutuskan ikut turun sebab merasa penasaran.
"Mobilnya kenapa, Pak? Mogok?" tanya Nella seraya menghampiri.
"Sepertinya iya, Nona. Maaf ... saya nggak bisa mengantar Nona sampai tujuan." Sopir itu menoleh pada Nella dengan perasaan tak enak, takut jika penumpangnya kecewa.
"Oh, nggak apa kok." Nella tersenyum. "Aku bisa minta jemput suamiku, Pak."
"Terima kasih, Nona."
"Sama-sama."
Wanita cantik itu hendak menelepon Rizky, tetapi tiba-tiba ada sebuah mobil hitam berhenti di dekat mobil taksi. Seseorang yang berada di dalam mobil itu menurunkan kaca mobilnya, lalu melihat ke arah Nella.
__ADS_1