
"Janji, janji apa, Kak?"
"Janji kalau nanti kamu jangan sampai--"
Tut ... tut ... tut, panggilan itu langsung Nella akhiri lantaran melihat Gita datang ke kamarnya. Wanita paruh baya itu sempat pergi meninggalkannya sebentar.
"Kenapa kau dari tadi masih ada si sini?" Gita menunjuk pelayan wanita yang tengah berdiri didekat tempat tidur Nella, ia baru saja mengantarkan pesanan buah-buahan yang dipesan oleh Gita.
"Ini, tadi Nona Nella meminjam ponsel saya, Bu."
Nella segera memberikan ponsel pelayan wanita itu, ia memang tadi menelepon Ihsan meminjam ponselnya.
"Ini, terima kasih," jawab Nella.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi." Pelayan itu sedikit membungkuk dan berlalu pergi dari kamar Hotel.
"Kok kamu pinjam ponselnya pelayan? Memang di mana ponselmu Sayang?" Gita mendudukkan bokongnya di atas tempat tidur, tepat di sebelah Nella yang tengah duduk menyandar.
"Ponselku ketinggalan di rumah, Mah."
"Kok bisa tertinggal? Apa kamu mau pinjam ponsel Mamah? Ini." Gita mengambil ponselnya sendiri yang ada di atas nakas, ingin memberikan pada Nella tapi gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah, Mah. Aku sudah selesai meneleponnya, kok," tolak Nella.
"Kamu menelepon Rizky tadi?"
Rizky? Ngapain aku telepon Rizky, tidak penting sekali' batin Nella.
"Bukan, aku telepon Tanteku," jawab Nella berbohong.
"Oh, kirain Rizky. Oya ... Mamah dan Papah mau pulang, kamu nggak apa-apa 'kan ditinggal sebentar? Nanti sebentar lagi Rizky pasti sampai."
"Iya, Mah. Nggak apa kok." Nella mengangguk dan tersenyum canggung.
"Ya sudah kamu istirahat, semoga cepat sembuh, Sayang." Gita mendekatkan bibirnya pada dahi Nella, mengecupnya dengan singkat.
***
Ditempat lain, Ihsan menjadi gusar lantaran janjinya yang belum sempat ia beritahu tapi telepon itu tiba-tiba terputus. Ihsan mencoba untuk menelepon kembali, namun nomornya sudah tidak aktif.
"Lu kenapa nggak masuk ke dalam?" tanya Rizky yang baru saja masuk ke mobil, ia telah selesai absen ke kantor polisi.
"Aku sepertinya nggak jadi melapor, Pak," jawab Ihsan.
"Lho, kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa, saya sudah tau pelakunya."
"Bagus kalau sudah tau, mending lu langsung lapor aja."
__ADS_1
"Nggak, Pak. Itu dia alasannya, soalnya pelakunya adalah ...." Ihsan menjeda kalimatnya, ia mengurungkan niatnya untuk bercerita dengan Rizky. Karena menurutnya, mereka baru saja mengenal dan Ihsan menganggap pria di depannya itu orang asing. Padahal sedari tadi Rizky seperti menunggu jawaban dari Ihsan.
"Alasan apa?" tanya Rizky penasaran. Ia memang tipe orang yang suka penasaran dengan masalah yang dihadapi oleh orang lain.
"Itu orang terdekat, Pak. Eemm ... saya turun di sini saja. Terima kasih sebelumnya, karena Bapak telah menolong saya." Ihsan sudah membuka pintu mobil dan turun dari mobil Rizky.
"Nggak mau sekalian gue antar? Gue juga mau pulang." Rizky menurunkan kaca mobilnya, ia juga sudah menyalakan mesin mobil.
"Terima kasih, Pak. Nggak usah, takut Bapak sibuk. Sekali lagi terima kasih."
Rizky mengangguki ucapan Ihsan, ia kembali mengemudi dan meninggalkan pria kekar itu dipinggir jalan.
Ditengah perjalanan, ponsel Rizky berdering. Tertera nama 'Papah Sofyan' pada layarnya, segera ia mengangkat panggilan itu.
"Halo, Pah."
"Rizky, kau sudah sampai di Hotel?"
"Belum, ini baru jalan."
"Mampir dulu ke kantor Papah, ya?"
"Mau apa memangnya, Pah?"
"Mampir saja dulu, cuma sebentar."
"Oke."
***
Rizky menoleh ke arah Nella, gadis cantik itu tengah tertidur dengan pulas. Entah kenapa tangan kirinya tiba-tiba ingin memegangi dahi Nella, mengecek suhu tubuhnya.
Alhamdulilah sudah tidak panas lagi' batin Rizky.
Sebelum Nella terbangun akibat tangannya, Rizky segera menarik lengannya dan menjauhkan dirinya dengan Nella. Ia melepaskan jas dan menaruhnya pada penyangga sofa, Rizky duduk di sana.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Rizky memandangi wajah Nella, ia tersenyum tipis.
"Kalau lagi tidur begitu enak dipandang, tapi kalau bangun kenapa judes banget?" monolog Rizky pelan.
Beberapa jam berlalu, Nella mengerjap-ngerjapkan matanya secara perlahan. Ia langsung terkesiap saat melihat kehadiran Rizky yang tengah duduk santai di sofa sambil fokus dengan laptopnya.
Rizky? Sejak kapan dia datang? Apa tadi aku ketiduran?' batin Nella.
Nella mengangkat tubuhnya untuk duduk, ia menuangkan air minum pada gelas lalu menenggaknya sampai habis.
"Lu udah bangun? Bagaimana tubuh lu? Apa masih sakit?" tanya Rizky dengan mata yang masih fokus menatap layar laptop.
"Tidak," jawabnya singkat.
__ADS_1
"Apa lu laper? Gue bawa makanan dari Papah Sofyan, ada ponsel lu juga di dalam paper bag." Rizky mengarahkan jari telunjuknya tepat di atas nakas.
Nella yang melihatnya langsung mengambil paper bag itu, tapi ia bukan ingin mengambil makanan dari Sofyan, melainkan ingin mengambil ponselnya.
Nella terbelalak, saat melihat ponsel yang kini berada di genggamannya.
"Ini bukan ponselku," kata Nella pelan, tapi Rizky mampu mendengarnya.
"Benarkah? Lalu, ponsel siapa?" tanya Rizky kembali.
Nella menggelengkan kepalanya.
"Coba telepon Papahmu, pakai ponsel gue. Tanya padanya," tawar Rizky seraya menunjuk ponsel miliknya di atas meja.
Belum ada respon dari Nella, justru gadis cantik itu mendapatkan pesan masuk pada ponselnya. Segera ia membukanya.
💬
From: Papah
13.03 PM
Nella, sekarang ponselmu ganti dengan yang baru, beserta nomornya juga. Ponselmu yang lama sudah Papah buang. Kamu tidak perlu bertanya apa alasannya, kamu pasti sudah tau.
Ah menyebalkan! Tapi tidak masalah juga, aku 'kan ingat nomor Kak Ihsan' batin Nella.
"Nella," panggil Rizky pelan.
"Apa?" Nella menatapnya dengan sinis.
"Bukannya gue nawarin lu buat telepon Papah Sofyan? Kok lu diem aja?" Rizky menatap wajah Nella yang sama-sama menatapnya. Tapi sorotan mata Nella terlihat tidak bersahabat.
"Nggak usah, terima kasih," ketusnya. Ia kembali membaringkan tubuhnya dan menarik selimut, Nella memainkan ponsel barunya.
Masih jutek aja, gimana cara gue meluluhkan hatinya? Gue nggak yakin' batin Rizky.
Rizky geleng-geleng kepala dan kembali melanjutkan pekerjaannya di depan layar laptop.
Kapan enaknya aku ngobrol masalah perceraian padanya?
Nella melirik sebentar pada Rizky, tanpa sepengetahuan pria itu tentunya.
Tapi aku malas bicara dengan pria mesum itu. Tapi kalau tidak bicara, bagaimana caraku terlepas dari pernikahan ini?
"Eemm ... Pak Rizky, apa kita bisa ngobrol sebentar?" tanya Nella ragu-ragu, ia kembali menarik tubuhnya untuk duduk.
Rizky langsung menoleh pada Nella. "Ngobrol apa? Katakan saja." Merasa penasaran, Rizky memindahkan laptopnya di atas meja, ia juga bangun dan berpindah posisi duduknya di atas kasur. Namun berjarak pada posisi duduk Nella. Rizky tau, istrinya pasti merasa tak nyaman bila didekatnya.
"Aku tau ... Bapak pasti dipaksa menikah denganku sama orang tua Bapak, sama halnya denganku. Bapak juga pasti tidak menginginkan pernikahan ini. Bagaimana kalau kita bercerai saja, Pak?" saran Nella seraya menatap mata Rizky yang sudah membulat sempurna.
__ADS_1
Jangan lupa like 💕