Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
249. Apa? Hamil?


__ADS_3

"Apa? Hamil?" pekik Darus dan Yuni secara bersamaan, kedua mata mereka membulat. Keduanya benar-benar terkejut.


"Bapak jangan berbohong! Mana mungkin Maya hamil, bukannya kalian baru menikah?" Darus menatap Sofyan tak percaya.


"Kita memang baru menikah, tapi saya dan Maya sudah berhubungan badan lebih dulu." Sofyan terpaksa berbohong, dia benar-benar binggung bagaimana caranya supaya kedua orang itu merestui hubungan mereka. Apa lagi dengan sikap Darus yang seperti itu.


"Tapi Ayank, bukannya kita ...."


"Maafkan aku, May. Aku terpaksa jujur karena aku nggak mau kita berpisah," sela Sofyan cepat. Terlihat Maya seperti binggung. Jujur saja, dia sama sekali tak mengerti dengan maksud kebohongan yang Sofyan lakukan. "Aku akan menjadi pria yang bertanggung jawab padamu, pada anak kita." Perlahan Sofyan meraba perut Maya hingga membuat kedua mata Darus dan Yuni terbelalak.


'Kenapa Pak Sofyan malah ngomong aku hamil? Kita bahkan nggak jadi kelonan,' batin Maya.


"Berapa usia kandunganmu, May?" tanya Yuni. Dia mendekati Maya dan ikut mengelus perutnya. "Kalau Maya memang hamil, kita nggak boleh membiarkan mereka bercerai, Mas. Nanti apa kata orang-orang?" Yuni menatap Darus sambil menggeleng. Pria itu terlihat sangat shock, tetapi ada rasa tak percaya dalam lubuk hatinya.


"Kok bisa kamu hamil, May? Kenapa kamu nggak bisa jaga diri?" Mata Darus berkaca-kaca, dia menyentuh dadanya yang terasa sakit. Dia merasa gagal menjadi Om yang baik dengan membiarkan keponakannya itu berzina sampai hamil.


"Aku ...."


"Kita khilaf, Om." Lagi-lagi ucapan Maya disela oleh Sofyan, wajah pria itu seketika sendu. Tetapi hanya pura-pura saja. "Saat itu Rizky, bosnya Maya ... dia mengadakan acara atas keberhasilan proyeknya, dan acara tersebut banyak sekali minum minuman alkohol. Kemudian ... Maya dan aku ikut minum, lalu kita mabuk dan setelah itu kita nggak ingat apa-apa sampai pas bangun ada di kamar hotel tanpa busana. Dan setelah sebulan kemudian ... Maya hamil, Om. Dan kebetulan saat itu juga Maya diculik, jadi aku yang sengaja ingin menyelamatkannya karena memang Maya sedang mengandung dan aku ingin bertanggung jawab," jelas Sofyan mengarang cerita. Ekpresi sedihnya terlihat begitu natural hingga Darus ikut sedih.


"Harusnya kamu jangan mabuk, May. Tapi ...." Darus binggung untuk berkata-kata, semua yang didengarnya begitu mengejutkan dan seperti mimpi. Dia merasa tak bisa apa-apa selain pasrah. "Sekarang berapa usia kandungan kamu?" tanyanya menatap Maya yang sejak tadi bengong dan diam mematung.


"Baru tiga Minggu, Om." Yang menyahut Sofyan lagi.


"Coba sini. Om mau pegang dia." Darus mengulurkan tangan kanannya ke arah Maya, gadis itu lantas dirankul oleh Sofyan lalu mengajaknya untuk menghampiri Darus. Pria itu kemudian mengelus perut rata Maya. "Om sebentar lagi punya cucu, kenapa cepat sekali, May? Semoga dia sehat-sehat di dalam sana, ya?"


"Jadi Om merestui kita, kan?" tanya Sofyan penuh harap, dia tersenyum lebar.


"Sebenarnya nggak." Darus menatap Sofyan dengan mata yang baru saja meneteskan airnya. Lalu dengan cepat dia pun mengusapnya. "Tapi kasihan kalau Maya cerai saat kondisinya sedang hamil. Bayi di dalam perut Maya juga membutuhkan sosok Ayah, dia nggak salah apa-apa." Darus menatap perut keponakannya dan kemudian kembali menangis. Maya yang melihat Darus dibohongi sebenarnya tak tega, tetapi dia binggung harus berbuat apa. Gadis itu hanya menatap wajah suaminya dengan kening yang berkerut.

__ADS_1


'Maafin aku, May. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Tapi kamu tenang saja ... kamu nanti akan aku buat hamil kok, asal kamu tahan saat aku goyang, ya?' batin Sofyan.


"Kamu berhenti kerja mulai sekarang, May. Dan untuk sementara waktu tinggal dulu dengan Om dan Tante," tambah Darus.


"Masa tinggal sama kita, dia 'kan sudah punya suami, Mas," ujar Yuni seraya berjalan menghampirinya, kemudian mengelus lengan Maya. "Oh ya, May. Katanya kamu ingin membelikan Om dan Tante rumah. Kapan? Janjimu 'kan saat sudah menikah."


Kebetulan sekali, Yuni bisa sekalian menagih janji.


"Kenapa kamu minta rumah? Bukannya aku sudah pernah bilang berhenti meminta rumah pada Maya? Apa lagi Maya sekarang sudah menikah dan hamil, Yun." Darus terlihat tak terima, bisa-bisanya disituasi seperti ini istrinya itu meminta rumah pada Maya.


"Nggak masalah, Om. Aku memang sudah berjanji sama Tante untuk membeli rumah. Om dan Tante mau tinggal di mana?" tanya Maya.


"Suamimu punya rumah di mana?" Yuni berbalik tanya.


"Jakarta, Tan." Sofyan menyahut.


"Carikan rumah di Jakarta, kalau bisa yang dekat dengan rumah suamimu, May."


"Mereka bisa pindah, Mas."


"Lalu toko bajunya bagaimana?"


"Itu bisa dijual."


"Ah nggak! Itu peninggalan Kakakku, aku nggak bisa menjualnya."


"Kalau Om mau, lebih baik toko itu nggak usah dijual, biarkan saja dibuka dan nanti menyewa orang untuk menjaganya," usul Sofyan. "Nanti tentang sekolah anak Om dan Tante, biar aku yang urus untuk pindah. Aku juga yang akan mencarikan sekolah yang bagus. Mereka sekolah apa? SMP atau SMA? Apa sudah kuliah?"


"Mereka berdua—"

__ADS_1


"Nggak perlu, biar aku dan keluargaku tinggal di Karawang saja. Lagian di Jakarta aku nggak punya pekerjaan," sela Darus cepat. Dia terlihat tak senang dan sama sekali tak tergiur dengan tawaran menantu keponakannya itu, tidak seperti Yuni.


'Cih! Sok jual mahal banget Mas Darus, padahal lumayan kalau kita tinggal di Jakarta. Suami Maya sepertinya orang kaya,' batin Yuni kesal.


"Aku bisa mencarikan Om pekerjaan," sahut Sofyan kembali.


Darus menggeleng.


"Ya sudah, aku nggak akan memaksa. Nanti aku akan bantu Maya mencari rumah di daerah sini saja, Om."


"Ah, May ...." Darus menatap wajah keponakannya. "Kamu nggak langsung pulang, kan? Kamu menginap dulu di sini sampai Om pulang ke rumah, ya? Om kangen sama kamu, May."


Maya menoleh ke arah Sofyan, seolah meminta jawaban dari pria itu. Suaminya hanya mengangguk dan mengedipkan kedua matanya. Memang niatnya ingin menginap di rumah sakit, dia juga sampai membawa pakaian juga di dalam koper.


"Iya, Om. Kami menginap." Maya tersenyum dengan anggukan kepala.


*


*


*


Malam hari, Sofyan tengah berbaring dengan berbalut selimut di atas kasur yang berada di lantai, tepat di bawah ranjang Darus sebelah kiri.


Kasur, selimut dan kedua bantal itu diantarkan oleh Aldi atas perintah Sofyan. Pria kekar itu sekarang menjadi asisten Sofyan dengan jalur pemaksaan. Sebenarnya tidak mau, tetapi Sofyan seakan memaksanya dan memberi embel-embel gaji yang menggiurkan. Dia memang sudah lama tak punya asisten, terakhir dipecat karena ada Dirga adiknya Diana. Dan untuk sekarang, Sofyan seperti tak ada waktu untuk mencari asisten.


Lagian, Aldi juga terlihat sangat pintar dan bisa dia andalkan meskipun terkadang menyebalkan.


Sofyan yang tengah berbaring itu menatap Maya yang duduk di kursi kecil di dekat ranjang. Gadis itu sedang mengupas buah apel merah di atas piring sambil mengobrol dengan Darus.

__ADS_1


Sofyan ingat, bahwa dia dan Maya harusnya mencoba malam pertama mereka yang sempat gagal. Tetapi malam ini juga entah akan berhasil atau tidak, tempatnya seperti tak mendukung. Apa lagi Maya sejak tadi sibuk bercengkrama dengan Darus. Padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam.


'Duh, padahal enak kali, ya. Kalau kelonannya dilanjut.' Perlahan tangan kiri Sofyan masuk ke dalam celana panjangnya seraya meraba si Jumbo tanpa bulu yang sudah menegang. 'Ah Maya, kapan aku diizinkan goyangin kamu. Nggak tahan aku, May.'


__ADS_2