
Seorang wanita cantik dengan memakai dress ketat dan seksi dengan model v pada dadanya tengah berjalan masuk ke sebuah gedung pencakar langit. Wanita tersebut adalah Anna dan ketukan high heelsnya terhenti tepat di depan resepsionis kantor itu.
"Selamat siang, Mbak. Apa Rizky ada di ruangannya?" tanya Anna pada seorang wanita yang memakai sanggul, tengah berdiri di hadapannya.
"Pak Rizky sedang meeting, Nona Anna." Sang resepsionis tentu mengenal Anna, sebab dulu dia sering datang dan pergi ke kantor itu.
"Oh, kapan selesainya kira-kira? Aku mau menemuinya."
"Saya kurang tahu Nona, sepertinya jadwal Pak Rizky hari ini sibuk."
"Oh yasu—" Ucapan Anna menggantung tatkala seorang wanita datang menyela.
"Mau apa kamu mencari Mas Rizky?" tanyanya, dia adalah Nella.
Anna menoleh dan seketika Nella memperhatikan wajahnya. Sepertinya dia merasa familiar dengan wajahnya itu. Wajar saja, mereka memang pernah bertemu walau hanya sekali.
"Aku ada urusan dengan—"
"Kamu wanita yang waktu itu, kan? Yang berbuat mesum di toilet!" sergah Nella sambil menunjuk wajah Anna, kemudian dia menarik lengan wanita seksi itu sampai keluar dari kantor hingga halaman.
"Kamu ini apa-apaan, sih? Kenapa tarik-tarik!" Anna yang merasa risih dengan perlakuan Nella lantas menepis kasar tangannya.
"Kamu yang apa-apaan, kenapa datang ke sini? Pergi sekarang!" titah Nella dengan nada mengusir.
"Apa urusanmu? Aku datang ke sini karena ada perlu dengan Rizky!" tegas Anna. Dia hendak melangkah tapi kembali Nella memegang lengannya.
"Ada urusan apa? Bicara padaku!"
"Kamu ini siapa, sih?" sentak Anna, kembali dia menepis tangan Nella pada lengannya. "Sudah datang tiba-tiba memfitnahku, sekarang melarangku bertemu dengan Rizky."
"Aku nggak fitnah padamu, ya! Kamunya saja yang lupa! Aku pernah memergokimu berbuat mesum di toilet sama Mas Rizky!" tekan Nella kesal.
Anna yang sempat lupa kini teringat, dia juga langsung membulatkan matanya saat sadar jika Nella adalah wanita yang memergokinya.
"Oh, terus apa urusanmu melarangku bertemu Rizky?" Anna bersedekap sambil tersenyum miring.
"Aku istrinya!" tegas Nella.
Anna langsung bergelak tawa sambil geleng-geleng kepala, jelas tergambar jika wanita itu tak mempercayai jawaban dari Nella.
"Kamu nggak usah mengaku-ngaku deh, bukannya kamu yang saat itu berencana memenjarakan Rizky, ya?"
__ADS_1
"Memang iya, tapi aku dan dia sudah menikah sekarang. Apa hubunganmu dengan Mas Rizky? Kenapa kamu ingin menemuinya?"
"Itu bukan urusanmu!" tekan Anna.
Sementara itu di ruang rapat, Hersa menghampiri Rizky yang tengah duduk di kursi, lalu berbisik di telinganya.
"Pak maaf, diluar ada Nona Nella sedang berantem."
Rizky yang awalnya begitu tenang sedang menatap laptop, sontak seketika saja membulatkan matanya dengan lebar.
"Nella? Yang benar saja, bukannya dia ada ada di restoran?" Meskipun tadi sempat kaget, tetapi Rizky langsung ingat jika istrinya saat ini berada di restoran.
"Tapi dia ada diluar bersama Nona Anna, Pak. Mereka sedang adu mulut."
Rizky langsung terbelalak lagi, dengan refleks dia berdiri dan membuat rekan bisnisnya menatap ke arahnya. "Sepertinya meeting kita cukup di sini saja, kita lanjutkan besok!"
"Baik, Pak."
Setelah mendengar jawaban dari rekan bisnisnya, Rizky lebih dulu keluar dari ruangan itu ditemani Hersa yang membuntut di belakangnya.
Mereka naik lift menuju lantai dasar, dan ketika pintu itu terbuka, pria tampan itu bergegas berlari keluar kantor.
Nella terhenyak ketika Rizky membantu Anna melepaskan rambutnya pada genggaman tangannya itu, lalu dia pun segera memeluk tubuh Rizky.
"Dia duluan, Mas!" Nella mengeratkan pelukannya dan mendongak ke arah wajah suaminya, seolah mengadu dan ingin Rizky memihak padanya.
"Rizky, dia itu wanita gila! Bisa-bisanya dia menjambak rambutku yang habis dari salon ini!" gerutu Anna sambil membereskan rambut panjangnya yang berantakan akibat ulah Nella.
"Kalian kenapa bisa berantem? Lu juga ngapain ada di sini, Anna?" tanya Rizky, lalu matanya berkeliling ke halaman kantornya mencari-cari satpam yang tidak ditemukan.
"Dia menghalangi aku mau ketemu denganmu, Riz. Padahal aku ada perlu denganmu," papar Anna.
"Mas ... apa Mas Rizky dan Anna punya hubungan? Bukannya Mas bilang dia bukan siapa-siapa Mas Rizky?" tanya Nella dengan wajah merengut.
"Dia memang bukan siapa-siapa gue, kok." Rizky mengusap keringat yang ada dahi Nella, kemudian menatap lagi ke arah Anna. "Ada perlu apa?"
"Aku mau kita bicara berdua saja, aku nggak enak dilihat orang lain." Anna melirik pada sekelilingnya yang banyak sekali orang lewat, keluar masuk kantor Rizky.
Belum sempat dijawab oleh Rizky, Nella segera melepaskan pelukannya lalu menarik kasar lengan Rizky, membawanya cepat-cepat pergi dari hadapan Anna dan masuk ke lift.
Di dalam lift itu ada dua orang karyawan Rizky, tetapi Nella tak peduli akan hal itu. Kembali dia memeluk tubuh suaminya dengan erat.
__ADS_1
"Mas Rizky selingkuh, ya?"
"Selingkuh? Selingkuh dengan siapa?" Rizky mengerutkan kening. Kedatangan Nella yang tiba-tiba dan aksinya tadi—sungguh membuatnya kebingungan.
"Mana kutahu, mungkin sama Anna," jawabnya dengan ketus, lalu membenamkan wajahnya pada dada bidang Rizky seraya menghirup aroma minyak wangi. "Apa Mas Rizky sering bertemu dengannya tanpa sepengetahuanku?"
Rizky menggeleng cepat. "Nggak, gue malah baru bertemu tadi."
"Mas berbohong!"
Ting~
Setelah mengetahui pintu lift itu terbuka, Nella melepaskan pelukannya lalu menarik kembali tangan Rizky untuk keluar sama-sama.
"Di mana ruangan Mas Rizky?" tanya Nella dengan masih bernada ketus.
Rizky menjawabnya dengan tunjukkan jari telunjuknya, tepat pada ruangan di depan mata.
Setelah sama-sama masuk ke dalam, lagi-lagi Nella menarik lengan Rizky hingga pria tampan itu duduk di sofa. Rizky hanya diam dan pasrah saja dengan semua yang dilakukan istrinya, sebab terlihat jelas rona kemarahan itu pada wajah Nella.
"Apa aku boleh pinjam ponsel Mas Rizky?" tanya Nella seraya menghampiri dan duduk di pangkuannya, sikapnya yang aneh itu membuat Rizky lagi-lagi mengerutkan kening.
"Untuk apa?"
"Pinjam saja sini." Nella menadah tangannya, dan Rizky pun segera merogoh saku jasnya lalu memberikan apa yang telah dia dapatkan.
"Buka kuncinya dong, kenapa harus pakai sidik jari segala, sih?" Nella mendengus kesal. Rizky hanya menghela nafas dan menempelkan ibu jarinya ke tombol yang berada dipinggir ponsel.
Setelah berhasil terbuka, Nella langsung memainkan benda pipih itu. Dan lebih tepatnya menggeledah seluruh pesan, nomor kontak dan panggilan keluar dan masuk. Hampir semua dia telusuri, mencari entah apa yang diinginkan saat ini.
'Nella kenapa, sih? Tiba-tiba datang, terus berantem, dan ngecek hape?' batin Rizky. Perlahan dia menyandarkan punggungnya di penyangga sofa, lengannya perlahan melingkar pada pinggang istrinya.
Rizky mengulas senyum, saat memandangi wajah serius istrinya. Sesekali dia menoel-noel pipi mulusnya, tetapi Nella masih fokus dan diam saja.
"Apa yang lu cari?" tanya Rizky penasaran. Ingin ikut melihat, tetapi posisinya saat ini terasa nyaman.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1192...
__ADS_1