
"Ini kue, hanya untuk cemilan saja. Siapa tahu kamu laper pas jam kerja. Tolong terima, ya." Sofyan langsung mengulurkannya. Karena merasa tak enak, Maya akhirnya mengambilnya.
"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya duluan." Maya membungkuk sedikit, lalu berjalan masuk ke dalam kantor Rizky.
"Sama-sama." Sofyan tersenyum sambil memandangi punggung Maya yang sudah menghilang.
'Apa kudekati dia pelan-pelan saja, ya? Tapi aku takut dia risih padaku. Aku harus bagaimana sekarang?' batin Sofyan. Setelah Itu Sofyan masuk lagi ke dalam mobil, dia memang tak berencana ketemu Rizky sebab yakin jika pria itu pasti belum datang.
***
"Akhirnya selesai juga pekerjaanku." Maya meregangkan otot-ototnya sambil membuang napas lega. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, sudah waktunya dia pulang.
Maya membereskan meja kerjanya, lalu menjinjing tas. Pandangannya langsung melirik ke arah plastik merah, plastik itu adalah plastik yang berisi kue daru Sofyan tadi pagi. Namun sama sekali belum dia sentuh, lantaran sejak pagi sibuk berkutat dengan laptop.
"Astaga aku lupa dengan kue dari Pak Sofyan."
Maya segera mengambil isi di dalamnya yang ternyata kue pukis dengan toping coklat, keju dan strawberry dalam sebuah kotak.
Maya mengambil salah satunya lalu mencium sebentar, takutnya sudah bau tidak enak. Dan setelah dicium ternyata tidak, kue itu masih enak dan terasa empuk saat dia gigit sedikit.
"Masih enak, sepertinya masih kuat sampai aku bawa pulang. Nanti buat teman teh hangat pasti cocok." Maya membungkusnya lagi, kemudian menaruhnya ke dalam kantong merah itu.
"Eh, apa ini?" Maya sepertinya menemukan sesuatu di dalam sana, lantas dia merogohnya dan ternyata ada sekuntum bunga mawar, namun sayangnya sudah layu di dalam kemasannya. "Lho ada bunga ternyata, kok Pak Sofyan nggak bilang dia memberikan aku bunga lagi?"
Maya mencium bunga mawar itu, aroma harumnya masih ada. "Apa Pak Sofyan benar-benar suka padaku? Ah tapi masa, sih?"
*
*
"Eh, Pak. Apartemen saya sudah lewat itu." Maya menepuk belakang kursi sang sopir taksi, memberitahu jika mobilnya sudah melewati tujuannya.
__ADS_1
Sang sopir langsung mengerem mobilnya, lalu setelah membayar Maya berjalan perlahan menuju gerbang. Jarak gerbang apartemen dan jalan raya cukup jauh.
Namun, secara tiba-tiba tubuhnya menabrak pria berbadan tegap. Pria itu memakai masker dan topi, juga kaos pendek dan celana jeans panjang. Semuanya serba hitam.
Bruk!!
"Maaf, Nona," ujar pria itu. Tangannya perlahan mengambil sebuah sapu tangan di dalam kantong celana, dan dengan cepat membungkam mulut Maya sebelum gadis itu hendak mengangkat wajah.
"Eeemmmpp ...." Maya membulatkan matanya, namun tak berselang lama dia pun jatuh pingsan. Cepat-cepat pria itu mengangkat tubuhnya lalu memasukkannya ke dalam mobil yang baru saja berhenti di depan.
"Benar nggak dia orangnya? Aku takutnya salah orang," ujar pria yang tengah mengemudi dengan kecepatan full. Penampilan sama, serba hitam. Dia Lantas menatap temannya dari kaca depan yang tengah duduk bersama Maya.
Pria itu langsung mengambil ponselnya dan melihat sebuah foto yang nyaris mirip dengan Maya. "Sepertinya benar."
***
Keesokan harinya, di kantor Rizky.
Namun, anehnya tak ada Maya di kursi sebelahnya, tempat di mana gadis itu biasa duduk. Dan biasanya Maya yang selalu lebih dulu datang dibanding Rizky.
"Di mana Maya, Sa?" Rizky melihat Hersa yang baru saja berjalan ke arahnya, kemudian dia membuka laptopnya yang berada di atas meja. "Panggilin orangnya. Gue mau lihat catatan dia."
"Maya belum datang, Pak," ujar Hersa dengan wajah binggung.
"Belum datang?" Rizky mengerutkan keningnya. "Tumben banget, ke mana dia? Apa sakit?"
"Saya nggak tahu." Hersa menggeleng cepat. "Saya menelepon dia, tapi nomornya juga nggak aktif."
"Masa sih?" Rizky mengambil ponselnya di saku celana, lalu untuk memastikan dia pun menghubungi gadis itu. Ternyata benar, tidak aktif. "Lho bagaimana ini? Proyeknya mau dibahas. Lu pergi sana deh, ke apartemennya, mungkin dia sakit. Tapi tolong kirimkan catatan yang dia tulis kemarin gitu, ya?"
"Iya, Pak." Hersa mengangguk, lalu berlari keluar dari ruang rapat itu.
__ADS_1
Rizky menatap Reymond yang sejak tadi sibuk pada laptopnya. "Tunggu sebentar ya, Rey. Kita tunggu catatan dari Maya."
"Iya, Riz." Reymond mengangguk cepat.
*
"Halo, Pak. Maya nggak ada di apartemennya, dan kata satpam penjaga dia dari semalam belum pulang," tutur Hersa pada sambungan telepon. Dia sudah satu jam pergi dan sekarang mengabari Rizky yang masih duduk di ruang rapat.
"Belum pulang? Masa sih? Ya sudah lu pulang saja dulu, Sa," titah Rizky.
"Baik, Pak."
Rizky mematikan sambungan teleponnya lalu berdiri. "Rey, meetingnya kita tunda besok saja bagaimana? Maya nggak ada di apartemen."
"Kok bisa? Memang ke mana dia?"
"Nggak tahu, nomornya juga nggak aktif. Catatan proyek kita ada sama dia soalnya."
"Oh ya sudah, nggak apa. Gue, Dion dan Melly pulang dulu kalau begitu, ya? Masih banyak kerjaan di kantor." Reymond berdiri lalu menepuk pelan pundak Rizky. Temannya itu mengangguk.
Setelah kepergian Reymond, Rizky langsung duduk kembali lalu mencoba menghubungi Sofyan. Mungkin saja Papa mertua itu tahu sebab pria itu memang bilang ingin mendekati Maya pelan-pelan.
*
Sofyan sendiri sekarang ada di sebuah cafe berdua dengan Mawan, papanya Indah. Mereka sedang mengobrol santai sambil minum secangkir kopi.
Semenjak Sofyan menjadi duda lagi, dia jadi lebih sering mengobrol dan bertemu dengan Mawan. Menjadi akrab karena status mereka juga sama.
"Halo, iya Riz." Sofyan mengangkat panggilan masuk yang atas nama Rizky.
"Papa, apa Papa semalam antar Maya pulang kerja?"
__ADS_1