
Nella menggeleng cepat. "Bukan itu maksudku, Pa. Mas Rizky pantas dicintai. Aku ... aku akan putus dengan Kak Ihsan dan menjauhinya, aku akan mencoba menerima Mas Rizky menjadi suamiku."
Tatapan tajam dari Guntur membuat darah Nella seperti membeku, dia merasa takut jika salah bicara dan dengan entengnya dia mengatakan hal itu meskipun sama sekali belum terpikir sebelumnya.
"Papa nggak mau kalau kamu terpaksa melakukannya. Papa juga nggak mau kalau kamu hanya sekedar menerima Rizky. Tapi Papa mau ... kamu mencintainya, menjadi istri yang benar-benar menghargai dan menurut pada suami!" tegas Guntur. "Semua manusia punya masalah dimasa lalu, maafkan masa lalu Rizky yang begitu kelam. Tapi kamu juga harus tahu ... kalau di dunia ini nggak ada yang sempurna, sama halnya dengan Rizky. Papa akui kamu memang cantik, mandiri dan pintar memasak. Tapi kamu juga harus sadar ... diluar sana masih banyak wanita yang tentu lebih hebat darimu dan bisa mencintai Rizky dengan tulus. Kalau kamu nggak bisa mencintai anak Papa ... biarkan Mitha yang mencintainya."
Deg!
Nella terbelalak, lalu menggeleng cepat dengan wajah yang terlihat begitu ketakutan. "Nggak, Pa. Aku nggak mau Mas Rizky bersama Mitha. Aku akan mencoba mencintai Mas Rizky."
Guntur tersenyum puas. Ternyata semua kata demi kata yang dia lontarkan mampu mengambil hati menantunya. Dia merasa bangga pada dirinya sendiri.
'Memang harusnya Nella mempunyai saingan, biar mikir sedikit,' batin Guntur.
"Tapi Papa butuh bukti darimu, bukan hanya di mulut saja," ujar Guntur.
"Nanti setelah aku keluar dari rumah sakit ... aku akan menemui Kak Ihsan dan menyatakan putus, Pa."
"Kamu menemui Ihsan harus bersama Papa, Papa ingin melihat langsung kamu putus dengannya."
Nella mengangguk. "Iya, aku akan ajak Papa nanti."
"Kamu nggak usah mengajak Papa ... tapi Papa sendiri yang mengajak kamu untuk menemuinya. Setelah kamu keluar dari rumah sakit, kamu juga harus tinggal di rumah Rizky!" tegasnya kembali.
'Aku tinggal di rumah Mas Rizky?' batin Nella.
"Papa nggak mau kamu menyakiti Rizky lagi. Kalau sampai itu terjadi ... Papa sendiri yang akan menyakitimu!" ucapnya dengan penuh penekanan.
Deg!
Nella terbelalak, jantungnya langsung berdebar kencang lantaran ucapan yang berupa ancaman itu. Dia memang sudah sering diancam, tetapi kali ini terasa beda. Wajah serius Guntur entah mengapa terlihat begitu menakutkan, hingganya membuat bulu kuduknya merinding.
'Papa mau menyakitiku, kalau aku menyakiti Mas Rizky?'
"Jangan anggap apa yang Papa katakan adalah sebuah ancaman. Semua ada di tanganmu. Kalau memang kamu masih ingin bersama Rizky, lepaskan Ihsan. Kalau kamu memilih bersama Ihsan, lepaskan Rizky."
'Pilihan? Apa memilih Mas Rizky adalah jalan terbaik sekarang?' batin Nella.
***
Sementara itu, Gita dan Rizky sudah berada dipusat berbelanja di kota Jakarta. Sebuah mall yang begitu besar dan ini adalah mall yang sama saat Rizky bertemu Ihsan.
Rizky seolah menjadi anak kecil, dia digandeng terus sedari tadi hingga Gita membawanya masuk ke sebuah toko perlengkapan bayi.
__ADS_1
"Selamat siang dan selamat datang Ibu dan Mas, ada yang bisa saya bantu?" Seorang pelayan wanita menyambut kedatangan mereka dengan senyuman ramah.
"Tolong carikan perlengkapan bayi yang baru lahir, carikan yang paling mahal dengan kualitas bagus," titah Gita.
"Baik, Bu. Bayinya laki-laki atau perempuan?"
Gita menoleh pada Rizky. "Cucu Mama laki-laki atau perempuan, Riz?" tanyanya.
"Mama kok tanya padaku? Terus aku tanya siapa?" Rizky mengerutkan keningnya. Jelas sekali dia sendiri tidak tahu sebab tadi pagi saja tidak mendapatkan jawaban dari Dokter.
"Kamu 'kan bapaknya, kamu yang membuatnya masa nggak tahu anakmu laki-laki atau perempuan?" Gita mendengus kesal.
"Dih, Mama ini aneh. Membuat bukan berarti tahu, kan dia masih terlalu kecil masih sebesar upil."
Gita berdecih. "Bilang saja kamu nggak peka! Dan berhenti menyebutnya upil, Mama geli mendengarnya!" tegasnya.
"Maaf, Bu ... Mas, jadi bagaimana?" tanya sang pelayan yang sejak tadi hanya menjadi pendengar dalam perdebatan mereka.
"Carikan sepasang saja, deh. Laki-laki dan perempuan," jawab Gita.
"Kalau nanti anakku kembar bagaimana, Ma?" tanya Rizky.
"Ya itu bagus, mangkanya kita beli sepasang," balas Gita.
"Dih ngaco!" Gita menepuk lengan Rizky. "Nella nggak mungkin melahirkan sekaligus banyak, kamu kira kucing?"
"Kata siapa? Kan kita nggak tahu. Kalau Allah ngasihnya sekaligus banyak 'kan alhamdulillah."
"Iya juga, sih. Tapi kasian Nellanya, nanti sobek."
"Apanya yang sobek?" tanya Rizky.
"Ya—"
"Maaf, Bu," sela pelayan itu. Bukannya langsung menentukan pilihan, mereka malah sibuk menerka-nerka, dan itu membuat sang pelayan merasa jenuh, tetapi masih berusaha untuk sabar. "Jadi bagaimana? Apa Ibu dan Masnya jadi beli?"
"Jadilah, kau pikir aku ke sini mau apa kalau nggak beli?" sergah Gita sewot.
"Lalu apa pilihan Ibu?"
"Menurutmu apa, Riz?" Gita malah berbalik tanya pada Rizky. Padahal pria itu juga terlihat binggung.
"Menurutku kita belinya nanti saja, Ma. Saat kandungan Nella agak besar dan sudah tahu jenis kelaminnya. Jadi kita nggak binggung," usul Rizky.
__ADS_1
"Ah kamu ini! Mama mau beli sekarang!" tekan Gita, lalu dirinya menatap pelayan yang masih berdiri di sampingnya. "Carikan untuk laki-laki dan perempuan saja, masing-masing lima lusin."
Rizky terbelalak, tentunya lima lusin bukan jumlah yang sedikit. Terlebih lagi dia memberi sepasang yang artinya sepuluh lusin. "Jangan banyak-banyak, Ma. Aku bawanya bagaimana nanti?" protes Rizky.
"Bawanya tinggal ditenteng, begitu saja kamu pusing," jawabnya santai.
"Tapi itu terlalu banyak, Mama 'kan beli perlengkapan bayi ... bukan hanya baju-baju saja."
"Kok kamu begitu, sih? Masa untuk anak sendiri nggak ikhlas membawanya? Tega sekali kamu!" gerutu Gita.
"Bukan tega, tapi kita 'kan bisa belinya nyicil." Rizky mengusap pelipis matanya, kepalanya tiba-tiba terasa begitu pening. "Begini saja deh ... kita beli satu lusin sepasang, nanti besok atau seminggu kita beli lagi. Atau ... nanti Mama bisa pergi belanja dengan Nella, supaya Nella ikut memilihnya. Kesukaan orang 'kan berbeda, Ma. Takutnya Nella nggak suka dengan pilihan Mama dan malah nggak dipakai," saran Rizky. Mungkin dengan begitu, Gita tak akan membuatnya makin pusing tujuh keliling.
Gita terdiam dan mulai mencerna apa yang anaknya katakan. Jelas semuanya benar. Beberapa menit kemudian, akhirnya wanita itu menentukan pilihan.
"Ya sudah ... kita pulang saja kalau begitu, nanti Mama belanjanya bersama Nella saja. Belanja denganmu nggak seru." Setelah mengatakan hal itu, Gita segera melepaskan gandengan tangannya pada Rizky, lantas berlalu keluar dari toko tersebut.
Rizky mengerutkan kening dan melayangkan pandangan pada pelayan wanita yang sejak tadi begitu sabar. Rizky merasa malu dan tak enak, tetapi mau bagaimana lagi. Dia hanya bisa tersenyum canggung dengan anggukan sedikit pada kepalanya.
"Maaf ya, Mbak. Aku dan Mama nggak jadi beli. Mungkin nanti Mama ke sini lagi bersama istriku."
"Rizky!" pekik Gita dari luar, dia berdiri dan bersedekap menunggu anak pertamanya keluar dari toko.
Mendengar teriakan sang mama, segera Rizky berlari menghampirinya. Lalu berjalan mengikuti langkah kaki Gita dengan helaan nafas panjang.
"Kita ke sini seperti buang-buang waktu tahu nggak, sih? Harusnya sekarang aku sudah berciuman dengan Nella," gumam Rizky, tetapi terdengar sampai ke telinga Gita. Wanita tua itu langsung menyikut lengannya.
"Kata siapa buang-buang waktu? Kita pergi ke toko ibu hamil. Mama mau membeli baju hamil untuk Nella!"
Rizky berdecak kesal, tetapi dia hanya bisa mengelus dadanya dan pasrah.
'Sabar, Riz. Namanya juga orang baru punya cucu ... jadi agak lebay. Yang terpenting gue dan Nella nggak jadi bercerai.'
...•••••••••••••••...
...Hai readers 👋... ada sedikit pengumuman dari Author. Mulai hari ini dan seterusnya ... InsyaAllah aku akan up sehari 2x tapi di jam yang berbeda, ya!...
...Mohon dukung terus karya ini biar makin naik dan kalian jangan pelit jempol, ya!🙏. Memberi dukungan itu sangat gratis. Mulai dari like, komen, beri hadiah dan vote setiap Minggu....
...Buat yang udah bosan atau nggak suka sama novel ini ... boleh tinggalkan, ya! Aku nggak pernah paksa siapapun untuk baca novel ini. Dan buat yang masih stay di sini, aku mau ngucapin banyak terima kasih 🤗. Satu dukungan dari kalian begitu berarti dan membuat aku semangat nulis....
...Oke itu aja, jangan lupa like dan komentarnya ❤️...
1180
__ADS_1