Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
63. Kata maaf


__ADS_3

"Ah, nggak usah, Bi. Biar aku saja."


Jawaban dari Nella sontak membuat Rizky membuka matanya lebar-lebar, dia juga menyunggingkan senyum sama lebarnya.


'Gue jadi tambah suka sama lu,' batin Rizky.


Alasan wanita itu menolaknya dikarenakan bayangan wajah Gita yang tengah menangis tergambar dibenaknya. Mungkin kalau Gita tahu Rizky sakit dan Nella tidak mengurusinya, dia pasti akan sedih.


Hati Nella benar-benar sudah melunak lantaran air mata yang Gita teteskan dan itu terlihat begitu tulus.


Nella lantas melanjutkan lagi untuk menyuapi Rizky. Kalau saja di dalam kamar itu hanya mereka berdua, mungkin Rizky sudah memeluk atau mencium wanita yang berada di dekatnya itu.


"Bukannya kamu tadi belum selesai makan? Lebih baik lanjutkan makan dulu. Pikirkan kesehatanmu sendiri," tegur Angga. Dia masih berusaha supaya Nella berhenti melakukan apa yang dilihatnya saat ini.


"Aku sudah kenyang, Opa."


"Ya sudah, mending istirahat aja. Oya ... kamu biasanya telepon Ihsan sebelum tidur, mending kamu hubungi dia."


Jurus yang sangat ampuh bagi Angga yaitu mengingatkan tentang Ihsan dan tentu hal itu membuat Nella menoleh pada Bibi.


Tidak, Rizky tak bisa semudah itu melepaskan Nella untuk pergi demi menelepon pacarnya. Dan saat Nella hendak memberikan mangkuk itu pada Bibi pembantu, Rizky langsung menutup hidungnya lalu mengeluarkan suara bersin. "Haacim!!"


Bukan lantaran flu, itu semata-mata untuk mengalihkan pikiran Nella pada Ihsan. Dan benar saja—wanita itu tak jadi memberikan mangkuk itu, sekarang malah menatap ke arahnya.


"Apa masih ada buburnya?" tanya Rizky dengan senyuman malu-malu. Nella mengangguk dan kembali menyuapinya.


'Lu harus temenin gue, jangan pergi untuk telepon Ihsan. Gue yang butuh lu sekarang, Nell,' batin Rizky.


"Pa, sudah biarkan saja Nella mengurus Rizky. Kasihan dia, lebih baik kita istirahat saja." Sindi mulai mengantuk. Lantas menarik lengan suaminya untuk pergi dari kamar itu.


Namun, tidak semudah yang dibayangkan oleh Rizky yang diam-diam masih memperhatikannya. Mereka secara tidak langsung bagaikan seorang musuh, hanya saja nyali Rizky terlalu ciut sebab Angga terlalu tua untuk dilawan.


Pria tua itu menahan kakinya yang hampir setengah ditarik berjalan oleh istrinya. Dia berjalan maju menghampiri Nella dan mengusap puncak kepala cucunya. "Kamu dengar apa yang Opa katakan, nggak?"


"Aku denger, Opa." Nella menoleh dan tersenyum padanya. "Tapi nggak apa-apa. Hanya sebentar kok, habis menyuapi Pak Rizky makan dan minum obat, aku langsung masuk ke kamarku."

__ADS_1


Angga menghela nafas. Kali ini Rizky menang, Angga tidak mampu memaksa Nella sebab itu murni keinginannya sendiri. "Ya sudah, Opa mau istirahat duluan." Sebelum keluar dari kamar itu, Angga mencium kening Nella. "Selamat malam cucu Opa."


"Malam juga, Opa."


"Selamat malam juga, Opa." Rizky ikut menyahutinya. Tetapi bukannya diberi sahutan balik, Angga malah melengos begitu saja.


Angga, Sindi dan Bibi pembantu keluar dari kamar itu, meninggalkan Nella dan Rizky berdua.


Setelah Rizky menghabiskan buburnya, Nella membantu Rizky untuk menelan obat demam yang sempat diberikan oleh Sindi. Mengangkat kepalanya sedikit dan mengarahkan gelas yang berisi air minum pada mulutnya.


"Terima kasih, Nell," ucap Rizky seraya tersenyum.


"Sama-sama. Ya sudah, aku mau tidur dulu, Pak."


"Sebentar! Gue mau bicara," pinta Rizky seraya memegang lengan Nella saat wanita itu hendak bangkit dari duduknya.


"Bicara apa?" Nella melepaskan tangan Rizky dari lengannya, tapi dengan sentuhannya begitu lembut, tidak kasar seperti dulu. Lantas, dia tak jadi bangkit dan duduk di tempat semula.


"Gue mau minta maaf sama lu," ucap Rizky dengan tulus.


"Untuk semua sikap gue yang buat lu kesal." Ya, mungkin dari kata maaf, sedikit merubah keadaan. Jujur saja, Rizky makin terbuai dengan sikap Nella yang berubah lembut padanya. Tapi dia takut kalau ini bersifat sementara. "Gue tau, pertemuan kita saja sudah nggak bagus, ditambah dengan hubungan ini. Sekali lagi gue minta maaf, Nell." Rizky menatap lekat mata wanita yang sama-sama menatapnya.


Kening Nella masih berkerut, dia merasa aneh dengan tatapan mata Rizky. Dulu yang hanya terlihat adalah tatapan mesum dari pria itu, tapi kali ini ada sebuah ketulusan yang tergambar jelas pada bola matanya, bahkan mata itu sudah mulai berair.


"Apa kalau aku memaafkannya ... Bapak nggak akan mengulangi hal yang sama?"


"Tentu saja."


"Termasuk memaksaku untuk bercinta?"


Deg!


Jantung Rizky langsung berdebar kencang, itu justru hal yang membuatnya tidak bisa tidur saat malam dan tidak fokus saat siang. Dia menginginkannya sekaligus rindu. Tapi sepertinya Nella benar-benar tak menyukai proses penyatuan mereka, sayang sekali.


Rizky mengangguk samar. "Iya, gue nggak akan menyentuh lu lagi, kalau lu sendiri memang melarangnya." Sebenarnya, itu jawaban yang Rizky sendiri meragukannya, tapi Rizky tak ada pilihan lain.

__ADS_1


Ucapan Sofyan, Gita dan Hersa, terlintas begitu saja di dalam otaknya. Kali ini, Rizky tak mau gegabah dan melewatkan satu kesempatan. Dia ingin jadi sosok yang terlihat baik di mata Nella, meskipun itu di detik-detik perceraiannya.


"Aku pegang janji Bapak."


"Boleh gue minta satu hal sama lu?" tanya Rizky seraya mengusap matanya, sebelum buliran air itu jatuh. Dia tak mau Nella melihatnya menangis, meskipun aslinya hatinya benar-benar sedih.


"Apa?"


"Apa lu bisa, mulai sekarang jangan panggil gue 'Bapak'? Gue juga mau dipanggil Kakak atau Mas. Gue ... gue masih suami lu, kan?" pinta Rizky dengan penuh harap.


Nella terdiam sejenak, permintaan Rizky bukanlah sesuatu yang sulit. Hanya sebutan saja, masa Nella merasa keberatan? Tentunya tidak.


"Bisa, Bapak mau dipanggil siapa?"


Rizky langsung tersenyum dengan pipi yang merona. "Mas saja. Kalau Kakak ... nanti lu nggak bisa membedakan gue dan Ihsan." Senyuman manis itu langsung berubah menjadi getir. Nama pria itu membuat hatinya tertusuk. Padahal, dia sendiri yang mengatakannya, apalagi kalau Nella? Mungkin sakitnya akan menjadi dua kali lipat.


"Oke, Mas Rizky." Nella tersenyum.


Hangat, panggilan itu terasa sangat hangat hingga terasa pada tubuhnya. Mendadak Rizky sudah tak merasakan kedinginan. Tapi itu juga berkat pengaruh obat demamnya yang sudah bereaksi.


"Jadi Mas Rizky setuju 'kan kita berpisah? Aku mau prosesnya bisa cepat," ucap Nella kemudian.


"Iya, gue setuju. Lu tenang saja."


Bohong, dalam hati tidak sama sekali.


"Ya sudah, aku mau ke kamar untuk istirahat."


Nella bangkit dari duduknya, dia berjalan keluar dari kamar Rizky dan menutup pintu itu pelan-pelan.


Setelah kepergian Nella, Rizky menatap langit-langit kamar. "Gue nggak rela pisah sama lu dan melihat lu bahagia dengan Ihsan," ucap Rizky bermonolog. "Apa gue jahat, ya? Tapi hati gue benar-benar nggak bisa melepaskan lu. Kalau tau begini jadinya ... lebih baik kita nggak usah menikah sekalian, dari pada gue harus bercerai."


...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...


...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...

__ADS_1


__ADS_2