
"Lho, itu baju buat siapa saja?" tanya Rizky saat melihat sang istri menaruh semua yang diambil di atas kasur.
"Itu untuk Mas Rizky." Nella menunjuk kemeja panjang kotak-kotak berwarna merah dan celana jeans berwarna hitam, lalu dia memakai dress panjang sampai tumit kaki dengan model tadi di pinggang, yang dia ambil tadi.
"Tapi kok ... lu malah pakai baju rapih juga?" Rizky mengerutkan kening.
"Aku mau ikut memancing," jawab Nella.
"Kenapa ikut? Lu di rumah saja nunggu, nanti bosen."
"Nggak mau, aku melihat proses memancingnya. Kita juga ke rumah Papa Sofyan dan Opa dulu, ya ...," pinta Nella dengan nada memohon.
"Ke rumah Papa dan Opa mau apa?"
"Ajak mereka, Mas."
"Memangnya mau, ya?"
"Mangkanya coba dulu. Ayok! Mas Rizky lama banget." Nella mengerucutkan bibirnya saat melihat Rizky sedari tadi hanya baru mengancingkan dua kancing kemeja, sedangkan dia saja sudah selesai memakai dress, lipstik, minyak wangi bahkan menyisir rambut.
"Ah iya, iya, tunggu sebentar."
Secepat kilat Rizky memakainya sampai akhirnya mereka kini berada di dalam mobilnya Hersa, duduk di kursi belakang.
"Lu mau makan ikannya ikan apa?" tanya Rizky pada Nella.
"Ikan gurame, Mas," jawab Nella.
"Di sana ada 'kan, Sa? Jangan sampai pas dapetnya ikan lele," ucap Rizky.
"Ada Pak, Bapak tenang saja." Hersa tersenyum sembari menyetir. Hal pertama yang mereka lakukan saat ini adalah ke rumah Angga.
***
Sampainya di sana, mereka menghentikan langkahnya di ruang keluarga tepat dimana Angga berada, dia tengah nonton televisi sendirian.
Dia tampak bahagia saat melihat Rizky sedang merangkul bahu Nella sebelum kini pria itu mencium punggung tangannya.
Sudah sangat jelas jika itu menandakan hubungan Rizky dan Nella sepertinya sudah kembali baik-baik saja.
'Syukurlah kalau Rizky percaya sama Nella, aku ikut senang,' batin Angga.
"Opa kangen sama kamu, kok kamu ke sininya malam? Kenapa nggak siang?" tanya Angga seraya berdiri dan memeluk Nella, tangannya mengelus perut wanita itu.
"Aku dan Mas Rizky ke sini mau mengajak Opa memancing ikan."
Angga membulatkan matanya, merasa aneh lantaran dia sendiri belum pernah memancing apalagi dilakukan malam hari.
__ADS_1
"Kamu nggak salah? Kenapa mancing?"
"Aku pengen makan ikan gurame hasil dari Mas Rizky memancing, Opa. Opa juga harus ikut ... nanti kalau Opa dapat, kita bisa makan bersama."
Angga menggeleng, dia sudah membayangkan saat nanti memancing. Bosan dan jenuh, dia juga tipe orang yang tidak sabaran, mungkin sama seperti Sofyan.
"Nggak deh, kamu dan Rizky saja yang pergi," tolaknya dengan nada lembut.
"Dih kenapa? Ayoklah Opa, pasti seru," rengek Nella sembari memegang lengannya. "Itung-itung pengalaman juga, Opa 'kan belum pernah memancing."
"Bukan itu masalahnya. Kamu 'kan tahu sendiri Opa seperti apa, kalau kelamaan duduk ... pinggang Opa suka sakit." Angga meringis sambil menyentuh pinggangnya. Dia berhasil mendapatkan alasan demi tidak ikut pergi.
"Nggak bakal, kan kita mancingnya juga nggak bakal lama. Satu celup langsung dapat." Nella sendiri juga belum pernah memancing, tetapi dia sudah menebak kalau acara memancingnya akan berjalan sukses dan langsung sekali dapat.
"Ih nggak gitu, kita harus nunggu dulu," bantah Angga.
"Opa sok tahu, Opa sendiri nggak pernah memancing." Nella merenggut sambil mencebik bibirnya, merasa kesal lantaran penolakan dari Angga.
"Opa 'kan pernah nonton di tv."
"Jadi bagaimana? Mau ikut atau nggak? Kasihan Mas Rizkynya, dia dari tadi sudah nggak sabar ingin memancing." Nella melirik pada Rizky yang tengah berdiri dengan gelisah, padahal aslinya pria tampan itu tengah menahan kencing.
"Nggak, lain kali saja deh. Biar kamu dan Rizky saja," jawab Angga yang tak berhasil luluh, dia tetap menolak.
"Opa aku ...."
"Uh menyebalkan sekali, Opa! Bukannya ikut!" gerutu Nella sambil bersedekap. "Pak Hersa, kita ke rumah Papa Sofyan, ya!" titahnya pada Hersa yang mana langsung dianggukan.
"Baik Nona."
'Ah, gue pengen kencing sampai nggak jadi. Tahan sampai rumah Papa Sofyan deh,' batin Rizky sambil menyentuh senjatanya sendiri dari balik celana.
*
"Pa, tadi Mama seperti dengar suara Nella." Sindi baru saja turun dari anak tangga, lalu menghampiri suaminya. Dia tadi berada di kamar mandi untuk buang hajat, jadi tak mengetahui cucunya datang.
"Oh, tadi Nella dan Rizky memang datang ke sini, Ma," jawab Angga.
"Ke sini? Mereka sudah baikan? Terus mau apa datang ke sini?" Mata Sindi langsung berbinar, tentu dia ikut merasa bahagia melihat cucunya bahagia.
"Iya, syukurlah. Mereka datang ingin mengajak Papa mancing, Ma."
Sindi terbelalak lantaran terkejut. "Mancing? Rizky mau memancing?"
"Iya, Nella bilang sih begitu."
"Terus Papa cegah mereka, nggak?"
__ADS_1
Angga menggeleng dengan santai. "Nggak."
"Dih Papa! Nella 'kan sedang hamil, Rizky nggak boleh memancing," omel Sindi.
"Nggak bolehnya kenapa?" tanya Angga binggung, dia tak mengerti jalan pikiran Sindi saat ini.
"Pamali, pokoknya nggak boleh! Papa sekarang telepon Nella, cepat! Suruh pulang!" tekan Sindi.
Angga segera meraih ponselnya di atas meja, lalu mengetik layarnya untuk menelepon Nella.
Satu panggilan, dua panggilan dan sampai tiga panggilan tidak ada jawaban.
"Nggak diangkat, Ma," ucap Angga.
"Telepon Rizky."
"Papa nggak punya nomornya."
"Telepon Sofyan, minta nomor Rizky."
Angga mengangguk, lalu dia langsung menghubungi anak pertamanya. Tetapi sayangnya juga tidak dijawab dan panggilan itu sudah tiga kali, sama seperti Nella.
'Kenapa anak dan bapak sama, nggak ada yang mengangkat telepon,' gerutu Angga dalam hati.
"Nggak diangkat juga, Ma," jawab Angga frustasi.
"Kalau nomor Papanya Rizky, Papa punya, nggak? Coba telepon dia untuk minta nomornya Rizky."
"Nomor Guntur nggak punya, tapi Gita Papa punya. Dia sempat minta nomor Papa pas Rizky tinggal di sini. Sebentar ... Papa telepon dia dulu." Angga langsung menghubungi Gita, sekali tidak diangkat dan kedua kalinya akhirnya diangkat. "Halo Gita."
"Halo Pak Angga, ada apa malam-malam telepon?" tanya Gita.
"Aku boleh minta nomor Rizky? Atau kau saja coba hubungi dia."
"Rizky, ada apa memangnya?"
"Rizky dan Nella pergi memancing, kata Omanya Nella ... itu adalah pamali, aku sendiri nggak tahu."
"Apa?" Gita memekik lantaran terkejut, Angga yang mendengarnya langsung menjauhkan ponselnya sebab telinganya terasa berdengung. "Ya sudah ... aku yang akan menghubunginya untuk pulang."
Setelah mematikan panggilan, Gita secepatnya menelepon Rizky.
"Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif, mohon ...." Suara operator itu terdengar dan memandakan kalau nomor Rizky tidak aktif, lalu Gita beralih menelepon Nella. Tetapi sama saja seperti Angga tadi, tidak ada jawaban.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
__ADS_1
...1041...