
"Itu karena aku datang ingin menyelamatkanmu, May. Aku sempat melihat wajahmu pada situs rahasia tentang perdagangan manusia. Dan aku juga orangnya yang telah membelimu. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan supaya kamu nggak diambil oleh pria hidung belang," jelas Sofyan.
Kata demi kata itu langsung masuk ke dalam hati Maya, terasa hangat di dalam sana. Dia tentu ingat berapa harga uang yang telah Mami terima atas harga dirinya, yaitu sebesar lima belas juta dollar. Yang mungkin kalau dirupiahkan bisa mencapai 220 milyar.
Nominal itu sungguh sangat besar, seumur hidup Maya dia belum pernah punya uang sebesar itu.
"Bapak baik sekali. Terima kasih, Pak. Terima kasih telah membantu Saya."
Maya sampai menjatuhkan tubuhnya di depan Sofyan hendak bersujud, dia merasa berterima kasih sekali pada pria itu. Mungkin kalau tak ada Sofyan, entah bagaimana nasibnya nanti.
"Kamu nggak perlu seperti ini, May." Sofyan menarik kedua lengan gadis itu hingga membuatnya berdiri, lalu mengajaknya kembali duduk di sampingnya. "Tapi aku minta maaf tentang semua yang telah aku lakukan, aku khilaf, May."
"Kalau memang semalam saya benar-benar mabuk, itu berarti bukan kesalahan Bapak. Saya juga nggak ingat apa-apa." Maya sama sekali tak ingat. Memang asli dia merasa kecewa, sedih dan malu mendengar apa yang telah Sofyan ceritakan. Tetapi terlepas dari itu semua—yang terpenting dia tidak sampai dinodai. "Uang yang Bapak berikan untuk membeli saya nanti akan saya ganti, saya akan bekerja di rumah Bapak. Saya akan menjadi pembantu dan nggak perlu dibayar sampai hutang saya lunas."
Mungkin bisa sampai seumur hidup, tetapi Maya tak keberatan.
"Nggak perlu berlebihan, May. Kamu juga nggak perlu menganggap itu semua hutang. Aku ikhlas membantumu," ujar Sofyan tulus. "Tapi sekarang ada sedikit masalah, kamu nggak bisa mudah pulang ke Indonesia."
"Kenapa? Apa karena saya habis dijual?"
"Karena identitasmu nggak ada. Mami yang melenyapkannya. Ada satu cara, tapi aku sendiri takut jika kamu nggak mau." Sofyan membuang napasnya dengan berat. Jantungnya langsung berdegup kencang.
"Caranya apa? Apa saya harus menjual diri di sini?"
Sofyan menggeleng cepat. "Syaratnya kamu dan aku harus menikah." Ucapan Sofyan sontak membuat Maya membulatkan matanya.
"Kamu jangan salah paham dulu ...." Sofyan menggerakkan tangannya, dia tahu Maya pastia akan terkejut mendengar ini. "Aku di sini nggak paksa kamu. Dan alasan menikah karena nantinya kamu bisa pulang dengan identitas menjadi istriku, kamu pasti mengerti 'kan maksudku?"
Maya terlihat diam saja dengan pandangan kosong, dia membeku di tempat duduknya. Entah apa yang ada dipikirannya, tetapi sepertinya dia tengah mencerna apa yang Sofyan katakan.
__ADS_1
"Aku tahu ini pasti berat untukmu. Apa lagi kamu nggak suka padaku, May. Tapi hanya ini jalan satu-satunya. Dan ...." Sofyan menjeda ucapannya sebentar. Terasa sangat berat, tetapi rasanya dia harus mengatakannya. "Kita bisa cerai saat tiba di Indonesia kalau memang kamu merasa keberatan."
'Tapi semoga saja enggak,' batin Sofyan.
Maya membulatkan matanya dengan lebar. 'Menikah di sini lalu cerai di Indonesia? Apa nggak terdengar seperti mempermainkan pernikahan? Aku bahkan ingin menikah sekali seumur hidup. Tapi dengan pria yang aku cintai. Tapi kalau begini aku harus bagaimana? Pak Sofyan sudah sangat baik padaku.'
Cukup lama Maya terdiam, hingga sampai tiga puluh menit akhirnya dia bisa mengambil keputusan.
"Ya, aku bersedia, aku mau menikah dengan Bapak."
Jawaban Maya sungguh luar biasa, sangat memuaskan. Sofyan sampai tercengang dengan ribuan kupu-kupu yang seakan hinggap di hatinya. Dia bahagia sekali.
Mungkin kalau di sini ada Rizky, mereka sudah berpelukan.
'Apa ini berarti status dudaku berakhir? Asik! Papa nikah, Riz! Nikah!'
***
"Bagaimana para saksi?" tanya Pak penghulu yang berada di depan mereka.
"Sah! Sah!" seru beberapa orang yang ada di sana. Termasuk Aldi.
"Alhamdulillah, kalian sudah sah menjadi sepasang suami-istri," ujar Pak penghulu lagi kemudian memanjatkan do'a.
'Alhamdulillah ya Allah. Akhirnya aku bisa menikah lagi untuk yang ketiga kalinya. Aku berharap ini adalah yang terakhir. Aku ingin Maya menjadi jodohku,' batin Sofyan.
Meskipun pernikahan mereka terkesan dadakan, tetapi semua sudah lengkap. Sofyan dan Maya memakai baju pengantin.
Sofyan memakai setelan jas berwarna putih dengan dasi hitam kupu-kupu. Sedangkan Maya menggunakan gaun putih panjang. Dia juga sempat di dandani dan tentu sangatlah cantik.
__ADS_1
Ada sepasang cincin kawin, keduanya memiliki berlian kecil ditengah-tengah. Tetapi sayangnya terlihat kebesaran di jari manis Maya ketika Sofyan menyematkannya. Jadi beralih untuk menaruhnya di jari tengah.
Sedangkan cincin untuk Sofyan justru sebaliknya, dia malah kekecilan dan hanya muat di jari kelingking.
Sofyan menatap wajah Aldi dengen penuh kekesalan, sebab dialah orang yang menyiapkan semuanya. Tetapi dibalik itu semua dia sungguh bahagia, bahagia karena dapat mempersunting Maya.
Maya mencium punggung tangan Sofyan saat sudah selesai bertukar cincin, lalu Sofyan pun segera mendekatkan bibirnya ke kening Maya, untuk mengecupnya sekilas.
"Kamu cantik, May. Seperti bidadari yang turun dari khayangan," ujar Sofyan menggombal. Dilihat Maya hanya tersenyum saja. 'Kira-kira aku bisa nggak, ya. Melakukan malam pertama dengan Maya? Ah tapi pulang saja dulu, nanti kalau sampai di Indonesia dia malah langsung minta cerai bagaimana? Nanti yang ada aku sakit hati.'
"Hadap ke sini, Pak, Nona Maya. Biar ku foto," ucap Aldi, di sampingnya ada seorang fotografer.
Sofyan dan Maya langsung menghadap ke arahnya, hanya foto beberapa cekrek saja dan itu juga tak pindah dari tempat duduk.
***
"Serius kita naik pesawat nggak ganti baju dulu, Pak?" tanya Maya dengan ragu saat tangan kanannya digenggam oleh Sofyan, mereka kini tengah berjalan di bandara. Hendak naik pesawat.
Mereka masih memakai baju pengantin. Bahkan Maya sendiri terlihat kesusahan berjalan karena gaunnya lumayan panjang.
"Seriuslah, itu malah bagus. Biar semua orang tahu kalau kita sudah menikah. Aku sangat senang, May," jawab Sofyan sambil tersenyum. Bahkan sejak selesai ijab kabul—kedua pipi pria berumur itu terlihat merah seperti tomat. Dia seperti sedang kasmaran dan jatuh cinta.
Setelah masuk ke dalam pesawat mereka langsung duduk bersebelahan. Sofyan memesan tempat duduk di kelas VVIP, sofanya pun terasa empuk dan nyaman.
"Kamu ada mabuk naik pesawat nggak, May? Aku bawa plastik kresek, permen, obat dan minyak angin." Sofyan langsung memperlihatkan barang yang dia ambil di saku jasnya.
Sebuah plastik kresek putih, berbagai jenis rasa permen. Dari yang rasa manis, asem dan juga bisa melegakan tenggorokan. Dan yang terakhir adalah botol berukuran sedang minyak angin.
Maya menggeleng. "Nggak, Pak. Terima kasih," tolaknya.
__ADS_1
"Sama-sama. Eemm ... sekarang kita 'kan sudah menikah, jangan panggil Bapak lagi dong, May."