
"Bapak tunggu sebentar, ya? Aku akan siap-siap." Nella bergegas masuk ke kamar mandi, di dalam sana juga sudah ada pakaian ganti miliknya.
"Tadi-tadinya gue nggak usah izin, kalau ujungnya kayak gini," gumam Rizky. Ada rasa penyesalan pada dirinya. "Tapi gue udah terlanjur kasih Nella syarat semalam. Eemm ... tapi gue yakin, Papah Sofyan nggak akan semudah itu merestui perceraian kita. Iya, lu tenang aja, Riz. Semua nggak semudah yang Nella bayangin." Rizky menepuk-nepuk dadanya dan tersenyum dengan penuh percaya diri.
*
"Nanti Bapak akan bicara apa sama Papah saat membantuku?" tanya Nella. Ia duduk di sebelah Rizky yang tengah mengemudi.
"Lu maunya gue bicara apa?" Rizky menoleh sebentar dan memfokuskan mobil yang ia kendalikan.
"Bapak bilang saja kita nggak cocok, dan Bapak suka sama wanita lain."
"Gue nggak suka sama wanita lain," jawabnya cepat.
"Alasan saja, Pak. Supaya Bapak bisa bercerai denganku."
"Jangan pakai alasan itu, itu tidak masuk akal."
"Tidak masuk akal? Maksudnya?" Nella mengerutkan kening, merasa binggung.
"Nanti setelah bicara sama Papah lu, pasti gue harus bicara sama Papah gue. Gue nggak mau kena hajar Papah gue, Nell. Kalau sampai gue suka wanita lain selain lu, dan terlebih lagi ... gue orangnya nggak pernah jatuh cinta." Sekilas Rizky seperti curhat tentang isi hatinya pada Nella, namun sayangnya tak ada tanggapan dari Nella.
"Terus apa dong?"
"Kita nggak usah bercerai saja, deh."
"Ih! Kok Bapak gitu? Ucapannya tidak bisa dipegang!" nada suara Nella langsung meninggi, ia seakan tak terima dengan apa yang Rizky ucapkan.
"Iya, iya. Lu tenang aja, sih. Tapi gue nggak yakin juga kalau Papah lu setuju."
"Yang menikah 'kan kita. Setelah bicara sama Papah ... kita bisa langsung ke pengadilan."
Deg!
Rizky terbelalak. "Pengadilan?" ia terperangah mendengar kata itu.
Gue baru menikah dan lagi enak-enaknya, masa langsung jadi duda? Nggak seru banget hidup gue. Minimal gue puas-puasin tubuhnya dulu. Baru bercerai.
Mata nakal Rizky sudah memandangi tubuh Nella yang mengenakan dress berwarna pink di atas lutut. Meski tidak terlihat begitu seksi, namun yang Rizky bayangkan adalah tubuh polos istrinya. Hal itu sampai membuat mulutnya menganga.
Melihat sorotan mata Rizky yang begitu mesum, Nella langsung mengusap wajah pria tampan itu dengan kasar, menyadarkannya.
"Dasar mesum! Apa yang Bapak bayangkan!" Nella menggeser kepala Rizky supaya berhenti melihat ke arahnya. "Fokus menyetir!" bentaknya.
__ADS_1
"Ah sory-sory, Nell. Gue terlalu memikirkan kejadian semalam, dan rasanya gue menginginkannya lagi," ucapnya dengan jujur.
Nella memalingkan wajahnya, menatap jendela. "Enak saja, sudah diberi sekali malah ketagihan! Aku nggak mau!"
"Pelit lu mah, Nell. Sama-sama enak juga."
"Bapak berhenti membahas hal seperti itu, aku nggak suka! Dan kita juga akan bercerai!" tegasnya.
"Iya, iya. Bawel ah."
Setelah sampai di depan kantor polisi, Rizky segera turun dari mobilnya.
"Lu mau ikut masuk?" tawarnya sambil memegang pintu mobil yang ia buka.
"Ngapain aku ikut? Cepat sana absen, aku ingin cepat ke kantor Papah!"
"Kalau mau cepat, lu ikut mangkanya, biar gue nggak capek bujuk lu terus dari tadi."
Padahal Rizky tinggal masuk saja, kenapa juga harus meminta Nella ikut? Entahlah, Rizky terkadang suka aneh.
"Ayok, Nell," ajaknya sekali lagi sambil tersenyum.
"Ish! Menyebalkan sekali!" Nella mengendus kesal dan segera turun dari mobil.
"Nggak usah pegang-pegang!" bentak Nella seraya menepis tangan Rizky yang baru saja merengkuh pinggangnya.
"Dasar pelit!" cetus Rizky.
"Selamat pagi, Pak," sapa Rizky pada Pak Polisi yang sedang duduk santai di ruangannya.
"Pagi Pak Rizky, silahkan absen." Polisi itu menyodorkan buku absen Rizky, ia juga menyerahkan bolpoin padanya.
Rizky segera menandatangani buku tersebut dan menggesernya lagi ke arah Pak Polisi. "Sudah, Pak."
"Lho ... ngomong-ngomong, Nona ini, Nona Nella, kan?" polisi itu menebak bukan karena ngasal, tapi memang polisi itu adalah polisi yang sama saat menangani kasus antara Nella dan Rizky.
"Iya," jawab Nella singkat, tanpa melihat ke arah polisi.
"Apa Nona datang ke sini ingin melaporkan tindakan Pak Rizky lagi? Apa dia berbuat mesum lagi?" polisi itu menatap mata Rizky dengan tatapan curiga.
Melihat tatapan tak bersahabat dari pria di depannya, Rizky segera menggembungkan senyum. "Nella hanya mengantar saya untuk absen, Pak."
"Oh begitu. Jadi kalian sudah berdamai? Syukurlah." Terlihat sekali, wajah polisi itu sangat lega melihat Nella dan Rizky sudah akur. Terakhir melihat saja, Nella datang sambil marah-marah padanya lantaran membebaskan Rizky begitu saja.
__ADS_1
"Bukan hanya berdamai, tapi kami sudah menikah, Pak," balas Rizky.
Apa yang dia katakan? Kenapa pakai cerita segala? Seperti penting saja' Nella menggerutu dalam hati.
Nella menoleh ke arah Rizky yang tengah senyum-senyum. Benar-benar terlihat begitu menyebalkan dalam penglihatannya.
Polisi itu terbelalak, ia merasa kaget dan tak menyangka. Namun ia segera mengulurkan lengannya ke arah Rizky dan segera disambut oleh Rizky.
"Selamat ya, Pak. Jalur perdamaian kalian sangat indah sekali, sampai ke jenjang pernikahan. Semoga kalian bahagia selalu."
"Amin, amin. Terima kasih, Pak," jawab Rizky seraya melepaskan jabatan tangan diantara keduanya.
"Kalau masih lama, aku keluar deh." Nella berlalu pergi meninggalkan Rizky dengan wajah keki.
Sebenarnya apa sih maunya? Kenapa aku merasa Pak Rizky sangat aneh' batin Nella.
"Saya pulang dulu kalau begitu, Pak. Istri saya sepertinya malu, saya tidak enak," ucap Rizky berpura-pura.
"Iya, Pak. Oya ... kalau memang kalian sudah berdamai, Bapak tidak perlu absen lagi."
Yes! Mungkin dalam hati Rizky sudah bersorak. Ini memang rencananya mengajak Nella ikut masuk.
Ia merasa bosan bolak balik ke kantor polisi. Walaupun hanya sekedar absen, nyatanya Rizky merasa itu sangat membuang-buang waktu.
"Baik, Pak. Terima kasih ...." Setelah itu, Rizky keluar dari ruangan itu dan keluar dari kantor polisi, menyusul Nella yang sudah masuk ke mobil.
***
Di kantor Sofyan.
Tok ... tok ... tok.
Rizky mengetuk pintu ruangan mertuanya, tentunya bersama Nella yang tengah berdiri di sampingnya.
"Masuk!" pekik Sofyan dari dalam.
Rizky segera membuka dua pintu itu sekaligus dan berjalan masuk bersama Nella.
"Waduh ... pengantin baru ke sini, ada apa ini?" yang bicara bukan Sofyan, melainkan Guntur. Pria paruh baya itu berada di ruangan itu sedang duduk santai di sofa dan tentunya bersama Sofyan juga.
Mereka berdua terpaku sebentar. Hingga seperdetik kemudian, mereka menghampiri kedua pria paruh baya itu seraya mencium punggung tangannya secara bergantian.
Papah? Kok Papah ada di sini juga? Ah ... semoga saja Papah tidak mendukung Nella' batin Rizky.
__ADS_1
Jangan lupa like 💕