
Di rumah Rizky.
Rizky memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya, dia baru pulang dari rumah Sofyan dan berencana untuk mampir dulu ke rumahnya sebelum datang ke kantor, sebab kangen sama istri dan anaknya
Lantas segera turun dari mobil dan menghampiri Nella yang tengah menggendong Jihan. Dia duduk berjemur, merasakan sinar matahari di pagi hari.
"Lho, kok Jihan nggak pakai baju begitu, Nell? Seksi banget. Kalau satpam lihat terus nafsu bagaimana?" tanya Rizky serayaduduk di samping Nella, lalu mengecup pipi istrinya dan pipi Jihan. Tercium aroma asem pada dua perempuan itu, sepertinya ibu dan anak itu belum mandi.
"Mana mungkin nafsu, dia 'kan masih kecil. Lagian memang disuruh Mama, Jihan nggak usah pakai baju kalau berjemur, Mas." Nella mengusap dahi Jihan yang berkeringat dengan lembut, mata bayi cantik itu tak terlihat sebab tertutup penutup mata yang sengaja Nella pakaikan.
"Ah sama saja, dia 'kan juga cewek." Rizky mengambil Jihan dari tangan Nella, dia menggendongnya lalu menciumi seluruh wajah sampai membuat Jihan terbangun dari tidurnya.
Nella melepaskan penutup mata dan menyelimuti tubuh kecil anaknya. "Mas kok pulang? Nggak ke kantor?"
"Ke kantor, tapi aku sengaja ke sini dulu karena mau minta cium kamu dan Jihan."
"Oh, begitu. Tapi aku dan Jihan belum mandi, kami berdua bau asem, Mas."
"Nggak apa, asem-asem enak." Rizky terkekeh lalu mendekati wajah Nella dan mengecup singkat bibirnya.
"Bagaimana kencan Papa semalam? Apa sukses?" Nella diberitahu oleh Rizky kalau Papanya itu berkencan makan malam dengan seorang wanita, tetapi Rizky sendiri tak mengatakan jika dia lah yang mencarikan jodoh. Serta tak cerita juga kalau Maya orangnya.
"Kencannya sih sukses. Tapi kalau menjalin hubungan mah nggak tahu, Nell."
"Kenapa Mas nggak jodohkan Papa saja dengan Tante Santi?" saran Nella.
"Papanya nggak mau, dia pengennya daun muda. Katanya yang ...." Ucapan Rizky menggantung kala ponselnya berdering. Dia pun segera mengambil ponselnya di dalam kantong celana. Setelah itu memberikan Jihan pada Nella. Tetapi entah mengapa Rizky merasakan celana basah dan juga hangat. "Eh, kok basah? Perasaan aku nggak kencing di celana deh." Rizky mengusap celananya, lalu menempelkan telapak tangannya itu ke dekat hidung. Aromanya pesing, tetapi tak terlalu menyengat.
Nella terkekeh saat sadar anaknya lah yang kencing. "Jihan ngompol, maaf ya, Dad." Nella langsung berdiri dan membawa Jihan masuk ke dalam rumah sambil terus mengecupi kedua pipi gembulnya.
"Dih, padahal ini setelan jas baru. Kok sudah diompoli? Jihan memang iseng banget sama Daddynya, musti ganti baju, nih." Rizky berdiri, kemudian berlari masuk ke dalam rumah.
***
"Duren?" Alis mata Maya bertaut. "Peluk duren malah sakit, Pak. Kan banyak durinya."
"Ada duren yang hanya punya satu duri, May. Dan itu nggak sakit, malah enak."
"Duren jenis apa? Saya baru dengar."
"Ini." Sofyan menunjuk dirinya sendiri. "Aku durennya, duda keren," imbuhnya sambil terkekeh.
Maya ikut terkekeh, dia anggap itu sebagai candaan. Padahal memang aslinya Sofyan ingin merasakan bagaimana memeluk Maya.
"Bapak bisa saja. Mana ada Bapak punya duri."
"Ada lah, memang kamu mau lihat?"
__ADS_1
"Mana coba?"
"Ada di ...." Tangan Sofyan perlahan menuju inti tubuhnya, tetapi tak jadi. Dia merasa malu dan takut jika dibilang pria tua yang mesum, meskipun memang itu benar. "Ah lupakan saja tentang duri itu, ayok sekarang naik."
'Apa duri yang dia maksud adalah yang di dalam celana?' Maya sudah terlanjur melihat gerak-gerik Sofyan tadi, tetapi dia berpura-pura tidak tahu saja. 'Sepertinya Pak Sofyan juga sama mesumnya seperti Pak Rizky, aku harus hati-hati.'
"May, ayok. Kok bengong?"
"Iya, Pak. Saya naik."
Maya akhirnya luluh juga, rasanya dia juga tak enak menolak ajakan Sofyan. Lantas dia duduk di kursi sebelah kemudi sambil mengetik ponselnya yang akan membatalkan pesanan ojek online.
Dan tak lama hujan lebat menguyur kota Jakarta, ternyata ramalan cuaca yang hanya asal dikatakan Sofyan itu benar terjadi.
'Dunia saja sepertinya mendukungku, semoga saja hujannya lama,' batin Sofyan lantas mengemudi.
"Untung kamu beneran ikut denganku, ya? Kalau nggak kamu pasti sudah basah kuyup," ujarnya dengan bangga.
Maya mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Bapak benar. Ternyata cuaca terang juga nggak menjamin nggak hujan ya, Pak."
"Iya, seperti aku contohnya, May."
"Bapak? Maksudnya bagaimana?" Alis mata Maya bertaut.
"Meskipun umurku memang sudah tak lagi muda, tapi aku masih kuat segalanya. Dan memang seorang wanita muda harus berdampingan dengan yang sudah berpengalaman, supaya bisa bisa dibimbing." Ucapan Sofyan jadi lari kesebuah pernikahan, dan memang itu sengaja. "Gini-gini juga aku orangnya setia lho, May."
"Ya, aku sudah berumur."
"Oh, iya. Aku tahu itu, Pak." Maya mengangguk. "Tapi memang setiap pasangan harus setia. Itu 'kan memang suatu kewajiban."
'Kalau begitu dia termasuk wanita yang setia juga, dong? Ah semoga saja,' batin Sofyan.
"Eemm ... May, menurutmu ... aku dan kamu itu cocok nggak, sih?"
Maya terbelalak. "Saya dengan Bapak? Maksudnya?"
"Ini hanya pertumpahan saja. Ya ... aku tahu kok, kamu pasti nggak suka padaku. Tapi jodoh orang 'kan nggak tahu. Iya, nggak? Kalau misalkan aku dan kamu berjodoh ... cocok nggak menurutmu?"
"Saya nggak—" Ucapan Maya menggantung kala secara tiba-tiba ada sebuah notifikasi pesan masuk dari m-banking. Uang sebesar 250 juta mengisi saldo rekeningnya.
Bukannya senang, Maya justru terlihat binggung bercampur kaget. Uang tersebut dari Rizky tetapi masalahnya dia sendiri tak tahu mengapa bosnya itu mengirimkan uang sebesar itu. Apa alasannya?
"Kamu kenapa, May? Kok kayak kaget gitu? Ada yang mengerjaimu pakai nomor baru?" Sofyan diam-diam memperhatikan gebetannya itu, sambil mengemudi.
"Ini, Pak Rizky memberikan saya uang sangat besar, Pak. Tapi saya sendiri nggak tahu uang apa itu." Maya sudah menempelkan benda pipih itu ke pipi kanannya, mencoba menghubungi Rizky.
"Coba telepon Rizky, tanya padanya," saran Sofyan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya, ini juga ... Ah, halo Pak Rizky." Panggilan itu segera diangkat oleh pria diseberang sana.
"Ada apa?"
"Bapak kok kirim saya uang? Kenapa?"
"Dikirimin uang bukannya terima kasih malah tanya kenapa, aneh banget lu, May." Terdengar Rizky tengah mendengus kesal.
"Terima kasih, Pak. Tapi masalahnya uangnya terlalu besar dan itu uang apa?"
"Itu uang bonus, May. Kemarin-kemarin 'kan proyek kita berhasil tuh, jadi lu dapet."
"Tapi banyak banget, Pak. Biasanya saya 'kan hanya dapat paling besar 5 juta."
"Ya sudah, sih. Berarti rezeki lu."
"Tapi ini terlalu banyak, Pak. Saya nggak bisa menerimanya."
"Sudah terima saja, kalau nggak lu gue pecat!" ancam Rizky.
"Tapi, Pak. Saya—"
Tut ... tut ... tut.
Panggilan itu langsung saja dimatikan oleh Rizky, padahal Maya belum selesai bicara.
"Apa kata Rizky, May?" tanya Sofyan.
Maya menoleh ke arah Sofyan. "Saya binggung, Pak Rizky memberikan saya uang sangat banyak, Pak. Dia bilang itu bonus proyek, tapi sangat banyak."
"Memang berapa?"
"250 juta."
"Ya sudah terima saja, itu 'kan rezeki. Dan siapa tahu dengan uang itu kamu bisa membeli rumah," saran Sofyan.
Maya terdiam beberapa saat, lalu menatap Sofyan yang sedari tadi senyum-senyum sendiri. Entah mengapa dia jadi curiga kepadanya.
'Apa jangan-jangan ini uang dari Pak Sofyan? Ah tapi aku nggak boleh su'uzan dulu, nggak baik,' batin Maya.
*
"May, ini sudah sampai. Kamu nggak turun?" Sofyan sudah membukakan pintu mobilnya untuk gadis itu keluar, dan seketika Maya terhenyak lantaran dia sedari tadi melamun.
"Ah iya, maaf, Pak." Maya membereskan rambutnya, lalu turun dari mobil. "Terima kasih atas tumpangan ya, Pak."
"Sama-sama. Eh, tunggu sebentar ...." Sofyan lansung buru-buru membuka pintu mobilnya tepat di kursi kemudi untuk mengambil kantong plastik berwarna merah, lalu memberikan pada gadis itu. "Ini untukmu, May."
__ADS_1
"Apa itu, Pak? Saya sudah sarapan." Maya hanya menatap dan tak mengambilnya.