Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
266. Tiga pesan berupa ancaman


__ADS_3

Di dalam kamar mandi itu juga tak ada Rizky, gegas Sofyan berlari keluar dari ruangannya.


"Di mana Rizky?" tanya Sofyan pada Hersa yang baru saja keluar dari ruangannya. Ruangan Hersa berada tepat di samping ruang rapat.


"Saya nggak tahu, Pak." Hersa menggeleng cepat.


Sofyan langsung naik lift yang baru saja terbuka, kemudian turun ke lantai dasar.


"Apa kau tahu di mana Rizky?" Sofyan bertanya pada seorang satpam kantor yang tengah berdiri di depan pintu utama.


"Pak Rizky tadi barusan keluar dan naik mobil, Pak," jawab salah satu dari mereka.


"Ke arah mana dia?" tanya Sofyan dengan serius.


"Sana." Satpam itu menunjuk ke arah barat. Itu adalah arah rumah Rizky.


Sofyan langsung berlari, tetapi dia tak pergi ke jalan raya untuk menstopkan taksi. Melainkan menghampiri Ali yang baru saja turun dari mobilnya.


"Ali, tolong antarkan aku pulang." Tanpa menunggu persetujuan dari pria itu, Sofyan langsung masuk begitu saja. Duduk di kursi belakang.


Ali ikut masuk ke dalam mobilnya, kemudian menyalakan mesin mobil.


"Memangnya mobil Bapak ke mana?"


"Aku nggak bawa mobil."


"Kenapa nggak minta dijemput sama Aldi?"


"Cih!" Sofyan berdecih dengan jengkel. "Banyak sekali pertanyaanmu, cepat jalankan mobilnya. Aku ini mertua dari bosmu!" teriaknya sambil melotot.


"Ah iya, iya, Pak. Maafkan saya." Ali segera menarik gasnya, kemudian mengendarai mobilnya.


***


Sementara itu, didalam perjalanan menaiki mobil Rizky dilanda ketakutan. Jantungnya berdegup kencang dan keringat pada dahinya terus saja mengalir. Membasahi wajah tampannya.


Sejujurnya Rizky memang puas karena telah berhasil melihat aksi mertuanya, tetapi akibat bunyi ponselnya yang berdering—semua seakan kacau. Kemarahan pria tua itu membuat seluruh tubuhnya menegang.


Rizky meraup wajahnya kasar. "Nella menelepon benar-benar nggak tepat waktu, gue jadi ketahuan begini."


Seketika terlintas dalam ingatannya tentang wajah emosi Sofyan. Sungguh—itu membuatnya benar-benar tak tenang.


Drett ... drett ... drett.


Rizky terperanjat saat merasakan ponselnya bergetar di dalam kantong celana, cepat-cepat dia pun mengambilnya.


Matanya melotot seketika saat melihat Sofyan lah yang menghubungi, dan rasanya Rizky tak berani untuk mengangkat panggilan itu.


Ting~

__ADS_1


Setelah panggilan itu dibiarkan sampai mati sendiri, sekarang bunyi notifikasi dari chat masuk dan itu dari Sofyan juga.


[Kemana kau, Riz?! Awas kau, ya! Benari sekali mengintip Papa sedang kelonan!]


Ting~


Dua chat kembali masuk.


[Gara-gara kau ... Maya jadi marah sama Papa! Acara kelonan Papa tadi juga belum selesai dan sudah berhenti ditengah jalan. Ini semua karena kau!]


Ting~


Tiga chat kembali masuk.


[Kalau kau nggak menemui Papa dan Mama Maya untuk meminta maaf ... Papa pastikan kamu nggak bisa bertemu Nella dan Jihan!]


Degh!


Tiga pesan berupa ancaman itu seketika membuat wajah Rizky pucat, tetapi salah satu tangannya justru mengenggam miliknya yang sejak tadi masih menegang.


"Kalau nggak bisa bertemu Jihan dan Nella ... bagaimana nasib b*rungku?" Masih sempat-sempatnya Rizky memikirkan nasib temannya di dalam celana. Tetapi jika untuk bertemu Sofyan—rasanya dia tak berani.


Rizky tentu ingat betapa kasarnya perlakuan Sofyan saat dia marah padanya. Pria itu pernah membuat kepala benjol, menoyor kepalanya dan mencengkeram bibirnya.


Cepat-cepat Rizky menghubungi Nella, perasaannya mendadak tak tenang.


Namun, nomor Nella tidak aktif.


Selanjutnya Rizky beralih menghubungi Gita. Mamanya itu pasti tahu keberadaan anak dan istrinya, sebab dia masih tinggal di rumahnya.


"Halo, Riz," ucap Gita saat panggilan itu di angkat dari seberang sana.


"Mama, apa Mama sedang bersama Nella?"


"Nggak, Mama sedang arisan sama teman-teman Mama. Eh tahu nggak, Riz. Katanya temanmu yang bernama Brian gila."


"Gila? Gila bagaimana?" Rizky mengerutkan keningnya. Tiba-tiba Rizky yang berjiwa kepo itu langsung merasa penasaran.


"Gila, stress. Orang gila, Riz. Masa kamu nggak ngerti."


"Oh gangguan jiwa? Masa, sih? Terus penyebabnya apa?"


"Itu gara-gara ...."


"Eh, Ma. Sudah dulu, ya. Aku ingin pulang cepat." Rizky langsung teringat kembali tentang istrinya. Obrolannya cepat-cepat dia hentikan sebab takut jika nantinya akan membuang waktu.


"Ya sudah. Tapi nanti kapan-kapan kamu jenguk dia lah. Walau bagaimanapun dia temanmu, kan? Dia di rawat di rumah sakit jiwa, Riz."


"Ah, iya, Ma. Pasti."

__ADS_1


***


"Nella! Jihan!" Suara bariton Rizky menggema pada seisi ruangan rumahnya. Pria itu membuka pintu rumah tanpa memencet bel, sebab sudah sangat tak sabar ingin bertemu dengan istri dan anaknya.


Rumah itu terasa begitu sepi, seperti tak ada orang. Cepat-cepat Rizky menaiki anak tangga lalu membuka pintu kamarnya sendiri.


Ceklek~


"Nella!"


Kosong, tak ada Nella di sana dengan Jihan. Pria itu langsung masuk ke dalam untuk mengecek kamar mandi, tetapi wanita itu juga tidak ada.


Tak lama terdengar derap langkah seseorang yang datang ke kamarnya. Mata Rizky seketika berbinar, segera dia berlari menghampirinya dengan kedua tangan yang dia rentangkan begitu lebar.


Niat hati ingin memeluk, tetapi semua itu tak jadi sebab yang datang bukanlah Nella, melainkan Bi Yeyen.


Rizky mengerem kakinya sendiri, mungkin kalau kurang cepat dia sudah hampir memeluk Bi Yeyen.


"Pak Rizky jangan peluk Bibi, Bibi takut dimarahi Nona Nella." Bi Yeyen menggeleng cepat.


"Dih, siapa yang mau peluk? Tadi aku kira Bibi itu Nella. Ngomong-ngomong di mana Nella dan Jihan?"


"Nona Nella dan Nona Jihan tadi pergi bersama seorang pria."


Rizky langsung membelalakkan matanya. Merasa terkejut dengan apa yang didengar di telinga. "Pria? Siapa?"


"Bibi nggak tahu, dia cuma pamit mau pergi. Katanya mau ke rumah Pak Sofyan."


'Apa mungkin dia Aldi?' Rizky gegas menghubungi pria itu. Dan tak lama langsung diangkat.


"Aldi, apa lu jemput Nella dan Jihan tadi?"


"Iya, Pak."


"Ke mana? Ke rumah Papa?"


"Iya."


Rizky terdiam mematung, dia lantas menelan salivanya dengan kelat.


'Apa gue harus ke rumah Papa? Tapi gue takut.'


*


Setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih satu jam merenung—berusaha menyiapkan mental dan alasan untuk bertemu Sofyan. Pada akhirnya Rizky memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya, menyerah dan ingin meminta maaf.


"Buka gerbangnya!" teriak Rizky dari dalam mobil sambil membunyikan klakson. Dia sudah berada tepat di depan gerbang rumah Sofyan dan berteriak kepada satpam.


"Tunggu sebentar, Pak," ujar satpam itu. Bukannya dia langsung membuka gerbang—pria itu justru mengambil ponselnya di dalam kantong celana lalu mengetik-ngetik layarnya.

__ADS_1


Hanya berselang tiga puluh detik, pintu rumah mewah itu terbuka dengan lebar. Seorang pria yang memakai setelan kaos panjang berwarna cream keluar sambil berkacak pinggang. Dia adalah Sofyan, pria itu menghampiri Rizky yang sudah berkeringat dingin dan menelan salivanya berkali-kali.


__ADS_2