Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
217. Jangan dipaksa


__ADS_3

"Oh ... hahaha ...." Nella hanya bergelak tawa mendengar hal itu semua, dia tentu tahu bagaimana mesumnya Rizky. Sudah pasti dia akan tergoda meskipun Nella sendiri tak sedang menggodanya.


"Kalau Rizky mengajakmu bercinta jangan mau, ya!" tegas Gita.


"Memang kenapa, Ma?"


"Kamu 'kan masih luka itu. Milikmu masih sakit, kan?"


Nella mengangguk. "Perih juga."


"Iya, mangkanya jangan. Tunggu pulih dulu, nanti Mama juga akan memberitahu Rizky supaya dia nggak khilaf. Tapi kamu 'kan pasti tahu bagaimana mesumnya suamimu itu."


"Iya, Ma." Nella mengangguk paham.


Rizky yang berada di kamar mandi tengah mengatur napasnya yang tersengal-sengal seraya mengusap wajahnya. Perlahan dia pun menyentuh miliknya sendiri yang terasa menegang dan begitu keras.


"Duh, nggak kuat gue kalau tunggu sebulanan lebih. Sekarang aja gue kepengen," keluh Rizky.


Lantas dia pun melepaskan pakaiannya untuk segera mandi.


***


Sore hari.


Reymond, Indah, Santi dan Bayu. Mereka berempat masuk ke kamar inap Nella ingin menengoknya. Kedua tangan Reymond juga menenteng beberapa paperbag yang berisi perlengkapan bayi. Dia pun memberikan pada Gita.


"Wah, kamu repot-repot sekali, Rey."


"Nggak repot kok, Tan," jawab Reymond.


Kemudian Gita memeluk tubuh Santi temannya sambil cipika-cipiki, lalu mengelus puncak rambut Indah dan Bayu.


"Tampan sekali kamu, siapa namanya? Bayu, ya?" tebak Gita. Dilihat bocah laki-laki itu memakai celana jeans panjang dan kemeja berwarna merah maroon senada dengan ayahnya.


"Iya, Oma." Bayu menjawab, dia berada dalam gendongan Indah.


"Anakmu yang paling kecil itu kok nggak diajak?" tanya Gita pada Indah.


"Caca lagi diajak jalan-jalan sama Papa Mawan, Tante."


"Oh." Gita manggut-manggut.

__ADS_1


Indah berjalan mendekati Nella yang tengah duduk sembari menimang-nimang anaknya. Kemudian dia pun duduk di sampingnya sambil mendudukkan Bayu dalam pangkuannya.


"Tante Ella, ini buat Dede bayi," ucap Bayu dengan tangan mengulur memberikan boneka beruang coklat berukuran sedang kepada Nella. Sejak tadi dia membawanya.


"Terima kasih Kakak Bayu." Nella menerima dengan senang hati sambil mengulum senyum. Boneka itu dia taruh di sampingnya.


Indah mengelus pelan pipi gembul Jihan, begitu pun dengan Bayu yang ragu-ragu ikut menoel pipinya.


"Siapa namanya, Nell? Dia cantik sepertimu," tanya Indah.


"Namanya Jihan," jawab Nella.


"Namanya cantik sekali. Siapa nama lengkapnya?"


"Jihan Anastasia Putri ...." Nella menggantung ucapannya lantaran tak ingat dengan nama lengkap anaknya yang begitu panjang. "Jihan Anastasia Putri terus apa lagi, Ma? Aku lupa." Nella bertanya pada mertuanya, mungkin saja dia ingat.


"Mama juga lupa. Yang Mama tahu ada nama Gumelangnya saja." Gita terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Lalu duduk di sofa di samping Santi.


"Memang siapa yang memberi nama? Kok kamu lupa, Nell?" tanya Santi.


"Mas Rizky, Tan. Dia memberikan nama yang lumayan panjang. Aku nggak ingat."


"Oh, pantesan."


"Mas Rizky maksud Bapak?"


"Iya."


"Mas Rizky di cafe, katanya mau ngopi."


"Oh." Reymond mengangguk, lantas menghampiri Indah. "Sayang, aku mau ke cafe samperin Rizky, ya?"


"Iya, Mas." Indah mengangguk.


"Bayu mau ikut Ayah?" tawarnya pada Bayu yang sejak tadi menatap wajah Jihan, dia bahkan tak mendengar pertanyaan ayahnya. Menoleh pun tidak. "Fokus banget ngelihat anak perawan, jangan bilang kamu suka, Bay." Reymond terkekeh sambil mengelus rambut anaknya.


"Bagaimana kalau Bayu nanti dijodohkan sama Jihan saja, Rey. Sepertinya cocok. Kamu dan Rizky juga bisa menjadi besan, pasti seru nanti," saran Santi.


"Mama benar juga." Mata Reymond langsung berbinar. Dia pun mengangguk semangat. "Nanti hari Minggu aku mau beli cincin dan buket bunga deh, terus ajak Bayu untuk melamar Jihan."


"Tapi Jihan masih terlalu kecil, Bayu juga sama. Masa masih kecil mereka sudah dijodohkan?" Nella tampaknya tak setuju. Sejujurnya dia juga paling tidak suka dengan yang namanya perjodohan.

__ADS_1


"Nggak apa, Nell. Banyak juga kok orang tua yang menjodohkan anaknya dari kecil," ujar Gita. Dia sepertinya setuju.


"Tapi aku nggak mau Jihan dijodohkan."


"Kamu nggak mau kita jadi besan, Nell?" tanya Indah. "Bayu tampan dan aku yakin dia kelak jadi anak yang baik."


"Bukan begitu, Indah." Nella menggeleng pelan. "Hanya saja Jihan terlalu kecil, dia bahkan baru berumur dua hari. Dan aku sejujurnya nggak suka mendengar kata perjodohan."


"Kamu menikah sama Rizky juga dijodohkan, Sayang." Gita mendekat seraya mengusap pundak menantunya. "Ya Mama tahu awalnya kamu nggak suka. Tapi buktinya kamu bisa mencintai Rizky, kan?"


"Iya, sih." Nella tak menampik perasaannya, tetapi rasanya dia tak mau nasib Jihan sama dengannya. Nella takut kalau Jihan tidak mau. "Tapi jangan sekarang deh, nanti saja kalau mereka sudah besar. Dan kalau Jihannya nggak mau, jangan dipaksa ya, Ma? Kasihan dia." Nella mengecup pelan pipi kiri anaknya saat bayi mungil itu menggeliat.


"Yang dipaksa justru enak, Nell. Buktinya kamu juga tergila-gila sama si gondrong." Reymond terkekeh, lalu lengannya di tepuk pelan oleh istrinya. Dia takut jika Nella marah.


"Nggak akan ada maksa, Nell. Tenang saja." Santi menyahut.


***


Reymond masuk ke dalam cafe, kemudian mencari keberadaan temannya. Terlihat pria berambut panjang itu tengah duduk di pojok cafe sambil melamun ditemani secangkir kopi hitam yang masih mengeluarkan uap. Wajahnya tampak begitu muram tak bergairah.


Lantas Reymond pun berjalan menghampirinya seraya menepuk pundak kiri hingga membuat Rizky terhenyak. Menepis semua lamunannya.


"Sore-sore ngelamun, kesambet lu." Reymond menarik kursi yang berada di depan, lalu duduk.


"Eh, elu, Rey. Kok ada di sini? Sedang apa?"


"Gue nengokin si Jihan, sama Indah, Bayu dan Mama gue."


"Pas lu dateng Jihan lagi ngapain? Nggak lagi nyusu, kan?" Wajah Rizky terlihat sangat khawatir, takut jika Reymond melihat Nella sedang menyusui.


"Lagi ditimang-timang sama Nella. Lu kenapa melamun? Ada masalah? Berantem sama Nella?"


Rizky menggeleng cepat. "Gue cuma lagi binggung, Rey."


"Binggung kenapa?" Reymond memanggil salah satu pelayan untuk memesan kopi.


"Bagaimana cara nahan puasa?"


"Masa lu nggak tahu? Cek g*oglelah."


"Bukan puasa itu, tapi puasa istri yang habis melahirkan. Jujur gue lagi kepengen, Rey," keluhnya sambil mengacak rambut panjangnya.

__ADS_1


"Astaga, Riz." Reymond menepuk jidat temannya sambil geleng-geleng kepala. "Otak lu isinya selangk*ngan doang kayaknya. Nella baru kemarin melahirkan ... tapi lu udah mau mengajak bercinta. Lu waras?"


__ADS_2