
"Alhamdulillah! Kamu menang, Sayang!" Seseorang dari belakang berseru kegirangan. Dan itu membuat Rizky berbalik badan lantaran penasaran.
Sontak mata Rizky membulat sempurna lantaran melihat Gita dan Risma tengah memeluk Nella sembari melompat-lompat. Didetik selanjutnya senyum wanita cantik itu mengembung saat mata Rizky bertemu menatapnya.
"Apa Nella dan Om Steven yang menang?" gumam Rizky, dia masih tak mengetahui. Papan nama tim mereka tidak terlihat.
"Baik, tim cacing silahkan maju untuk menerima hadiah," ucap sang host.
Perlahan Nella, Gita dan Risma berjalan sama-sama menghampiri para juri. Gita dan Risma hanya mengantarkan Nella saja untuk berdiri bersebelahan dengan Steven.
Ternyata memang benar dugaan Rizky, mereka berdua lah yang menang.
"Wah, istriku menang! Hebat sekali!" Rizky bersorak paling kencang dibarengi suara tepuk tangan para peserta yang lain saat menyambut dua orang itu mendapatkan hadiah.
Rizky sangking senangnya sampai berlari untuk memeluk istrinya. Dia tentu sangat bangga atas keberhasilannya itu. Nella menang dari 9 peserta yang lain. Hebat, bukan?
"Semoga hadiahnya bermanfaat ya, Nona ... Pak," ujar Bima pemilik restoran seraya memberikan satu buah piala, kunci mobil dan 10 lembar vocer pada mereka berdua. Mereka saling berjabat tangan.
"Terima kasih, Pak." Nella dan Steven menyahut secara bersamaan sambil tersenyum manis.
"Lu ngapain disini, Riz? Lu 'kan nggak menang?" Bima menatap heran pada Rizky. Pria itu juga sejak berjingkrak-jingkrak dan terus nyengir kuda.
"Iya, gue tahu. Tapi istri gue yang menang ini, Bim. Hebat, kan?" Rizky merangkul bahu Nella sembari mengecup keningnya dengan singkat.
"Oh, ini Nella istri lu? Gue sampai lupa nggak mengenalinya." Bima juga datang saat pernikahan Rizky, tetapi tidak ingat akan wajah istri dan dari temannya itu. "Maaf ya, Nell."
"Nggak apa-apa, Pak." Nella membalas senyuman Bima.
"Ayok kita berfoto dulu di depan restoran." Sebetulnya Bima hanya ingin mengajak Steven dan Nella, tetapi Rizky ikut-ikutan. Pada akhirnya dia juga ikut berfoto.
*
*
"Mobilnya untuk kamu saja, Nell." Steven memberikan kunci mobil hadiah pada keponakannya.
Nella menggeleng sambil menggerakkan tangannya. "Mobilnya untuk Om saja, aku hanya ingin vocer gratis untuk makan bersama Mas Rizky dan seluruh keluargaku." Dia memang tak ingin hadiah sebenarnya, ikut lomba hanya untuk bersenang-senang saja.
__ADS_1
"Nggak apa ambil saja, anggap ini hadiah untuk cucu Om di dalam sini." Steven mengusap pelan perut buncit keponakannya, dia juga sedikit memaksa dengan menarik tangan Nella untuk menerima kunci mobil itu.
"Tapi Om 'kan yang mengajakku ikut lomba?"
"Kalau Mbak nggak mau, mending buat aku saja." Risma tiba-tiba ikut menyahut.
"Dih, masa buat kamu." Guntur sama seperti anak perempuannya, ikut menyahut juga. "Buat Papa saja kalau begitu, Nell."
"Kalian nggak tahu malu sekali, masa hadiah dari wanita hamil mau diambil? Itu nggak boleh!" tegas Rizky kesal.
"Tahu nih! Papa dan Risma malu-maluin saja." Gita membela Rizky.
"Kalau Papa dan Risma mau ambil saja." Nella mengulurkan tangannya sembari menyerahkan kunci. Tetapi sebelum dua orang itu mengambilnya, Rizky sudah lebih dulu mengambil.
"Eits! Nggak boleh! Ini hanya milik Nella," ujar Rizky.
Guntur dan Risma melirik Rizky dengan sinis.
"Ayok, sekarang kita pulang dengan mobil baru, Sayang." Nella merangkul bahu istrinya, kemudian membukakan pintu depan mobil mewah itu untuk istrinya masuk.
Setelah Nella masuk, dia pun ikut masuk ke dalam sana dan tak lama mobil itu melaju meninggalkan mereka semua.
"Jangan, ini 'kan hadiahmu dan Om Steven. Om juga memberikan padamu, masa kamu berikan lagi ke orang lain. Mulai sekarang kita kalau pergi-pergi dengan mobil ini."
"Iya, sih. Mas bener juga." Nella mengangguk.
***
Lima bulan kemudian, di rumah Rizky.
Rizky yang tengah tertidur di atas kasur perlahan membuka matanya sembari meraba seprei, dilihat Nella tak ada di sampingnya. Dia pun segera menarik tubuhnya untuk bangun dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju kamar mandi.
"Nella, kamu ada di dalam?" Rizky memutar handle pintu kamar mandinya, lalu setelah dibuka dia pun masuk ke dalam.
"Eh, Mas bangun?" Nella langsung berdiri seraya membereskan celana dallamnya yang sempat dia turunkan di atas lutut.
Rizky mengucek kedua matanya, lalu merangkul bahu istrinya untuk keluar dari kamar mandi. Dilihat Nella juga sekarang tidak bisa bergerak bebas lantaran perutnya sudah memasuki usia sembilan bulan. Untuk berjalan pun dia sangat pelan dan hati-hati, karena takut terpleset.
__ADS_1
"Kamu ngapain malam-malam di kamar mandi?" tanya Rizky seraya duduk di atas kasur.
Nella membuka lemari untuk mengambil lingerie, dia berganti pakaian karena memang tadi sempat basah karena terkena air.
"Aku habis berak, Mas. Aku dari tadi bolak-balik ke kamar mandi terus, mules," keluh Nella. Tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga. Dia sudah 3x buang hajat.
"Kamu diare? Mau aku antar periksa?" Rizky menarik pinggang istrinya supaya duduk dipangkuannya, lalu perlahan meraba perut buncitnya.
"Tapi ini sudah malam, aku juga males untuk pergi." Nella mengangkat tubuhnya, lalu perlahan berbaring di kasur dan Rizky menarikkan selimut sampai di atas dadanya.
"Mau digendong? Apa kubelikan obat saja?" tawar Rizky.
"Memang apotek ada yang buka malem-malem, Mas?"
"Nanti aku cari." Rizky berdiri, lalu berjalan menuju lemari. Dia mengambil jaket kemudian memakainya.
"Besok saja deh, Mas. Nanti aku periksa. Sekarang sudah malam, lebih baik Mas istirahat." Nella merasa tak tega membiarkan suaminya itu pergi malam-malam menyetir mobil, dilihat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Nanti kamunya yang kesiksa, aku hanya sebentar kok." Rizky mendekati Nella seraya membungkukkan badan, kemudian mengecup keningnya singkat.
"Tapi Mas jangan pergi sendiri, aku khawatir." Nella mencekal lengan Rizky saat suaminya itu hendak melangkah.
Rizky mengangguk. "Iya, nanti kubangunkan si Ali yang tidur di pos satpam."
Saat usia kandungan Nella sudah memasuki sembilan bulan, Rizky meminta sopirnya itu untuk menginap di pos satpam. Hanya untuk berjaga-jaga, takut dia dalam keadaan darurat. Jadi bisa minta tolong padanya secara langsung.
Tangan Nella perlahan melepaskan lengan suaminya. Dilihat Rizky tengah mengambil ikat rambut di atas meja rias, kemudian mengikat rambut panjangnya. Setelah itu dia pun keluar dari kamar.
Ceklek~
Tak berselang lama, mendadak perut Nella kembali mules. Tetapi kali ini rasa mules itu berbarengan dengan kram diarea pinggang.
Pelan-pelan Nella menarik tubuhnya untuk bangun, kemudian berdiri sembari menyentuh perutnya. Baru selangkah dia berjalan hendak menuju kamar mandi, mendadak dia merasakan ada sesuatu yang mengalir pada inti tubuhnya.
Lantas Nella menundukkan kepala, sontak saja dia pun membulatkan matanya melihat darah segar mengalir sampai betis.
"Darah?!"
__ADS_1
Tiba-tiba rasa sakit di perutnya kian menjadi. Dia juga merasa seperti ada sesuatu yang hendak keluar dari dalam perutnya.
"Aaarrrgghhh!" Nella memekik dengan lantang sembari meringis kesakitan, salah satu tangannya menempel pada tembok menahan tubuhnya yang hendak oleng. "Mas Rizky! Perutku ... perutku sakit, Mas!"