Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
78. Ini pasti masuk angin


__ADS_3

"Itu sudah terlambat, kalau lupa minimal 3 jam, Nell."


Deg!


Nella langsung terdiam, binggung akan berbuat apa.


"Oya ngomong-ngomong ... kok bisa kamu sama Rizky begituan? Katanya kalian pisah kamar?" tanya Nissa kemudian setelah beberapa detik berlalu.


"Ini semua gara-gara Papa dan Mamanya Rizky. Nanti kalau di restoran aku ceritakan semuanya. Aku mau istirahat dulu, Tan. Aku capek."


"Oh ya sudah."


Setelah mematikan sambungan telepon Nella menaruh ponselnya di atas nakas lalu dia membaringkan tubuhnya dan menarik selimut sampai di atas dada, perlahan dia memejamkan mata.


***


Malam hari.


Guntur menjemput Rizky di kantornya sebab pria tampan itu sama sekali belum pulang. Dia teringat ucapan Sofyan yang menyuruhnya pulang tengah malam, menungggu Angga tidur.


"Memangnya kamu lembur di kantor? Kok jam segini nggak pulang?" tanya Guntur seraya mengemudi duduk di samping Rizky, dia melihat Rizky begitu wangi dan tampan, seperti habis mandi dan memakai pakaian ganti.


"Iya, Pa. Banyak sekali kerjaan," jawabnya berbohong.


Sampainya mereka disebuah restoran yang begitu elite milik dari rekan bisnisnya, mereka langsung masuk ke dalam. Tidak perlu mencari tempat sebab Guntur sudah memesannya dari siang.


Rizky mengedarkan pandangannya pada beberapa tamu yang makan di sana. Suasananya begitu ramai dan kebetulan juga malam Minggu.


"Wah Pak Guntur, Rizky, selamat malam. Terima kasih sudah mampir ke sini." Seorang pria seumuran dengan Sofyan tiba-tiba datang menghampiri mereka yang baru saja duduk, di sampingnya ada seorang gadis cantik yang memakai dress mini.


Guntur menoleh dan tersenyum, begitu pun dengan Rizky.


"Selamat malam juga, Ji."


"Selamat malam Pak Aji," sahut Rizky.

__ADS_1


"Oh iya, kenalkan ini Mitha putri Om. Kamu pasti tahu dia, dia sering ada di majalah," ucap Aji pada Rizky, seraya mengenalkan gadis cantik yang bernama Mitha.


Gadis itu mengulurkan tangannya pada Rizky yang masih duduk, gegas Rizky menjabat tangannya.


"Mitha."


"Rizky." Setelahnya, Rizky menarik kembali tangannya.


Aji menarik kursi untuk dirinya duduk dan begitu pun dengan Mitha putrinya, mereka seolah bergabung dengan Rizky dan Guntur.


"Lho, kok Bapak duduk?" tanya Rizky binggung.


"Memang kenapa? Om nggak boleh gabung?" tanya Aji, sekilas dia menoleh pada Guntur.


"Bukan nggak boleh, tapi malam ini aku mau makan hanya berdua dengan Papa," ucap Rizky.


"Kalau mereka mau ikut nggak apa, Riz. Papa nggak keberatan," timpal Guntur.


"Kok gitu." Wajah Rizky yang awalnya tenang seketika langsung berubah cemberut. "Papa 'kan bilang mau makan berdua denganku." Rizky menatap Guntur dengan tatapan tidak suka.


"Oh begitu, ya ...." Aji mengusap tengkuknya, merasa tak enak dengan sikap Rizky yang seolah tak menyukai kehadiran dirinya dan Mitha. "Maaf kalau menganggumu, Riz. Om dan Mitha cari tempat lain saja kalau begitu." Aji bangkit dari duduk dan Mitha juga ikut bangkit.


"Iya, nggak masalah. Semoga kalian nyaman makan di sini." Aji tersenyum, lantas merangkul bahu putrinya dan duduk di meja sebelah yang kebetulan juga kosong.


Setelah Guntur memesan, tak lama pesanan mereka datang dan disajikan dengan rapih di atas meja. Sup daging sapi dan teh manis hangat.


Awalnya Guntur ingin langsung mengajak Rizky mengobrol, tapi melihat Rizky begitu lahapnya makan, dia jadi mengurungkannya. Guntur tahu betul Rizky begitu menyukai daging sapi dan rasanya tidak enak untuk mengganggunya.


"Apa makanannya enak, Riz?" tanya Guntur saat mereka telah selesai makan.


"Enak, aku kenyang, Pa." Rizky mengusap bibirnya menggunakan tissu lalu mengusap perutnya.


"Bagus deh, Papa senang melihat kamu masih doyan makan."


"Maksud Papa?" Rizky mengerutkan kening, binggung dengan perkataan Guntur. "Sejak kapan aku nggak doyan makan? Aku selalu doyan, apalagi kalau Nella yang masakin."

__ADS_1


Guntur tersenyum palsu, aslinya dia merasa kasihan pada Rizky. Dia yakin—Rizky pasti sedang menutupi kesedihannya dan berpura-pura bahagia. "Kamu masih mengharapkan Nella? Oh iya, Papa juga belum tahu perkembangan hubunganmu. Kamu sudah empat hari tinggal di sana dan bagaimana?"


Belum sempat Rizky menjawab, Guntur langsung menambahkan. "Papa mau kamu jujur."


"Menurutku, hubunganku dan Nella jauh lebih baik dari pada saat pertama kita menikah, Pa. Tapi memang Nella orangnya keras kepala dan gampang marah, jadi aku harus mengerti sikapnya," jawab Rizky dengan tenang.


"Kamu selalu mengerti dia, tapi dia nggak pernah mengerti kamu, kan? Ditambah dia juga masih berhubungan dengan pacarnya."


"Bukan Nella nggak mengerti aku, hanya saja dia belum membuka hatinya. Tapi dia sebenarnya wanita yang lembut, Pa. Kemarin saat aku sakit ... dia seperti mencemaskanku, aku lihat dari matanya." Rizky menatap mata Guntur dengan lekat.


"Masa kamu harus sakit terus baru dia peduli. Tapi menurut Papa ... sekarang kamu jangan terlalu berharap, nanti sakit hati. Kamu harus punya harga diri sebagai seorang laki-laki, laki-laki itu imam keluarga dan istri harus menurut pada suami. Ingat juga satu hal ...." Guntur menjeda ucapnya sebentar saat dirinya mengangkat jari telunjuknya ke depan wajah Rizky. "Wanita bukan hanya Nella, pasti banyak wanita lain yang mengantri setelah kamu menjadi duda nanti."


Rizky mengangguk samar dan menurunkan pandangan.


'Omongan Papa semuanya benar, tapi masalahnya aku sudah sangat mencintai Nella,' batin Rizky.


***


Nella yang tengah tertidur seketika membulatkan matanya, dia merasa perutnya bergejolak dan begitu mual. Buru-buru dia bangkit dan lari menuju kamar mandi.


Oeek ... Oeek.


Menu makan malamnya langsung dimuntahkan semua di dalam wastafel, setelah itu Nella menyalakan kran air untuk membasuh bibir dan juga wajahnya.


"Apa jangan-jangan aku hamil?" Nella menyentuh perutnya yang terasa di remas-remas sambil menatap cermin. "Tapi masa baru sehari aku sudah hamil saja? Ah ... nggak mungkin." Nella menggeleng cepat.


"Ini pasti masuk angin gara-gara tadi siang aku telat makan." Nella mengeringkan tangan dan juga wajahnya dengan handuk yang mengantung, lantas dia keluar dari kamar mandi. Dia melirik jam weker yang menunjukkan pukul 23.10 sudah mau tengah malam.


Ingin melanjutkan tidur tapi perutnya tidak enak, mungkin akan lebih baik dia isi dengan minuman hangat.


"Aku mau buat susu jahe deh." Nella mengambil ponselnya di atas nakas, lalu berjalan keluar kamar.


Kakinya yang baru saja hendak turun dari anak tangga langsung terhenti, dia menoleh pada pintu kamar Rizky yang sedikit terbuka. Nella ingat, saat makan malam bersama opa dan omanya—Rizky bahkan tidak ada sampai mereka bertiga masuk kamar dan tidur.


"Apa Mas Rizky sudah pulang?" gumam Nella.

__ADS_1


...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...


...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...


__ADS_2