
Keesokan harinya.
Sofyan menatap arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi, dia berdiri di depan kamar hotelnya bersama Aldi. Niatnya ingin menginap semalam akhirnya tidak jadi. Nambah 3 hari karena mumpung ada kesempatan.
Ceklek~
Pintu kamar itu dibuka oleh Maya, memang sejak tadi mereka berdua menunggu wanita itu keluar. Dia keluar dengan mengenakan dress berwarna merah terang di atas lutut, warnanya senada dengan Sofyan.
"Sudah selesai, May?" tanya Sofyan seraya merangkul pinggang istrinya.
"Sudah." Maya mengangguk.
"Kita sarapan dulu saja, ya? Dari kemarin 'kan belum makan." Sofyan mengajak istrinya berjalan di sampingnya. Tetapi dia melihat Maya berjalan begitu ngangkang dan seperti tengah menahan sakit, wajahnya meringis. "Kamu kenapa, May? Ada yang sakit?"
Langkah keduanya terhenti, begitu pun dengan langkah kaki Aldi. Pria itu berada di belakang mereka sambil mendorong koper.
"Milikku sakit sekali, Ayank. Perih." Maya menyentuh inti tubuhnya dan sontak saja segera ditepis oleh Sofyan, dia tak mau jika nantinya Aldi bernafs* melihatnya. Padahal pria itu sama sekali tak melihat.
"Perih? Bukannya sudah diolesi salep, May?" Sofyan menarik tubuh wanita itu hingga kepala Maya menempel pada dada bidangnya.
"Iya, tapi masih sakit. Sepertinya lecet. Aku jalannya sakit, Ayank," lirih Maya.
Aldi yang mendengarnya pun lantas terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
'Mainnya berapa ronde sih sampai lecet begitu? Pak Sofyan parah amat, mentang-mentang sudah gol ditusuk terus,' batin Aldi.
"Sakit? Ya sudah ... digendong mau?" Sofyan membelakangi Maya dengan sedikit membungkuk.
"Nggak mau, aku malu." Maya menggeleng cepat seraya menatap orang-orang sekitar yang lewat.
"Terus bagaimana?" tanya Sofyan binggung.
"Jalannya pelan-pelan saja, Ayank. Dan nggak usah makan dulu, deh. Aku mau langsung pulang saja."
"Ya sudah, nanti kita sarapannya di mobil saja, ya?" Sofyan merangkul pinggang istrinya lagi, lalu berjalan pelan mengikuti langkah kaki istrinya. Aldi juga melakukan hal yang sama. "Mau diperiksa ke dokter, nggak? Kita sekalian ke sana."
Maya menggeleng cepat. "Nggak mau, aku malu, Ayank. Masa periksa begituan. Nanti milikku dilihat dia dong."
"Nggak apa-apa, nanti 'kan yang periksa juga dokter wanita. Kalau pria aku juga nggak akan izinkan."
"Tapi aku nggak mau, malu."
__ADS_1
"Ya sudah kalau nggak mau, aku nggak maksa, Sayang."
***
Di dalam perjalanan arah pulang, Maya tengah makan bersama dengan Sofyan di dalam mobil. Sepiring nasi goreng berdua. Maya terlihat begitu lahap sekali makannya, perutnya benar-benar sangat lapar.
"Makannya hati-hati, May. Nanti tersendak." Sofyan tersenyum sambil mengelus pipi kiri istrinya.
"Aku sangat lapar, Ayank. Eh ... Pak Aldi, berhenti, Pak!" pekik Maya saat pandangannya menatap jendela mobil.
Aldi pun segera menghentikan mobilnya disisi jalan raya, tepat di depan apotek.
"Kenapa berhenti, May? Kamu mau beli obat?" tanya Sofyan.
"Nggak." Maya menggeleng. "Aku mau beli tespek."
"Tespek?" Sofyan mengerutkan keningnya. "Tespek untuk siapa?"
"Aku."
"Kamu? Memangnya kamu hamil?" Alis mata Sofyan bertaut. "Perasaan kamu baru aku perawanin kemarin-kemarin deh."
"Iya, tapi siapa tahu aku sudah hamil, Ayank." Maya menyentuh perutnya sendiri. Tak lama terdengar suara cacing. "Nih, perutku juga bunyi, Ayank. Apa jangan-jangan ada bayinya?"
"Itu cacing, May."
"Cacing? Masa, sih? Tapi aku sedang makan, mana mungkin cacingku bunyi." Setahu Maya, bunyi cacing menandakan kalau dirinya lapar. Dan saat ini dia malah sudah kenyang.
"Ya itu di dalam perutmu, dia sedang makan."
"Tapi 'kan kita nggak tahu. Siapa tahu beneran bayi."
"Ya sudah aku belikan tespek kalau begitu, ya. Kamu tunggu disini." Sofyan hendak membuka pintu, tetapi lengannya dicekal oleh istrinya.
"Aku mau ikut."
"Kamu disini saja, katanya kalau jalan perih."
"Iya, sih. Ya sudah ... hati-hati, Ayank." Maya mengangguk patuh sambil tersenyum. Kemudian melihat suaminya turun dari mobil.
Sebenarnya Sofyan tak percaya jika memang Maya bisa hamil secepat itu. Tetapi tak ada salahnya dia menuruti keinginan istrinya yang hanya meminta membeli tespek. Tampaknya wanita itu juga seperti ingin cepat mempunyai keturunan darinya, Sofyan tentu merasa bahagia.
__ADS_1
"Maya memang wanita yang sangat manis," gumam Sofyan.
"Pak, saya mau beli tespek tapi dengan merek yang paling bagus, ya?" pinta Sofyan pada penjaga apotek yang tengah berdiri di belakang etalase kaca.
"Tunggu sebentar ya, Pak." Pria itu mengangguk, lalu berjalan beberapa langkah untuk mencari apa yang Sofyan inginkan. Setelah ketemu, dia memberikannya. Sudah dibungkus dengan plastik putih. "Ini, Pak. Satu 'kan, ya?"
"Iya, satu. Berapa?" Sofyan mengambil plastik dari tangan pria itu.
"Harganya ...."
"Tespek buat siapa, Pi? Apa Nella hamil lagi?" sela seorang wanita seksi yang baru saja datang menghampirinya. Dia mengenakan dress mini tanpa lengan berwarna hijau tosca.
Sofyan menoleh ke arah wanita yang suaranya tak asing di telinganya itu, apa lagi sebutan dari yang dia panggil tadi.
"Diana ...," ucap Sofyan dengan kedua mata yang membulat, dia sedikit terkejut saat bertemu mantan istrinya.
Mereka sebenarnya memang sering bertemu, tetapi Sofyan kadang memilih pura-pura tak melihat dan malah selalu menghindari pertemuan itu. Selain masih sakit hati, dia juga malas.
Memang bertemu dengan mantan adalah hal yang sering dibenci oleh seseorang. Apa lagi jika menorehkan goresan di dalam hati.
"Ini berapa, Pak?" Sofyan langsung menatap kembali penjaga apotek.
"Seratus ribu."
Sofyan merogoh kantong belakang celana bahannya, lalu mengambil dompet dan memberikan satu lembar uang seratus ribuan.
"Terima kasih, Pak," ujar pria itu. Sofyan hanya mengangguk kemudian berjalan pergi.
"Pi! Tunggu!" Diana berlari mengejar Sofyan. Sebelum pria itu sampai mobil, dia sudah mencekal lengan kirinya.
"Lepas!" Sofyan menghentakkan tangannya hingga terlepas, kakinya hendak melangkah tetapi ujung jas belakangnya ditarik oleh mantan istrinya.
"Aku mau minta maaf, Pi. Maafkan aku karena dulu telah mengkhianati Papi."
Maya melihat mereka berdua dari kaca mobil, seketika matanya melebar sempurna kala melihat Diana tengah memeluk tubuh Sofyan dari belakang. Refleks dia pun menyentuh dada, di dalam sana terasa panas dan ngilu.
'Bu Diana kok meluk Pak Sofyan? Kenapa?' batin Maya.
"Lepas Diana!" bentak Sofyan seraya menarik kasar kedua lengan Diana hingga terlepas, setelah itu dia pun berlari masuk ke dalam mobilnya. "Jalan, Di!" perintahnya pada Aldi. Pria kekar itu lantas mengangguk dan menarik gasnya.
Sofyan membuang napasnya kasar, dia tak habis pikir dengan apa yang Diana lakukan tadi. Bisa-bisanya dia memeluknya, padahal status mereka sudah menjadi mantan.
__ADS_1
'Dia memang wanita murahan. Padahal sudah punya Aji, tapi kenapa malah memelukku begitu?' batin Sofyan seraya mengusap wajahnya, lalu menoleh ke arah Maya.
Kebetulan Maya juga tengah menatap wajah Sofyan, bahkan sejak tadi. Wajah wanita itu terlihat sendu, tetapi tak berselang lama langsung berubah kala kedua sudut bibirnya tertarik hingga menampilkan senyuman.