
"Ya sudah, aku pamit kalau begitu." Rizky mencium punggung tangan Gita dan Guntur. "Soal dompet, Mama nggak perlu mengurusnya. Kirim ponsel baru dan isi nomor Mama, Papa, Nella dan Hersa aja. Itu sudah cukup."
Gita mengangguki ucapan dari Rizky. Kemudian mereka keluar dari kamar itu bersama-sama.
Gita dan Guntur pulang duluan. Sedangkan Rizky, sebelum pulang dia mengambil obat di apotek terlebih dahulu ditemani Sofyan.
***
"Mama ... Papa kasihan sama Rizky, dia seperti nggak ada harga diri menjadi seorang pria," ungkap Guntur sembari mengemudi.
Gita yang berada di sebelahnya lantas menoleh. "Papa kok bicara seperti itu? Itu bukan masalah harga diri. Tapi Rizky mau memperjuangkan rumah tangganya. Kita sebagai orang tua, harusnya mendukung dong."
Nampaknya, Guntur mulai jenuh dengan rumah tangga anaknya. Dia sekarang malah mendukung Rizky untuk berpisah dengan Nella.
"Kalaupun Rizky menjadi duda, pasti banyak kok yang mau. Rizky itu tampan dan mapan. Dia juga bisa menikah lagi dengan seorang gadis, bahkan yang lebih sempurna dari Nella." Guntur menoleh sebentar pada Gita sambil merenggut, setelah itu kembali melihat ke depan.
"Itu memang benar. Tapi Mama suka sama Nella, Pa. Zaman sekarang ... susah lho cari wanita yang seperti Nella. Dia mandiri, cantik dan pintar memasak. Dia benar-benar menantu idaman Mama sejak dulu." Lagi dan lagi Gita terus memuji menantunya. Sikapnya yang seperti itu makin membuat Guntur kesal.
"Untuk apa mandiri, cantik dan pintar memasak, kalau dia nggak bisa mencintai suaminya?" hardik Guntur. "Mama ini bagaimana, sih? Kok dukung Rizky disakiti? Sampai kapanpun ... Nella nggak akan suka dan menerima Rizky. Dia sukanya sama pria lain!" berang Guntur. Semakin lama, obralan itu membuatnya jengah. Lantas, Guntur meraup pelan wajahnya.
"Papa kok jadi emosi?" Gita menyentuh punggung tangan Guntur dengan lembut. "Bukannya Papa juga senang saat Nella dan Rizky menikah? Jangan seperti ini dong, Pa."
"Papa memang senang, tapi sejak awal juga Papa sudah punya firasat ... kalau rumah tangga Rizky nggak akan bertahan lama. Jadi untuk apa juga semua ini dilakukan? Akan sia-sia saja," ujarnya tanpa menoleh.
"Ya sudah, begini saja. Kita tunggu sampai hari sidang mereka. Kalau Nella masih belum membuka hatinya sama Rizky ... Mama akan berhenti berharap," kata Gita dengan penuh keraguan.
Guntur terdiam tanpa kata. Tak ada niat sedikitpun untuk kembali menyahuti ucapan istrinya sebab sudah terlanjur kesal. Gita yang melihat wajah masam suaminya mendadak hatinya tak enak. Dia juga ikut pusing memikirkan rumah tangga Rizky.
Gita menyandarkan punggungnya pada penyangga kursi sambil memijat dahinya yang terasa pening.
'Apa aku harus pergi ke dukun saja? Pelet Nella supaya suka sama Rizky? Ah tapi, itu benar-benar konyol. Ini 'kan zaman modern dan lagi pula ... memang masih ada dukun? Nanti aku tanya-tanya ke ibu-ibu arisan deh,' batin Gita.
__ADS_1
***
Sofyan dan Rizky telah sampai di kediaman Angga. Mereka turun dari mobil dan masuk ke rumah itu bersama-sama.
Tepat di ruang makan, Angga, Sindi dan Nella tengah makan siang bersama. Mereka bertiga menoleh sebab menyadari kehadiran dua pria itu.
"Ayok makan bersama," ajak Sindi. Entah dia mengajak siapa, tapi pandangan matanya hanya menatap ke arah Sofyan.
Belum apa-apa, Rizky sudah merasakan aura dingin. Dingin yang dia rasakan bukanlah karena suhu AC, melainkan sikap dingin dari tiga orang itu. Rizky hanya diam dan menatap wajah Nella yang sama-sama menatapnya.
"Kamar Rizky di mana, Ma? Aku ingin mengantarnya supaya langsung istirahat. Dia masih sakit." Sofyan merangkul bahu Rizky dan menoleh sebentar padanya.
"Sudah tau sakit, kenapa buru-buru pulang? Kebelet banget, ya, mau tinggal di sini," cibir Angga seraya tersenyum miring.
Rizky semakin terlihat menyedihkan saja berada di rumah itu. Akan tetapi, dia masih berusaha untuk tidak memerdulikan setiap ucapan yang terlontar dari mulut Angga. Ini masih awal, dia harus bisa bertahan sampai lima hari ke depan.
'Sabar, Riz. Semua akan baik-baik saja,' batin Rizky. Dia menyunggingkan senyum, menepis rasa gemuruh di dalam hatinya.
"Ah Bibi, tolong antarkan Rizky ke kamarnya," perintah Sindi saat melihat Bibi pembantu melewati ruang makan. Wanita yang memakai daster itu langsung menghentikan langkah dan menoleh sambil mengangguk.
"Ayo Pak Rizky, mari saya antar," ajaknya pada Rizky.
Bukan hanya Rizky saja yang mengikuti langkah kakinya menuju lantai atas, Sofyan juga ikut. Dia ingin tau di mana letak kamar Rizky.
Bibi pembantu itu membukakan pintu kamar yang berada di samping kamar Nella, kamar tamu.
"Silahkan istirahat, semua pakaian Bapak juga sudah dipindahkan ke sini," ucap Bibi pembantu seraya melangkah masuk ke kamar tersebut. Mereka juga sama-sama masuk.
Rizky menyapu setiap sudut ruangan itu. Tidak ada istimewanya, kamar itu mirip dengan kamar tamu pada umumnya.
'Sedih banget, tidur sendiri lagi,' keluh Rizky dalam hati.
__ADS_1
"Kalau begitu, Bibi permisi Pak Rizky, Pak Sofyan." Bibi pembantu membungkuk sedikit dengan sopan.
"Iya, terima kasih, Bi," sahut Rizky.
Sepeninggal Bibi pembantu itu keluar dan menutup pintu, Rizky dan Sofyan mendudukkan bokongnya di atas kasur.
"Papa mau tinggal di sini juga?" tanya Rizky.
Sofyan tersenyum kecil. "Nggak lah. Papa mau pulang sekarang. Kamu yang betah di sini, kalau ada apa-apa ... kamu telepon Papa, ya?"
"Iya, Pa."
Sofyan menyentuh pelan pipi kiri Rizky yang masih membiru. "Kamu benar-benar sangat niat. Pasti sakit, kan?" Sofyan ikut meringis saat melihat Rizky meringis kesakitan.
"Sakit ini nggak seberapa, Pa. Lebih sakit lagi saat Nella bilang sangat mencintai Ihsan," keluh Rizky dengan sendu.
"Kamu sih, nggak dengar omongan Papa. Papa 'kan menyarankan kamu bawa Nella kabur."
"Itu bukan saran yang bagus, semua saran Papa nggak ada yang berhasil." Rizky mengerucutkan bibirnya, merasa lelah dengan apa yang diucapkan Sofyan.
Sofyan menghela nafas dengan gusar. "Habis Papa juga binggung. Apa Papa bayar orang saja untuk membunuh Ihsan? Supaya dengan begitu ... Nella melupakannya dan mencintaimu?"
Rizky terbelalak, dia langsung menggeleng cepat. "Jangan, itu terlalu kejam namanya. Papa juga bisa-bisa di penjara. Nanti kasihan Nella, sudah ditinggal orang yang dia cintai, terus ditinggal Papa yang masuk penjara. Itu juga dosa, Pa."
"Sok berilmu kamu, Riz." Sofyan terkekeh mendengar jawaban dari menantunya. "Ya sudah, Papa pulang dulu. Kamu di dalam kamar saja, istirahat." Sofyan bangkit dari duduknya seraya berdiri.
"Aku 'kan nggak sakit, Pa. Tapi nggak apa-apa deh, aku mau akting sakit lagi." Rizky membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia merasa lelah sekaligus mengantuk.
...Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komennya....
...Bagi yang berkenan dan banyak poinnya, boleh juga kasih vote dan hadiah. Dukungan dari kalian, bisa buat Author semangat nulis, lho 😌...
__ADS_1