Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
291. Mengajak Ayank keringetan


__ADS_3

"Dih ngaco kamu, May." Sofyan menatap kesal pada istrinya, lalu menaruh capit kepiting itu ke tempat semula. "Jangan makan capitnya deh, badan kepitingnya aja. Kan ada dagingnya itu." Sofyan menunjuk kepiting yang sudah berbelah.


"Tapi aku kepengen daging capitnya, Ayank."


Sofyan membuang napasnnya kasar. Lantas dengan penuh kekesalan dia pun meletakkan kedua capit kepiting itu ke atas meja. "Turunkan dulu semua yang ada di meja, kecuali capit," titah Sofyan.


"Memang kenapa?"


"Sudah turunkan saja, katanya mau daging capit."


Maya menurut, dia dibantu oleh pelayan wanita itu lantas menurunkan semua makanan dan minuman di atas meja kecil itu untuk dipindahkan ke bawah.


Maya dan pelayan itu memerhatikan kedua tangan Sofyan yang mengepal kuat, lalu tak lama dia pun mengebrak meja yang mana di atasnya adalah capit kepiting.


Brak!


Hanya satu hantaman dari kedua tangannya itu mampu menghancurkan cangkang kepiting. Dan lebih mengejutkannya lagi—bukan hanya cangkang saja yang pecah. Melainkan meja kayunya juga.


Meskipun Sofyan sudah hampir 2 bulan lebih tidak pergi ke tempat gym untuk berolahraga—tetapi nyatanya otot-ototnya itu masih sangat kuat.


"Lho, kok Bapak menghancurkan mejanya juga?" Pelayan wanita itu tampak terkejut melihat meja kayu itu hancur dua bulatan, bekas kepalan tangan Sofyan tadi.


"Tenang saja, nanti aku ganti rugi. Yang penting cangkang kepiting ini bisa terbuka."


Sofyan tersenyum puas, lantas dia pun menaruh kedua capit itu ke piring Maya.


Terlihat istrinya itu mengerutkan keningnya. Dia heran sebab cangkang dan daging itu seolah menjadi satu. Dia sendiri binggung untuk memakannya. Ditambah ada serpihan kayu juga yang menempel.


"Ayok makan, May. Kenapa bengong? Aku mau ke kantor lagi habis ini." Sofyan menatap arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 1. Maya pun mengangguk, lantas mulai makan.


***


Malam hari.


"Eh, Sofyan. Kamu baru pulang kerja? Tumben jam segini?"


Sofyan menghentikan langkahnya di ruang keluarga saat Yuni menyapanya. Wajah pria itu terlihat begitu kusut dan berminyak, dia juga merasa sangat pegal dan letih pada seluruh tubuhnya sebab habis kerja lembur.


"Iya, Tante," jawab Sofyan sambil tersenyum kecil.


"Eh, tunggu sebentar Sofyan ... Tante mau bicara."


Sofyan yang hendak melanjutkan langkahnya itu terhenti lantaran wanita itu, padahal aslinya dia ingin cepat-cepat masuk kamar lalu mandi, dan setelah itu istirahat.


Aslinya malas, tetapi untuk menolak rasanya tak enak. Akhirnya dia pun duduk di sofa single.


"Di mana Maya, Tan?" Sorotan mata Sofyan berkeliling, dia mencari-cari keberadaan istrinya tapi tak terlihat dimana-mana.

__ADS_1


"Dia ada di kamar, dari semenjak pulang bersamamu dia nggak keluar-keluar kamar."


"Kenapa memangnya?"


"Sebenarnya tadi pagi Tante sama Maya sempat ngobrol, tapi Maya sepertinya tersinggung dan marah. Jadi dia ngambek sama Tante."


"Kok ngambek? Memang masalahnya apa?"


Yuni menatap sebentar ke arah lantai atas, tepat di mana kamar Sofyan berada, lalu dia pun melihat lagi ke arah keponakan iparnya.


"Sepele sih. Ceritanya kemarin Tante bertanya tentang lowongan pekerjaan di kantormu ... tapi sepertinya Maya nggak suka."


"Nggak sukanya kenapa?"


"Nggak tahu, mungkin karena Tante ingin kerja di kantormu kali."


"Kerja di kantorku? Kenapa gitu? Terus Om Darus siapa yang ngurus di sana kalau Tante kerja? Kata Maya dia sering sakit kaki, kan?" Alis mata Sofyan bertaut.


"Iya, dia ada rematik." Yuni membuang napasnnya kasar, wajahnya tampak sendu tetapi seperti dibuat-buat. "Sejujurnya sih Tante nggak ingin kerja, Tante ingin pulang dan mengurus suami Tante. Tapi ... Tante sendiri binggung."


"Binggungnya?"


"Binggung karena hutang Om banyak, hampir setiap hari ada saja penagih hutang. Itu membuat Tante pusing." Yuni menyandarkan punggungnya, lalu memijat dahi.


"Hutangnya berapa banyak?"


Mata Yuni seketika berbinar, entah karena apa. "Kamu mau lunasi hutang Ommu?"


"Kalau dihitung sih ada tiga puluh jutaan."


"Ya sudah, nanti aku transfer besok. Transfernya ke rekening Tante apa ke rekening yang nagih hutang?"


"Tante saja. Oh ya ... sama Tante juga mau minta dibelikan motor."


"Motor? Motor untuk siapa?"


"Motor untuk anak-anak Tante. Dia kalau sekolah naik angkot, kasihan Sofyan. Mana macet terus kadang."


"Oh ya sudah, nanti besok aku belikan."


"Dua, ya? Tapi motor gede."


"Iya." Sofyan mengangguk, lantas mengangkat bokongnya. "Kalau begitu—”


"Sama Tante minta dibelikan hape seperti Maya, kebetulan hape Tante juga rusak," sela Yuni cepat. Pada akhirnya dia banyak meminta.


Sofyan membuang napasnya kasar. "Iya, nanti besok aku belikan. Sudah dulu ya, Tan. Aku ingin istirahat di kamar."

__ADS_1


"Iya, terima kasih, Sofyan. Kamu jangan ngomong ke Maya, ya? Tante minta ini itu. Takutnya dia tambah marah," pinta Yuni dengan nada memohon. Sofyan hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


*


*


Ceklek~


Sofyan membuka pintu kamar, dilihat Maya tengah membereskan rambutnya di depan meja rias. Kemudian cepat-cepat menghampirinya saat tahu dia datang.


"Eh, Ayank sudah pulang. Maaf aku nggak tahu." Maya menutup pintu, lalu mengajak Sofyan masuk ke dalam sembari mengandeng lengannya.


"Kamu mau ke mana, May? Kok cantik sekali?"


Bukan hanya cantik, tetapi wangi dan seksi. Wanita itu memakai labasan berbahan rajut berwarna hitam. Panjangnya hanya sepaha atas, terkesan begitu mini. Kerah pakaian itu juga terbuka seperti model Sabrina. Ukurannya sangat ngepres di badan Maya.


Dia juga memakai make up. Ya meskipun hanya bedak dan lipstik, tetapi Sofyan bisa membedakan kalau dia dandan.


"Nggak ke mana-mana kok."


"Masa, sih? Tapi kok tumben ... biasanya kamu kalau malam hanya pakai baju tidur dan nggak dandan." Sofyan mendudukkan bokongnya di sofa sambil bersandar. Baru saja dia hendak melepaskan sepatu, tetapi dengan cepat Maya berjongkok dan membantu melepaskannya. "Nggak usah, May. Aku bisa sendiri."


"Nggak apa-apa, Ayank."


Dari atas Sofyan menatap belahan dada istrinya yang seakan bergoyang-goyang mengikuti gerakan tubuh pemiliknya. Dan itu sungguh pemandangan yang begitu indah hingga membuatnya menelan saliva.


"Memang Ayank nggak suka ya kalau misalkan malam-malam aku dandan?" tanya Maya seraya menaruh sepatu Sofyan ke atas rak.


"Suka."


"Suka aja, nggak pake banget?"


"Pake banget. Tapi bajunya terlalu seksi, aku nggak suka orang lain melihatnya." Perlahan Sofyan meraba bokong istrinya. Dilihat kedua pipi Maya sudah merona. "Bajunya juga seperti baru, ya? Kapan kamu beli?"


"Kemarin, aku beli lewat online. Tapi memang sengaja aku pakai sekarang."


"Oh, memang kenapa?" Sofyan membuka jasnya, kemudian perlahan membuka satu kancing kemeja. Namun buru-buru Maya membantu melepaskannya.


"Ya karena ingin Ayank melihat saja pas pulang kerja."


"Oh, begitu. Aku kira kamu mau memintaku untuk mengantar cari angin." Sofyan terkekeh. Jika diingat—dia selalu jengkel setiap apa yang diminta oleh istrinya, tetapi kadang kala dia merasa lucu sendiri.


"Sekarang aku malah mau mengajak Ayank keringetan."


"Keringetan?" Kening Sofyan mengerut heran. "Sekarang saja aku sudah keringetan karena belum mandi. Kamu mau kita olahraga?"


"Iya." Maya mengangguk semangat. Lantas membantu Sofyan membuka celana. Matanya sudah menyorot tajam ke bawah sana.

__ADS_1


"Tapi ini sudah malam. Dan olahraga lebih bagus itu pagi. Bagaimana kalau besok saja?" tawar Sofyan. Dia berpikir Maya akan mengajaknya lari berkeliling sekarang juga. "Besok kita pagi-pagi joging ke taman, pas banget tuh karena besok hari Minggu, May."


Maya menggeleng cepat. "Dih, nggak mau. Aku mau olahraganya sekarang dan di atas ranjang."


__ADS_2