Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
264. Sudah longgar


__ADS_3

"Maksudnya Ayank mau ngajak aku kelonan?" Maya menutupi inti tubuhnya dengan salah satu tangan, ketika suaminya telah membuatnya setengah telanjang bulat.


"Nggak." Sofyan menggeleng. "Ini bukan kelonan, tapi mau ngecas kamu. Hape saja dicas, masa kamu nggak." Sekarang Sofyan membuka seluruh kancing kemeja Maya, lalu melepaskannya.


***


Sebuah mobil hitam yang terparkir disisi jalan raya bergoyang-goyang, dua manusia yang tidak saling mengenal dan tanpa status itu tengah memadu kasih. Saling bertukar saliva dan membuat peluh bercucuran diseluruh tubuh.


Hentakkan demi hentakkan yang Diana lakukan seketika membuat desiran darah di tubuh Ali mendidih. Dia membawa Ali melayang ke udara.


Lantas dia pun mencengkeram kedua gunung kembar milik Diana seraya menarik pinggulnya. Miliknya yang berbungkus kond*m itu berhasil muntah, dia benar-benar sangat puas.


"Aaahhh ...," desahnya mencapai *******.


Tadi Ali sempat berusaha menolak, tetapi siapa sih kucing yang tidak tergoda jika terus dipancing dengan ikan? Meski itu ikan asin sekali pun.


Lama-lama pria itu menjadi luluh, dan akhirnya Diana berhasil menaikinya. Menggoyangkan pinggulnya dan mendessah bersama.


"Sudah dong. Kan kamu sudah keluar tadi." Diana mancegah Ali saat pria itu ingin melahap salah satu puncak dadanya. Napas terdengar tersengal-sengal.


Cepat-cepat Diana turun dari pangkuan pria itu, lalu duduk kembali di kursinya. Selanjutnya dia langsung memakai kembali pakaiannya.


"Padahal sekali lagi bisa, Bu. Goyangan Ibu enak juga." Ali terkekeh. Lalu segera memakai pakaiannya yang sudah terlepas semua akibat ulah Diana.


"Kalau mau nambah bayar dulu lah."


Ucapan Diana sontak membuat Ali terbelalak dan tersendak ludahnya sendiri.


"Uhuk-uhuk!" Ali meraih botol minuman, setelah membuka tutup botolnya kemudian langsung ditenggak sampai tandas.


"Mana! Beri aku 10 juta!" Diana menadahkan salah satu telapak tangan ke arah Ali. Pria itu pun menggeleng.


"Saya nggak pegang uang segitu, Bu. Dan apa tadi Ibu bilang? Bayar? Berarti kita tadi main bayar?" Wajah Ali tampak binggung dan tak percaya. Dia kira, Diana hanya mengajaknya saja karena kesepian, tanpa meminta imbalan uang. Dan saat ini Ali tak punya uang.

__ADS_1


"Iya lah. Kamu pikir gratis? Bayar!" Rahang Diana mengeras, wajahnya tampak merah.


"Tapi tadi Ibu nggak bilang, harusnya Ibu bilang dulu dong."


"Ya sudah sih, yang penting kamu puas, kan? Jadi sekarang bayar saja!"


"Saya 'kan sudah bilang tadi ... kalau saya nggak pegang uang segitu, Bu. Dan kalau tahu bayar saya lebih baik nggak mau. Milik Ibu juga sudah longgar," ujar Ali jujur.


Plak!


Satu tamparan keras itu berhasil mendarat ke pipi kiri Ali, Diana dibuat geram oleh ucapannya.


"Kurang ajar sekali! Sudah nggak mau bayar sekarang menghinaku! Sekarang kirimkan berapa uang yang Rizky kirim ke rekeningmu!" berangnya emosi. Dadanya naik turun.


"Maaf, Bu. Tapi aku memang jujur kok. Dan aku kira Ibu melakukan hal itu karena sedang gatal."


"Gatal gatal, memang kamu pikir aku wanita murahan!" Diana menunjuk wajahnya sendiri dengan mata melotot, dia benar-benar murka.


Ali segera mengambil ponselnya di saku celana, lalu mengecek m-banking untuk melihat berapa nominal uang yang Rizky kirim ke rekeningnya.


Diana terbelalak. "Hanya lima juta? Harga hapeku bahkan puluhan juta. Kenapa Rizky pelit sekali hanya memberikan segitu? Ya sudah kamu tambahkan saja dengan uangmu yanga ada di rekening!" pintanya dengan nada memaksa.


"Saya sudah bilang beberapa kali ... kalau saya nggak pegang uang. Ini saja saldonya cuma sedikit." Ali memerhatikan ponselnya ke depan wajah Diana. Disana tertera hanya lima juta dua ratus ribu, itu berarti hanya dua ratus ribu uang Ali.


"Ah ya sudah lah. Kirim 'kan saja lima juta. Ini catat nomor rekeningku." Diana akhirnya pasrah, lama-lama dia malas berdebat dengan pria itu.


Ada rasa penyesalan di dalam hati wanita itu, menyesal karena telah mengajak pria itu bercinta secara gratis.


'Sial*n banget sopirnya Rizky! Dia benar-benar pria kere, untungnya burungnya besar, jadi aku ikutan puas,' batin Diana seraya menyebutkan nomor rekeningnya. Pria itu langsung mencatat.


***


"Aahhh ...."

__ADS_1


Degh!


Jantung Rizky terasa berhenti sejenak bersamaan langkah kakinya di depan pintu ruangan Maya. Niatnya memang ingin menemui wanita itu, ingin bertanya tentang selembar kertas yang kini berada di tangannya.


Rizky kenal betul itu suara apa, yaitu suara dessahan seorang wanita yang berasal dari balik pintu tersebut.


"Siapa yang mendessah? Apa Maya?" Akibat penasaran, Rizky langsung berjalan mendekati pintu itu dan menempelkan telinga kirinya. Dan tak lama terdengar suara dessahan lagi, tetapi suara pria dan Rizky tentu mengenalnya.


"Aaahh, Maya. Kenapa kamu begitu nikmat?"


Rizky membulatkan matanya dengan lebar, telinganya mendengar begitu jelas. Memang ruangan Maya kebetulan tidak kedap suara, jadi semua suara dari dalam kalau lumayan keras akan bisa terdengar dari luar.


"Papa? Apa jangan-jangan Papa dan Maya sedang bercinta?" gumam Rizky, dia begitu serius mendengar desahhan itu. Tetapi selang beberapa detik entah mengapa kini suaranya terdengar makin samar, Rizky makin penasaran.


Pria tampan itu menatap handle pintu, dengan ragu-ragu dia pun lantas menurunkannya pelan-pelan.


"Ck!" Rizky berdecak kesal saat mengetahui pintunya dikunci. 'Kenapa musti dikunci? Orang mah nggak usah. Kan lumayan aku bisa ngintip.'


Rizky mundur beberapa langkah, lalu memperlihatkan pintu kayu ruangan Maya. Seketika dia merasa dejavu, mengingat saat di mana dia mencoba untuk mengintip malam pertama papa mertuanya namun gagal. Kali ini—dia tak mau gagal.


Kalau tidak bisa melihat saat malam pertama, minimal saat bercinta pun tak masalah baginya.


Entah ada pikiran kotor dari mana yang kini hinggap pada otak pria itu, tetapi kini dirinya tengah berlari menuju ruangannya lagi. Kemudian membuka semua laci di meja kerjanya untuk mencari kunci serep ruangan Maya.


Dia ingat—jika setiap ruangan di kantornya memiliki kunci serep dan dia sendiri menyimpannya.


"Asik, ketemu!" Mata Rizky berbinar saat melihat sebuah kunci hitam yang menempel tulisan 'ruangan sekertaris' itu berarti kunci yang dia cari.


Setelah mendapatkannya, pria itu langsung berlari keluar dari ruangannya, kemudian menuju ruangan Maya.


Sebelum memasukkan kunci itu ke dalam lubang, pria itu menoleh ke kanan dan kiri. Melihat situasi yang menurutnya cukup aman. Dia ingin hanya dirinya seorang saja yang mengintip mertuanya tengah bercinta.


'Aman, nanti aku videoin, ah. Lumayan buat koleksi.' Rizky membatin sambil terkekeh.

__ADS_1


Perlahan dia memasukkan kunci tersebut, lalu pelan-pelan dia putar hingga terbuka. Selanjutnya Rizky menurunkan handle pintu, kemudian membuka sedikit pintu itu dan langsung mendekatkan wajahnya ke sana.


__ADS_2