
"Ngapain dikolong jembatan? Gue 'kan punya rumah." Rizky terkekeh.
"Misalkan."
"Oh ... tetap bersedia dong, lu sendiri?" tanya Rizky.
"Iya, aku juga bersedia." Nella mendekat, lalu mengecup pipi kiri Rizky. "Aku mencintai Mas Rizky, aku nggak mau Mas berselingkuh."
"Gue juga cinta sama lu. Gue nggak akan selingkuh." Rizky berbalik untuk mengecup pipi kanan Nella.
"Janji dulu, ya!" Nella mengangkat jari kelingkingnya ke arah Rizky.
Pria tampan itu segera menautkan jari kelingkingnya. "Iya, janji. Tapi kenapa seperti anak kecil pakai janji seperti ini, Nell?" Rizky terkekeh.
"Kata siapa seperti anak kecil?" Nella menatap serius mata Rizky dan seketika membuat pria tampan itu menelan ludahnya dengan kasar. "Kalau Mas melanggar ... burung Mas aku potong."
Rizky membulatkan matanya, dengan refleks dia pun melepaskan tautan kelingkingnya lalu beralih menangkup senjata pamungkasnya. "Sadis bener, Nell. Mati dong gue."
"Biarin saja." Nella memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Itu 'kan sudah menjadi milikku. Jadi aku nggak rela bagi-bagi. Kalau sampai Mas membaginya ... aku potong saja sekalian!" tegasnya dengan nada mengancam.
"Tenang Nell, sekarang burung gue hanya milik lu seorang. Gue bisa jamin itu," ujar Rizky meyakinkan, tetapi nada suaranya terdengar begitu bergetar.
Meskipun dia sendiri yakin akan menjadi pria yang setia, tetapi tetap saja ada rasa takut pada hatinya.
Mungkin itu disebabkan Nella selalu cemburuan, dia tak mau jika sewaktu-waktu terjadi salah paham lagi dan burungnya yang akan menjadi korban.
Seketika milik Rizky pun mengerut di dalam celana, lagi-lagi dia seperti punya perasaan jika saat ini merasa ketakutan. Segera Rizky elus miliknya.
'Lu tenang saja, lu nggak bakal lepas dari tubuh gue yang sixpack ini. Istri gue bilang seperti itu karena cemburu dan takut kehilangan gue. Lu bangun lagi, ya? Nanti malam kita tempur dan buat lu mabuk sampai pagi,' batin Rizky.
Seruan dari hati itu membuat jiwa sang empu bergerak, dia pun langsung berdiri tegak meskipun terasa sesak oleh pembungkusnya.
"Nah bagus, jangan lemah," gumam Rizky pelan.
"Mas bilang apa tadi?" Nella yang mendengar suara Rizky agak samar langsung menoleh padanya.
"Nggak." Rizky menggeleng cepat. "Gue hanya memikirkan buat besok, kira-kira ... kita perginya ke mana, ya?"
"Rahasia, Mas. Besok aku yang akan memberitahu Mas Rizky."
__ADS_1
"Oke, siap istriku!" sahutnya dengan penuh antusias.
...***...
...(Flashback On)...
"Pak, apa Tante Nissa sudah pulang?" tanya Ihsan pada seorang satpam berseragam hitam yang tengah berdiri di depan pintu.
Kedatangannya adalah ingin mengantar mobil Nissa yang sempat diservise dari kemarin lantaran mogok dijalan.
Kemarin saat pulang dari mall, Nissa menghubunginya, meminta tolong untuk membawa mobilnya ke bengkel Omnya.
Ihsan sendiri tak merasa keberatan, sebab dia juga sudah menganggap Nissa sebagai tantenya sendiri. Nissa juga sebaliknya seperti itu.
"Eh, Ihsan," ucap seorang wanita yang baru saja keluar dari pintu restoran, kemudian dia pun berjalan menghampirinya. Wanita tersebut adalah Nissa. "Ada apa?"
Ihsan mencium punggung tangannya, lalu memberikan kunci mobil yang sejak tadi dalam genggamannya. "Aku mau mengantar mobil, Tante. Semuanya sudah beres," ujarnya sambil tersenyum.
"Kenapa kamu yang mengantarnya?" Nissa menerima kunci itu dengan senang hati. "Harusnya kamu bilang saja sama Tante, biar Tante ambil pas pulang dari restoran," ujar Nissa tak enak hati.
"Nggak apa-apa, aku sekalian mau pergi cari bubur, Tan."
Ternyata apa yang dikatakan Irwan benar, Ihsan merasa terancam. Tetapi niat balas dendamnya tentu tetap dia lakukan. Sekarang Ihsan akan bermain cantik dan sesuai dengan rencananya.
"Oh bubur, kebetulan Tante juga mau beli untuk anak Tante, San. Kamu bareng saja, nanti sekalian Tante antar pulangnya."
"Kok jadi aku diantarkan pulang?" ujar Ihsan sambil terkekeh. "Bukannya aku datang mau mengantar mobil, ya?"
"Nggak apa-apa, kan sekalian."
"Ah yasudah deh, kalau Tante memaksa." Ihsan kembali terkekeh. "Aku nggak bisa menolaknya, tapi aku yang menyetir saja kalau begitu, ya?"
"Iyalah, masa Tante. Ini ...." Nissa memberikan lagi kunci mobilnya pada Ihsan.
Lantas, keduanya pun masuk ke dalam mobil sama-sama.
"Nomor rekeningmu berapa? Dan berapa biaya mobil Tante, San?" Nissa membuka tas jinjing miliknya, kemudian mengambil ponselnya.
"Nggak usah, Tan." Ihsan menggeleng samar.
__ADS_1
"Dih, jangan begitu. Nanti bengkel Ommu rugi gara-gara servise mobil Tante. Tante juga kemarin sudah merepotkanmu."
"Nanti aku kirimkan lewat pesan deh, tapi kalau masalah biaya ... terserah Tante saja mau memberikan berapa, rasanya aku nggak enak kalau memberikan harga pada Tante iparku sendiri." Ihsan menoleh sekilas pada Nissa seraya tersenyum.
"Tante ipar?" Nissa mengulang ucapan Ihsan dengan kening yang berkerut.
"Ah maaf, aku lupa. Mungkin aku sudah jadi mantan calon keponakan. Maaf, Tante ... aku lupa kalau sudah putus dengan keponakan Tante yang cantik itu." Dada Ihsan tiba-tiba berdenyut nyeri. Sungguh terasa sakit sekali jika mengingat kata putus yang begitu enteng Nella lontarkan.
"Apa sampai sekarang kamu belum bisa melupakan Nella?" tanya Nissa pelan.
"Aku sedang menjalani prosesnya, Tan. Tapi aku sendiri nggak yakin kalau bisa." Ihsan menyunggingkan senyum. Tetapi senyum itu terlihat begitu getir.
"Kamu menikah saja kalau begitu, San. Supaya bisa cepat-cepat melupakan Nella," saran Nissa.
"Siapa yang mau dengan pria sepertiku, Tan?" Ihsan mengusap kasar wajahnya. "Ah nggak usah membahas masalah itu deh, dadaku sakit, Tan."
Meskipun melihat dari samping, tetapi wajah pria bule itu tampak begitu sendu. Tentu hal tersebut membuat Nissa tak enak hati. Dia sesungguhnya pernah ingin membantu Ihsan, tetapi sayangnya sia-sia.
"Maafin Tante, Tante nggak ada maksud membuatmu sedih."
"Nggak apa-apa, aku mengerti kok." Ihsan menoleh lagi padanya, lalu tersenyum.
Setelah sampai, mereka pun berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran.
Ihsan memesan 10 bubur ayam yang di take away. Sengaja dia membeli banyak untuk junior dan Omnya.
Sedangkan Nissa juga sama, dia take away tetapi hanya 3. Hanya untuk dia, suaminya dan anaknya yang paling kecil.
Sembari menunggu pesanannya dibuat, mereka pun duduk di meja kosong dan memesan minuman. Dua gelas es jeruk.
Ihsan terdiam sejenak sembari menatap Nissa yang tengah sibuk memainkan ponselnya, kemudian berkata, "Eemm ... Tan, apa aku boleh minta tolong?"
"Tolong apa?" Pandangan Nissa yang sejak tadi pada ponsel langsung teralihkan pada Ihsan, dia pun menaruh benda pipih dalam genggamannya di atas meja.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1034...
__ADS_1