Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
281. Undangan makan malam


__ADS_3

Ceklek~


Bibi pembantu membuka pintu utama rumah Sofyan, lantas dia pun mengerutkan keningnya saat melihat seorang wanita berumur berdiri di hadapannya. Dia memakai celana jeans panjang berwarna biru dan jaket berwarna putih serta kaos polos hitam.


Kedua tangannya menenteng tas jinjing besar, sorotan matanya menatap sekeliling rumah besar itu. Matanya berbinar dan dia seperti takjub.


'Suaminya Maya benar-benar orang kaya, rumahnya bagus banget,' batinnya dalam hati.


'Apa Pak Sofyan mau menambah pembantu? Kok nggak mengabari saya dulu?' batin Bibi pembantu, lalu dia pun tersenyum pada wanita di depannya. "Maaf, Bu? Ibu cari siapa?"


"Namaku Yuni, Tantenya Maya. Kamu ini pembantu di rumah ini, ya?" Ya, Yuni. Dia adalah Yuni yang sudah sampai ke rumah Sofyan setelah dijemput Ali.


"Iya, saya pembantu di rumah ...."


Belum sempat Bibi meneruskan ucapannya, wanita itu dengan cepat menerobos masuk hingga sempat membuat tubuh Bibi terdorong. Lantas dengan santainya dia berjalan menuju ruang tamu. Dia meletakkan tasnya di bawah lantai kemudian duduk di sofa single. Kedua kakinya dia angkat di atas meja.


"Maaf, Bu. Kenapa Ibu main masuk saja? Ini nggak sopan." Bibi terlihat tak suka sekali melihat sikap Yuni, dan harusnya dia bertanya tentang tuan rumahnya dulu kemana. Bukan asal masuk saja.


"Enak saja. Memang kamu nggak dengar kalau aku bilang aku ini Tantenya Maya?"


"Bukan begitu, Bu. Tapi Ibu sudah izin mau datang atau belum sama Pak Sofyan? Saya takut dimarahi," ujar Bibi dengan sopan.


"Sudah lah. Kalau belum aku nggak bakal sampai sini. Sana buatkan aku air minum, jus mangga. Sama cemilan yang terenak di dalam rumah ini." Yuni mengibaskan tangannya ke arah Bibi, memintanya untuk cepat-cepat membuatkan minum.


Tak lama pergi ke dapur, kini Bibi kembali dengan membawa sebuah nampan yang berisi segelas jus mangga dan tomples kaca yang berisi cookies coklat.


"Aku 'kan minta cemilan, Bi. Kenapa malah kue kaleng seperti itu yang dibawa?" Yuni memandang sinis pada makanan di atas meja.


"Hanya itu cemilan di sini, Bu. Dan itu bukan roti kalengan, saya membuatnya sendiri."


"Ah tapi aku nggak suka. Bibi beli saja keluar, aku mau bakso."


Bibi mengerutkan keningnya. 'Bakso? Bakso 'kan bukan cemilan.'

__ADS_1


"Kok malah bengong? Sana pergi!" Kali ini Yuni bicara dengan agak lantang sambil menunjuk pintu. "Bibi ini nggak menghargai banget tamu, aku 'kan Tante ipar bosmu juga!" sungutnya kesal.


"Iya, maaf. Bibi akan beli sekarang."


Yuni menggerutkan keningnya, dia merasa binggung sebab wanita yang tadi dia perintah tak kunjung pergi. Bahkan sekarang malah bermain ponsel.


"Bibi kok nggak pergi? Aku 'kan minta bakso tadi."


"Iya, Bibi membelinya, Bu. Tapi lewat online. Soalnya penjual bakso jauh dari sini." Bibi pembantu itu lantas berlalu pergi menuju dapur dan masih bermain hape. Setelah memesan makanan itu dia berencana menghubungi Sofyan, bertanya lebih jelas tentang wanita itu siapa.


Yuni mengambil gelas jus di atas meja, kemudian menenggaknya setengah. Setelah itu dia pun mengambil toples cookies lalu memakannya sambil menyandar.


"Enak banget jadi Maya, tinggal di rumah mewah seperti ini." Yuni menghela napasnya sambil menengadah ke lantai atas. Dia menatap takjub beberapa pintu di sana. "Wah banyak sekali pintu, apa itu adalah kamar semua? Aku mau pilih sendiri ah buat tidur nanti malam," gumamnya sambil tersenyum.


***


Sore hari.


"Siram dulu pelan-pelan rambutnya, Mas."


Rizky mengambil gayung kecil lalu mengambil air di dalam ember yang sudah dia siapkan berisi air hangat. Pelan-pelan dia menguyur rambut Jihan.


"Kasih shampoo ngapain diem?" Nella berdiri sambil menatap Rizky yang terlihat bengong. Sebenarnya dia menunggu instruksi dari istrinya.


"Ini yang mana?" Rizky menunjuk keranjang kecil yang berisi perlengkapan mandi bayi, semua botolnya terlihat sama.


"Lihat gambarnya saja. Ini 'kan ada bayi yang rambutnya berbusa." Nella mengambil salah satu botol itu kemudian menunjukkannya.


Rizky baru saja memencet botol shampoo itu, tetapi terlihat kaki Jihan nendang-nendang dan tidak bisa diam. Cepat-cepat Nella duduk dan memegangi, takut jika anaknya terjatuh.


"Jihan kelihatan seneng banget dimandiin sama aku ya, Nell. Dia ketawa terus," ujar Rizky saat melihat senyuman di bibir kecil anaknya.


"Iya, kan Daddynya sibuk terus, jadi kangen dia."

__ADS_1


"Eh lagi pada ngapain? Kok sibuk banget?" Gita tiba-tiba saja nonggol dari pintu dan itu membuat Rizky terperanjat dari duduknya.


"Dih Mama ngagetin saja, untung aku nggak jatuh." Rizki mendengus kesal.


"Jatuh juga nggak sakit, kan bangkumu kecil. Lagian kamu kenapa sih ikut-ikutan? Nella 'kan lagi mandiin Jihan." Gita melihat Rizky tengah mengusap spons mandi yang sudah berbusa ke dada anaknya.


"Aku mau bantuin, kalau sudah bisa 'kan aku yang mandiin dia sendiri."


"Ah so baik kamu, biasanya lihatin doang juga," cibir Gita.


"Dih, jahat banget Mama kalau ngomong. Mana ada aku so baik. Aku memang baik kok, Daddy yang baik. Iya nggak, Sayang?" Rizky bertanya pada Jihan dibarengi angukkan kepala. Anaknya itu hanya tertawa menanggapinya.


"Oh ya, habis mandiin Jihan ... kalian juga mandi, terus kalian bertiga pakai baju rapih. Sofyan mengundang kita makan malam di restoran," ujar Gita memberitahu.


"Tumben?" Nella mengerutkan kening. "Ada acara apa, Ma?"


Gita menggeleng. "Mama juga nggak tahu, dia tadi telepon hanya ngomong itu saja. Nanti berangkatnya bareng sama Mama dan Papa, ya?"


"Iya." Nella mengangguk, kemudian Gita berlalu pergi dari sana.


***


Di sebuah restoran mewah, milik salah satu teman Rizky. Sofyan, Maya dan Yuni masuk ke dalam sana. Sepasang suami-istri itu memakai baju senada, berwarna cream.


Sofyan memakaikan setelan jas dan dasi kupu-kupu, serta Maya memakai gaun pesta yang panjang selutut. Keduanya dan Yuni langsung duduk di kursi yang sudah Sofyan pesan sebelum datang. Mejanya terlihat besar dan banyak sekali kursi mengelilinginya.


"Sebenarnya ini ada acara apa sih, May? Kok kamu mengajak Tante makan di sini?" Yuni duduk di kursi di samping Maya, sejak tadi dia tak ada henti-hentinya menatap restoran yang cukup ramai itu. "Ini juga kursinya banyak banget. Siapa saja yang mau datang?"


"Keluarganya Ayank Sofyan, Tan," jawab Maya sambil menoleh. Sebenarnya Sofyan sendiri tak ada niat mengajak wanita bawel itu, tetapi rasanya tak enak kalau sampai tidak diajak. Sebab wanita itu juga menjadi tamu di rumahnya saat ini.


"Kok kamu nggak bilang dulu sih sama Tante? Harusnya bilang dong dari awal." Yuni menatap Maya dengan kesal.


"Memangnya ada apa?" tanya Maya penasaran.

__ADS_1


__ADS_2