Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
183. Disembur


__ADS_3

"Nella, lu kenapa? Kok seperti marah?" Rizky berjalan keluar dari kamar mandi dan mengikuti langkah kaki istrinya sampai dia juga ikut berbaring.


Nella langsung membalik tubuhnya sambil menarik selimut. Dia berbaring membelakangi Rizky.


"Dih, kok gue dikasih bokong sih?" Rizky terkekeh, lalu meremmas bokong istrinya. Nella pun segera menepis kasar tangan Rizky.


"Aku mau tidur lagi, jangan nganggu!" tegas Nella kesal sembari memejamkan matanya.


"Oh mau tidur lagi. Oke deh, gue juga mau tidur." Rizky mendekatkan tubuhnya pada wanita itu, kemudian mendekapnya dari belakang.


"Ih, Mas." Nella menggerakkan tubuhnya, memberontak jika dia tak mau bersentuhan dengan pria itu.


"Kenapa sih? Sombong banget, biasanya nggak mau jauh." Rizky tak peduli, dia masih memeluk tubuh Nella dan malah tangan nakalnya kini meraba salah satu benda kenyal itu. "Kita bercinta, yuk?" bisiknya pelan.


"Dih, ini 'kan rumah sakit dan kita sedang menunggu Papa. Mas nggak sopan banget, sih? Papa lagi sedih tahu!" ketus Nella emosi.


Rizky bergelak tawa. "Iya, iya, gue tahu. Lagian ... gue hanya bercanda kok."


Mulut doang bilang bercanda, tetapi senjata pamungkasnya yang berada di dalam celana sudah menegang, Rizky juga tengah menggesek-gesekkannya di bokong Nella.


"Kamu tidur Riz, jangan ajak Nella bercinta di rumah sakit," tegur Sofyan pelan.


Padahal Rizky tadi bicara pelan, namun rupanya Sofyan dapat mendengarnya.


"Iya, Pa. Papa tenang saja. Aku masih punya urat malu dan mengerti, masa bercinta di sini dan dihadapan Papa, sih? Papa 'kan sedang bersedih sekarang," jawab Rizky sambil terkekeh.


"Sudah, tidur sekarang," ucap Sofyan dan seketika hening.


Mereka bertiga memejamkan matanya dan terlelap oleh tidurnya.


***


Pagi hari.


Rizky mengerjapkan matanya secara perlahan dan seketika matanya membulat kala Nella tengah menyembur air di wajahnya dengan mulutnya.


Byur!


Rupanya Nella mengingat ucapan Ihsan untuk melakukan cara untuk mengusir pelet.

__ADS_1


Rizky mengusap wajahnya kasar dan bibirnya mengecap rasa asin dari air itu. Mungkin rasa asin itu adalah kombinasi dari garam dan jigong istrinya.


Matanya seketika kembali membulat kala melihat Nella tengah kumur-kumur lagi.


Nella sudah monyong hendak menyembur Rizky sekali lagi, sebab dia baru melakukannya dua kali, jadi sekali lagi.


Namun dengan cepat Rizky menutup mulut istrinya, menghentikan aktivitas gilanya.


"Lu gila apa bagaimana sih, Nell? Pagi-pagi suami malah disembur, memangnya gue kesurupan?" tanya Rizky kesal.


"Nella, Rizky, ada apa? Kok pagi-pagi kalian ribut?" tanya Sofyan pelan. Dia terbangun akibat suara Rizky yang mengusik indera pendengarannya.


Nella langsung memuntahkan air yang berada di dalam mulutnya ke dalam gelas, lantas dia pun berdiri.


"Ah, aku hanya ingin membangunkan Mas Rizky kok, Pa," kilah Nella sembari mengulas sisa air pada bibirnya.


"Membangunkan apanya?" tanya Rizky sewot, dia mengusap kasar wajahnya lalu ikut berdiri. "Membangunkan bisa dengan cara lain, tapi kenapa lu malah sembur gue pakai air? Mana asin lagi rasanya!" Merasa kesal, Rizky pun lebih memilih berlalu pergi masuk ke kamar mandi.


'Mas ... maafkan aku. Aku hanya ingin mengusir pelet Mas Rizky. Aku ingin mencintai Mas tanpa adanya guna-guna,' batin Nella.


"Nella, kenapa kamu melakukan itu? Itu nggak sopan namanya," tegur Sofyan. Dia menatap Nella yang sejak tadi berdiri dalam diam, tetapi wajahnya tampak merasa bersalah.


"Aku tadi hanya ingin mengusir ...."


Ucapan Nella menggantung kala mendengar pintu kamar itu dibuka oleh seseorang. Yang datang adalah Dokter dan Suster yang membawa meja troli berisi bubur, susu dan buah. Serta obat obat juga.


"Selamat pagi Pak Sofyan, Nona," sapa Dokter berkacamata itu sembari tersenyum hangat. Dia melangkahkan kakinya bersama Suster menghampiri Sofyan.


"Pagi juga, Dok," sapa Nella seraya tersenyum.


"Bagaimana kondisi Bapak sekarang? Apa jantungnya masih terasa sakit?" Dokter itu menempelkan stetoskop pada dada bidang Sofyan, lalu menatap layar Monitor Holter untuk mendeteksi perkembangan jantungnya.


"Masih sakit, Dok. Tapi hanya sedikit," jawab Sofyan pelan.


"Bapak masih merasakan sesak nafas, nggak? Kalau sudah tak lagi sesak ... nggak perlu pakai oksigen lagi."


"Sepertinya nggak, Dok." Sofyan menggeleng samar. "Lebih baik dilepas saja, saya juga nggak betah."


"Baik." Dokter itu melepaskan ventilator pada wajah Sofyan.

__ADS_1


"Papa memangnya nggak bisa pakai baju, Dok? Kasihan ... nanti masuk angin," ujar Nella.


"Sementara jangan pakai baju dulu, biarkan saja begini. Pak Sofyan nggak akan masuk angin, Nona. Kan pakai selimut," terang Dokter berkacamata itu sembari mengedipkan salah satu matanya pada Nella.


Nella menatap aneh, Dokter itu terlihat genit sekali. Padahal dia sendiri tak mengenalnya.


"Nanti siang saya datang lagi untuk periksa kondisinya." Dokter itu lagi-lagi tersenyum sambil memandangi Nella, kemudian beralih pada Sofyan. "Sekarang Pak Sofyan sarapan habis itu minum obat. Kalau begitu saya permisi."


"Ya, terima kasih, Dok," ucap Sofyan.


"Sama-sama." Lantas Dokter itu keluar dari kamar inap Sofyan.


"Bapak mau saya suapi?" tawar Suster seraya mendekatkan meja troli ke arah Sofyan.


"Biar aku yang menyuapi Papa, Sus." Nella segera duduk di kursi kecil, lalu mengambil mangkuk yang berisi bubur di atas meja itu.


"Oh, yasudah." Suster itu mengangguk. "Nanti setelah makan jangan lupa Pak Sofyan minum obat, Nona. Berikan masing-masing satu butir." Suster itu menyentuh tiga botol kaca yang berisi obat.


"Iya, terima kasih, Sus," ucap Nella dengan anggukan kepala.


"Sama-sama."


Setelah kepergian Suster dari kamar itu, tak lama Rizky keluar dari kamar mandi. Dia sudah rapih mengenakan setelan jas berwarna mocca, kepalanya masih memakai kupluk.


"Mas Rizky jangan kerja dong, temenin aku di sini sama Papa," ujar Nella yang seketika sendu. Padahal belum tentu Rizky mau berangkat kerja, tetapi dia malah sudah menebaknya.


"Kamu mau berangkat kerja, Riz? Papa minta tolong dulu sama kamu boleh, nggak?" tanya Sofyan.


"Minta tolong apa?"


Rizky hanya menanggapi ucapan Sofyan. Lantas dia pun berjalan mendekatinya.


"Kamu ke rumah Papa dulu, bilang sama Bibi untuk membereskan barang-barang Diana dan Dirga. Mereka mulai sekarang nggak akan tinggal di rumah Papa," ucap Sofyan.


"Oke, Pa." Rizky mengangguk, lalu mencium punggung tangan Sofyan. "Aku pergi dulu, ya. Papa cepat sembuh."


Setelah itu, Rizky pun berjalan keluar bahkan tak pamit dengan istrinya. Melihat semua itu, Nella tentu tak terima ditambah kesal. Segera dia menaruh mangkuk bubur yang dipegangnya di atas meja. Lantas berlari keluar mengejar Rizky.


"Mas jangan kerja dong!" seru Nella seraya mencekal lengan Rizky hingga langkahnya terhenti.

__ADS_1


Rizky hanya menoleh tetapi tak menjawab apa-apa, diam saja.


"Maafin aku soal tadi pagi, Mas. Maaf ...." Tanpa basa-basi Nella segera memeluk tubuh Rizky dan menciumi dada bidangnya dibalik kemeja putih. Pria tampan itu sangat wangi dan makin membuat Nella nyaman dan tak ingin jauh.


__ADS_2