Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
236. Kenapa aku memeluknya?


__ADS_3

"Iya, Papa belum menyerah. Tapi kalau Maya suka sama pria lain Papa akan menyerah. Papa takut nantinya Maya mengkhianati Papa seperti apa yang Diana lakukan, Riz." Sofyan langsung mengusap wajahnya ketika air matanya baru saja lolos, dia tak mau kembali menangis setiap kali mengingat rasa sakit itu.


"Iya, aku juga nggak bakal setuju. Tapi nanti Papa juga tanya ke Maya, siapa tahu dia mau jujur," saran Rizky.


"Papa nggak enak ah, Riz. Papa 'kan bukan siapa-siapa dia. Sama kamu saja dia nggak jujur."


"Iya, sih. Ya sudah aku tanya Hersa saja deh. Papa hati-hati di sana, ya."


"Iya, kamu juga. Sampaikan salam Papa untuk Nella dan Jihan."


"Iya, Pa."


Setelah menutup sambungan telepon itu, tak lama Aldi datang menghampirinya. Tangannya membawa selembar kertas, lalu memberikan pada Sofyan seraya duduk di kursi di depannya.


"Ini apa?" Sofyan mengerutkan keningnya, kemudian membaca isi surat itu yang ternyata adalah kontrak penandatanganan pengacara Singapura. "Kamu sewa pengacara? Untuk apa? Bukannya aku memintamu mencari identitas Maya supaya kita bisa cepat pulang, ya?"


"Identitas Nona Maya nggak ada, Pak. Sudah dilenyapkan oleh Mami Mucikari. Semalam saya sampai berantem sama salah satu anak buahnya, cuma demi meminta KTP. Tapi mereka mengatakan kalau itu sudah nggak ada, sudah mereka bakar," jelas Aldi. Dilihat pipi kirinya memang agak lebam. Tetapi hanya samar-samar.


"Terus, hubungannya sama pengacara apa? Mau laporin dia ke polisi? Katamu nanti saja kalau ada di Indonesia." Sofyan masih tak mengerti dengan tujuan anak buahnya itu.


"Memang benar, Pak. Tapi itu pengacara supaya dia membantu proses pernikahan Pak Sofyan dan Nona Maya lebih cepat. Kalian harus menikah sebelum pulang ke Indonesia," terang Aldi.


Sofyan membulatkan matanya. "Menikah? Kok gitu?"


"Iya, kalau Nona Maya menikah setidaknya dia mempunyai identitas sebagai istri Bapak. Dan itu juga sangat bagus, kan? Memang itu keinginan Bapak? Cepat menikah dengannya?"


Memang iya, tetapi itu kemarin-kemarin. Sekarang Sofyan justru ragu karena ada nama Hersa yang disebutkan oleh Maya. Dia tak mau jika Maya benar-benar adalah pacar Hersa, lalu malah dia nikahi. Itu sama saja menyakiti hati Hersa. Dia tak mau, tak mau membuat orang sakit hati karena dia juga pernah merasakannya.


"Lho kok Bapak bengong? Aku kira Bapak akan senang sampai melompat-lompat." Wajah Aldi tampak binggung melihat ekspresi wajah Sofyan yang terlihat seperti orang yang gelisah. Malah tadi sempat melamun.

__ADS_1


"Aku binggung, Di," ucap Sofyan frustasi.


"Binggungnya kenapa? Sekarang Bapak tanya sana ke Nona Maya. Semuanya sudah saya urus. Bapak nanti tinggal ijab kabul saja, dan pakaiannya juga sudah ada."


Aldi sampai begitu niat menyiapkannya. Meski memang mereka menikah karena suatu hal, tetapi itu sudah cukup membuat Sofyan bahagia. Itulah yang terlintas dalam otak Aldi.


'Apa coba kutanya dulu sama Maya, ya? Tentang Hersa. Dan semoga saja dia mau menikah denganku meski memang terpaksa karena mau pulang ke Indonesia,' batin Sofyan.


"Ya sudah, aku balik lagi ke hotel, ya. Nanti aku akan meneleponmu." Sofyan berdiri seraya membenarkan jas.


"Semoga sukses ya, Pak."


"Amin." Sofyan tersenyum. Lalu setelah itu dia pergi dari sana dan menuju kamar hotel.


***


Sofyan membuka pintu kamar hotelnya lalu menatap seorang gadis yang tengah duduk sambil memeluk lututnya di atas kasur. Gadis yang sejak tadi menundukkan kepalanya itu lantas mengangkat wajah ke arahnya hingga pandangan mata mereka bertemu.


"Pak Sofyan! Apa ini beneran Bapak?" tanya Maya dengan kening yang mengerut, tetapi wajahnya terlihat berbinar dan penuh harap.


Padahal tadi Sofyan sempat melihat wajah Maya sedih, bahkan sekarang saja masih basah seperti habis menangis. Tetapi tak berselang lama langsung sirna seketika, saat pandangan mereka beradu.


"Iya, aku Sofyan," jawab Sofyan seraya berjalan mendekati Maya. Tanpa diduga, gadis itu pun langsung turun dari tempat tidur dan secara tiba-tiba memeluk tubuhnya. Sofyan sampai terkejut dengan kedua mata yang terbelalak.


"Pak Sofyan, tolong saya, Pak. Tolong antarkan saya pulang ke Indonesia. Bawa saya pergi dari Om-om Singapura. Saya ... saya takut sekali. Saya nggak mau dijual sama dia." Maya menggelengkan kepala.


Tak berselang lama, dia pun segera melepaskan pelukannya pada Sofyan saat sudah sadar. Kedua pipinya merah lantaran malu.


'Kenapa aku memeluknya? Nggak sopan sekali aku,' batin Maya.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Saya nggak sengaja peluk Bapak. Tadi refleks saja." Maya mundukkan kepalanya dan beringsut mundur beberapa langkah.


Sofyan justru senang, sangat senang. Tetapi tak mungkin juga dia berkata jujur. Malu. "Nggak apa-apa, May. Oh ya, aku mau tanya tentang semalam, kok bisa kamu mabuk? Apa kamu dipaksa minum?"


Sofyan melangkah menghampiri Maya yang sudah duduk di atas kasur, dia pun ikut duduk di sebelahnya namun dengan jarak.


Maya termangu beberapa menit, mengingat akan kejadian yang Sofyan sebutkan.


Namun, entah mengapa dia justru mengingat akan bayang-bayang seorang pria yang tengah menindih tubuhnya. Kemudian pandangannya langsung jatuh ke arah pakaian yang saat ini dia kenakan. Dia baru sadar kalau gaun yang dipakainya semalam kini berubah menjadi sebuah kemeja putih kebesaran.


"Ini kemeja siapa?" gumamnya sambil menarik ujung kemeja di bagian pahanya, supaya tak terlalu seksi. Sebab kemeja itu panjangnya hanya sepaha. "Tapi kok bisa Bapak menemukan saya? Kok Bapak tahu saya ada di sini?" Maya mengangkat wajahnya ke arah Sofyan. Kehadiran pria itu sungguh ajaib dan membuat Maya merasa aneh.


"Itu kemejaku, May. Semalam kamu mabuk berat. Kamu sampai melepaskan gaunmu di kamar mandi dan membuka semuanya." Sofyan memalingkan wajahnya, kedua pipinya bahkan sudah merona kala ingat kejadian semalam. Tubuh Maya begitu menggodanya.


"Apa jangan-jangan Bapak sudah memperk*sa saya?"


Pertanyaan yang berupa tuduhan itu sontak membuat kedua mata Sofyan membulat sempurna, lalu dengan segera dia pun menggeleng.


"Nggak, aku nggak memperk*samu. Kamu masih gadis. Tapi ...." Sofyan menggantung ucapannya, dia ingin jujur tentang apa saja yang dilakukannya pada tubuh gadis itu, tetapi kembali dia merasa malu dan tak berani.


"Tapi apa, Pak?" Mata menatap curiga.


"Tapi kamu malah menggodaku, May. Dan kita berciuman hingga aku memberikan jejak-jejak di tubuhmu." Sofyan menatap sebentar ke arah dada Maya yang tertutup kemejanya, dan dilihat gadis itu langsung menyentuh dadanya sendiri.


"Jejak? Jejak seperti apa, Pak?" Wajah Maya seketika pucat, dia terlihat ketakutan.


"Nanti kamu bisa lihat pas mandi. Tapi kamu tenang saja ... aku nggak menodaimu, May. Kamu masih perawan. Aku bisa menjaminnya," jelas Sofyan dengan sungguh-sungguh.


"Tapi kenapa Bapak bisa ada di Singapura dan kenapa juga bisa menemukan saya?"

__ADS_1


__ADS_2