
"Memang kenapa kalau gondal gandil, Ayank? Bukannya itu lucu?" sahut Maya sambil tertawa.
"Lucu apanya? Yang ada malu. Kamu juga nggak boleh pakai baju doang, harus pakai daleman juga." Sofyan langsung mendekati Maya, tangannya hendak melepaskan pakaian istrinya tetapi dicegah.
"Nggak bakal ada yang lihat ini, udah biarkan saja. Kan kita katanya habis makan juga mau pulang."
"Langsung pulang saja kalau begitu, akunya malu, May."
"Nanti pas keluar kita langsung ke toko pakaian buat beli lagi, Ayank. Tapi aku mau makan sekarang, laper." Maya menyentuh perutnya yang sudah keroncong.
"Masalahnya itu aku beli hanya tinggal satu yang bahannya bagus, nggak ada lagi di tokonya."
"Ya sudah sih, Ayank. Nggak usah pakai cuma sebentar ini. Lagian orang juga nggak bakal ada yang nanya kita pakai daleman atau nggak."
"Iya, sih. Tapi akunya malu bagaimana?" Sofyan masih dilema, rasanya malu jika keluar tanpa memakai s*mpak tapi pakai celana. Jadi seperti nggak pakai apa-apa.
"Ah Ayank, mah. Giliran nggak pakai cd aja malu. Tapi kadang mengajakku berbuat mesum di tempat umum," sindir Maya.
"Kapan? Pas ciuman tadi? Kan aku sudah bilang khilaf. Aku juga sudah minta maaf lho, sama kamu."
"Iya, aku tahu. Ya sudah sih, Yank. Pakai saja. Ayoklah ... aku laper banget," rengek Maya dengan manja.
Suaminya itu malah masuk ke dalam kamar mandi, lalu tak lama keluar sembari membawa celana dallamnya yang terlihat basah. Maya merasa heran dengan apa yang dilakukan suaminya, kini dia tengah membuka jendela dan mengantungkan cellana dalamnya di atas sana.
"Ayank ngapain, sih? Kok gantung cd di sana?"
"Biar kering."
"Terus makan tunggu itu kering dulu? Ya lama dong, Ayank."
Sofyan menggeleng. "Nggak, kita makannya di sini saja, nanti aku keluar dulu sebentar. Aku mau minta tolong seseorang."
"Ya kalau keluar sekalian makan saja di rumah makan, kenapa harus makan di sini?" Maya mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya.
"Kamu diam dulu jangan banyak ngoceh, sekarang kamu mau makan apa? Nanti aku pesan. Sama minumnya?"
"Mana aku tahu, kan aku nggak lihat menunya."
"Hewan laut semua ada, May. Tinggal pilih saja."
"Ya sudah putri duyung goreng kalau begitu."
"Dih, mana ada putri duyung goreng?"
"Katanya semua hewan."
__ADS_1
"Ya dia nggak termasuk, lagian dia kan setengah hewan dan manusia."
"Ya sudah ... paus saja. Paus asem manis."
"Dih May, kamu jangan bercanda deh. Mana ada ikan paus asem manis?" Sofyan terlihat kesal mendengar ucapan Maya, dan sebaliknya—Maya juga kesal sebab suaminya itu tak kunjung membawanya pergi keluar.
"Ah Ayank mah ... kataku juga kita keluar saja. Lalu lihat menunya langsung. Kan kalau begini aku nggak tahu." Maya sejak tadi memukul-mukul pahanya sendiri, dia merasa gemas sekali dengan Sofyan.
"Ah ya sudah deh. Terpaksa kalau begitu." Sofyan langsung mengambil cellana dalamnya yang barusan dia jemur sebentar, lalu dia pakai. Masih basah kuyup, tetapi itu mungkin lebih baik dari pada dia tidak pakai sama sekali. Setelah itu Sofyan memakai setelan kaosnya, dan menarik lengan Maya hingga membuat wanita itu berdiri.
"Ayank serius pakai cd basah? Nanti si Jombo masuk angin bagaimana?"
"Tinggal dikerikin pas sampai rumah." Sofyan mendengus kesal, lalu mengajak Maya pergi dari sana.
"Siapa yang kerikin? Memang dia punya punggung?"
"Kamu lah yang kerik."
Saat mereka telah sampai ke pantai lagi, ada seorang bocah laki-laki yang berusia tujuh tahun tengah menertawakan Sofyan. Dia yang berjalan sambil digandeng oleh ibunya lantas menghentikan langkah ketika berpapasan dengan Sofyan.
"Mama lihat! Om itu kencing di celana," ujar bocah itu sembari menunjuk pusat tubuh Sofyan. Dia tertawa terbahak namun segera bibirnya itu dibungkam oleh ibunya.
"Maaf, ya Pak." Wanita itu tersenyum canggung lalu gegas menarik lengan anaknya untuk pergi.
Mereka berdua terlihat sama-sama heran, apa lagi Sofyan. Pria itu pun segera menundukkan kepalanya, dan sontak saja matanya melotot kala melihat celananya basah tepat dibagian ************.
"Hahaha ...." Maya tertawa, namun segera menutup bibirnya sendiri sebab takut jika Sofyan marah. Gegas Maya berlari menuju pedagang selendang, dia membeli dua berwarna hitam. Satu untuknya dan satu untuk Sofyan.
Setelah itu dia melilitkan ke pinggang suaminya. Dilihat suaminya itu membeku, wajahnya merah dengan rahang yang mengeras. Malu, kesal dan marah menjadi satu. Tetapi dia sendiri binggung untuk menyalahkan siapa, sebab tak ada yang salah disini.
"Kamu yang benar saja aku pakai selendang? Memang mau nyinden?" tanya Sofyan sambil cemberut. Maya tak menjawabnya, dia menarik tangan Sofyan begitu saja lalu mengajaknya pergi ke rumah makan terdekat.
*
"Mbak, aku mau pesan kepiting jumbo asem manisnya satu sama es kelapanya satu, ya," ujar Maya berbicara pada pelayan yang beberapa detik tadi memberikan buku menu.
"Dih, May. Jangan pesan kepiting. Makannya ribet, cari yang simpel saja."
"Katanya aku boleh pesan apa saja? Aku 'kan mau kepiting." Maya menoleh pada Sofyan dengan wajah sedih.
Sofyan membuang napasnnya. Rasanya tidak mungkin dia berdebat hanya masalah kepiting saja, lebih baik Sofyan mengalah. "Ya sudah deh."
"Bapak mau pesan apa?" Pelayan itu bertanya pada Sofyan.
"Aku cumi bakar tiga, minumnya es jeruk."
__ADS_1
"Mau pakai nasi nggak?"
"Pakai."
"Aku nasinya dua porsi, Mbak," ujar Maya sambil menunjukkan kedua jarinya ke atas.
"Serius kamu makan sebanyak itu? Memang muat?" tanya Sofyan dengan kening yang berkerut, dia tak percaya sekali wanita itu bisa menghabiskan dua piring nasi. Sebab yang dia tahu Maya makan tak pernah habis.
"Kalau nggak habis nggak masalah kok, disini nasinya banyak. Saya akan membawanya sekalian dengan tempat nasinya, biar Bapak dan Nona bisa mengambil sesuka hati," jelas pelayan itu panjang lebar.
Dia pun lantas pergi, dan berselang beberapa menit dia kembali dengan membawa pesanan mereka berdua. Dua kali bolak-balik sampai semuanya tersaji rapih di atas meja.
Setelah mencuci tangan pada air kobokan di dalam mangkuk, Sofyan langsung makan. Makan makanan seperti itu memang lebih enak memakai tangan langsung, biar lebih terasa nikmatnya.
Maya membuka kepiting itu dari cangkangnya, kemudian mengambil capitnya. Dia mengerutkan keningnya binggung, sebab cangkang capit itu belum ada yang terbelah dan terlihat sekali kalau itu keras.
"Ayank ... aku mau makan daging capitnya, ini bagaimana bukanya?" Maya memberikan capit itu pada Sofyan yang tengah makan. Pria itu pun segera mengambilnya dan memerhatikan capit itu.
"Bisanya sudah dibelah cangkangnya kok ini belum?" Sofyan menarik tubuhnya sedikit, lalu melambaikan tangannya pada pelayan tadi. Dan tak lama wanita itu menghampiri.
"Ada apa, Pak?" tanya pelayan itu.
"Ini kok belum dibelah? Istriku susah makannya dong, Mbak."
"Tunggu sebentar ya, Pak. Saya ambil alat pemotong cangkang capitnya dulu." Wanita itu membungkuk sopan, kemudian berlalu pergi. Selang beberapa menit—dia pun kembali dengan wajah kecewa. "Maaf, Pak. Alat pencapitnya semuanya rusak," ujarnya.
"Rusak?" Alis mata Sofyan bertaut. "Terus ini bukanya bagaimana? Keras lho ini." Sofyan menekan-nekan cangkang kepiting itu, dilihat Maya sudah menelan ludah. Dia sangat ingin makan daging dari capit itu.
"Pakai gigi saja, Pak."
"Gigi? Kamu gila? Keras begini masa pakai gigi? Rontok dong gigiku!" sungut Sofyan.
"Dicoba dulu saja, Pak," usul pelayan itu lagi.
"Iya, Ayank. Dicoba." Maya ikut-ikutan.
"Dih, terus kalau gigiku rontok beneran bagaimana? Ompong dong, May." Sofyan berdecak. Bahkan belum apa-apa mendadak gigi dan gusinya terasa ngilu saat melihat capit kepiting itu.
__ADS_1
"Kan ada gigi emas, nanti Ayank pasang gigi emas saja."