Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
192. Takut film horor


__ADS_3

Gita yang baru saja selesai dari toilet segera menghampiri menantunya yang telah selesai memesan tiket.


"Sudah belum Nell?" tanya Gita.


"Sudah, Ma. 10 menit lagi filmnya akan dimulai."


"Yasudah, ayok kita bilang ke Papa dan Rizky," ajak Gita seraya mengandeng tangan menantunya, lalu mereka pun berjalan sama-sama menghampiri Rizky dan Guntur.


"Ayok, Mas ... Pa. 10 menit lagi filmnya akan dimulai," ucap Nella yang mana membuat dua pria itu bangkit dari duduknya.


"Kita nonton film apa? Romantis yang banyak adegan ciuman dan ranjangnya, kan?" tebak Rizky sumringah.


"Bukan, nanti Mas dan Papa juga tahu. Ayok kita masuk." Nella langsung menggandeng tangan Rizky, mengajaknya masuk ke dalam bioskop.



Banyak beberapa orang yang ikut menonton film bersama mereka. Mungkin 20 orang terhitung dari mereka berempat.


Mereka berempat segera duduk di kursi merah di depan, sebab Nella sendiri memesan kursi yang paling depan supaya lebih jelas saat menonton.


Barisannya adalah Nella, Rizky, Guntur, dan Gita.


Namun, entah mengapa mendadak perasaan Guntur tidak enak, seluruh wajahnya berkeringat dan mendadak ada takut apalagi disaat lampu ruangan itu diredupkan.


Kini pencahayaan di ruangan itu hanya bersumber dari proyektor yang dipantulkan ke depan layar layar. Sekarang tiba saatnya film itu dimulai.


Bukannya langsung menyaksikan, Guntur malah sibuk menoleh ke kanan dan kiri. Pertama pada Rizky dulu, terlihat anaknya itu tengah serius menonton. Selanjutnya dia menoleh pada Gita, wanita itu sama seriusnya seperti Rizky, tetapi sambil mengunyah popcorn yang berada di tangannya.


"Kita nonton film apa, Ma?" tanya Guntur seraya mendekatkan bibirnya ke telinga Gita, suara film itu cukup keras, jadi takutnya tidak dengar.


"Mama juga nggak tahu, Pa. Kita nonton saja, nanti pasti tahu," jawab Gita tanpa menoleh.


"Tapi perasaan Papa kok nggak enak ya, Ma? Ini bukan film horor, kan?" tanya Guntur dengan suara yang bergetar.


Gita membulat matanya, lalu menatap heran pada Guntur. "Memangnya Papa takut film horor?"


Gita sendiri tak tahu, sebab sedari dulu hanya film romantis yang menjadi tontonan mereka dari semasa muda hingga sekarang.


"Iya, Papa takut, Ma." Guntur mengangguk cepat.


"Mungkin bukan, Pa. Masa ibu ha ...."

__ADS_1


"Aaakkkhhh Setan!" pekik Rizky dengan lantang hingga membuat kedua orang tuanya melihat ke arah layar depan.


Seketika mata Guntur terbelalak, saat melihat seorang wanita berambut panjang dengan wajah yang dipenuhi darah dan begitu menyeramkan memenuhi layar besar itu.


Seperti halnya dengan Rizky tadi, Guntur juga ikut memekik ketakutan.


"Setan!!" Guntur dengan refleks memeluk tubuh Rizky dan begitu pun sebaliknya. Kedua pria dewasa itu benar-benar tak punya nyali untuk menonton film horor.


"Apa Papa lihat tadi? Matanya hilang satu, Pa," ucap Rizky.


"Papa lihat wajahnya banyak codetnya, Riz. Mana serem banget lagi," ucap Guntur.


Mereka berdua mengungkapkan apa yang tadi dilihatnya, tentu tubuh keduanya langsung bergetar hebat. Ditambah cekikikan seorang wanita yang amat menggelegar di film itu.


"Hihihi ...."


Para menonton yang lain melihat ke arah Rizky dan Guntur sebentar, lalu mereka meneruskan untuk menonton film yang menurutnya seru.


Nella menoleh pada mereka berdua, kini keduanya saling berpelukan dengan mata terpejam.


"Mas dan Papa takut sama film horor?" tanya Nella dengan polosnya. Padahal dia sendiri yang mendengar kalau dua pria itu sudah menjerit ketakutan, sudah pasti itu adalah tanda kalau mereka berdua memang takut.


Rizky dan Guntur langsung melepaskan pelukannya masing-masing dan duduk seperti semula. Hanya keduanya masih sama-sama merem.


"Oh, kalau Mas Rizky bagaimana?" tanya Nella seraya menarik kedua tangan Rizky yang sejak tadi menutupi kedua telinganya sendiri. Pria tampan itu juga memejamkan mata.


"Gue juga nggak takut, gue hanya nggak suka saja, Nell," jawab Rizky dengan gelengan kepala.


"Tapi kenapa kalian berdua merem? Kok nggak nonton filmnya? Ini seru tahu, Mas ... Pa."


Guntur dan Rizky langsung membuka matanya dengan lebar, tetapi keduanya menatap wajah Nella.


"Ini nggak," jawabnya berbarengan. Mereka itu gengsi, padahal apa susahnya jujur.


"Nella," panggil Gita seraya bangkit sedikit.


"Iya, Ma?"


"Kalau ada adegan yang sadis, kamu tutup mata, ya?"


"Kenapa memangnya?"

__ADS_1


"Turuti saja ucapan Mama."


Nella mengangguk. "Iya, Ma." Setelah itu, dia pun melanjutkan untuk menonton film.


Guntur menyentuh dadanya, detak jantungnya terasa berdebar begitu kencang.


'Bisa-bisa aku terkena serangan jantung seperti Sofyan, lebih baik aku keluar dari sini saja deh.'


Guntur hendak mengangkat bokongnya, sudah pasti dia akan memilih untuk pergi dari tempat menakutkan itu. Namun sialnya lengan Rizky menghalanginya untuk bangun.


"Papa mau kemana?" tanya Rizky seraya mendekati tubuh papanya.


"Papa mau keluar, takut tahu, Riz. Nanti malam bisa-bisa Papa nggak bisa tidur."


"Jangan keluar, temenin aku disini, Pa. Aku juga takut."


"Kalau kamu takut, ikut keluar saja dengan Papa, ayok." Guntur memegang lengan Rizky, mencoba melepaskan penghalang untuk dirinya bangun.


Rizky menggeleng cepat. "Jangan, Pa. Masa Papa dan aku tega meninggalkan Mama dan Nella berdua nonton film horor? Kita 'kan pria, Pa."


"Tapi mereka berdua 'kan nontonnya nggak cuma berdua doang, tapi banyakan." Guntur mendongakkan wajahnya ke arah kursi belakang, di mana penonton yang lain berada.


"Iya, sih. Tapi aku nggak enak sama Nella, masa aku meninggalkan dia. Kan dia harus berada di sampingku, Pa."


"Terserah kamulah, Papa mau keluar saja." Guntur merasa lelah, di tambah dia juga ingin sekali kencing.


Guntur mendorong tangan kiri Rizky yang sejak tadi menahan pahanya, dan setelah terlepas—dia pun bergegas berlari menuju pintu keluar.


"Bapak mau ke mana?" tanya seorang pria berbadan kekar yang menghampiri Guntur, suaranya yang agak tinggi itu membuat Guntur terperanjat lalu menoleh kepadanya.


"Saya ingin keluar, Pak." Guntur menurunkan handle pintu, namun sayangnya pintu itu susah dibuka sebab dikunci.


"Bapak nggak boleh keluar sebelum filmnya selesai," ujarnya.


Setelah diperhatikan—ternyata pria berbadan kekar itu memakai seragam dan dia orang yang sama saat memeriksa mereka masuk ke dalam bioskop.


"Tapi saya mau kencing, Pak." Guntur menyentuh perut bagian bawahnya, dia benar-benar ingin buang air kecil.


"Bapak jalan sana ke ruangan yang berada di sana." Pria itu menunjuk sebuah ruangan yang berada diujung. "Di sana ada toilet pria dan wanita, Pak."


"Tapi saya ingin kencing diluar saja, Pak."

__ADS_1


Sebenarnya hal yang diinginkan Guntur adalah keluar dari ruangan itu, tetapi sangat susah sekali.


"Peraturan di sini tidak boleh keluar sampai filmnya selesai, Pak. Bapak boleh menunggu, mungkin sekitar sejam setengah lagi."


__ADS_2