Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
57. Tahan sedikit lagi


__ADS_3

Mobil yang mereka tunggu akhirnya mulai terlihat. Mobil merah yang melaju dengan kecepatan sedang itu langsung Ali berhentikan.


Ternyata, Nella tidak berangkat sendiri. Ada bodyguardnya di belakang, menaiki motor gede, berjumlah dua orang. Mereka ikut berhenti melihat mobil Nella berhenti.


"Bapak mau apa, ya? Jangan macam-macam!" Salah satu bodyguard Nella dengan sigap berlari menghampiri Ali yang tengah mengetuk kaca mobil Nella. Nella yang berada di dalam, kemudian menurunkan kaca.


"Tidak, saya tidak macam-macam. Tolong bantu pria yang terkapar di sana." Ali berakting sekhawatir mungkin. Jari telunjuknya menunjuk ke arah Aldi yang tengah menyangga kepala Rizky pada pahanya.


"Dia seperti habis dirampok, dia pingsan," imbuhnya lagi mengarang.


Nella turun dari mobil, ingin melihat orang yang dimaksud Ali. Netranya seketika membola saat melihat siapa pria itu. Ia memang membenci Rizky. Namun, melihat kondisinya seperti itu—tak mungkin ia tega membiarkannya.


"Pak Rizky!" ucap Nella dengan lantang. Ia berlari menghampiri Rizky yang masih pura-pura pingsan.


Tentunya, pria itu tau Nella menghampirinya. Rasanya, ia ingin tersenyum dan bersorak. Tetapi berusaha ditahan.


"Nona kenal dia?" tanya Aldi yang ikut berakting, menatap Nella yang tengah menyentuh lubang hidung Rizky. Memastikan jika suaminya itu masih bernafas.


"Kenal, dia Pak Rizky. Tolong bawa ke mobil saya, Pak. Saya akan mengantarnya ke Dokter." Nella berlari lagi ke mobilnya, membukakan pintu untuk Aldi yang mengangkat tubuh Rizky masuk ke dalam.


'Apa dia mencemaskan gue?' batin Rizky.


"Nona, bukankah Pak Rizky dilarang bertemu Nona?" Salah satu bodyguard Nella mengingat akan perintahnya dari Angga.


"Memang iya, tapi kondisinya genting. Nanti kalau dia kenapa-kenapa bagaimana? Aku bisa dimarahi Papa!"


Nella hendak masuk ke kursi kemudi. Namun, dicegah oleh bodyguard tadi.


"Biar saya yang menyetir, Nona temani dia di belakang."


"Iya." Nella mengangguk. Ia membuka pintu dan duduk di kursi belakang. Lantaran kursi itu tak muat, Nella terpaksa menyangga kepala Rizky pada pahanya.


Bodyguard itu langsung menyalakan mobil Nella dan mengendarainya. Meninggalkan Ali dan Aldi.


Di dalam perjalanan, Rizky masih pura-pura pingsan. Padahal, ia sebenarnya ingin melihat kecemasan yang terlihat dari wajah istrinya yang jutek itu.


'Pasti wajahnya tambah cantik saat cemas.' batin Rizky.


"Pak maaf, tolong ambilkan ponselku di dasbor," pinta Nella.


Bodyguard itu mengambilnya. Kemudian berbalik badan untuk memberikan ponsel itu pada pemiliknya.

__ADS_1


Nella gegas menelepon Gita. Sebab hanya beliau, orang pertama yang harus tau tentang Rizky.


"Halo Mama, Pak Rizky pingsan," ujar Nella saat sambungan telepon itu terhubung.


"Apa?!" pekik Gita dengan lantang. Ia tak tau menahu tentang rencana Rizky dan Sofyan. Tentunya itu membuatnya panik. "Kok bisa pingsan? Kenapa?"


"Aku juga nggak tau awal mulanya, tapi aku menemukan Pak Rizky sudah terkapar di jalan, Ma. Dia pingsan dan kondisinya babak belur. Orang yang menemukannya bilang, dia seperti habis di rampok," terang Nella.


"Astaghfirullah Rizky, kasihan sekali kamu. Mau bawa ke mana Rizky, Nell? Mama akan menyusulmu."


"Rumah sakit Harapan, Ma. Kita ketemu di sana, ya?"


"Iya, kamu hati-hati di jalan."


Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Nella kembali menghubungi seseorang. Yaitu Indah.


"Halo Indah. Maafkan aku, sepertinya hari ini aku nggak jadi mengajak kamu pergi lagi," ucapnya saat panggilan diangkat oleh Indah.


"Lho, kenapa memangnya? Padahal aku sudah siap-siap."


"Ada sedikit masalah. Nanti kapan-kapan saja ya, Ndah. Tolong maafkan aku," ucap Nella tak enak. Untuk kedua kalinya, ia membatalkan permintaan sang teman.


"Ya sudah Nell. Semoga masalahmu cepat selesai, ya?"


*


*


*


Sesampainya di rumah sakit, pria berbadan kekar itu mengangkat tubuh Rizky, membawa pria tampan itu menuju ruang UGD. Sebab, Rizky belum sadarkan diri.


"Nella! Bagaimana kondisi Rizky?" Gita berkata sambil berlari menghampiri Nella yang baru saja duduk di depan ruang UGD. Wanita paruh baya itu ikut duduk di samping menantunya.


"Aku nggak tau, Ma. Pak Rizky masih di periksa Dokter." Nella menoleh sebentar pada ruang UGD. Lantas beralih menatap Gita dan mengusap pelan punggung tangannya.


Nella merasa kasihan dan iba, melihat sang mertua yang sudah berkaca-kaca mengkhawatirkan kondisi anaknya.


"Mama tenang, ya? Pak Rizky pasti baik-baik saja," ucap Nella seraya tersenyum manis.


"Amin. Mama takut dia kenapa-kenapa. Dia pasti stres gara-gara ditinggalin sama kamu, Nell. Kamu pulang, ya?"

__ADS_1


"Ah, aku ...." Nella dengan cepat bangkit dari duduknya. Namun Gita tak kalah cepat memegang kedua tangan menantunya.


"Nella, jangan cerai dengan Rizky. Mama mohon .... kembalilah," pinta Gita dengan wajah memelas.


"Mama, maafkan aku. Pernikahanku dan Pak Rizky sepertinya ...."


Ucapan Nella terhenti saat pintu UGD itu dibuka oleh Dokter pria berkacamata.


"Keluarga Rizky Gulemang?" tanyanya.


"Saya ibunya, Dok." Gita berdiri dan langsung mengenggam tangan Nella, takut jika menantunya akan pergi meninggalkannya. "Bagaimana kondisi anak saya?"


"Dia hanya lebam dibagian wajah, seperti habis dipukuli. Tapi keadaannya masih belum sadarkan diri. Sementara ... Pak Rizky akan dipindahkan di ruang inap dulu ya, Bu. Wajahnya sudah saya beri obat, tinggal tunggu bangun dari pingsan saja," terang Dokter menjelaskan.


"Baik, Dok."


"Ada apa dengan Rizky?" tanya seseorang yang baru saja datang. Nella berbalik badan dan melihat ke sumber suara. Orang itu adalah Sofyan. Ia datang bersama Guntur.


Sofyan langsung memeluk tubuh Nella dan mencium keningnya. "Nella, Papa kangen sama kamu, bagaimana kabar kamu, Sayang?"


Suara Sofyan amat lembut. Nella sampai heran dibuatnya. Sudah lama sekali sang papa tak pernah berkata selembut ini. Mungkin terakhir saat berbicara mengenai Diana yang baru datang ke rumahnya.


"Aku baik, Papa bagaimana?" tanya Nella kembali.


"Papa juga baik, Papa sudah dua hari nggak bisa tidur, memikirkan kamu terus," jawabnya lirih. Sofyan melepaskan pelukan itu dan merangkul bahu Nella. "Maafkan Papa jika selama ini selalu kasar padamu, Papa sayang sama kamu, Nella."


Sofyan mengajak Nella berjalan menuju kamar inap, berbarengan dengan Guntur, Gita dan Rizky yang berbaring di atas tempat tidur.


Rizky sudah mulai gelisah, sedari tadi ia memejamkan mata dengan posisi seperti itu. Tubuhnya terasa pegal, tapi masih berupaya untuk menahannya untuk tidak bergeser.


'Tahan sedikit lagi, Riz. Nanti Nella bisa-bisa pulang.' batin Rizky.


Tibanya di kamar itu, Sofyan juga kembali mengajak Nella yang masih ia rangkul untuk masuk ke dalam.


Guntur duduk di kursi kecil di samping Rizky, sedangkan Gita berdiri dan menciumi rambut anaknya.


"Bangun, Riz. Kenapa kamu pingsan terus dari tadi?" Gita sedih bercampur kesal. Ia juga merasa sangat cemas lantaran anaknya tak kunjung sadarkan diri. Gita membuka tas jinjing miliknya. Kemudian, mengambil botol minyak angin.


Gita membaluri minyak angin itu ke leher, dahi, hidung, kedua tangan dan kaki Rizky. Tidak lupa ke perutnya juga. Mungkin dengan kehangatan minyak angin, Rizky bisa segera sadar.


Tapi salah, bukan hangat yang Rizky dapatkan. Justru panas. Gita terlalu banyak memberikan minyak angin itu pada tubuh Rizky.

__ADS_1


...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...


...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...


__ADS_2