Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
293. Sabar dulu


__ADS_3

Keesokan harinya.


Tok ... tok ... tok.


Ketukan pintu dari luar kamar membuat dua insan yang tengah bermain kuda-kudaan itu terhenti. Terlihat Sofyan berdecak kesal lalu mencabut miliknya dan bergegas mengambil pakaian di dalam lemari.


"Siapa, sih? Gangguin aja orang yang lagi nyetak anak!"


Sebenarnya Sofyan dan Maya tidak bercinta sampai pagi, semalam saat Sofyan mencapai dua kali ronde barulah mereka selesai dan tidur.


Namun, paginya Sofyan teringat kalau hari ini adalah hari libur. Jadi dia memutuskan untuk mengajak Maya kembali bercinta.


Wanita yang kini tengah menutupi tubuh polosnya itu dengan selimut terlihat begitu letih, keringat pada seluruh wajahnya begitu banyak. Tetapi untuk menolak ajakan Sofyan dia enggan, sebab dia sendiri benar-benar menikmati permainan suaminya yang perkasa itu.


Ceklek~


Sofyan membuka pintu kamarnya, dan terlihat Yuni berdiri di depan. Dia memakai jaket dan celana jeans panjang, tampak begitu rapih tidak seperti biasanya.


"Maaf kalau Tante menganggu kalian." Yuni menatap sebentar ke arah kasur, ada Maya yang tengah berbaring. "Tapi ini sudah siang, Tante ingin pulang, Sofyan. Apa kamu nggak bisa antar Tante?"


Napas Sofyan terdengar terengah-engah. "Tante mau pulangnya sekarang? Ya sudah ... nanti aku telepon Ali untuk antar Tante."


"Kok nyuruh orang lain lagi? Kamu dong, kan kamu yang suaminya Maya. Memang nggak mau ketemu Om Darus? Silaturahmi gitu?"


"Eemm ...." Sofyan terdiam sejenak, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya sudah deh, Tante tunggu dulu, ya? Aku mau mandi dulu sebentar."


Yuni mengangguk. "Iya, jangan lupa sama ucapanmu kemarin malam juga, ya? Tante tunggu."


"Oke." Sofyan menutup pintu saat Yuni pergi, lalu dia pun berjalan menuju kamar mandi.


"Nggak dilanjutin Ayank?" Pertanyaan Maya langsung menghentikan langkah kaki Sofyan yang baru saja membuka handle pintu. Lantas pria itu menoleh.


"Udahan dulu saja, May. Nanti lanjut lagi. Aku mau antar pulang Tantemu ke Karawang."


"Padahal tanggung, lagi enak-enaknya. Ya sudah ... aku ikut kalau begitu." Maya pelan-pelan menarik tubuhnya untuk bangun, lalu menjatuhkan kedua kakinya di lantai. Perlahan dia berjalan, langkahnya terlihat begitu pelan sebab dia merasakan inti tubuhnya nyeri.


"Kamu kenapa?" Sofyan menghampiri Maya, lalu merangkul bahunya, dilihat istrinya itu tengah meringis sambil menutupi inti tubuhnya yang polos. "Kalau lemes kamu nggak usah ikut, di rumah saja."


"Aku nggak lemes kok, cuma milikku perih saja," elak Maya sambil menggeleng.

__ADS_1


"Apa aku mainnya kasar? Maafkan aku, May." Sofyan mengendong Maya sebab rasanya Maya begitu lama masuk ke dalam kamar mandi, lalu mereka pun sama-sama masuk ke dalam bathtub.


"Ayank 'kan kalau tiap kelonan memang kasar."


"Masa, sih? Tapi enak, kan?"


Wajah Maya seketika merona, dia pun memalingkan wajah.


"Bilang enak saja kamu mah malu-malu. Aku tahu kok enak, buktinya kamu semalam keluar sampai enam kali." Sofyan terkekeh lalu memutar kran air di atas bathtub.


"Kata siapa enam? Orang empat," elak Maya.


"Masa? Bukannya enam? Semalam kamu nambah lagi dan tadi pagi sudah sekali."


"Kan bareng sama Ayank."


"Pagi ini aku belum keluar lho."


"Ya sudah lanjut lagi di sini." Maya menangkup kedua pipi Sofyan, lalu meraup bibirnya. Tetapi pria itu langsung melepaskan ciuman.


"Jangan sekarang, kan kita mau pergi. Nanti malam saja dilanjut lagi."


"Kalau nanti malam pasti lama, Ayank. Bagaimana kalau habis mengantar Tante saja?"


"Oke." Sofyan mengangguk.


Mereka kini sudah menaiki mobil Sofyan, pergi menuju kampung halaman Maya. Tetapi bukan Sofyan lah yang menyetir, melainkan Ali. Sebab Sofyan sendiri merasa malas untuk menyetir, dan yang terpenting dia dan Maya ikut mengantar Yuni pulang.


Wanita itu duduk di samping Ali, sedangkan Sofyan dan Maya di belakang.


Maya menoleh pada Sofyan yang tengah menatap jendela mobil, memerhatikan beberapa kendaraan yang lalu lalang. Sorotan matanya langsung tertuju pada celana berbahan kaos yang Sofyan kenakan. Pria itu memakai setelan kaos berwarna hitam.


Di bawah sana terlihat begitu mengembung dan entah mengapa tangan Maya menjadi nakal hingga sudah merabanya.


"Eh, May. Kamu ngapain?" Sofyan sontak terbelalak, dia langsung menoleh pada Maya yang tengah memasukkan tangan kanannya ke dalam celana. Mungkin sedikit lagi menyentuh si Jombo yang tengah tertidur. Cepat-cepat Maya menarik tangannya kembali saat kepergok oleh pemiliknya, lalu dia pun memalingkan wajahnya yang sudah terlihat merah. Dia seperti merasa malu.


"Ada apa, sih?" Yuni memutar kepalanya ke belakang, suara Sofyan yang cukup keras membuat wanita yang sempat tertidur itu akhirnya bangun.


"Nggak apa-apa, Tan," jawab Sofyan sambil tersenyum. Yuni hanya mengangguk kecil lalu kembali melihat ke arah depan.

__ADS_1


Sofyan menarik tubuh Maya hingga membawanya ke dalam dekapannya. Kemudian mencium puncak rambutnya.


"Kamu ngapain tadi? Kok tiba-tiba nakal begitu?" tanya Sofyan berbisik.


Maya hanya menjawabnya dengan gelengan kepala, tetapi tangannya perlahan mengenggam tangan Sofyan.


"Nggak tahan mau dicolok lagi?" tebak Sofyan pelan sambil terkekeh. "Sabar dulu, ya? Ini baru dijalan, belum sampai."


Sementara itu di rumah Rizky.


"Kamu baru bangun, Nell?" tanya Gita yang baru saja melihat menantunya keluar dari kamar. Sudah jam 10 menjelang siang tetapi Nella baru bangun tidur.


Nella mengangguk, lalu membereskan rambutnya. Dia terlihat sudah mandi, begitu cantik mengenakan dress panjang kotak-kotak. "Iya, Ma. Aku kesiangan."


"Perasaan ... akhir-akhir ini Mama lihat kamu kalau bangun tidur siang mulu?" Gita berjalan beberapa langkah untuk mendekati Nella, kemudian menangkup kedua pipi wanita itu dan memerhatikan wajahnya. Meskipun Nella memakai riasan make up yang cukup tebal, tetapi wajahnya terlihat pucat. "Wajah kamu juga Mama perhatiin seperti pucat. Mama dengar kamu sering mual-mual. Kamu ada sakit apa sebenarnya?"


"Aku cuma magh, Ma."


"Masa nggak sembuh-sembuh? Kamu terakhir periksa 'kan sudah seminggu yang lalu." Gita mengerutkan keningnya, wajahnya terlihat begitu khawatir melihat Nella. Wanita itu juga tampak lebih kurus. "Apa mungkin ada penyakit yang serius? Mending sekarang kita ke dokter saja. Kita periksa lagi."


Nella menggeleng cepat. "Nggak perlu, asam lambungku cuma lagi naik. Tapi nanti juga sembuh sendiri. Aku juga rutin minum obatnya, Ma."


"Ya mungkin obatnya yang nggak cocok. Sudah ayok ... Mama antar priksa sekarang." Tiba-tiba saja Gita menarik lengan Nella, lalu membawanya turun dari anak tangga.


Sorotan mata wanita itu berkeliling mencari keberadaan Rizky dan Jihan, sejak bangun tidur dia tak melihat suami dan anaknya.


"Jihan dan Mas Rizky ke mana, Ma?"


"Rizky sama Jihan pergi dengan Papa."


"Ke mana?"


"Ke taman, mereka katanya mau jalan-jalan bertiga." Gita membuka pintu mobil Aldi yang kebetulan ada di sana, lalu memaksa Nella untuk masuk.


Aldi yang tengah mengobrol dengan satpam rumah Rizky bergegas menghampiri mobilnya, lalu ikut masuk saat melihat Gita masuk ke kursi belakang.


"Jalan, Di. Kita ke rumah sakit!" titah Gita lalu segera dianggukan oleh Aldi. Pria itu lantas menyalakan mesin mobilnya dan mengemudi.


Mendadak keringat di daerah dahi Nella mengalir, kedua tangannya tiba-tiba saja dingin.

__ADS_1


"Ma, aku ke rumah sakitnya bareng Mas Rizky saja. Biar dia yang antar," ujar Nella gugup.


"Kan Mama sudah bilang Rizky pergi ke taman. Lagian memang kenapa kalau sama Mama? Kamu nggak seneng?"


__ADS_2