
"Halo Fras, Leo ada dimana sekarang?" tanya Burhan dalam sambungan telepon.
"Biasa gua lagi di warung kopi Bi Sarijem janda bodong, ada apa Leo tumben telepon gua!?" jawab Fras dengan batang roko yang masih di isapnya.
"Gue butuh bantuan loe buat cari Dinda," pinta Burhan pada Fras.
"Ya elah loe, Dinda kabur lagi?" tanya Fras ketawa terbahak-bahak.
"Fras jangan bercanda lah lu, gue butuh bantuan loe sekarang," ucap Burhan sedikit bernada tinggi.
"Loe sih, makanya punya bini tuh di pasung. Biar enggak kabur-kaburan," ucap Fras menertawakan sahabatnya.
"Pokonya sekarang loe cari Dinda, gue takut jika dia melapor pada polisi. Berabe urusan ya," desak Burhan pada Fras.
"Bukanya loe udah ngancam dia. Biar enggak lapor polisi? Dia enggak bakal nekat!" ucap Fras. Begitu angkuh.
"Ini situasinya beda, Dinda cenderung melawan!" jawab Burhan mengusap kasar wajahnya.
"Ya, sudah sekarang gue cari bini loe. Asal loe kasih gue duit gimana?" syarat Fras terlontar begitu saja.
"Oke."
Saat itu panggilan telepon pun dimatikan oleh sebelah pihak.
"Euh, dasar si botak biadab. Main mati-matiin telepon." Gerutu Fras menatap layar ponselnya, ia bergegas menaiki motor untuk mencari Dinda.
"Ehhhhh, Bang Fras. Kopinya bayar dong, jangan main kabur aja," teriak Bi Sarijem pada Fras yang sudah menaiki motor, menyalakan suara mesin motor.
Lelaki berambut gondrong itu membalikkan wajah, seraya menjawab." Nanti di sun bayarnya."
"Ih Najis." jawab Bi Sarijem.
Fras pun pergi dengan mengendarai motornya untuk segera mencari Dinda. Begitu pun dengan Burhan yang bergegas mengganti baju dan mencari keberadaan sang istri.
**************
Sesaat di dalam masjid, Lina terbangun dari tidurnya ternyata hari sudah siang.
"Ka, Lina lapar," ucap gadis kecil itu menekan perut dengan tangannya.
Dinda merogok tas yang terdapat dompet di dalamnya, sesaat membuka dompet itu. Ternyata tidak ada uang sepeser pun. Hati Dinda kian rapuh, melihat adiknya kelaparan.
"Ade sabar dulu ya. Sekarang kita ke luar cari makan!" jawab sang kakak yang berbohong.
Pengurus masjid tiba-tiba datang membawa keresek putih yang berisi nasi uduk.
"Kalian kenapa? Ko bisa tidur di masjid?" tanya sang pengurus masjid.
Dinda pun menjawab," maaf pak. Kami cuman ingin berteduh saja di sini. Kebetulan kami sudah tidak mempunyai tempat tinggal. Sekarang kami juga mau pergi ko!"
Pengurus masjid yang sudah tua itu bertanya." Apa kalian sudah makan?"
Dinda menggeleng-gelengkan kepala.
"Kebetulan sekali bapak punya nasi lebih, ini buat kalian," ucap lelaki tua itu menyodorkan keresek putih kepada Dinda.
"Ayo terima, jangan takut. Bapak ikhlas," ucap pengurus masjid itu.
Dinda merasa senang pertolongan Allah selalu ada. Di tengah kesulitan apa pun.
"Terima kasih pak."
"Sama-sama, bapak pamit untuk pulang dulu neng!"
"Ya pak."
Di balik pintu masjid Haikal menatap Dinda yang tengah memakan nasi uduk yang di berikan oleh pengurus masjid itu. Haikal hanya bisa melihat dari kejauhan tanpa bisa mendekati Dinda saat itu.
__ADS_1
"Den, sudah saya berikan nasi uduknya."
"Terima kasih ya pak!"
"Sama-sama, saya pamit pulang dulu."
"Ya, pak."
Dinda untung saja aku melihat kamu saat berangkat ke masjid menunaikan Shalat subuh, gumam hati Haikal.
Lina merasa senang menyuapkan nasi ke mulut membuat perutnya tidak merasakan lagi kelaparan.
"Untung saja masih ada orang baik ya Ka," ucap Lina. Tersenyum penuh kebahagiaan.
Dinda mengusap lembut kepala Lina," ya. Kita harus selalu bersyukur."
Hati Haikal sudah tak sabar ingin mendekat kearah Dinda, membawa wanita berambut panjang itu untuk melapor pada polisi.
"Apa sekarang waktu yang tepat, kalau aku menjauh seperti ini. Dinda akan terus menderita." Ucap Haikal, hatinya seakan ragu ingin menghampiri Dinda saat itu.
"Aku harus berani demi kebaikan dia juga." Langkah kaki Haikal melangkah menghampiri kedua wanita yang tengah mengobrol.
"Dinda?" panggil Haikal.
Dinda berbalik arah, ia tampak syok melihat lelaki di hadapannya. "Pak H-aik-al."
"Tenang, kamu enggak usah takut, Dinda. Aku di sini ingin menolong kamu," ucap Haikal.
"Ka, lelaki itu mau menolong kita," timpal Lina. Menggoyang-goyangkan tubuh Dinda.
"Dinda beri aku kesempatan untuk bisa menolong kamu," ucap Haikal.
"Untuk apa kamu menolong saya pak, tidak ada untungnya kamu menolong saya? Saya hanya wanita miskin!" ucap Dinda menangis, merendahkan diri.
"Dinda, bagaimana pun kamu miskin. Kamu masih punya harga diri, aku tidak mau melihat wanita di perbudak oleh laki-laki. Dan di siksa semena-mena," jawab Haikal. Kedua matanya membulat. Urat lehernya mulai terlihat, ia tidak suka dengan ucapan Dinda yang merendahkan diri sendiri.
Dinda menarik lengan adiknya," Lina kamu apa-apaan."
Lina masih duduk memohon kepada Haikal, saat itulah, Haikal meraih pundak Lina untuk segera berdiri. Seraya berkata," adik kecil. Kaka akan bantu kamu. Kaka tidak akan minta balas budi kalian."
"Terima kasih, ka."
Dinda masih tersipu malu, dengan Lina yang seperti itu. "Maafkan adik saya pak."
"Sekarang kalian ikut denganku, kita akan melaporkan semuanya. Sebelum Suamimu menemukan keberadaan kalian berdua," ajak Haikal untuk segera pergi ke kantor polisi.
"Pak Haikal saya takut," ucap lirih Dinda.
"Jangan takut Dinda, setelah ini kamu akan merasakan ketenangan dan keadilan harga diri seorang wanita," jawab Haikal. Membuat Dinda lambat laun yakin.
"Ayo ka, kita ikut dengan Kaka itu," ujar Lina menarik tangan kakaknya.
Dinda baru saja menemukan lelaki yang begitu peduli pada dirinya, dari awal bertemu sampai sekarang.
Apa Allah merencanakan sesuatu di balik penderitaan ini? Hanya Allah yang tahu, manusia hanya bisa berserah diri dan memohon untuk bisa melewati segala ujian dan rintangan dalam hidup.
Haikal menaiki angkot Pak Hasan, untuk pergi ke kantor polisi. Ia berdoa dalam hati mudah-mudahan, semua berjalan dengan lancar.
Di dalam angkot, Dinda melihat pada raut wajah Haikal yang begitu tampan. Ia baru sadar lelaki yang selalu menolongnya begitu Baik dan gagah.
Hatinya mulai merasakan hal yang aneh. Membuat jiwa seakan meronta-ronta ingin memilikinya, Dinda senang dengan lelaki yang selalu menghormati wanita. Memperlakukan dia secara lembut.
Saat itu Dinda dan Haikal, melaporkan semuanya pada polisi. Tentang kekerasan yang di alami Dinda, menujukan bukti memperkuat semuanya
Dinda merasa senang, ternyata ketakutannya hannyalah ancaman dari Burhan yang membuat dia tidak berani melapor pada polisi.
__ADS_1
"Sekarang kamu tenang kan. Polisi akan menangani kasus kamu Dinda jadi kamu tenang saja," ucap Haikal. Menenangkan Dinda saat itu.
"Gimana semua sudah beres den?" tanya Pak Hasan.
"Beres pak!" jawab Haikal.
Pak Hasan sedikit lega, saat itu Haikal mengajak Dinda untuk mengontrak di kontrakan Bu Nunik. Dengan senang hati Dinda mau, ia bisa melakukan pekerjaan apa pun asal bebas dari Burhan.
"Pak Haikal, apa Pak Haikal bisa membantu saya untuk mengurus surat perceraian," ucap Dinda meminta bantuan pada Haikal saat itu.
"Bisa, Dinda. Aku akan bantu kamu, untuk menggugat suamimu, karna bukti sudah terkumpul di tangan kita," jawab Haikal.
Dinda tersenyum lebar memegang tangan Haikal tanpa sadar. Membuat Haikal syok berat.
"Maaf Pak Haikal, saya tidak sengaja."
Mereka saling berbalik arah rasa malu benar-benar
membuat mereka menjadi salah tingkah, Haikal memegang dadanya ia takut jika tiba-tiba ia tidak bisa menahan debaran jantungnya.
Setelah sampai di kontrakan, Haikal menujukan Kontrakan untuk di tempati oleh Dinda dan adiknya. Berharap Dinda bisa betah dan menjalin suasana baru.
Kontrakan Dinda tak jauh dari kontrakan Haikal hanya beberapa langkah saja.
Haikal sangat beruntung Bu Nunik mau menerima Dinda mengontrak di tempatnya tanpa harus membayar lebih dulu.
Dinda begitu banyak berterima kasih kepada Haikal.
Dimana Burhan balik lagi ke rumah untuk membawa tas dan dompet, Burhan di kejutkan dengan polisi yang sudah mengepung rumahnya.
"Apa-apaan ini, apa Dinda melakukan semua ini, sial aku terlambat. Awas aja kamu Dinda kamu akan menyesal." Gerutu Burhan.
Burhan berbalik arah, menjauh dari rumahnya, karna polisi sudah mengepung rumah satu-satunya. Dimana harta beda dan uang tersimpan di rumah itu
Burhan bingung harus pergi ke mana, ia memikirkan cara untuk bisa menjauh dari kejaran polisi hingga terpikirkan olehnya sang sahabat, saat itu lah Burhan bergegas untuk pergi ke rumah Fras
Tok ... tok ...
"Burhan tumben loe ke sini, gimana Dinda ketemu? Gue soalnya udah cari di Ke mana-mana tapi tidak ketemu."
"Asal loe tahu Dinda sudah melaporkan gue ke kantor polisi!"
"Dinda senekat itu?"
"Iya, dan sekarang polisi tengah mengepung rumah gue!"
Burhan benar-benar seakan stres ia harus bagaimana. Karna lambat laun polisi akan menemukan keberadaannya.
Hanya Fras yang bisa menenangkan Burhan, Sahabat lamanya rencana untuk membuat Dinda dan Lina menderita tidak berjalan dengan baik.
Berharap keresahan dalam hatinya sedikit membaik saat itu, hanya Fras yang mampu membuat Burhan tenang
"Burhan sebaiknya loe minta maaf saja sama Dinda, biar loe enggak masuk ke dalam penjara Emang kenapa sih dengan loe, mau segitunya menghancurkan Dinda dan Lina?"
"Gue punya alasan tertentu, dan enggak ada orang yang harus tahu."
"Gue heran sama loe. Dinda cantik baik, dan loe malah buat dia menderita."
"Gue enggak butuh kebaikan, dari wanita semacam Dinda."
"Terserah loe deh, cuman jangan sampai nanti loe menyesal. Saat Dinda pergi selamanya dari kehidupan loe."
"Tidak ada penyesalan bagi gue."
Fras hanya menggeleng-gelengkan kepala tak mengerti dengan akal pikiran sahabatnya. Fras sudah berusaha menasihati namun Burhan begitu egois.
__ADS_1