Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 186 ke dapur.


__ADS_3

Lina yang masih berada di ruangan yang entah ia tak tahu ruangan apa itu? Membuat dirinya bergidig ngeri.


Ruangan yang benar-benar sepi, " Kenapa di ruangan ini begitu sepi? Tak ada satu orang pun di sini."


Ini bukan waktunya untuk takut, Lina berusaha memberanikan diri. Mencari letak dapur di cafe milik Pras.


Cafe Pras itu begitu besar, membuat Lina susah mencari ruangan dapur.


"Ini cafe apa hotel. Gede banget sampe banyak ruangan kosong."


Tiba tiba saja satu tangan memegang bahu Lina, membuat Lina tentulah kaget.


Segera mungkin Lina membalikkan wajah dan menatap ke arah orang itu, dengan menyiapkan kepalan tangan untuk menghajar orang yang mengangetkannya tiba tiba.


"Nona."


Hampir saja tangan Lina melayang pada wajah pelayan yang memegang bahu Lina.


"Aku kira siapa?"


Pelayan itu menutup kedua matanya, takut akan pukulan Lina yang tiba-tiba melayang pada wajahnya.


"Huh, hampir saja tanganku melayang pada wajahmu," ucap cetus Lina pada pelayan yang sudah mengangetkanya.


"Maaf, nona saya tak sengaja," balas pelayan itu dengan senyuman ramahnya.


"Padahal tadi sepi, tidak ada satu orang pun di sini. Terus kenapa pelayan ini tiba tiba nongol kaya hantu saja." Gerutu hati Lina. Sedikit memegang pundaknya.


"Nona, kenapa?" tanya pelayan yang berpakaian seksi itu.


"Tidak! Aku tidak kenapa kenapa," jawab Lina. Menatap ke ujung ruangan demi ruangan.


"Terus, kenapa nona ke sini?" tanya pelayan itu.


Wajahnya pucat, dengan kedua mata yang sayu.


" aku ke sini hanya untuk mencari dapur, Oh ya Di mana letak dapur di cafe ini?" balas Lina sembari menanyakan ruangan dapur di cafe milik Pras.


"Nona salah tempat ternyata, dapur berada di ujung sana. Ini hanya ruangan kosong tak terpakai!" jawab pelayan itu menunjukkan letak dapur di cafe Pras.


"Oh di sana? Hah. Bilang dong dari tadi," ucap Lina tersenyum senang menemukkan dapur yang ia cari dari tadi.


"Kalau nona sudah sampai di dapur, tolong bilangin sama pelayan Mbak di dapur bawakan selimut untuk saya di sini," ucap pelayan itu. Dengan berdiri kaku.


"Oke, aku ke sana dulu ya." balas Lina berjalan meninggalkan pelayan yang sudah menunjukkan arah dapur di Cafe milik Pras.


Seketika langkah Lina terhenti saat Lina lupa mengucapkan kata terima kasih, kepada pelayan yang sudah menunjukkan arah dapur kepada dirinya.

__ADS_1


Lina kini berniat membalikan badan untuk menemui pelayan itu kembali, akan tetapi saat ia berjalan cepat, menuju ruangan itu lagi. Pelayan itu sudah tidak ada di ruangan.


"Kemana pelayan yang tadi menunjukkan ruangan dapur, kok tiba-tiba saja dia tidak ada? Bukannya tadi dia berada di sini."


Lina menatap ke arah ujung ruangan itu, tidak ada siapa-siapa di sana, hanya tempat kosong.


Ia merasakan hawa angin dingin, yang ia rasakan. Pada wajahnya saat itu.


Lina yang merasa cukup aneh dan merasa ketakutan, kini membalikkan badan dan terburu-buru untuk segera pergi ke ruangan dapur.


Ia merasa orang yang menunjukkan arah jalan itu bukanlah seorang manusia, melainkan hantu.


" jangan-jangan yang tadi ngobrol sama aku itu adalah ... tapi. Sudah lah lebih baik sekarang aku fokus untuk meminta air hangat."


Kini langkah Lina terhenti saat ruangan yang ia tuju sudah berada di depan matanya, ia menyadari jika ruangan itu tak jauh depan Cafe. Membuat ia menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.


Aneh sungguh aneh yang ia rasakan. Kenapa bisa begitu tak melihat arah dapur, padahal arah dapur itu begitu dekat. Tak perlu berjalan kaki cukup jauh, hanya untuk ke dapur. Cukup beberapa langkah saja.


Tapi Lina merasakan bahwa dirinya sudah melangkah begitu cepat dari yang ia kira, hanya untuk masuk ke ruangan dapur. Apa dia bermimpi atau hanya berhalusinasi?


Ia mencoba berpikir positif, atas kejadian yang menimpa dirinya.


Di ruangan dapur, begitu banyak para pelayan yang pernah sibuk memasak makanan menu makanan di cafe milik Pras.


Mereka begitu lihai memainka alat dapur, membuat Lina senang dengan keterampilan para pelayan.


Lina berusaha mencari pelayan untuk ia printah.


"Sepertinya aku harus memerintah pada salah satu pelayan di cafe Pras."


Saat itulah Lina menemukan pelayan untuk suruh.


"Eh pelayan, bisa ambilkan air hangat dan handuk bersih?"


Pelayan ini tersenyum dan memberikan air hangat yang Lina minta.


"Ini nona, air hangatnya sudah siap."


Setelah melihat air hangat yang diberikan pelayan itu, kini Lina berjalan tergesa-gesa sembari membawa air hangat yang akan ia kompaskan pada luka Haikal.


Ardi yang sudah menunggu dari tadi, merasa kesal. Membuat Ardi langsung bertanya kepada Lina.


" sayang kamu ini dari mana saja, sih.


Masa ngambil air hangat hampir setengah jam." ucap Ardi sedikit menengur Lina.


Lina ingin sekali mengatakan apa yang sudah terjadi pada dirinya, akan tetapi saat itulah bukan momen untuk bercerita, tentang masalah yang dialami Lina.

__ADS_1


Apalagi Ardi dan Haikal mungkin tak akan percaya dengan apa yang Lina lihat. Mereka mungkin akan mengabaikan cerita yang terlontar dari mulut Lina.


Hngga saat itulah Lina mulai mengurungkan niatnya untuk bercerita kepada Haikal dan juga Ardi. Yang ternyata Ardi sudah mengobati luka Haikal.


obat-obatan yang sudah ia bawa sendiri. Kini segera mungkin iya simpan.


Lina kini mulai duduk berhadapan dengan Lina.


ia memeras handuk bersih yang ia celupkan ke air hangat. Dengan pelan pelan.


saat itulah handuk itu mulai ia tempelkan pada wajah memar Haikal, membuat Haikal sedikit merilis kesakitan.


" Aduh sakit." TerIak Haikal.


" cobalah kakak tahan sedikit, kak kakak cowok. Masa segitu aja nggak meringis kesakitan."


" Ya elah kamu gampang banget ngomong, ini benar-benar sakit. Coba kamu yang ngerasain kayak kakak, kemungkinan besar kamu akan menjerit-jerit Lina."


Lina yang kesal dengan ejekan Haikal saat itu menekan handuk basah pada pipi Kakaknya sendiri.


"Apa-apaan Kamu ini pelan-pelan dong."


Mereka terlihat bahagia, tertawa terus menerus dsituasi yang mencengkramkan ini . Mereka berdua mampu bercanda melupakan hal-hal yang menegangkan.


Lina yang tengah mengobati luka memar pada pipi dan jidat Haikal


Kini menyadari sesuatu yang ia lihat.


" Kak Haikal, Ardi. Kalian lihat di kejauhan sana ada orang yang sengaja mengintip kita ."


Ardi berusaha melihat orang yang ditunjukkan Lina pada saat itu, "Loh. Bukannya mereka berdua yang tadi berdebat dengan kamu Haikal."


Haikal mencoba melihat mereka berdua dari kejauhan, ia tersenyum senang dengan apa yang terlihat di depan matanya.


.


" benar apa yang kamu katakan. Lina. Kedua orang itu adalah suruhan atau pelayan Pras yang Ptas sangat percayai dari dulu."


" Kenapa mereka ngintip pada kak Haikal."


" tak usah lah kamu memikirkan Kedua lelaki pembohong seperti mereka."


"Aku kesal pada mereka bedua Lina."


" Sudahlah kalian berdua tak usah membahas mereka berdua yang tengah mengintip ke arah kamu Lina."


Akan tetapi niat jahil Lina terpikirkan oleh dirinya saat itu.

__ADS_1


Lina membisikkan sesuatu kepada Ardi, tentulah membuat Haikal penasaran. mereka tak bisa mendengar bisikan atau obrolan pelan Ardi dan juga Haikal.


__ADS_2