
" kita lihat sampai di mana mereka berdebat," ucapkan melipatkan kedua tangannya Menatap layar CCTV.
Ardi yang terus menarik tangan Lina membuat Lina merasa sangat risih, seketika ia berhenti dan melepaskan tangan Ardi yang memegang erat tangan.
" Sebenarnya ada apa sih, Kenapa kamu pakai acara narik-narik tanganku segala?" tanya Lina yang amat begitu kesal terhadap Ardi.
Lina menatap tajam ke arah Ardi, merasa heran dengan tingkahnya saat berada di meja makan berhadapan dengan Omnya sendiri." aku belum bisa jelaskan semuanya, sebaiknya sekarang kamu ikuti apa perkataanku! " jawab Ardi yang membuat Lina semakin lah penasaran
"sebaiknya kamu jelaskan sekarang, agar aku tidak penasaran." ucap Lina mengelak perkataan Ardi.
Ia tak mau di buat penasaran oleh Ardi, pada saat itulah ia menekan Ardi agar cepat menjelaskan semuanya," ayo lah katakan sekarang, aku benar benar penasaran."
"Nanti ya, aku jelaskan. Sekarang bukan situasi yang tepat untuk mengatakan semuanya di sini," balas Ardi. Memohon agar Lina mengerti.
Namun, Lina malah memanyunkan bibirnya, membuat Ardi mengusap kasar wajahnya dan merasa geram akan Lina yang tak sabar.
"Ya sudah aku bakal jelasin sekarang."
Kedua mata Ardi tak henti melirik ke sana ke mari, ia melihat cctv ada di mana mana. Apalagi dari kejauhan Ardi melihat seseorang tengah mengawasinya.
"Sepertinya situasi tak aman," ucap Ardi dalam hati.
Saat itu Ardi mulai membisikan sesuatu pada Lina," situasi tak aman banyak mata yang melihat. Kalau aku mengatakan semua di sini, para penjahat itu akan tahu semuanya."
Deg ....
Penjahat, Lina masih tak mengerti.
"Apa maksud kamu penjahat " balas Lina dengan berucap pelan.
Ardi memberikan kode lewat mata, saat itulah Lina melihat dari kejauhan ada seseorang mengawasi gerak-gerik mereka berdua, " aku melihat seseorang mengawasi kita."
"Ya, makanya aku tidak bisa menjelaskan di sini."
"Baiklah aku mengerti."
Kini Lina mengerti saat Ardi membisikan ucapanya pada telinga Lina,
"Aku berharap kamu paham."
" baik, aku sekarang sudah paham dan apa rencanamu sekarang."
Lina sebenarnya ingin sekali mendengar penjelasan Ardi, akan tetapi dia juga tak ingin jika Ardi terjerat masalah.
"Kamu mengerti Lina?" tanya Ardi.
"Ya!" jawab Lina pelan.
beberapa kali Ardi melayangkan sebuah perkataan kepada Lina, saat itulah mereka mulai beraksi.
__ADS_1
Dreet .....
Ponsel Lina bergetar, pesan datang. Hanya saja Ardi mengedipkan sebelah matanya agar Lina tak melihat pesan yang datang pada ponselnya.
"Ardi, ponselku terus berbunyi."
"Biarkan saja."
"Ya sudah kita mulai."
Drama di mulai.
" Ardi, kamu ini apa-apaan sih, Kenapa juga kamu bilang pada Om mu sendiri bahwa aku ini penakut," gerutu Lina pada Ardi.
"Aku melakukan semua itu, karna aku ingin terlihat menjadi lelaki sejati yang bisa melindungi kamu," balas Ardi. Memegang pipi Lina.
"Bagaiman aktingku." Bisik Lina.
.
"Bagus, teruskan," Balas Ardi pelan.
"Ya enggak gitu juga kali, aku ini bukan cewek lemah dan penakut. Aku tidak suka kamu berkata seperti itu pada Ommu sendiri," pekik Lina.
"Tolonglah mengerti Lina,* ucap pelan Ardi. Memegang kedua tangan Lina.
Dalam hati, rasanya Lina jijik dengan drama yang di mainkan oleh Ardi.
.
"Ya maaf, tanganku terlalu gemetar untuk bertingkah romantis," ucap Ardi.
Lina kini meninggalkan Ardi begitu saja, Ya perlahan berjalan lebih cepat dari sebelumnya. untuk segera pergi ke toilet,
"Kamu mau ke mana sayang?" tanya Ardi.
"Aku mau berak!" jawab Lina.
Ardi terdiam, dan saat itulah Lina mulai membuka pintu toilet untuk segera membuang air kecil.
Hati Lina tak karuan, ia merasakan bahwa dirinya sedang diawasi oleh seseorang, apalagi di dalam toilet itu terdapat CCTV yang tersembunyi. membuat ia ragu untuk membuka roknya.
"Ah, sial. Kenapa juga di toilet ini ada CCTV," gumam hati Lina.
Tok .... tok .... tok ....
ketukan pintu mengagetkan Lina pada saat itu, Ardi mulai berteriak sembari mengetuk pintu toilet," Lina, kamu tidak kenapa napa. kamu jangan marah lagi ya sayang."
Drama lagi.
__ADS_1
"Lina, sayang."
"Iya, aku ada di dalam. Kamu mau apalagi sudah cukup buat aku malu di depan Ommu sendiri," teriak Lina di dalam toilet.
"Maafin aku sayang, aku enggak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin omku melihat kamu bahwa kamu benar benar mencintaiku," ucap Ardi. Berteriak di luar pintu toilet.
Sebenarnya Lina sudah ingin menyudahi drama perdebatan konyol ini, karna begitu terasa lebay.
"Sayang."
Tok .... tok ....
Ardi terus saja mengetuk pintu toilet Lina,
Karna drama yang berlebihan, pada akhirnya Lina membuka pintu toilet dengan begitu keras membuat, Ardi terpental dari pintu toilet.
"Ahk."
Tentu saja Lina kaget bukan main, melihat Ardi terpental dari pintu toilet, dengan segera mungkin ia menghampiri Ardi," Ardi. Kamu tidak kenapa napa kan?" tanya Lina.
"Lina bukankah aku katakan ini hanya drama, tapi kenapa ini begitu nyata, sakit Lina." Bisik Ardi.
"Ya ampun maafkan aku, Ardi."
Terlihat kepala Ardi yang terbentur, membuat satu benjolan besar dari jidatnya
"Kamu kenapa Lina, kaget begitu."
"Ardi, jidat kamu."
Lina menunjuk nunjuk pada jidat Ardi, membuat Ardi langsung berkata," kenapa dengan jidatku."
perlahan tangan Ardi mulai meraba jidatnya sendiri, ya tentulah kaget dengan apa yang sudah dilakukan Lina pada dirinya, membuat Ardi langsung meringis kesakitan merasakan bejolan itu.
"Sakit sekali."
"Ya sudah, sebaiknya kita pergi ke depan, ya. Obati dulu bejolan di jidatmu itu."
perlahan Lina mulai membantu Ardi untuk berdiri, kini mereka berjalan perlahan menuju meja makan. menghampiri sang Om yang sudah Sigap duduk di meja makan.
para pelayan yang mengawasi Ardi, kini berpencar untuk segera pergi ke dapur. mereka tak ingin jika Ardi dan Lina mengetahui keberadaan mereka yang mengawasi gerak gerik saat Lina dan Ardi berada di toilet.
"Sepertinya mereka pergi, setelah kita keluar dari toilet," ucap Ardi. pada Lina pelan.
Lina sekilas menatap ke arah samping, dengan membawa Ardi pergi dari toilet, dia juga merasakan hal yang sama yang dirasakan Ardi bahwa para pelayan yang mengawasi mereka kini telah pergi.
"Iya, sepertinya mereka pergi."
tanpa banyak berbicara, saat itulah Ardi dan Lina mulai bergegas menghampiri sang Om..
__ADS_1
"Apa rencana kita berhasil? tanya Lina saat melangkah pelan bersama Ardi.
" Entahlah, aku belum yakin, karna bisa saja mereka juga mengelabui kita, aku berharap jika kita datang nanti ke hadapan Omku, omku tidak mencurigai drama kita saat di toilet," ucap Ardi pelan.