
Lina terpaksa di rawat sementara di rumah sakit, karna keadaanya yang belum membaik. Saat itulah Ardi menelepon sang ibu untuk menemani Lina di rumah sakit.
Maya yang ternyata sudah bergegas untuk menemui Tia kini di kagetkan dengan ponselnya yang berdering.
"Ardi, ada apa dia menelpon?"
Maya mulai menekan layar ponsel dengan hati yang ragu ragu.
"Halo, bu."
"Ya, Ardi ada apa?"
"Bu, bisa bantu Ardi tidak!?"
"Bantu apa?"
"Tolong jagain Lina, soalnya Ardi ada urusan mendadak."
Padahal Maya juga ada urusan mendadak, ia akan bertemu dengan Tia sahabatnya sendiri. Menceritakan soal Sisil yang behubungan dengan Anton suami maya.
"Bu, apa ibu bisa?"
"Ehh, bagaimana ya. Sebenarnya ibu juga, ada urusan mendadak, Nak!"
"Ya, padahal Ardi buru buru sekali. Bu."
"Ya sudah biar ibu hubungi dulu sahabat ibu."
"Cepat ya, Bu."
"Iya, Nak."
Panggilan telepon pun mati sebelah pihak, di mana Maya langsung menelepon Tia.
"Ayo angkat, Tia."
Tia tak mengangkat panggilan telepon Maya. Yang ternayata Tia sudah berangkat dari tadi pagi, hingga ia lupa membawa ponselnya sendiri.
Maya terus menelepon Tia beberapa kali, namun tetap saja Tia tak menjawab panggilan telepon dari Maya.
Dreet ....
saat di rumah Tia, Sisil bangun di pagi hari, seperti biasa. ia selalu menjalani rutinitas di mana dirinya selalu berolahraga pagi, untuk membuat tubuhnya fresh dan segar bugar.
entah kenapa, Sisil ingin sekali masuk ke kamar ibunya, Iya berniat untuk mengambil tabungan sang ibu, yang pernah ia lihat waktu malam hari.
"Ibu, Ibu."
Hening tak ada jawaban sang ibu," aha. Sepertinya ibu sudah pergi. Ini kesempatanku."
__ADS_1
Sisil kini membuka kamar sang ibu." Sial, ternyata di kunci."
Sisil mulai memikirkan cara untuk bisa masuk ke kamar ibunya, mengambil uang tabungan sang ibu. Ia mulai mengigat di mana sang ibu meletakan uang tabungannya.
Menelusuri setiap tempat dan benar saja, Sisil menemukan kunci kamar sang ibu yang di sebunyikan pada bawah pot bunga.
" akhirnya aku menemukan kunci kamar ibuku."
Sisil begitu senang kegirangan, ia sudah tak tahan ingin berbelanja ke mall. Hanya dengan cara mencuri tabungan sang Ibu ia bisa berbelanja dan membeli apa yang ia butuhkan saat ini.
karena keuangannya yang benar-benar kritis, dan juga Pak Anton yang sudah jarang mengabari dirinya, membuat ia sedikit kesal.
"Sembari Pak Anton yang belum mengirim uang padaku, aku manfaatkan uang tabungan ibu."
saat itulah pintu kamar terbuka, betapa senangnya Sisil sudah masuk ke kamar sang ibu. ia menggeledah kamar sang ibu, mencari keberadaan uang itu," di mana uang yang sengaja ibu simpan."
20 menit mencari keberadaan tabungan sang ibu, akhirnya Sisil berhasil menemukan tabungan itu. Iya mengambil semua uang tanpa sisa sedikitpun, melihat tabungan sang ibu yang begitu banyak terkumpul, membuat dirinya tak sabar ingin segera berbelanja ke mall.
" aku tak menyangka jika Ibu bisa menabung sebanyak ini, dari hasil jualan gorengan setiap harinya."
Sisil mulai menaruh uang itu ke dalam kresek yang sengaja ia bawa, setelah habis ia ambil, saat itulah ia mulai pergi dari kamar sang ibu.
saat Sisil mulai keluar dari dalam kamar sang ibu, suara yang tak asing terdengar dibalik kasur ranjang tempat tidur, seperti suara getaran ponsel.
Sisil yang sangat penasaran kini mencari sumber suara itu, hingga akhirnya dia menemukan sebuah ponsel yang terlihat lumayan bagus," Sejak kapan Ibu mempunyai ponsel? Padahal ibu tidak pernah bercerita kepadaku bahwa dia membeli ponsel."
"Maya."
setelah membaca nama panggilan dari ponsel sang ibu, Sisil tentulah sangat marah, ia tak me nyangka jika sang Ibu selama ini selalu berhubungan dengan sahabatnya yang bernama Maya, wanita yang dulu dekat dengan Sisil.
"Tante Maya. Ternyata ibu menelepon tante Maya dari semalam, sebenarnya apa yang mereka obrolkan."
Sisil mulai menelusuri ponsel sang ibu dengan melihat isi pesan di dalamnya.
Kedua mata Sisil membulat, ia kesal. Tidak ada pesan satu pun.
" sepertinya Ibu sudah menghapus pesan dari ponsel."
Dreet ....
saat itulah panggilan dari Maya kembali muncul, Sisil dengan sengaja mengangkat panggilan dari Maya.
"Halo, Tia kamu ada di mana?"
Sisil tersenyum licik, saat mendengar suara Maya yang seakan panik.
"Halo, Tante."
Maya terdiam sejenak setelah mendengar suara yang berbeda dari sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Sisil."
Sisil kini mengeluarkan tawanya, menjawab ucapan sang tante yang mengenali dirinya.
"Waw, tante hebatnya sekali aku bersuara Tante bisa hafal siapa aku."
" ke mana ibumu sekarang, tante ingin berbicara dengan ibumu sekarang juga, tolong cepat berikan ponsel ibumu."
"Mm, Ibuku sedang keluar, tante bisa titipkan pesan padaku."
" jangan bohong kamu Sisil, tante tahu bahwa ibumu ada di sana. cepat berikan ponselnya kepada ibumu sekarang juga."
" Kenapa sih tante tidak percaya padaku. Padahal aku berkata jujur loh, bahwa ibu sekarang tidak ada di rumah."
" terus ke mana perginya ibumu?"
" Entahlah aku tidak tahu ke mana Ibuku pergi."
"Ya sudah, jika ibumu ada di rumah. Tolong bilang padanya untuk segera menghubungi tante kembali."
"Mm, males banget tante, sebaiknya tante saja yang bilang."
Maya kesal dengan ucapan yang terlontar dari mulut Sisil.
"Ya sudah jika kamu malas, tante tidak akan menyuruh pada wanita pembohong seperti kamu."
" maksud tante apa ya, kenapa Tante berkata bahwa aku wanita pembohong?"
" tante kira kamu tidak akan marah, saat tante mengatakan Kamu adalah wanita pembohong."
Sisil menggerutu kesal dirinya sendiri, Iya ingin sekali mencabik-cabik bibir sang tante.
" Ya sudah tante, aku matikan panggilan tante sekarang. karena jujur saja aku tak nyaman mengobrol dengan nenek-nenek tua, yang sudah tak dianggap oleh suaminya sendiri."
ucapan Sisil membuat Maya berusaha menahan emosi, tangan Maya tiba-tiba mengepal, ia ingin sekali Sisil jika berada di hadapan.
" Baiklah kalau begitu, tante juga sangat tak nyaman jika mengobrol dengan gadis yang menyukai suami orang."
kedua mata Sisil membulat, setelah mendengar perkataan yang terlontar dari Tante Maya untuk dirinya, ia tak menyangka jika wanita tua itu mengetahui hubungannya dengan suaminya.
"Hem ...."
"Ya sudah Kalau begitu, tante matikan dulu ponselnya. Soalnya tante pengen muntah kalau terus berteleponan dengan gadis yang sok kecentilan terhadap suami orang, apalagi ... "
emosi Sisil semakin meluap-luap mendengar setiap perkataan yang terlontar dari Tante Maya, membuat ia membentak wanita tua itu," tante jaga ucapan tante ya, jangan asal bicara. Kenapa suami tante ...."
Tut ....
belum perkataan Sisil terlontar semuanya ,panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak.
__ADS_1