Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 156 Ke rumah sakit


__ADS_3

"Di memakai baju berwarna biru muda!"


Kaget bukan main yang di katakan lelaki muda kepada Tia, jantungnya seakan remuk tak menyangka jawabanya seakan mengarahkan pada Sisil. Air mata mulai keluar secara perlahan, Tia berusaha tegar, bisa saja orang yang tertabrak itu kebetulan sama dengan baju Sisil.


"Nak, sekarang orangnya di bawa ke rumah sakit mana, ya?"


"Sepertinya di bawa ke rumah sakit, bintang purnama. Bu!"


"Oh ya. Terima kasih."


Lelaki muda itu menganggukkan kepala, berpamitan kepada Tia yang berdiri di hadapannya, untuk segera pergi.


"Bu, saya mau pamit dulu pergi. Permisi."


"Iya nak."


Tia seperti orang linglung, setelah kepergian anak muda itu. dirinya bingung harus pergi menemui Maya atau pergi ke rumah sakit untuk mengecek apakah yang tertabrak itu anaknya atau bukan.


namun rasa penasaran terus dirasakan oleh Tia, Iya ingin sekali datang ke rumah sakit untuk mengecek keadaan orang yang tertabrak itu.


tanpa berpikir panjang, Tia berusaha berlari mencari sebuah ojek yang mau menumpanginya pergi ke rumah sakit yang memang rumah sakit itu terbilang jauh.


tangan wanita tua itu bergetar, rasa takut terus menyelimuti hatinya. Iya tak sabar ingin melihat orang yang tertabrak, yang di mana orang itu sama persis memakai baju berwarna biru seperti yang diceritakan anak muda yang melihat tabrakan itu.


tidak butuh beberapa lama, akhirnya Tia menemukan seorang ojek yang mau menumpanginya pergi ke rumah sakit yang terbilang jauh dari rumah. Iya tak peduli jika uang hasil dagangannya habis hanya karena pergi ke rumah sakit, yang terpenting dirinya bisa memastikan wanita yang tertabrak itu anaknya atau bukan.


sejahat apapun kelakuan seorang anak, seorang ibu tidak akan tega melantarkannya atau membiarkan anaknya menderita begitu saja. seorang ibu akan tetap peduli walau dirinya beberapa kali tersakiti. karena bagi dirinya, seorang anak adalah belahan jiwa dalam hidup dan raganya.


walau mungkin terkadang, keinginan seorang ibu yang selalu menginginkan anaknya menurut dan patut menerima kekurangan ibunya sendiri, terkadang tak sesuai harapan sang ibu. namun hati Sang Ibu tetaplah sabar.


seorang ibu tak akan pernah lelah menasehati anaknya, memberikan yang terbaik untuk anaknya. walau kemungkinan besar, semua yang ia lakukan terkadang tak membuahkan hasil.

__ADS_1


jiwa sang Ibu tak pernah pantang menyerah, hatinya tetap kokoh walau tersakiti beberapa kali. Iya bisa berdiri tegar melawan semua rintangan yang Menghadang, Tak ada kata lelah dalam hidupnya.


setelah sampai di rumah sakit, Tia mulai turun dari ojek membayar ongkos ojek itu. dengan berlari masuk ke rumah sakit, ia langsung bertanya kepada suster yang tengah berjalan.


" Suster. Saya mau bertanya?"


Suster itu tersenyum ramah di hadapan Tia.


"Iya Bu! Ada apa?"


" Saya mau bertanya tentang pasien yang mengalami kecelakaan tadi pagi, katanya Iya dibawa ke rumah sakit ini!?"


"Oh iya ibu, Baru saja saya yang menangani pasiennya."


"Di mana ruagannya sekarang, sus."


" Apakah ibu keluarganya?"


"Iya, saya keluarga pasien, sus."


" Ya sudah kalau begitu, ruangan pasien ada di nomor 10."


"Nomor 10 itu di sebelah mana, sus."


"Ibu tinggal jalan lurus saja, setelah itu belok kiri."


"Terima kasih, sus."


Rasa tak sabar dirasakan Tia, Iya ini segera mungkin melihat wanita yang tertabrak itu. Hingga akhirnya Tia sampai di ruangan yang ditunjuk oleh suster kepada dirinya, terlihat sekali wanita itu tengah tertidur, dengan kaki yang diperban.


Tia langsung masuk begitu saja ke ruangan pasien, perlahan ia berjalan melihat pasien wanita itu. Apakah wanita itu adalah Sisil?

__ADS_1


Hatinya sudah merasa takaruan, saat dia mulai mendekat ke arah wanita itu, saat itulah wanita itu menampilkan wajahnya di hadapan Tia.


Dan benar saja dugaan Tia, wanita itu adalah anaknya sendiri. " Sisil. Itu kamu, nak."


Tia kini memeluk anaknya sendiri, merasakan kesedihan yang terasa dalam- hatinya, dia tak menyangka jika anaknya mengalami musibah.


"Tia, Ibu tak menyangka. Jika kamu bisa mengalami kecelakaan seperti ini?"


pertanyaan sang Ibu bukanlah membuat dia sadar akan kesalahannya, Iya Malah menggigit bibir bawahnya. menyingkirkan pelukan wanita tua itu,


seketika dia mendorong tubuh ibunya sendiri dan berkata," semua ini gara-gara Ibu, kalau saja Ibu mau memberikan uang celengan Ibu semuanya kepadaku. kemungkinan besar aku tidak akan mengalami kecelakaan seperti ini, saat itu juga aku langsung naik taksi tanpa harus berjalan kaki dari rumah."


entah apa yang merasuki pikiran Sisil. Iya begitu lancang berbicara kepada sang ibu.


sang Ibu hanya bisa menatapnya dalam tangisan, air mata yang terus mengalir mengenai pipi kini berusaha ia tahan.


. Kenapa Tia bisa melahirkan seorang anak yang bisanya menyalahkan dan juga membuat hati dia sakit, Padahal dia sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. tapi balasan Sisil hanyalah sebuah ucapan yang begitu menyakitkan hati seorang ibu.


" sekarang ibu bawa apa ke rumah sakit?" tanya Sisil kepada sang ibu dengan ucapan yang sedikit membentak.


" Ibu tidak bawa apa apa nak, ibu buru-buru datang ke sini, setelah mendengar kamu kecelakaan. Ibu lupa membawakan sesuatu kepada kamu, karena perasaan ibu yang terus memikirkan keadaan kamu Sisil!" jawab sang ibu.


"Alah, alasan aja Ibu ngomong seperti itu," cetus Sisil, sembari melipatkan kedua tangannya menatap tajam ke arah sang ibu.


" Ngomong aja Ibu takut ngeluarin duit buat anak saya sendiri. Emang dasarnya ibu itu pelit," ucap Sisil.


"Nak. Bagaimana Ibu bisa pelit kepada kamu Sisil, apapun yang kamu inginkan ibu selalu turuti, hanya saja semua itu juga harus ada batasnya." balas sang ibu, mulai mengusap perlahan rambut panjang anaknya itu.


Sisil malah menghempaskan tangan sang ibu, Iya tak mau tangan ibunya mengotori rambutnya yang panjang, Sisil tak suka dengan perhatian yang diperlihatkan oleh ibunya untuk dirinya," sudahlah Bu jangan banyak alasan, ngasih sama anak juga harus ada batasan, Ibu macam apa sih Ibu ini. perhitungan banget sama anak sendiri, padahal Sisil itu anak ibu satu-satunya, harusnya Ibu penuhi apa keinginan Sisil," gerutu Sisil. perlakuan seperti anak kecil yang tengah merengek meminta sesuatu kepada ibunya.


" maksud ibu batasan itu adalah ...."

__ADS_1


belum nasehat sang Ibu terlontar semuanya, kini Sisil malah memotong nasehat wanita tua yang menjadi ibunya itu, wanita yang sudah susah payah melahirkan dirinya," sudah cukup nasehat Ibu terlontar untuk diriku, semua itu percuma tak ada guna. Percuma." Cetus Sisil.


__ADS_2