Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 226 sumur.


__ADS_3

"Kadie maneh Nining, tadi maneh ngomong naond?"


( ke sini kamu Nining, tadi kamu bicara apa?)


kedua mata Sang Bapak terlihat begitu menyeramkan, membuat Nining tak Sanggup melihat kemarahan bapaknya sendiri.


"Aduh gimana ini teh, bu. Bapak marah besar," ucap Nining pelan di belakang punggung ibu.


"Sudah, jangan takut. Biar ibu jelaskan," balas sang ibu pelan memegang tangan anaknya yang gemetar.


wanita tua itu kini menarik tangan suaminya, menjelaskan kesalahpahaman yang didengar suaminya saat itu.


"Kadie, pak."


(Ke sini, pak.)


Nining masih berdiri, di dekat jendela dalam rumah. Ia masih merasakan rasa takut, akan bentakan dan kedua bola mata sang bapak yang membulat.


@@@@@


saat itulah Ardi dan juga Haikal mencari keberadaan Lina, Haikal takut jika Lina kabur masuk ke dalam hutan.


"Kamu yakin si Lina kabur ke sini?" tanya Ardi, melihat rumah kosong tak berpenghuni.


"Sepertinya iya, dia kabur ke sini!" jawab Haikal begitu yakin.


Kresek ....


Lina yang berada di rumah kosong itu mendengar suara langkah kaki, Iya berusaha bersembunyi di mana orang lain tidak akan bisa menemukan dirinya.


Ardi dan juga Haikal, masuk ke dalam rumah kosong yang sudah lama tak di huni.


akan tetapi mereka berdua tidak menemukan jejak Lina di dalam rumah itu.


Ardi dan Haikal berusaha berpencar masuk ke dalam rumah kosong itu, berharap mereka menemukan Lina secepat mungkin. sebelum malam tiba.


rumah kosong itu begitu megah, penghuninya sudah lama pergi meninggal dunia.


setengah jam berlalu, mencari keberadaan Lina, Ardi dan Haikal tetap saja tak menemukan Lina di dalam rumah kosong itu.


Hinggal di mana sore hari mulai menjelang, dengan terpaksa Haikal dan juga Ardi pergi dari rumah kosong itu. Mereka akan melanjutkan pencarian besok pagi.


Haikal melihat wajah Ardi yang begitu mencemaskan calon istrinya, membuat Haikal tak tega.


Haikal hanya bisa menenangkan keresahan yang dirasakan Ardi. walau sebenarnya Ia juga merasa sangat kuatir akan Lina yang belum juga ditemukan.


setelah sampai di rumah, Nining dan juga Ibu menunggu kepulangan Ardi dan juga Haikal. sedangkan sang paman terdiam, ada rasa kesal yang menyelimuti hatinya pada Ardi.

__ADS_1


"Gimana, Teteh Lina, sudah ditemukan belum?"


Nining berusaha memperlihatkan kecemasannya, walau sebenarnya ia tahu keberadaan Lina ada di mana, hanya saja Nining berusaha menutupi keberadaan Lina saat itu. karena perintah Lina yang terus mendesak dirinya agar terus berbohong di depan Ardi dan juga Haikal.


"Tidak ketemu!"


"Apa Aa Haikal sudah mencari Teteh Lina di rumah kosong?"


"Sudah."


"Terus."


"Tidak ketemu."


Nining menatap ke arah Ardi, terlihat raut wajah kesedihan terpancar dari wajah tunangan Lina. Nining melihat ketulusan Ardi yang mencintai Lina.


Hingga rasa ingin memiliki Ardi kini ada di benak Nining, wanita Desa itu seakan menemukan sebuah kebahagiaan baru, yang di mana seorang lelaki tampan yang ia anggap pangeran datang dengan seribu kebahagiaan. Walaupun dalam kenyataannya lelaki itu adalah milik orang lain.


Sang Bapak yang sudah curiga terhadap anaknya sendiri, membuat sebuah kode agar Nining tak berani mencintai laki-laki dari kota.


"Mm."


Nining langsung melepaskan pandangan, ketika suara bapaknya sedikit menakutkan, wanita Desa itu langsung menundukkan pandangan. Iya tak bisa melawan apa yang dikatakan bapaknya.


"Bu, titah Nining asup."


wanita tua itu langsung memegang lengan Nining, yang mengajak Nining untuk masuk ke dalam rumah. karena sang bapak yang tak mau melihat Nining terus menatap lelaki kota yang menjadi sahabat Haikal.


saat itu juga Haikal dan juga Ardi berpamitan untuk segera pulang ke rumah almarhum ibunda Haikal.


mereka berdua berjalan mengelilingi pedesaan yang amat begitu sejuk, membuat rasa tenang dalam pikiran Ardi.


"Ini yang namanya desa, sejuk."


Ardi menutup matanya, merasakan ketenangan, angin yang berhebus dari arah barat, membuat tubuh Ardi terasa dingin.


"Gila, dingin brow."


Haikal tertawa terbahak-bahak, melihat Ardi yang menggigil kedinginan. dengan cepat Haikal mempercepat jalan untuk segera sampai ke dalam rumah.


setelah sampai di dalam rumah Haikal, Ardi tak lepas dari pandangan rumah ala pedesaan yang baru saja ia lihat, sederhana tapi begitu terasa nyaman.


Ardi melihat semua pajangan yang berada di dalam rumah Haikal sangatlah antik, rumah itu tertata rapi bersih wangi dan nyaman.


" Sorry ya, Ar. rumah gue sederhana. Kalau lo nggak nyaman tinggal di sini, gue bisa anterin lo ke Villa yang mungkin bisa membuat lo nyaman daripada tinggal di rumah gue."


Ardi menepuk-nepuk bahu sahabatnya," Tenanglah, walaupun gue orang kaya. Gue masih bisa kok tinggal di rumah sederhana seperti ini. Malahan bagi gue rumah ini begitu nyaman."

__ADS_1


"Baguslah kalau lo, nyaman."


Haikal memberikan handuk kepada, Ardi menyuruh sahabatnya untuk mandi.


" Mandi lu cepat."


Ardi dengan tangan kekarnya langsung mengambil handuk yang di lempar Haikal.


"oke."


Ardi mulai mencari kamar mandi di rumah Haikal. Iya bolak-balik ke sana kemari tidak menemukan kamar mandi sama sekali.


saat itu juga Ardi mulai mencari keberadaan Haikal, yang ternyata Haikal tengah memasak makanan di dapur.


"Heh, kamar mandi ada di mana? Dari tadi gue cari enggak nemu nemu."


"Noh di sana."


Telunjuk tangan Haikal nenunjuk ke arah luar rumah.


"Dimana?"


"Noh, lu lurus aja!"


saat itu Ardi mulai mengikuti jalan rumah Haikal, yang ternyata kamar mandi ada di luar rumah.


"Ya elah pantas saja, dari tadi nyari kamar mandi tak ketemu ketemu, eh ternyata ada di luar rumah." Gerutu Ardi.


dengan langkah perlahan karena waktu sudah menunjukkan hampir malam, Ardi dengan santainya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Iya tak tahu harus melakukan apa untuk mengambil air dalam sumur, Haikal yang lupa jika Ardi adalah anak kota. membuat ia bergegas mencari keberadaan Ardi di dalam kamar mandi.


dan ternyata Ardi tengah terdiam menggaruk kepalanya memikirkan. Bagaimana mengambil air di dalam sumur.


Saat itu Haikal bergegas menghampiri sahabatnya yang tengah kebingungan, membuat ia tertawa melihat tingkah Ardi.


" Ngapain diem aja bukannya cepet-cepet mandi, noh lihat udah malam," gerutu Haikal.


" Yaelah lu nggak tahu Gue lagi mikirin. Bagaimana cara ngambil air di dalam sumur ini?"


Tentulah Haikal tertawa mendengar perkataan Ardi, Iya langsung mengambil tali tambang yang tergeletak di atas tanah, karena memang sudah lama air sumur di rumah Ibunya sudah tidak terpakai. Maka dari itu tali tambangnya tergeletak di atas tanah begitu saja.


"Nih, liatin gue."


Ardi langsung mempraktekkan, cara mengambil air dari sumur, membuat Ardi perlahan mengerti.


"Lu liatkan, air nya masuk pada ember ini."

__ADS_1


"Ya lu benar."


__ADS_2