Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 270


__ADS_3

Alya sudah di rendungi dengan kemarahan yang membuat dirinya tak bisa berpikir jernih, saat mengendarai mobil ia seakan tak sadar apa yang sudah di lakukannya, sangatlah membahayakan dirinya.


"Hey kalau bawa mobil pelan pelan." Teriak para pengendara motor, berusaha mengejar kecepatan mobil Alya.


Alya menatap seklias ke arah orang yang meneriaki dirinya, air mata sudah basah mengendari pipi. Ia tak peduli dengan apa yang terjadi jika ia mati.


Seketika Alya mengigat perkataan yang terlontar dari mulut Pras, untuk dirinya.


membuat ia perlahan menyampingkan mobilnya, dan berhenti begitu saja.


Orang-orang yang berteriak dengan kekesalan, hanya menatap sekilas ke arah mobil yang dibawa oleh Alya,


Mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Menarik napas mengeluarkan secara perlahan.


Kini hati Alya sedikit tenang, ia akan menyayangi dirinya sendiri. tidak akan berbuat hal-hal bodoh yang akan Merugikan dirinya sendiri.


karena perkataan Pras saat itu, Alya seharusnya bertahan dan membalaskan dendam jangan sampai Iya kalah dengan keadaan.


Alya harus tetap kuat dan memusnahkan lelaki jahat yang sudah merebut kesuciannya dan kehidupan."aku tidak boleh menangis, aku harus kuat. Ketika aku lemah Pras akan merasa senang dan dia akan semakin berkuasa membanggakan dirinya, dengan apa yang sudah ia perbuat pada orang-orang yang tak bersalah."


Mobil terparkir di halaman rumah, Alya sudah sampai di depan rumah kedua orang tuanya.


Rumah di mana dirinya dibesarkan di beri kasih sayang oleh kedua orang tua. Langkah kaki seakan berat untuk berjalan menuju pintu depan rumah, apa nanti tanggapan kedua orang tua Alya ketika ia baru pulang dalam keadaan menyedihkan seperti sekarang.


Apakah kedua orang tua Alya akan mengasihani dengan apa yang mereka lihat? Atau malah tak peduli, semua seakan menjadi pertimbangan dalam hati Alya.


Setelah keluar dari dalam mobil, Alya berjalan perlahan, ia mulia mendekati pintu rumah kedua orang tuanya.


Bercak darah yang berada pada tangan Alya, kini terlihat jelas tergambar, luka sayapan yang dilayangkan Pras terlihat begitu jelas.


Tok, tok, tok.


Beberapa kali Alya melayangkan sebuah ketukan pintu, "Mami, papih."


Seketika pintu terbuka, Alya menundukkan pandangan.


"Si-ap ...."


Sebelum perkataan wanita tua itu terlontar semuanya, Alya langsung mengangkat wajahnya.

__ADS_1


wanita tua itu langsung menutup mulut betapa kagetnya melihat sang anak tercinta, pulang ke rumah dengan keadaan menyedihkan.


"Alya ini kamu, nak?"


Alya menangis di saat sang mami memegang kedua pipinya.


"Mami!"


Pelukan hangat kini dirasakan Alya, dari pelukan sang Mami yang sudah lama baru ia rasakan kembali.


"Kamu kemana saja sayang?"


Hati seorang ibu mana yang tak hancur, jika melihat keadaan anaknya begitu menyedihkan setelah kabur dari rumah.


" Mami berusaha mencari kamu Alya, dan sekarang kamu."


wanita tua itu seakan enggan meneruskan perkataanmu, yang memeluk kembali sang anak tercinta.


"Mami, mam."


Teriakan lelaki tua mengagetkan Alya, membuat ia melepaskan pelukan sang ibu.


Sang Mami malah menarik tangan Alya, membuat lelaki tua itu tiba-tiba datang dan terkejut melihat anak semata wayangnya sudah ada di depan mata.


"Alya."


Sedangkan Alya merasa ketakutan, akan amarah sang Papi kepada dirinya.


Namun ternyata lelaki tua yang menjadi ayah kandung Alya malah menangis, memeluk Alya dengan begitu erat. Ia yang mengira jika sang Papi akan marah besar ketika pulang dalam keadaan yang menyedihkan, tapi ternyata mereka begitu peduli dan merasa menyesal telah membuat Alya pergi dari dalam rumah.


"Mami, Papi tidak marah kah?"


sang Papi gini melepaskan pelukannya, dengan berkata." Untuk apa Papi marah, papi senang kamu telah kembali. Padahal Papi dan Mami berusaha mencari keberadaanmu Alya, tapi kami selalu gagal, sudah melapor polisi dan suruhan mereka tak dapat menemukanmu sayang, sebenarnya selama ini kamu dari mana sayang?"


Pertanyaan sang Papi mana membuat Alya menelan ludah," sebenarnya, Alya."


Gadis berambut panjang dengan bulu mata lentiknya, tak berani mengungkapkan apa yang sudah terjadi selama ia kabur dari dalam rumah, ya takut jika sesuatu hal terjadi pada kedua orang tuanya.


Maka dari itu ia lebih baik diam menutup segala rahasia yang sudah membuat masa depannya hancur.

__ADS_1


" kalau kamu memang tidak mau menceritakan semuanya, Mami dan Papi tidak akan memaksa kamu Alya, yang terpenting kamu sudah pulang dalam keadaan masih hidup."


Alya tersenyum kecil ke arah sang ibu yang selalu mengerti dengan keadaannya saat ini, gadis berambut panjang dengan bulu mata lentik itu kini memeluk sang ibu, berterima kasih atas pengertiannya.


kedua orang tua Alya berusaha meminta maaf kepada anak semata wayangnya itu, mereka berjanji tidak akan memarahi Alya sampai Alya kabur dari dalam rumah.


" Maafin mami, papi ya Sayang. Sudah membentak kamu, sampai kamu nekat keluar dari dalam rumah. Mami dan Papi benar-benar menyesal dengan apa yang kami lakukan kepada kamu."


"Alya, juga berjanji tidak akan membuat Mami papi marah lagi, Ali akan berusaha menurun kepada Mami dan Papi."


Mereka tersenyum dengan apa yang dikatakan Alya, Hati mereka kini tenang. Mereka tidak akan menekan lagi Alya untuk menikah dengan pilihan sang Papi.


" Alya. Papi janji sama kamu, papi tidak akan menekan kamu lagi untuk menikah dengan lelaki pilihan papi, papi akan membebaskan kamu untuk memilih siapa lelaki yang akan menikahi kamu. Papi tidak mau kehilangan kamu Alya, papi sangat sayang pada kamu. Papi tidak mau Kejadian ini terjadi lagi, di mana kamu pergi dari dalam rumah membuat Papi dan Mami benar-benar kehilangan kamu saat itu."


Terlihat raut wajah kekecewaan pada sang papi, membuat Alya menyesali apa yang sudah ia lakukan.


Bertapa hancurnya hati kedua orang tua Alya ketika Alya pergi dari rumah.


Sang mami merasa heran dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya. " Alya badan kamu, dan ini luka?"


Alya menundukkan pandangan ia, belum siap mengatakan apa yang sudah terjadi dengan dirinya.


"Maaf, mam. Ini hanya luka kecil saja."


"Luka kecil. bagaimana kamu bisa menyebut ini luka kecil, kulit kamu tersayap oleh pisau, ini sudah lama, darah sudah mengering. Kamu biarkan luka seperti ini."


Kekuatiran sang mami membuat Alya, berusaha diam.


"Jawab mami Alya."


Bibir Alya benar benar tertutup rapat, ia malah diam dan tak menjawab pertanyaan sang mami beberapa kali.


"Alya?"


Rasa pusing mulai terasa pada kepala, Alya. Hingga dimana, Alya tiba tiba jatuh pingsang, napas gadis berambut panjang bebulu mata letik itu tidak setabil.


"Alya."


Kedua orang tua Alya panik.

__ADS_1


__ADS_2