Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 160


__ADS_3

"Ibu, Ayah."


obrolan mereka kini tertunda, saat Ardi tiba-tiba datang, menyapa mereka berdua.


"Ardi." ucapan Anton tersenyum lebar melihat anaknya telah kembali, sedangkan Bu Maya berusaha menyembunyikan air matanya, ia membalikkan badan perlahan tangannya mengusap air mata yang menetes mengenai kedua pipinya.


"Ibu kenapa?" tanya Ardi. Merasa heran karena saat ia datang Ibu Maya langsung membalikkan badannya.


wanita tua itu dengan Sigap langsung membalikkan badannya ke arah sang anak," Ardi. Ibu tidak kenapa kenapa kok, hanya ke lilipan saja." jawab sang Ibu berusaha tersenyum di hadapan Ardi.


padahal hatinya masih merasa kesal dan juga penasaran dengan jawaban sang suami, hanya saja saat Ardi, Bu Maya gagal menekan suaminya agar berkata terus terang.


" Oh ya, Kenapa kalian berada di luar? terus Lina di dalam?"


pertanyaan Ardi membuat Pak Anton langsung memukul pelan jidatnya, " Kebetulan sekali tadi ayah dan ibu ada urusan penting. karena takut mengganggu Lina yang sedang tidur, pada akhirnya kami putuskan untuk keluar sebentar membicarakan urusan penting itu."


saat itulah Ardi mulai memahami perkataan ayahnya sendiri, " Ya sudah kalian bicarakan dulu hal penting, biar aku masuk ke dalam ruangan menemui calon istriku."


kini Ardi mulai melangkah maju ke arah pintu ruangan Lina, melewati kedua orang tuanya. Sebenarnya ada rasa penasaran pada hati Ardi tentang percakapan mereka berdua, yang di mana Ardi tak sengaja mendengar sebutan nama yang tak lain mereka berdua menyebut nama Sisil.


saat Ardi menutup pintu ruangan Lina, saat itu juga kedua orang tua Ardi mulai menatap satu sama lain. mereka seakan pernah bercakap dari hati ke hati.


pintu terbuka kembali, mengagetkan Bu Maya dan juga Pak Anton yang tengah saling menatap satu sama lain.


"Oh ya, ayah ibu. Kalian boleh pulang, biar Ardi di sini jaga Lina."


mereka Langsung menatap ke arah Ardi tersenyum dengan rasa terpaksa," tentu Ardi Kami akan pergi, Ibu berharap kamu jaga baik-baik calon istrimu. jangan sampai dia pergi begitu saja."


wanita tua itu berucap sembari menatap ke arah ke Anton. Ardi tentulah bingung dengan ucapan ibunya sendiri yang ia rasa tidak nyambung.


"Maksud ibu?"


"Maksud ibu. jangan sampai Lina pergi sendirian, sebisa mungkin kamu harus bantu dia untuk pergi ke toilet ataupun sekedar mencari udara segar di rumah sakit ini."

__ADS_1


"Oh begitu ya. Bu."


Bu Maya langsung menarik tangan suaminya, untuk segera menyingkir dari hadapan yang tengah berdiri di dekat pintu.


"Ardi, ayah dan ibu pamit pergi dulu ya, kamu baik-baik di rumah sakit ini. jaga baik Lina ya."


Ardi hanya menganggukkan kepala saat tangan ayahnya tengah ditarik paksa oleh sang ibu dengan berteriak dan berpamitan kepada Ardi.


Ardi menggarukkan kepalanya yang tak terasa gatal, Seraya berucaplah," Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua ?"


kedua orang tua Ardi sudah tak terlihat lagi oleh kedua mata Lina, Ardi mulai menutup pintu ruangan calon istrinya. Iya tak sabar ingin mengabarkan hal baik kepada Lina.


@@@@


Bu Maya masih menarik tangan Pak Anton hingga keluar rumah sakit, dengan rasa kesel dalam hatinya. rumah yakini menyudahi tangan yang sudah ia tarik hingga keluar rumah sakit.


"Kenapa berhenti, Maya."


"Kenapa diam terus," ucap Pak Anton. Mencuil dagu istrinya. Membuat sebuah lelucon yang mungkin bisa membuat Maya tertawa seperti dulu.


Maya melirik sekilas ke arah suaminya yang bertingkah konyol layaknya seperti anak kecil." Maya, ayo ketawa donk."


kedua Mata Maya terlihat begitu sinis, Maya berusaha menahan rasa ingin tertawa di hadapan Pak Anton.


akan tetapi Pak Anton semakin menjadi-jadi, lelaki tua itu terus menampilkan wajah lucunya di hadapan sang istri, Pak Anton berusaha keras untuk bisa membuat istrinya tertawa di hadapannya.


"Hentikan Anton itu tak lucu." Pekik Maya.


Anton tak memperdulikan Maya yang tengah marah-marah di hadapannya, Iya terus membuat hal lucu pada wajahnya untuk dilihat oleh sang istri.


"Maya. Ayo lihat sini."


Maya berusaha membuang muka agar ia tidak tertawa, saat melihat hal konyol yang dibuat oleh suaminya sendiri.

__ADS_1


"Hentikan Anton, sudah cukup. Aku tak mau mendengar atau melihat leluconmu itu. Hatiku sudah terasa sakit, jujur saja aku sudah mengakui kesalahanku dulu dan menerimamu kembali. Tapi kamu malah meremukkan hatiku karna berhubungan dengan gadis bernama Sisil. Sakit rasanya Anton."


Anton tersenyum senang saat keegoisan yang selalu ditampilkan Maya perlahan hilang. Anton melihat dari sudut mata yang ternyata mengeluarkan air mata Maya.


"Maya."


isak tangis dari Maya terdengar semakin jelas, Anton kini menyudahi adegan konyol yang ia Tampilkan dari wajahnya, saat itulah Anton mulai memberanikan diri mengatakan semua yang sudah ia lakukan, terutama dengan rencana yang ia buat.


"Aku melakukan semua ini demi kamu, Maya."


ucapan Anton membuat Maya yang berlinangan air mata, langsung menatap ke arah Anton.


kedua mata Maya benar-benar memperlihatkan kesedihannya yang mendalam, "Apa maksud yang kamu katakan itu Anton, Kenapa kamu melakukan semua itu Karena aku. Harusnya kamu Tunjukkan kalau benar-benar kamu masih mencintaiku, bukan dengan cara kamu menyakitiku secara perlahan. membuat aku semakin benci terhadap kamu."


" Justru dengan cara ini aku bisa melihat. Apakah kamu mencintaiku, bukannya kamu yang bilang bahwa kamu tidak akan pernah mencintaiku, saat perjanjian Perjodohan itu dimulai."


ucapan Anton membuat Maya menundukkan pandangan.


perlahan Anton semakin mendekat ke arah Maya, memegang kedua bahwa wanita yang menjadi istrinya itu." Kenapa kamu menundukkan Wajahmu seperti itu Maya, bisa tidak saat aku berkata wajahmu tetap menatapku."


Anton berusaha berucap kepada Maya agar istrinya itu mendengarkan ucapannya sembari melihat wajahnya yang penuh kenyakinan.


" cepat kamu lihat wajahku saat ini Maya , aku tidak mau saat aku berucap, kamu tak melihat kesungguhan dari wajahku ini."


Maya berusaha memberanikan diri untuk menatap wajah sang suami yang berada di hadapannya, walau sebenarnya hatinya merasa ragu.


"Maya, kamu sakit hati karna aku. Apa kamu juga merasakan kalau aku sakit lebih sakit hati karna kamu sendiri. Kamu yang mulai duluan. kamu yang menghancurkan keyakinanku. Kamu yang sudah .... Ahk."


Anton begitu sakit hati, hingga ia meneruskan perkataanya dengan berteriak.


Maya yang sudah di penuhi air mata, perlahan menatap ke arah Anton sang suami yang ternyata menangis.


Maya baru kali ini melihat sang suami menangis di hadapannya, hati Maya semakin terbuka dengan kesalahannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2